Sindrom Boerhaave - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Boerhaave - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

04 Mei 2025 5 menit waktu baca
sindrom Boerhaave

Boerhaave's syndrome atau sindrom Boerhaave adalah kondisi medis yang ditandai dengan robeknya esofagus (kerongkongan) secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya terjadi ketika seseorang mengalami muntah yang kuat atau berulang. Mari pahami lebih lanjut mengenai penyebab, gejala, hingga pengobatan sindrom Boerhaave dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Sindrom Boerhaave?

 

Seperti yang telah dijelaskan, sindrom Boerhaave adalah kondisi ketika esofagus atau kerongkongan robek secara tiba-tiba. Ketika kerongkongan robek, hal itu bisa menyebabkan bocornya zat-zat racun yang dibawa oleh saluran pencernaan tersebut dan memicu terjadinya infeksi di area sekitar kerongkongan. 

 

Sindrom Boerhaave tergolong sebagai kondisi darurat medis sehingga perlu segera mendapatkan penanganan yang tepat. Sindrom ini menjadi penyebab sekitar 15% dari seluruh kasus ruptur esofagus akibat trauma. Perkiraan angka kejadian sindrom Boerhaave secara global adalah sekitar 3,1 per 1.000.000 per tahun.

 

Boerhaave’s syndrome sering kali dikaitkan dengan Mallory-Weiss tear karena dua kondisi tersebut sama-sama memengaruhi kerongkongan. Meski demikian, terdapat perbedaan antara Boerhaave’s syndrome dan Mallory Weiss tear jika dilihat dari bagian kerongkongan yang terdampak.

 

Mallory-Weiss tear adalah kondisi yang ditandai dengan robeknya lapisan dinding kerongkongan bagian dalam. Sementara itu, Boerhaave’s syndrome menyebabkan kerusakan pada seluruh lapisan dinding kerongkongan (transmural tear).

 

Penyebab Sindrom Boerhaave

 

Sindrom Boerhaave dapat terjadi ketika kerongkongan menegang secara berlebihan. Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh tekanan berlebih dari luar kerongkongan ketika sfingter esofagus bagian atas gagal berelaksasi sebagai respons terhadap tekanan tersebut. Kondisi ini tidak disebabkan oleh faktor genetik.

 

Salah satu penyebab sindrom Boerhaave yang paling umum terjadi adalah muntah yang kuat dan berulang-ulang. Selain itu, beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom ini, di antaranya:

 

  • Melahirkan.

  • Epilepsi

  • Mengangkat beban.

  • Menelan sesuatu yang bersifat korosif.

  • Riwayat trauma pada dada atau perut (abdomen).

  • Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

  • Menderita gangguan makan, seperti binge eating disorder atau bulimia.

  • Menderita gangguan pada kerongkongan, seperti esofagitis (peradangan pada esofagus), Barrett's esophagus (kerusakan pada lapisan esofagus akibat paparan asam lambung dalam jangka panjang), dan peptic ulcer disease (ulkus gaster atau ulkus duodenum).

 

Perforasi atau robeknya esofagus biasanya terjadi secara longitudinal, dengan ukuran rata-rata 3–8 cm, dan ditemukan terutama di area sepertiga bagian bawah posterior lateral esofagus, kira-kira 2–3 cm di atas transisi lambung dengan esofagus. Area ini cenderung lebih lemah karena konsentrasi struktur neurovaskular (saraf dan pembuluh) yang lebih tinggi dan relatif tidak adanya serat otot longitudinal.

Gejala Sindrom Boerhaave

 

Gejala sindrom Boerhaave cenderung beragam, tergantung pada area dan luas kerongkongan yang mengalami ruptur, serta berapa lama kondisi ini sudah terjadi. Namun, kondisi ini biasanya dapat menimbulkan rasa nyeri yang parah di sekitar lokasi yang terdampak. 

 

Presentasi klinis sindrom Boerhaave dikenal sebagai Mackler’s triad yang meliputi muntah, nyeri dada bagian bawah, dan emfisema subkutan (terperangkapnya udara atau gas di bawah lapisan kulit). Namun, gambaran klinis sindrom ini sering kali tidak spesifik. Beberapa gejala umum Boerhaave’s syndrome adalah:

 

  • Nyeri dada yang parah dan tiba-tiba.

  • Mual dan muntah.

  • Nyeri atau batuk saat menelan.

  • Napas pendek dan cepat.

  • Pembengkakan pada rongga dada akibat penumpukan udara atau cairan.

  • Perut terasa keras dan kaku.

  • Munculnya tanda-tanda infeksi, seperti demam dan berkeringat.

 

Diagnosis Sindrom Boerhaave

 

Dalam menegakkan diagnosis sindrom Boerhaave, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien. Perlu diketahui bahwa tidak semua kasus sindrom ini dapat menimbulkan gejala klasik Mackler’s triad

 

Selain itu, untuk membantu menegakkan diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

 

  • Pemeriksaan darah. Pada kondisi ini tidak terlalu spesifik, namun orang dengan sindrom Boerhaave dapat mengalami peningkatan sel darah putih (leukositosis).

  • Esophagram, yaitu tes pencitraan yang menggunakan sinar-X dan zat pewarna kontras untuk memeriksa kondisi esofagus.

  • CT scan.

  • Rontgen dada.

 

Pengobatan Sindrom Boerhaave

 

Apabila diagnosis Boerhaave’s syndrome telah ditegakkan, dokter akan melakukan tindakan medis sesegera mungkin untuk menangani kondisi tersebut. Secara umum, terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengobati sindrom ini, di antaranya:

 

  • Pemberian cairan melalui intravena.

  • Pemberian antibiotik melalui intravena untuk mengendalikan infeksi.

  • Konsultasi bedah. Pada dasarnya, tindakan pembedahan merupakan standar penanganan sindrom Boerhaave yang umum dilakukan. Namun, pada kasus ruptur kecil mungkin akan ditangani dengan observasi (pemantauan), pemberian antibiotik melalui intravena, serta pengobatan melalui endoskopi terlebih dahulu. Kendati demikian, dokter mungkin tetap perlu merencanakan tindakan pembedahan.

  • Tindakan operasi perbaikan. Idealnya, ruptur kerongkongan perlu segera diperbaiki dalam waktu 24 jam. Tergantung pada kondisi pasien, dokter mungkin dapat menggunakan prosedur bedah minimal invasif, seperti video-assisted thoracoscopic surgery (VATS). Beberapa kasus darurat mungkin perlu ditangani dengan torakotomi terbuka agar dokter bisa mengakses rongga dada pasien secara menyeluruh.

  • Drainase/debridement. Melalui prosedur ini, dokter akan mengeluarkan cairan yang menumpuk di dalam rongga dada dan mengangkat jaringan yang terinfeksi atau mati. Dalam beberapa kasus yang parah, dokter mungkin perlu mengangkat sebagian kerongkongan pasien.

  • Esofagektomi. Apabila pembedahan tidak bisa dilakukan dalam kurun waktu 24 jam, dokter mungkin perlu mengangkat sebagian atau seluruh esofagus melalui prosedur esofagektomi.

  • Pemberian asupan nutrisi. Selama masa penyembuhan, pasien tidak bisa menggunakan kerongkongan untuk menelan makanan maupun minuman. Karena itu, dokter akan memberikan asupan nutrisi melalui vena atau tabung khusus.

 

Komplikasi Sindrom Boerhaave

 

Sindrom Boerhaave digolongkan sebagai kondisi darurat medis bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, sindrom ini bisa meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi serius. Beberapa risiko komplikasi tersebut, di antaranya:

 

  • Peradangan dan pembengkakan pada rongga dada.

  • Empiema (penumpukan cairan nanah pada rongga dada).

  • Adanya udara yang terperangkap pada rongga dada atau jaringan di bawah kulit.

  • Efusi pleura (penumpukan cairan di rongga pleura).

  • Sindrom gangguan pernapasan akut.

  • Sepsis.

  • Syok.

 

Pada dasarnya, penting untuk segera menangani Boerhaave’s syndrome dengan tepat agar terhindar dari risiko komplikasi tersebut. Dalam hal ini, segera konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Siloam Hospitals jika mengalami gejala-gejala yang mengarah pada Boerhaave’s syndrome seperti ulasan di atas.

 

Di sisi lain, untuk menjaga kesehatan sekaligus mendeteksi dini gangguan pencernaan secara keseluruhan, Anda juga bisa melakukan Skrining Sistem Pencernaan Lengkap dengan memesan paketnya melalui MySiloam. Dengan aplikasi ini, Anda juga bisa mendapatkan beragam kemudahan, seperti mengantre dan memantau hasil pemeriksaan secara online.

 

Aplikasi My Siloam

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail