Hiponatremia, Waspadai Rendahnya Kadar Natrium dalam Darah
Kesehatan Tubuh

Hiponatremia, Waspadai Rendahnya Kadar Natrium dalam Darah

29 Agustus 2025 5 menit waktu baca
Hiponatremia adalah

Hiponatremia adalah gangguan elektrolit yang terjadi akibat rendahnya kadar natrium di dalam darah. Kondisi ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti sakit kepala, mual dan muntah, linglung, kram otot, kejang, hingga penurunan kesadaran. Mari simak informasi lengkap mengenai penyebab hingga pengobatan hiponatremia melalui artikel berikut ini.

 

Apa Itu Hiponatremia?

 

Seperti yang telah dijelaskan, hiponatremia adalah kondisi medis ketika kadar natrium dalam darah berada di bawah batas normal. Pada dasarnya, natrium merupakan jenis mineral yang berfungsi untuk mempertahankan kadar air di dalam pembuluh darah, menyeimbangkan kadar air dalam jaringan, menjaga tekanan darah, dan mengatur sistem saraf dan kinerja otot.

 

Pada kondisi hiponatremia, air di dalam pembuluh darah akan keluar dan masuk ke dalam jaringan tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan sel-sel tubuh membengkak. Bahkan, jika terjadi di otak, pembengkakan sel-sel tersebut bisa menyebabkan kondisi yang lebih serius, seperti kejang hingga penurunan kesadaran.

 

Penyebab Hiponatremia

 

Penyebab utama hiponatremia adalah rendahnya kadar natrium (sodium) di dalam darah. Dalam kondisi normal, kadar natrium dalam darah adalah sekitar 135–145 milliequivalent per liter (mEq/liter). Namun, pada kasus hiponatremia, kadar natrium dalam darah berada di bawah 135 mEq/liter.

 

Pada prinsipnya, hiponatremia terjadi ketika terlalu banyak cairan di dalam tubuh sehingga natrium akan terdilusi atau diencerkan. Selain itu, hiponatremia juga bisa terjadi jika terlalu banyak cairan dari tubuh yang keluar melalui urine dan keringat sehingga hanya sedikit natrium yang tersisa di pembuluh darah. 

 

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya hiponatremia adalah:

 

  • Penyakit jantung (gagal jantung), ginjal (gagal ginjal akut maupun kronis), atau liver (sirosis hati). Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan cairan di pembuluh darah yang berisiko melarutkan natrium di dalam tubuh.

  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti diuretik, antidepresan, atau analgesik. Obat-obatan tersebut dapat memengaruhi kadar hormon dan fungsi ginjal yang berkaitan dengan konsentrasi natrium di dalam darah.

  • Hiperglikemia ekstrem, yaitu ketika kadar gula darah di dalam tubuh sangat tinggi sehingga osmolaritas pembuluh darah meningkat sehingga cairan di sel berpindah ke pembuluh darah dan membuat natrium terdilusi. 

  • Polidipsi, yaitu ketika seseorang minum terlalu banyak dan menyebabkan natrium terdilusi.

  • Kekurangan hormon adrenal, misalnya akibat menderita penyakit Addison.

  • Kekurangan hormon tiroid, misalnya pada penderita hipotiroidisme.

  • Menderita syndrome of inappropriate antidiuretic hormone (SIADH). Kondisi ini menyebabkan tubuh menghasilkan antidiuretic hormone (ADH) secara berlebihan sehingga air yang seharusnya keluar melalui urine justru tertahan di dalam tubuh.

  • Diare atau muntah parah dalam jangka waktu lama.

  • Penyalahgunaan NAPZA, seperti ekstasi.

 

Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hiponatremia adalah sebagai berikut:

 

  • Berusia lanjut. Orang lanjut usia lebih berisiko mengalami hiponatremia karena adanya perubahan fungsi tubuh, mengonsumsi obat-obatan tertentu, atau menderita penyakit kronis yang bisa mengubah keseimbangan kadar natrium di dalam tubuh.

  • Minum terlalu banyak setelah melakukan aktivitas fisik berat, seperti lari maraton.

  • Rendahnya asupan natrium dari makanan.

 

Gejala Hiponatremia

 

Hiponatremia dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, tergantung dari seberapa cepat penurunan kadar natrium di dalam darah. Jika penurunan kadar natrium terjadi secara bertahap (kronis), hiponatremia biasanya menimbulkan gejala yang cenderung ringan. Namun, jika kadar natrium menurun secara cepat (akut), penderita hiponatremia bisa mengalami gejala yang lebih serius.

 

Adapun beberapa gejala yang umumnya dialami oleh penderita hiponatremia adalah sebagai berikut:

 

  • Mual dan muntah.

  • Sakit kepala.

  • Tensi rendah.

  • Pusing ketika berdiri.

  • Penurunan jumlah urine dan frekuensi buang air kecil.

  • Linglung dan sulit berkonsentrasi.

  • Lemas dan lelah.

  • Otot kram, lemah, atau berkedut.

  • Gelisah dan mudah marah.

  • Kejang.

  • Penurunan kesadaran hingga koma.

 

Komplikasi Hiponatremia

 

Hiponatremia kronis biasanya menimbulkan gejala yang tergolong ringan. Komplikasi yang dapat muncul akibat hiponatremia kronis juga umumnya tidak bersifat membahayakan, namun tetap tidak boleh disepelekan. Adapun beberapa komplikasi yang bisa timbul akibat hiponatremia kronis adalah kesulitan untuk fokus dan berkonsentrasi, gangguan keseimbangan tubuh, dan osteoporosis.

 

Sementara itu pada kasus hiponatremia akut, komplikasi yang dapat muncul tergolong lebih berbahaya, salah satunya adalah pembengkakan otak yang bisa menyebabkan koma atau bahkan kematian. Kondisi ini rentan dialami oleh wanita yang memasuki masa menopause (premenopause) karena kemampuan hormon untuk meregulasi tingkat natrium tubuh menurun.

 

Diagnosis Hiponatremia

 

Dalam mendiagnosis hiponatremia, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) mengenai keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi gejala-gejala hiponatremia secara menyeluruh.

 

Lalu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah dan tes urine guna mengukur kadar elektrolit serta mineral di dalam tubuh. Dokter biasanya akan melakukan tes darah terlebih dahulu. Jika tes darah menunjukkan kadar natrium yang tidak normal, dokter akan melanjutkan tes urine guna memastikan kondisi yang menyebabkan hiponatremia.

 

Jika kadar natrium di dalam darah terlalu rendah namun tinggi di dalam urine, hal tersebut menandakan tubuh pasien membuang terlalu banyak natrium, mengalami gangguan ginjal, gangguan hormon, dan syndrome of inappropriate antidiuretic hormone secretion (SIADH). 

 

Namun, jika kadar natrium di dalam darah dan urine sama-sama rendah, artinya pasien tidak mendapatkan asupan natrium yang cukup, mengalami kelebihan cairan, atau kehilangan cairan karena masalah pada gastrointestinal seperti muntah dan diare dalam jangka waktu lama.

 

Pemeriksaan penunjang lain, seperti ureum, kreatinin, gula darah, dan trigliserida juga dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab hiponatremia yang lain.

 

Pengobatan Hiponatremia

 

Pengobatan hiponatremia dapat dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan dan penyebab yang mendasarinya. Pada kasus yang tergolong ringan, dokter dapat mengarahkan pasien untuk memperbaiki pola makan, gaya hidup, dan menyesuaikan jenis serta dosis obat-obatan yang sedang dikonsumsi, serta membatasi asupan cairannya untuk sementara.

 

Sementara itu, pada kasus yang lebih parah dan hiponatremia yang terjadi secara tiba-tiba (penurunan natrium secara signifikan dalam waktu kurang dari 48 jam), dokter dapat menangani hiponatremia melalui tindakan medis berikut ini:

 

  • Memberikan obat-obatan untuk membantu meredakan gejala, seperti sakit kepala, mual, dan kejang.

  • Memberikan cairan elektrolit yang mengandung natrium melalui pembuluh darah (intravena). 

  • Memberikan obat-obatan untuk mengeluarkan cairan yang berlebih namun tetap mempertahankan natrium dalam tubuh.

  • Cuci darah untuk mengeluarkan kelebihan cairan di dalam tubuh apabila hiponatremia disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal.

 

Pencegahan Hiponatremia

 

Secara umum, hiponatremia dapat dicegah dengan menjaga keseimbangan kadar cairan dan elektrolit di dalam tubuh. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

 

  • Minum air putih secukupnya (sekitar 3 liter/hari untuk pria dan 2,2 liter/hari untuk wanita).

  • Mengonsumsi minuman yang dapat menggantikan elektrolit tubuh yang hilang setelah berolahraga.

  • Mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

  • Rutin menjalani pengobatan jika menderita penyakit tertentu yang bisa memicu hiponatremia.

 

Penting untuk diketahui bahwa tanda dan gejala yang disebutkan pada artikel ini tidak spesifik mewakili kondisi hiponatremia. Artinya, terdapat kemungkinan gejala-gejala tersebut mengindikasikan kondisi medis lainnya. Oleh karena itu, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat apabila Anda mengalami mual, sakit kepala, tekanan darah rendah, disertai perubahan frekuensi buang air kecil.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter bisa berbeda-beda di setiap rumah sakit, tergantung dari fasilitas yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis akan memastikan tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.


Siloam Hospitals juga menyediakan paket Pemeriksaan Kadar Natrium yang bisa Anda pesan secara praktis melalui aplikasi MySiloam. Anda dapat melakukan transaksi di aplikasi MySiloam dari mana saja, kemudian datang ke rumah sakit sesuai tanggal janji temu yang sudah dijadwalkan.

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail