Silent Treatment, Ini Dampaknya bagi Mental Orang Lain
Kesehatan Mental

Silent Treatment, Ini Dampaknya bagi Mental Orang Lain

19 Juni 2025 6 menit waktu baca
silent treatment

 

Silent treatment adalah bentuk perilaku pasif-agresif ketika seseorang sengaja mendiamkan orang lain sebagai respons terhadap konflik, kekecewaan, atau kemarahan. Meski tidak melibatkan kata-kata kasar atau tindakan fisik, perlakuan ini dapat memberikan dampak emosional yang dalam. Simak lebih lanjut ulasan mengenai silent treatment di bawah ini.

 

Apa Itu Silent Treatment?

 

Silent treatment adalah perilaku ketika seseorang menunjukkan kemarahan, ketidaksenangan, atau rasa tidak hormat dengan tidak berbicara atau bahkan mengabaikan keberadaan orang lain. Salah satu contoh perilaku silent treatment adalah mendiamkan pasangan setelah bertengkar. Silent treatment bisa terjadi di hubungan percintaan, pertemanan, maupun keluarga.

 

Fenomena silent treatment (sikap diam) yang dikenal sebagai subtipe agresi psikologis merupakan tindakan yang disengaja untuk menghindari atau mengabaikan individu lain. Perilaku ini melibatkan gangguan komunikasi, di mana satu pihak berusaha memaksakan bentuk isolasi sosial atau pengucilan pada pihak lain sebagai tindakan hukuman, manipulasi, atau kontrol. 

 

Silent treatment bukan hanya sekadar diam, namun merupakan bentuk perilaku pasif-agresif yang dapat merusak hubungan karena menyampaikan pesan negatif tanpa komunikasi terbuka. Hal ini merupakan bentuk stonewalling (perilaku menutup diri dalam komunikasi) yang bisa jadi muncul karena beberapa alasan, yaitu:

 

  • Mekanisme bertahan (coping mechanism). Silent treatment dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan, sarana untuk melindungi diri dari potensi kritik, konflik, atau ketidaknyamanan emosional.

  • Cara untuk menyakiti orang lain secara emosional. Silent treatment dapat digunakan sebagai bentuk hukuman.

  • Kontrol dan manipulasi. Silent treatment dapat dilihat sebagai mekanisme untuk menggunakan kontrol atau kekuasaan dalam suatu hubungan.

  • Penghindaran dan pembelaan. Beberapa individu melakukan silent treatment perlakuan diam sebagai cara untuk menghindari konfrontasi atau melarikan diri dari percakapan yang sulit.

  • Ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi. Terkadang, perilaku silent treatment diam dapat mencerminkan ketidakmampuan seseorang untuk mengartikulasikan perasaan mereka secara efektif, terutama dalam situasi yang penuh emosi.

 

Meskipun tampak sebagai perilaku atau kejadian yang tidak berbahaya atau bahkan dianggap biasa terjadi dalam perselisihan interpersonal, silent treatment dapat menimbulkan tekanan dan kerugian psikologis yang substansial.

 

Proses berpikir di balik silent treatment dapat menjadi sangat rumit dan kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal ini sering kali dikaitkan dengan kondisi emosional, keterampilan menyelesaikan konflik, dan dinamika interpersonal seseorang. Penting untuk dicatat bahwa proses berpikir tersebut bisa jadi tidak disadari atau setengah sadar, dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pola interaksi, dan perilaku yang dipelajari.

Tanda-Tanda Silent Treatment

 

Secara umum, tanda-tanda bahwa seseorang sedang melakukan silent treatment dalam suatu hubungan adalah sebagai berikut:

 

  • Sengaja mengabaikan dengan jelas dan mencolok.

  • Bertindak seolah tidak terjadi apa-apa atau justru memancing reaksi emosional.

  • Tiba-tiba menghilang selama berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu tanpa kejelasan.

  • Pergi tanpa memberi tahu mau ke mana dan kapan akan kembali.

  • Tidak merespons ajakan untuk berkomunikasi langsung.

  • Berbicara dengan orang lain, namun tidak dengan orang yang sedang berkonflik.

 

Selain mengamati perilaku, penting juga untuk memperhatikan dampaknya secara emosional. Karena itu, tanyakan pada diri sendiri:

 

  • Apakah muncul rasa cemas, bersalah, malu, bingung, marah, atau sedih?

  • Apakah merasa seperti sedang dihukum atau diintimidasi?

  • Apakah muncul keinginan untuk mengalah atau minta maaf hanya agar keheningan berakhir?

  • Apakah mulai takut berbicara atau berbuat salah?

  • Apakah rasa percaya diri mulai menurun akibat perlakuan tersebut?

 

Tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa menggunakan silent treatment bukanlah pembenaran atas perilaku tersebut. Namun, hal itu bisa berarti bahwa seseorang tidak menyadari dampak dari tindakannya, atau tidak tahu cara yang lebih sehat untuk menghadapi emosi sulit.

 

Dampak Perlakuan Silent Treatment Terhadap Kesehatan Mental Orang Lain

 

Meski hanya diam, perilaku silent treatment justru bisa berpotensi menyakiti orang lain. Hal ini dikarenakan tubuh dan otak manusia merespons pengucilan sosial seperti tubuh merespons rasa sakit fisik. Ketika merasa sedang diabaikan atau hubungan sosial terancam, maka:

 

  • Sistem saraf simpatik aktif seperti saat menghadapi bahaya.

  • Bagian otak yang memproses rasa sakit juga aktif.

 

Banyak orang merasa frustrasi atau marah karena kebutuhan emosional mereka tidak terpenuhi. Bagi sebagian orang, terutama orang yang cenderung memiliki sifat people pleasers atau yang memiliki riwayat trauma, silent treatment bisa terasa sangat menakutkan.

 

Sering kali, silent treatment juga menyebabkan seseorang mulai bertanya-tanya apa kesalahannya, bahkan menjadi sangat waspada (hypervigilant) untuk mencari tahu apa yang “salah” dengan dirinya. Hal ini bisa berujung pada toxic relationship. Beberapa orang merasa kecewa ketika menyadari bahwa mereka menerima perilaku yang sebenarnya tidak dapat diterima.

 

Dampak Silent Treatment Terhadap Pelaku

 

Sebuah jurnal berjudul Psychological Costs and Benefits of Using Silent Treatment menuliskan tentang bagaimana dampak silent treatment terhadap orang yang melakukannya. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa:

 

  • Silent treatment bertentangan dengan kecenderungan alami manusia untuk merespons dan berkomunikasi. Oleh karena itu, menahan diri untuk tidak merespons memerlukan energi ekstra, yang membuat pelaku merasa kelelahan secara ego (ego-depletion).

  • Munculnya perasaan negatif, seperti rasa bersalah, penyesalan, bahkan perasaan self-dehumanization.

  • Apabila korban tidak memberikan respons seperti yang diharapkan oleh pelaku, pelaku tidak merasa puas dan berujung pada berakhirnya suatu hubungan.

 

Cara Merespons Perlakuan Silent Treatment

 

Terdapat beberapa pertanyaan penting yang mungkin perlu dipikirkan sebelum merespons perlakuan silent treatment. Pertanyaan tersebut, di antaranya:

 

  • Apa tujuan komunikasi dengan orang tersebut?

  • Apakah ingin belajar berkomunikasi lebih tegas atau berharap mereka berubah?

  • Apakah komunikasi ini demi kepentingan terbaik diri sendiri?

  • Jika perilaku ini terjadi dalam sebuah hubungan, apakah berniat melanjutkan atau mengakhiri hubungan?

  • Apakah merasa aman untuk berbicara dengan mereka?

  • Jika tidak aman, apakah sudah punya rencana keamanan, misalnya teman atau tempat yang bisa dihubungi saat merasa tidak aman?

 

Menjawab pertanyaan ini, sendiri atau dengan bantuan profesional atau orang terpercaya dapat membantu korban menentukan cara menghadapi silent treatment. Secara umum, beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam menghadapinya adalah sebagai berikut:

 

  • Memulai komunikasi yang tegas: Jika yakin silent treatment digunakan untuk manipulasi dan situasinya aman, komunikasi tegas bisa dilakukan dengan mengatakan bahwa perilaku itu tidak baik dan menjelaskan dampaknya sekaligus mengutarakan perilaku yang diinginkan.

  • Untuk orang yang mengalami kekerasan: Jika silent treatment bagian dari pola kekerasan verbal, fisik, atau psikologis, sebaiknya segera menghubungi teman atau keluarga terdekat untuk mendapatkan pertolongan terbebas dari kekerasan.

  • Untuk orang yang melakukan silent treatment: Bagi yang menyadari diri sering melakukan silent treatment, langkah pertama adalah mengakui bahwa perilaku tersebut menyakiti orang lain. Ini penting agar bisa menerima masukan dan mau berubah.

 

Itulah penjelasan mengenai silent treatment yang penting untuk dipahami. Jadi, bisa disimpulkan bahwa mengabaikan atau mendiamkan seseorang bukanlah solusi yang sehat dalam menyelesaikan konflik. Silent treatment justru dapat merusak hubungan dan meninggalkan luka emosional yang sulit disembuhkan.

 

Apabila pola ini terus berulang, baik sebagai pelaku maupun penerima, penting untuk mencari bantuan profesional guna memahami akar masalah dan membangun komunikasi yang lebih sehat. Jika membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di Siloam Hospitals terdekat.

 

Penting untuk dipahami bahwa proses pemeriksaan dan pengobatan di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang disediakan. Namun, tenaga medis tentu akan memastikan bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

 

Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. The Silent Treatment: Causes and Coping. Diakses pada 2025 | Shilpi Agarwal. Psychological Costs and Benefits of Using Silent Treatment diakses pada 2025| Medical News Today. What is the silent treatment and is it abuse?. Diakses pada 2025 | Journal of Clinical & Community Medicine. What is the Psychology behind Ostracism or “Silent Treatment” and what to do with such abuse?. Diakses pada 2025 |

Dokter Kami
dr-leman-spkj-mkes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Leman, SpKJ, MKes

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jimmy-sebastian-ollich-spkj

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jimmy Sebastian Ollich, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-pricella-maria-ismail-spkj

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Pricella Maria Ismail, SpKJ

Psikiatri

Spesialis Psikiatri


Siloam Hospitals Sentosa

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail