Kesehatan Tubuh
Mengenal Kortikosteroid Inhalasi, Obat untuk Menangani Asma

Table of Contents
Steroid inhalers, corticosteroid inhalers, atau kortikosteroid inhalasi adalah jenis obat berbentuk semprotan atau bubuk yang dihirup melalui mulut untuk membantu meredakan peradangan pada saluran pernapasan. Jenis obat ini biasanya digunakan untuk menangani asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Mari kenali steroid inhalasi selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Apa itu Kortikosteroid Inhalasi?
Kortikosteroid inhalasi adalah obat antiinflamasi yang dapat mengurangi peradangan di paru-paru. Obat ini digunakan dengan cara dihirup melalui mulut. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua obat yang dihirup mengandung kortikosteroid (steroid).
Kortikosteroid sering digunakan untuk pengobatan jangka panjang. Tujuannya adalah membantu mencegah munculnya serangan asma dengan mengurangi reaksi peradangan pada saluran pernapasan. Jenis obat ini terkadang juga digunakan bersamaan dengan steroid oral.
Adapun beberapa jenis steroid inhalers yang umum digunakan adalah:
-
Mometasone.
-
Ciclesonide.
-
Fluticasone.
-
Budesonide.
-
Beclomethasone HFA.
Di samping itu, sebagian penderita asma juga dapat menggunakan inhaler kombinasi yang mengandung steroid dan bronkodilator. Dalam obat tersebut, bronkodilator dapat membuat otot-otot di sekitar saluran udara menjadi lebih rileks. Beberapa jenis inhaler kombinasi yang umum digunakan adalah:
-
Fluticasone-salmeterol.
-
Budesonide-formoterol.
-
Fluticasone-vilanterol.
-
Fluticasone-umeclidinium-vilanterol.
-
Mometasone-formoterol.
Fungsi Kortikosteroid Inhalasi
Dengan menggunakan kortikosteroid inhalasi, peradangan di paru-paru akan berkurang sehingga dapat meredakan gejala asma serta memudahkan penderitanya saat bernapas. Dalam beberapa kasus, obat ini juga bisa mengurangi produksi lendir berlebih pada saluran pernapasan.
Secara umum, diperlukan waktu selama beberapa minggu untuk melihat efek penggunaan steroid inhalers. Obat ini tidak bisa digunakan untuk mengobati asma saat sedang terjadi, namun obat ini digunakan untuk membantu mencegah terjadinya serangan asma tersebut di kemudian hari (controler).
Cara Menggunakan Kortikosteroid Inhalasi
Secara umum, steroid inhalers hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Sebelum meresepkan obat tersebut, dokter akan terlebih dahulu memeriksa kondisi pasien secara keseluruhan. Pasien juga perlu menginformasikan beberapa hal berikut ini ke dokter:
-
Memiliki riwayat alergi steroid.
-
Menderita tuberkulosis (TB) maupun infeksi saluran pernapasan lainnya.
-
Sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
Perlu diketahui, corticosteroid inhalers umumnya aman digunakan bagi ibu hamil maupun ibu menyusui, namun akan lebih baik jika memperoleh saran medis yang tepat dari dokter terlebih dahulu. Apabila pasien perlu mengonsumsi corticosteroid inhalers dengan dosis tinggi selama masa kehamilan, pasien mungkin memerlukan pemeriksaan rutin guna deteksi dini efek samping tertentu.
Dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk menggunakan steroid inhalers sebanyak 1–2 isapan setiap pagi dan sore hari. Namun, apabila gejala asma masih terkontrol, pasien bisa menggunakan obat tersebut satu kali dalam sehari sebanyak 1–2 isapan.
Steroid inhalasi pada dasarnya cukup mudah digunakan. Namun, guna menghindari risiko efek samping tertentu, pasien bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini untuk menggunakan steroid inhalasi dengan tepat:
-
Gunakan steroid inhalasi setiap hari sesuai dengan anjuran dokter, walaupun sedang tidak mengalami gejala asma.
-
Gunakan alat pengatur jarak (spacer device) dengan dosis terukur, terutama jika diinstruksikan oleh dokter.
-
Buka tutup inhaler, kemudian kocok selama beberapa detik.
-
Miring kepala ke belakang, tarik napas, lalu embuskan napas panjang.
-
Masukkan inhaler ke dalam mulut, kemudian tutup mulut dengan rapat.
-
Tekan tabung inhaler untuk menyemprotkan obat.
-
Tarik napas dan bernapas seperti biasa selama 3–5 detik.
-
Tahan napas selama 10 detik hingga obat masuk ke dalam paru-paru.
-
Tunggu setidaknya selama 30–60 detik terlebih dahulu sebelum mengambil isapan kedua.
-
Setelah selesai menggunakan obat, cuci mulut menggunakan air bersih untuk meminimalkan risiko terjadinya oral thrush (kandidiasis mulut).
-
Bersihkan mulut inhaler dengan tisu setelah tidak digunakan.
Efek Samping Kortikosteroid Inhalasi
Pada dasarnya, corticosteroid inhalers tergolong aman digunakan. Efek samping yang ditimbulkan umumnya tergolong ringan. Secara umum, beberapa risiko efek samping yang mungkin terjadi selama menggunakan kortikosteroid inhalasi adalah sebagai berikut:
-
Suara serak.
-
Batuk.
-
Sakit tenggorokan.
-
Oral thrush.
-
Peningkatan nafsu makan, terutama jika menggunakan steroid inhalasi untuk jangka panjang atau dengan dosis tinggi.
-
Pneumonia, terutama jika menggunakan steroid inhalasi untuk jangka panjang.
Meski mengalami gejala gangguan pernapasan, seperti asma, penting untuk tetap menggunakan obat kortikosteroid inhalasi sesuai dengan anjuran dokter agar tidak memicu terjadinya efek samping seperti ulasan di atas. Dalam hal ini, Anda bisa berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) dari Siloam Hospitals guna memperoleh saran perawatan hingga dosis obat yang tepat untuk menangani gangguan pernapasan.
Selain itu, gunakan juga aplikasi MySiloam yang dapat memudahkan Anda dalam mengakses layanan kesehatan lebih cepat. Pasalnya, aplikasi ini dilengkapi dengan fitur-fitur untuk melihat informasi jadwal praktik, reservasi pertemuan dengan dokter, check in mandiri, hingga memesan paket kesehatan secara online tanpa perlu mengantre terlalu lama di rumah sakit.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







