Ibu dan Anak
7 Penyakit yang Timbul Setelah Menopause, Wanita Perlu Waspada!

Table of Contents
Menopause adalah kondisi berakhirnya menstruasi secara permanen, dihitung sejak seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Meski fase ini normal dan pasti dialami oleh setiap wanita, tetap ada beberapa risiko penyakit yang timbul setelah menopause maupun selama masa transisi menopause yang perlu diwaspadai.
Menopause adalah fase yang menandakan akhir dari usia reproduktif wanita dan biasanya terjadi ketika memasuki usia 45–55 tahun. Meski begitu, wanita yang telah menopause tetap bisa melakukan hubungan seksual seperti biasanya.
Lantas, apa saja kira-kira risiko penyakit yang timbul setelah menopause maupun selama masa transisi menopause? Ketahui penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini.
Penyakit yang Muncul saat Masa Transisi Menopause
Menjelang berakhirnya masa menstruasi, seorang wanita akan mengalami beberapa perubahan yang dikenal dengan fase perimenopause. Selama masa transisi tersebut, terdapat pula beberapa risiko gangguan atau masalah kesehatan yang dapat terjadi.
1. Defisit Hormonal
Salah satu perubahan yang terjadi saat menopause adalah penurunan produksi hormon estrogen karena fungsi ovarium mengalami penurunan. Rendahnya kadar estrogen tersebut berisiko menyebabkan beberapa masalah kesehatan pada wanita, seperti:
- Perubahan siklus haid, yaitu menstruasi menjadi tidak teratur (lebih awal atau bisa terlambat).
- Darah yang keluar saat menstruasi dapat lebih sedikit atau justru lebih banyak.
2. Perubahan Psikososial
Masa transisi menuju menopause cenderung membuat seorang wanita menjadi lebih sensitif. Akibatnya, terjadinya perubahan suasana hati yang tak menentu, mengalami gangguan tidur, penurunan gairah seksual, muncul rasa cemas, hingga depresi.
3. Penyakit-Penyakit pada Usia Lanjut
Fase transisi atau perimenopause pada seorang wanita juga dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan lain, seperti:
- Gangguan vasomotor: Merasa panas atau gerah (hot flashes), jantung berdebar, pusing, hingga nyeri kepala.
- Gangguan saluran urogenital: Infeksi saluran kemih, vagina kering, nyeri saat senggama, dan prolaps uteri (turun peranakan atau rahim turun dan masuk ke liang vagina).
- Gangguan pada kulit, mata, dan rambut: Kulit kering, keriput, mata cepat kering, dan rambut rontok.
- Gangguan metabolisme: Osteoporosis, sakit jantung, kencing manis, dan kanker usus.
Penyakit yang Muncul Setelah Menopause pada Wanita
Pascamenopause dianggap sebagai masa sulit bagi seorang wanita. Pasalnya, penurunan hormon estrogen selama menopause dapat meningkatkan risiko dari beberapa penyakit.
Hormon estrogen adalah hormon yang penting untuk melindungi sejumlah sistem dalam tubuh, termasuk vagina, tulang, kulit, jantung, hingga otak. Apabila kadar estrogen rendah, maka akan mulai terjadi proses penuaan pada sistem tubuh, terutama tulang dan hati.
Sejumlah risiko penyakit yang muncul setelah menopause dan perlu diwaspadai oleh setiap wanita, di antaranya:
1. Nyeri Sendi
Pada wanita yang sudah menopause, keluhan nyeri sendi atau yang biasanya disebut dengan penyakit orang tua ini dapat disebabkan oleh menurunnya hormon estrogen. Pasalnya, hormon estrogen memiliki efek antiinflamasi, sehingga saat hormon ini berkurang, risiko inflamasi akan lebih besar.
2. Diabetes
Risiko penyakit yang timbul setelah menopause berikutnya adalah diabetes. Kondisi ini dapat terjadi apabila rendahnya hormon estrogen berdampak pada terjadinya resistensi hormon insulin, sehingga risiko diabetes bisa meningkat.
3. Penyakit Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular, seperti gangguan jantung dan pembuluh darah, juga termasuk dalam risiko penyakit yang timbul setelah menopause. Pasalnya, saat kadar estrogen menurun, kemampuan tubuh dalam melindungi sistem jantung juga akan menurun.
4. Inkontinensia Urine
Salah satu tanda menopause adalah menurunnya kemampuan untuk mengendalikan kandung kemih karena melemahnya otot panggul, sehingga sering menimbulkan dorongan untuk buang air kecil secara tiba-tiba dan tidak tertahankan.
Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut bisa berkembang menjadi inkontinensia urine, yaitu keluarnya urine tanpa terkendali.
5. Kanker Payudara
Wanita menopause memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Pasalahnya dengan bertambahnya usia, karena sel-sel yang bertanggung jawab untuk menjaga jaringan payudara yang sehat berhenti merespons lingkungan sekitarnya, termasuk isyarat yang seharusnya menekan pertumbuhan tumor di dekat sel-sel tersebut.
6. Masalah Rongga Mulut
Menurunnya kadar estrogen setelah menopause diketahui dapat menyebabkan pengeroposan tulang rahang yang meningkatkan risiko gigi menjadi kendor dan akhirnya copot. Selain itu, menopause juga kerap menyebabkan mulut kering, sehingga meningkatkan risiko penyakit gusi dan gigi berlubang.
Munculnya penyakit yang timbul setelah menopause yang berkaitan dengan mulut terjadi karena kelenjar ludah tidak bisa lagi menghasilkan air liur yang cukup untuk melembapkan serta membersihkan bakteri di dalam mulut. Akibatnya, kuman pun menumpuk di mulut.
7. Gangguan Cemas dan Depresi
Penyakit yang timbul setelah menopause tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga mental. Perubahan kadar hormon saat menopause berpengaruh pada perubahan suasana hati, termasuk munculnya gejala gangguan cemas dan depresi. Meski begitu, kondisi ini biasanya akan membaik saat hormon sudah kembali stabil.
Cara Mencegah Penyakit yang Timbul Setelah Menopause
Hingga kini, menopause tidak bisa diobati atau dicegah dengan pengobatan atau perawatan tertentu. Sehingga, untuk mengatasi gangguan atau masalah kesehatan yang timbul pada fase tersebut, wanita perlu menerapkan gaya hidup sehat.
Adapun beberapa gaya hidup sehat saat menopause yang perlu diterapkan adalah sebagai berikut:
- Olahraga, misalnya jalan kaki 3–5 km atau 30–45 menit selama 3 kali dalam seminggu, mengikuti senam osteoporosis, serta berenang.
- Mengatur pola makan sehat dan bergizi seimbang, terutama memenuhi kebutuhan nutrisi kalsium, protein, serat, dan rendah lemak. Sebaiknya, hindari konsumsi kafein atau kopi, alkohol, minuman bersoda, merokok, dan makanan dengan kadar gula tinggi
- Lakukan pemeriksaan kesehatan berkala, baik secara fisik maupun laboratorik.
- Terapi sulih hormon dapat dipertimbangkan untuk meredakan gejala menopause dan meningkatkan kualitas hidup.
- Hindari faktor pemicu stres, bangun emosi yang positif dengan bergembira, bahagia, sabar, dan perbanyak bersyukur.
Perlu diketahui bahwa penyakit yang timbul setelah menopause bisa jadi berbeda-beda di setiap wanita, demikian juga tingkat keparahannya. Jika Anda mengalami tanda dan gejala menopause yang sangat mengganggu, atau bila ada keraguan akan keluhan yang dialami, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dengan tepat.
Gunakan fitur Cari Dokter untuk melihat jadwal dokter dan membuat janji temu secara praktis. Manfaatkan pula berbagai fitur kesehatan dengan mudah dan cepat melalui aplikasi MySiloam yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Segera unduh aplikasinya dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini







