Laparoskopi Ginekologi: Prosedur dan Kondisi yang Ditangani
Ibu dan Anak

Laparoskopi Ginekologi: Prosedur dan Kondisi yang Ditangani

29 Agustus 2025 6 menit waktu baca
(Rework) mengenal Laparoskopi Ginekologi

Laparoskopi ginekologi adalah terobosan penting dalam bidang ginekologi. Prosedur ini termasuk dalam metode pembedahan minimal invasif yang digunakan untuk terapi maupun pemeriksaan organ reproduksi wanita.

 

Sifatnya yang minimal invasif membuat proses pemulihan pascaprosedur ini menjadi lebih cepat dan minim rasa nyeri. Lantas, bagaimana prosedur laparoskopi ginekologi dilakukan?  Mari pahami lebih jauh dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Laparoskopi Ginekologi?

 

Secara umum, laparoskopi adalah prosedur pembedahan yang dilakukan untuk menangani sejumlah gangguan di organ perut dan panggul, seperti perlengketan, kista, miom, dan penyakit usus buntu. Namun, prosedur ini bisa juga digunakan untuk mengambil jaringan sampel biopsi.

 

Tidak jauh berbeda, laparoskopi ginekologi adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk  memeriksa bagian dalam organ reproduksi wanita di area pelvis atau perut bagian bawah maupun untuk menangani penyakit di berbagai organ tersebut.

 

Prosedur ini dilakukan dengan metode minimal invasif dan tanpa memerlukan pembedahan  terbuka, yaitu hanya dengan membuat sebuah sayatan kecil sebagai jalan untuk memasukkan alat berbentuk tabung panjang dan tipis bernama laparoskop. Alat tersebut telah terhubung dengan kamera, sehingga dokter bisa melihat kondisi organ dalam melalui monitor yang terpasang di luar.

 

Sebagai metode terapi, prosedur ini digunakan untuk menangani penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi serta kandungan wanita. Sedangkan sebagai metode pemeriksaan, laparoskopi ginekologi dapat membantu dokter menegakkan diagnosis melalui pengambilan sampel jaringan yang bermasalah.

 

Kapan Laparoskopi Ginekologi Diperlukan?

 

Laparoskopi ginekologi dapat dilakukan untuk pemeriksaan lebih lanjut dari gejala-gejala tertentu, misalnya nyeri di daerah perut bawah. Selain itu, prosedur ini bisa juga dilakukan apabila diperlukan pemeriksaan lanjutan setelah menjalani pemeriksaan non-invasif seperti ultrasonografi (USG), magnetic resonance imaging (MRI), atau computed tomography (CT Scan). Prosedur ini pun dapat dilakukan untuk keperluan terapeutik. 

 

Adapun beberapa indikasi laparoskopi ginekologi antara lain:

 

  • Terapi untuk kasus hamil di luar rahim (kehamilan ektopik).
  • Melakukan tindakan sterilisasi, yaitu dengan mengikat atau memotong saluran telur untuk mencegah terjadinya kehamilan.
  • Menghilangkan jaringan parut atau perlekatan.
  • Diagnosis dan penanganan endometriosis.
  • Diagnosis dan penanganan kista di indung telur (kista ovarium).
  • Operasi pengangkatan rahim (histerektomi) atau indung telur (ooforektomi).
  • Penanganan miom atau fibroid rahim.
  • Pemeriksaan kondisi organ reproduksi wanita pada pasien dengan nyeri berkelanjutan di perut bagian bawah.
  • Mencari penyebab terjadinya gangguan kesuburan (infertilitas).

 

Persiapan Sebelum Laparoskopi Ginekologi

 

Prosedur ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum atau bius total, yang berarti bahwa pasien akan berada dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya selama prosedur berlangsung. Meski begitu, pemeriksaan laparoskopi yang dilakukan untuk keperluan diagnostik umumnya tidak memerlukan waktu lama, dan pasien dapat langsung pulang di hari yang sama.

 

Bagi pasien yang menjalani prosedur laparoskopi untuk keperluan terapi, terkadang diperbolehkan untuk pulang di hari yang sama, namun bisa juga diperlukan rawat inap selama satu malam atau lebih untuk pengamatan kondisi lebih lanjut.

 

Adapun sejumlah persiapan yang perlu dilakukan sebelum laparoskopi antara lain:

 

  • Sebagai persiapan sebelum menjalani anestesi umum, pasien umumnya perlu puasa makan dan minum selama 6–8 jam sebelum jadwal dilakukannya operasi. 
  • Di rumah sakit akan dilakukan pemeriksaan darah dan urin untuk mengetahui apakah pasien sedang hamil atau mengalami berbagai kondisi lain yang dapat menjadi kontraindikasi dilakukannya prosedur laparoskopi. 
  • Pasien mungkin perlu mengenakan stocking kompresi dan diberikan injeksi obat anti pembekuan darah untuk membantu mencegah terbentuknya bekuan darah di dalam pembuluh darah kaki, terutama bila laparoskopi diperkirakan akan memerlukan waktu lebih lama.

 

Prosedur Laparoskopi Ginekologi

 

Prosedur laparoskopi ginekologi yang dilakukan untuk pemeriksaan diagnostik umumnya memerlukan waktu 30–60 menit. Akan tetapi, prosedur ini dapat berlangsung lebih lama bila dilakukan untuk terapi. Berikut adalah tahap-tahap prosedur laparoskopi ginekologi:

 

  • Pertama-tama, pasien akan diberikan anestesi umum atau bius total terlebih dahulu.
  • Kemudian, prosedur dimulai dengan membuat sayatan kecil di perut bagian bawah, biasanya di dekat pusar.  
  • Melalui sayatan tersebut, dokter akan memasukkan tabung yang disebut sebagai trocar sebagai jalan masuk gas karbon dioksida ke dalam perut dengan tujuan memudahkan dokter dalam melihat organ reproduksi serta memberi ruang lebih luas bagi alat laparoskop untuk bergerak di dalam rongga tubuh.
  • Laparoskop kemudian dimasukkan melalui trocar. Laparoskop merupakan sebuah alat berbentuk seperti selang kecil dengan kamera dan lampu sorot di bagian ujungnya. Kamera ini akan digunakan untuk melihat bagian dalam perut melalui monitor yang terpasang di luar.  
  • Bila akan dilakukan terapi dan diperlukan penggunaan alat tambahan, maka dapat dibuat sayatan berikut trocar tambahan lain di perut untuk memasukkan instrumen lain yang dibutuhkan. 
  • Pada akhir prosedur, gas karbon dioksida akan dikeluarkan, dan sayatan di perut akan ditutup menggunakan jahitan atau lem khusus.

 

Perawatan Pascalaparoskopi Ginekologi

 

Setelah menjalani prosedur ini, pasien perlu beristirahat sampai efek anestesi hilang sepenuhnya. Jika diperlukan, biasanya dokter juga memberikan obat antinyeri. Setelah itu, pasien perlu menunggu hingga luka bekas operasi sembuh sepenuhnya.

 

Agar pemulihan luka lebih cepat dan optimal, pasien disarankan untuk menghindari aktivitas yang terlalu berat. Pada prosedur diagnostik, pasien dapat beraktivitas normal kembali setelah kurang lebih tiga hari. Namun, untuk prosedur terapi, pasien mungkin baru bisa beraktivitas normal kembali setelah kurang lebih 2–3 minggu.

 

Apabila menggunakan metode jahitan benang jahit yang dapat diserap, maka pasien tidak perlu menjalani pelepasan jahitan karena bisa terserap dengan sendirinya. Namun, jika benang yang digunakan tidak bisa diserap, maka diperlukan pelepasan jahitan setelah kurang lebih tujuh hari.

 

Keunggulan Metode Laparoskopi Ginekologi

 

Prosedur pemeriksaan maupun terapi yang dilakukan dengan teknik laparoskopi diketahui memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

 

  • Mempersingkat waktu tindakan dan rawat inap, sehingga pasien tidak perlu  menghabiskan waktu terlalu lama di rumah sakit. Umumnya, pasien akan menjalani observasi di rumah sakit pascaoperasi maksimal dua hari saja.
  • Risiko komplikasi lebih kecil bila dibandingkan dengan tindakan pembedahan terbuka.
  • Mengurangi rasa nyeri akibat operasi karena hanya memerlukan sayatan yang kecil.
  • Waktu pemulihan yang lebih cepat, sehingga dapat kembali beraktivitas normal lebih cepat.
  • Bekas luka tidak begitu terlihat, sehingga tampak lebih baik secara estetika serta mengurangi risiko timbulnya jaringan parut akibat luka.

 

Efek Samping Laparoskopi Ginekologi

 

Meski laparoskopi termasuk dalam metode minimal invasif, ada beberapa komplikasi atau efek samping yang mungkin dirasakan oleh pasien setelah menjalani laparoskopi, terutama pasien dengan kondisi obesitas, usia lanjut, pernah menjalani operasi di daerah perut sebelumnya, atau memiliki penyakit kronis. Beberapa efek samping tersebut antara lain:

 

  • Perdarahan ringan dari vagina.
  • Terjadi trauma pada pembuluh darah, usus, kandung kemih, atau ureter.
  • Terjadi kerusakan pada organ di perut.
  • Nyeri dan rasa tidak nyaman di perut.
  • Merasa mudah lelah dan tidak nyaman. 
  • Memar di sekitar luka operasi.
  • Infeksi luka operasi, ditandai dengan kulit yang nyeri dan kemerahan.
  • Infeksi saluran kemih, ditandai dengan rasa nyeri atau perih saat kencing, atau menjadi lebih sering buang air kecil.

 

Meski begitu, laparoskopi ginekologi tetap menjadi pilihan prosedur yang efektif dan minimal invasif, sehingga pasien dapat memperoleh manfaat dengan risiko yang relatif lebih rendah. Oleh karena itu, bila dianggap perlu dan kondisinya memungkinkan, pasien tidak perlu khawatir untuk melakukan pemeriksaan maupun terapi pada kelainan organ reproduksi menggunakan prosedur yang satu ini.

 

Prosedur laparoskopi ginekologi tersedia di Siloam Hospitals dan akan dilakukan oleh dokter yang berpengalaman di bidangnya. Maka dari itu, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat apabila Anda mengalami keluhan seputar organ reproduksi ataupun masalah kesehatan lainnya guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat dari dokter kami.


Di Siloam Hospitals, Anda dapat membuat janji temu dengan dokter menggunakan fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda juga bisa mengecek hasil pemeriksaan melalui fitur Patian Portal. Mari unduh aplikasinya dan jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-patrick-bayu-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Patrick Bayu, SpOG, Subsp F.E.R

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi


Siloam Hospitals Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail