Kesehatan Tubuh
Apa itu Polimiositis? Ini Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

Table of Contents
Polymyositis atau polimiositis adalah kondisi medis berupa peradangan pada otot di kedua sisi tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya mengalami kelemahan otot sehingga kesulitan untuk bergerak, seperti menaiki tangga, berdiri, serta mengangkat beban atau benda tertentu.
Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, diagnosis, serta pengobatan polimiositis selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Polimiositis?
Polimiositis atau polymyositis adalah peradangan pada otot yang menyebabkan otot melemah sehingga dapat memengaruhi aktivitas dan pergerakan tubuh. Peradangan otot ini biasanya berkembang dan memburuk secara perlahan, yakni selama beberapa minggu atau beberapa bulan, dan dapat terjadi pada seluruh bagian tubuh. Namun, bagian otot yang kerap mengalami polimiositis adalah otot yang dekat dengan batang tubuh, seperti otot bahu, paha, dan pinggul.
Polimiositis adalah salah satu jenis myositis yang cenderung jarang terjadi. Meski begitu, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan penderitanya kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Penyebab Polimiositis
Belum diketahui secara pasti apa penyebab dari polimiositis. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini terkait dengan faktor genetik yang diturunkan dari orang tua ke anak. Di samping itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami polimiositis adalah sebagai berikut:
- Berjenis kelamin wanita.
- Berusia 30–60 tahun.
- Menderita penyakit yang memengaruhi sistem imun tubuh, seperti kanker, HIV/AIDS, dan lain sebagainya.
- Infeksi virus.
- Menderita penyakit autoimun, seperti penyakit lupus atau rheumatoid arthritis.
- Penggunaan obat-obatan tertentu yang mungkin dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan otot.
Gejala Polimiositis
Gejala utama polimiositis adalah kelemahan otot di kedua sisi tubuh, terutama pada bagian leher, bahu, punggung, panggul, dan paha. Selain itu, beberapa gejala umum dari penyakit polimiositis adalah sebagai berikut:
- Nyeri dan kaku pada otot dan sendi.
- Otot membengkak dan melemah.
- Kelelahan.
- Demam.
- Kesulitan menelan (disfagia).
- Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.
- Sesak napas yang disebabkan oleh gangguan pada otot-otot pernapasan dan kardiovaskular.
- Gangguan aliran darah yang membuat ujung jari-jari tangan atau kaki terlihat pucat, dingin, dan mati rasa (fenomena Raynaud).
- Munculnya ruam kemerahan atau kebiruan karena peradangan pada otot.
Komplikasi Polimiositis
Komplikasi polimiositis dapat terjadi apabila penderitanya tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat. Adapun sejumlah komplikasi polimiositis yang perlu diwaspadai adalah sebagai berikut:
- Pneumonia aspirasi, yaitu peradangan pada paru-paru yang terjadi karena masuknya air liur, makanan, ataupun minuman ke dalam paru-paru.
- Gangguan pernapasan hingga gagal napas akibat melemahnya otot-otot pernapasan.
- Infeksi.
- Malnutrisi.
Diagnosis Polimiositis
Langkah awal yang dilakukan dokter untuk mendiagnosis polimiositis adalah dengan melakukan wawancara medis atau anamnesis dengan pasien untuk mengetahui keluhan dan riwayat kesehatannya. Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk memeriksa keseluruhan fungsi tubuh serta menilai kekuatan otot pasien.
Polimiositis kerap disalahartikan sebagai distrofi otot karena memiliki gejala yang mirip. Maka dari itu, untuk mengonfirmasi dan memastikan diagnosis polimiositis, dokter juga dapat melakukan sejumlah pemeriksaan penunjang, seperti:
1. Tes Darah
Tes darah merupakan prosedur pemeriksaan dengan mengambil sampel darah pasien untuk dianalisis di laboratorium. Tindakan ini bertujuan untuk memeriksa peningkatan kadar enzim otot (enzim creatine phosphokinase/CPK) yang bisa menjadi indikasi dari kerusakan otot. Selain itu, tes darah juga penting dilakukan untuk mendeteksi gangguan autoimun yang kerap menyebabkan polimiositis.
2. Elektromiografi
Elektromiografi adalah prosedur pemeriksaan dengan memasukkan jarum elektroda ke dalam otot untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otot dan saraf yang mengendalikannya. Apabila pemeriksaan elektromiografi menunjukkan perubahan pola aktivitas listrik yang abnormal pada otot, maka kondisi tersebut bisa menjadi tanda dari polimiositis.
3. Pemeriksaan Pencitraan
Pemeriksaan pencitraan, seperti MRI, CT scan, atau rontgen juga dapat menjadi salah satu pemeriksaan penunjang polimiositis untuk memeriksa jika ada tanda-tanda peradangan otot di dalam tubuh.
4. Biopsi Otot
Biopsi otot merupakan prosedur pengambilan jaringan otot melalui tindakan pembedahan untuk diperiksa di laboratorium. Prosedur pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi berbagai kelainan pada otot, seperti infeksi ataupun peradangan otot.
Pengobatan Polimiositis
Polimiositis adalah kondisi medis yang belum bisa disembuhkan sepenuhnya. Pengobatan polimiositis utamanya bertujuan untuk mengurangi gejala, meningkatkan kekuatan otot, serta menghindari risiko terjadinya komplikasi lebih lanjut. Berikut adalah beberapa tindakan medis yang umum dilakukan untuk menangani polimiositis.
1. Pemberian Obat-obatan
Dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk meredakan gejala serta menangani peradangan pada otot. Beberapa jenis obat-obatan yang dapat diberikan untuk menangani polimiositis adalah:
- Obat-obatan imunosupresan untuk menekan kerja sistem imun tubuh yang berlebihan.
- Kortikosteroid untuk mengatasi peradangan pada otot.
- Rituximab untuk menangani penyakit rheumatoid arthritis yang dapat menyebabkan polimiositis. Obat ini biasanya digunakan apabila terapi medis lainnya tidak dapat mengendalikan gejala polimiositis.
2. Terapi
Untuk membantu meningkatkan kualitas hidup penderita polimiositis, terdapat sejumlah terapi yang bisa dilakukan, di antaranya adalah:
- Fisioterapi untuk membantu meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot.
- Terapi wicara untuk membantu penderita polimiositis yang kesulitan berbicara dan menelan.
- Penilaian asupan dan nutrisi bagi penderita polimiositis yang mengalami gangguan menelan dan mengunyah. Melalui terapi ini, dokter dan ahli gizi dapat memberikan saran mengenai menu makanan apa saja yang dapat dikonsumsi dengan mudah oleh penderita polimiositis.
3. Intravenous Immunoglobulin (IVIG)
Intravenous immunoglobulin (IVIG) adalah prosedur medis yang dilakukan dengan memberikan produk hasil purifikasi darah yang mengandung antibodi sehat ke pembuluh darah pasien melalui infus. Tindakan ini bertujuan untuk menghambat kerja sistem imun tubuh yang menyerang dan merusak jaringan otot.
Namun, intravenous immunoglobulin masih jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang relatif mahal dan perlu dilakukan secara rutin.
4. Perawatan Mandiri di Rumah
Selain dengan tindakan medis, dokter juga dapat menyarankan penderita polimiositis untuk melakukan perawatan mandiri di rumah sebagai upaya untuk mengoptimalkan proses pemulihan. Beberapa perawatan mandiri yang dapat dilakukan adalah:
- Meletakkan kompres hangat pada bagian otot yang terasa nyeri.
- Istirahat yang cukup.
- Mengelola stres sebaik mungkin.
- Melakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan secara rutin untuk melatih kekuatan dan fleksibilitas otot.
Polimiositis adalah kondisi medis yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga memerlukan penanganan yang tepat. Oleh karenanya, segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat jika Anda mengalami gangguan otot yang ditandai dengan gejala seperti ulasan di atas.
Jadwalkan terlebih dahulu pertemuan Anda dengan dokter Siloam Hospitals menggunakan fitur Cari Dokter. Atau, gunakan juga aplikasi MySiloam untuk memesan paket medical check up, cek hasil pemeriksaan, serta konsultasi virtual dengan dokter secara praktis. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini







