Sindrom Kompartemen: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Kompartemen: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

13 Agustus 2025 5 menit waktu baca
mengenal sindrom kompartemen

Compartment syndrome atau sindrom kompartemen adalah kondisi gawat darurat yang bisa muncul akibat adanya peningkatan tekanan di dalam kompartemen otot. Kompartemen otot sendiri adalah kumpulan dari serabut otot, pembuluh darah, dan saraf. Bagian ini dilapisi oleh selaput fascia yang tidak elastis atau tidak dapat mengembang. 

 

Kondisi ini harus segera ditangani untuk mencegah terjadinya kerusakan pada otot dan sel saraf yang dapat berujung pada kematian (nekrosis) otot secara permanen. Mari simak pembahasan mengenai sindrom kompartemen selengkapnya melalui ulasan di bawah ini. 

 

Apa itu Sindrom Kompartemen (Compartment Syndrome)?

 

Sindrom kompartemen adalah kondisi gawat darurat yang terjadi akibat peningkatan tekanan secara berlebihan di dalam kompartemen otot. Hal ini terjadi karena adanya pembengkakan atau perdarahan di dalam kompartemen otot yang biasanya disebabkan oleh cedera.

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, selaput fascia yang membungkus kompartemen otot tidak bersifat elastis, sehingga pembengkakan atau perdarahan di dalam kompartemen otot akan meningkatkan tekanan di dalamnya.

 

Compartment syndrome dapat dialami oleh siapa saja, namun lebih berisiko dialami oleh seseorang yang sering melakukan aktivitas dengan gerakan berulang (karena tuntutan pekerjaan atau gerakan olahraga).

 

Penyebab Sindrom Kompartemen

 

Berdasarkan durasinya, penyebab sindrom kompartemen dapat dibagi menjadi dua , yaitu akut (terjadi secara tiba-tiba) dan kronis (terjadi secara bertahap). 

 

A. Sindrom Kompartemen Akut

 

Sindrom kompartemen akut adalah kondisi yang paling umum terjadi. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh cedera berat secara tiba-tiba, seperti pada kasus kecelakaan. Beberapa penyebab lainnya yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi ini adalah sebagai berikut:

 

  • Luka bakar.

  • Patah tulang.

  • Luka akibat kecelakaan.

  • Keseleo parah.

  • Gigitan ular.

  • Komplikasi dari prosedur operasi pembuluh darah.

  • Lilitan perban yang terlalu kencang.

  • Memar parah di otot.

 

B. Sindrom Kompartemen Kronis

 

Sindrom kompartemen kronis adalah kondisi yang terjadi karena aktivitas olahraga yang melibatkan gerakan berulang dan intens, seperti saat berolahraga renang, mendayung, berlari, dan bersepeda.

 

Pada umumnya, cedera ini tidak menimbulkan gejala nyeri yang serius. Selain aktivitas olahraga dengan gerakan repetitif, sindrom kompartemen kronis juga berisiko dialami oleh seseorang yang mengonsumsi obat steroid anabolik.

 

Meski dapat dialami oleh seluruh kalangan usia, sindrom kompartemen biasanya lebih banyak diderita oleh seseorang di bawah usia 40 tahun.

 

Gejala Sindrom Kompartemen

 

Sindrom kompartemen dapat terjadi pada bagian lengan, tangan, tungkai, kaki, dan bokong, namun bagian lutut ke bawah adalah bagian yang paling berisiko terkena kondisi ini. Berikut masing-masing gejalanya:

 

1. Gejala Sindrom Kompartemen Akut

 

Pada sindrom kompartemen akut, gejalanya akan muncul dalam beberapa jam setelah cedera dan  semakin memburuk dengan cepat jika tidak segera mendapatkan perawatan medis.

 

Bahkan, rasa nyeri yang muncul umumnya tidak membaik meski sudah mengonsumsi obat antinyeri atau ketika bagian tubuh yang cedera diposisikan lebih tinggi dari dada. Berikut beberapa gejala yang umumnya muncul pada kondisi ini:

 

  • Bagian tubuh yang mengalami cedera tidak bisa digerakkan.

  • Muncul pembengkakan di area cedera.

  • Nyeri parah terutama saat otot digerakkan.

  • Kesemutan, sensasi terbakar, atau mati rasa di bagian tubuh yang mengalami cedera.

  • Otot terasa kencang.

 

2. Gejala Sindrom Kompartemen Kronis

 

Pada sindrom kompartemen kronis, gejala yang dirasakan biasanya muncul secara bertahap saat sedang berolahraga atau latihan dan dapat sembuh dengan beristirahat atau menghindari melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan munculnya rasa nyeri. 

 

Oleh karena itu, penderita sindrom kompartemen disarankan untuk beristirahat sampai kondisi otot pulih kembali. Berikut beberapa gejala yang umumnya muncul dari sindrom kompartemen kronis:

 

  • Pembengkakan otot.

  • Muncul kram otot saat berolahraga, terutama di kaki.

  • Kulit di area yang mengalami cedera terlihat pucat dan terasa dingin.

  • Anggota tubuh yang cedera sulit digerakkan.

 

Diagnosis Sindrom Kompartemen

 

Penegakan diagnosis dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui keluhan serta riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan, pemeriksaan fisik di area yang mengalami cedera untuk menentukan tingkat keparahannya, hingga pemeriksaan penunjang lainnya untuk membantu mengonfirmasi diagnosis secara lebih akurat.

 

Pada umumnya, pemeriksaan khusus dilakukan untuk mengukur tekanan dalam kompartemen otot. Tes ini dilakukan dengan memasukkan jarum yang dilengkapi alat pengukur ke area yang mengalami cedera. Pemeriksaan pencitraan seperti foto rontgen dan MRI juga dapat dilakukan jika memang diperlukan. 

 

Komplikasi Sindrom Kompartemen

 

Jika tidak segera mendapatkan perawatan medis yang tepat, sindrom kompartemen dapat menyebabkan komplikasi yang serius dan fatal. Beragam komplikasi tersebut pun dinilai lebih berisiko tinggi terjadi pada penderita sindrom kompartemen akut. Berikut adalah sejumlah komplikasi yang dapat terjadi.

 

  • Gagal ginjal akibat kematian jaringan otot (rhabdomyolysis).

  • Terbentuknya jaringan parut di otot.

  • Penurunan fungsi otot.

  • Infeksi.

  • Kelumpuhan.

  • Diperlukannya tindakan amputasi untuk menghilangkan bagian tubuh yang mengalami kematian jaringan otot.

 

Penanganan Sindrom Kompartemen

 

Bagi penderita sindrom kompartemen kronis, dokter biasanya merekomendasikan pasien untuk menjalani perawatan mandiri. Sebab, nyeri pada sindrom kompartemen kronis umumnya dapat mereda setelah beristirahat dan berhenti melakukan kegiatan atau aktivitas yang memicu gejala.

 

Apabila dibutuhkan, dokter juga dapat meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid atau obat anti nyeri untuk membantu meredakan rasa nyeri yang dialami.

 

Berikut adalah langkah-langkah perawatan mandiri yang bisa diterapkan:

 

  • Meletakkan kompres air dingin atau es batu yang dibungkus kain pada area yang mengalami cedera untuk mengurangi rasa nyeri dan pembengkakan.

  • Mengurangi intensitas olahraga saat tubuh mulai merasa lelah.

  • Mengganti alas kaki yang digunakan untuk berolahraga.

  • Mengganti jenis olahraga yang berat dengan jenis lainnya yang lebih ringan.

  • Mengombinasikan jenis latihan atau olahraga guna menghindari gerakan yang repetitif.

  • Memposisikan bagian tubuh yang mengalami cedera lebih tinggi dari jantung, terutama saat sedang berbaring.

  • Apabila menggunakan perban untuk melindungi area tubuh yang mengalami cedera, pastikan untuk tidak membalutkan perban terlalu ketat.

  • Menghindari pengobatan alternatif seperti urut atau pijat untuk mencegah terjadinya komplikasi lainnya.

 

Sementara itu, bagi penderita sindrom kompartemen akut maupun kronis yang tidak membaik setelah dilakukan berbagai cara perawatan mandiri di atas, tindakan fasciotomy adalah tindakan medis yang perlu dilakukan dengan segera. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kerusakan atau bahkan kematian pada jaringan.

 

Tindakan ini dilakukan dengan membuka selaput fascia untuk mengurangi tekanan di dalam kompartemen otot serta mengangkat sel otot yang sudah mati jika ada. Selaput fascia akan dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelahnya untuk mencegah kekambuhan sindrom kompartemen.

 

Apabila Anda mengalami gejala atau tanda yang mengarah pada sindrom kompartemen yang tidak kunjung membaik dan semakin parah, segera periksakan diri ke dokter terkait di Siloam Hospitals terdekat. Jadwalkan janji temu dokter secara mudah melalui fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam

 

Dengan menggunakan aplikasi MySiloam, Anda pun dapat menghemat waktu karena tersedia fitur untuk mengantre secara virtual dan juga mengecek hasil pemeriksaan kesehatan. Jadi, mari unduh aplikasi MySiloam sekarang dan percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-made-o-mahendra-spot-mbiomed

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Made Oka Mahendra, SpOT, M.Biomed

Ortopedi (Tulang)

Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-su-djie-to-rante-m-biomed-spot

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Su Djie To Rante, M. Biomed., SpOT, Subsp. P.L(K)

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-henry-tanzil-spotk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Henry Tanzil, M. Kes, SpOT (K), FICS

Ortopedi (Tulang)

Subspesialis Panggul dan Lutut


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail