Kesehatan Tubuh
Mengenal Pembesaran Prostat dan Faktor-Faktor Pemicunya

Table of Contents
Pembesaran prostat adalah kondisi ketika kelenjar prostat pada pria mengalami pembengkakan. Pembesaran prostat bisa terjadi karena beberapa kondisi, salah satu yang paling umum adalah BPH (benign prostatic hyperplasia). Namun, belum diketahui secara pasti apa penyebab BPH.
Sementara itu, beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang pria mengalami pembesaran prostat meliputi faktor genetik, hormon, hingga sindrom metabolik. Mari waspadai kondisi pembesaran prostat dengan mengenali penyebab, gejala, diagnosis, serta pengobatannya melalui artikel berikut.
Apa Itu Pembesaran Prostat?
Seperti yang sudah dijelaskan, pembesaran prostat adalah kondisi ketika kelenjar prostat mengalami pembesaran. Sebagai informasi, prostat merupakan kelenjar yang terletak di bawah kandung kemih, serta mengelilingi sebagian uretra.
Uretra adalah saluran yang membawa urine dan sperma keluar dari tubuh. Ketika kelenjar prostat membesar, aliran urine dan sperma melalui uretra dapat terhambat. Perlu dipahami, pembesaran prostat tidak menandakan benign prostatic hyperplasia (BPH). Hal ini dikarenakan penyebab pembesaran prostat bisa dipicu oleh inflamasi, tumor, serta perubahan struktural atau pascainfeksi.
Penyebab Pembesaran Prostat
Pembesaran prostat dapat disebabkan oleh beberapa kondisi medis, salah satunya BPH. BPH dapat terjadi akibat pertumbuhan berlebih pada jaringan prostat yang dipicu oleh penuaan, terutama peningkatan aktivitas dihidrotestosteron (DHT). Selain itu, pembesaran prostat juga bisa disebabkan oleh prostatitis atau peradangan pada kelenjar prostat, kanker prostat, serta terapi penggantian testosteron.
Faktor Risiko Pembesaran Prostat
Meski belum diketahui secara pasti, terdapat beberapa faktor risiko yang berperan dalam terjadinya atau memburuknya gejala pembesaran prostat. Berikut penjelasan selengkapnya:
1. Diabetes
Penyakit diabetes diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko pembesaran prostat dan gejala gangguan berkemih (lower urinary tract symptoms atau LUTS). Penelitian berjudul Impact of Diabetes Mellitus on Lower Urinary Tract Symptoms in Benign Prostatic Hyperplasia Patients: A Meta-Analysis (2022) menunjukkan bahwa diabetes dapat memengaruhi proses pertumbuhan sel prostat dan fungsi saraf kandung kemih. Hal ini dapat berkontribusi pada pembesaran prostat sehingga memperburuk keluhan gangguan berkemih (LUTS).
2. Diet
Pembesaran prostat juga dapat dipengaruhi oleh faktor diet. Penelitian dalam Nutrients (2021) menunjukkan bahwa kualitas diet berperan penting dalam kesehatan prostat. Studi menunjukkan bahwa diet tinggi lemak jenuh dan makanan olahan dapat meningkatkan stres oksidatif dan inflamasi sehingga meningkatkan risiko perburukan gejala pembesaran prostat.
Sebaliknya, pola makan sehat seperti diet Mediterania (banyak sayur, buah, kacang, biji-bijian, ikan lemak omega-3, dan sedikit daging merah) menunjukkan gejala sulit berkemih (LUTS) yang lebih ringan pada pria dengan pembesaran prostat.
3. Faktor Genetik
Pembesaran prostat juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Penelitian berjudul Genetic Predisposition to Benign Prostatic Hyperplasia: Where Do We Stand? (2024) menunjukkan bahwa kondisi prostat, termasuk pembesaran prostat, berkaitan erat dengan faktor genetik.
4. Peradangan Lokal
Peradangan lokal juga kerap dikaitkan dengan pembesaran prostat. Belum diketahui secara pasti bagaimana peradangan lokal dapat menyebabkan pembesaran prostat. Namun, peradangan ini dapat dipicu oleh obesitas, infeksi, dan gangguan autoimun.
5. Obesitas
Obesitas atau kelebihan berat badan dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjadinya pembesaran prostat. Penelitian berjudul Systematic Review: Relationship between Obesity and the Risk of Benign Prostate Hyperplasia (2024) menunjukkan bahwa kelebihan berat badan atau obesitas memicu proses peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh. Akibatnya, penderita obesitas berisiko mengalami pembesaran prostat, meski tidak ada masalah metabolik lainnya.
6. Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi medis seperti hipertensi, diabetes, lingkar pinggang besar, kadar trigliserida tinggi dan HDL rendah. Penelitian berjudul The Relationship Between Metabolic Syndrome and Benign Prostate Enlargement: A Case-Control Study in a Peruvian Military Hospital (2023) menunjukkan bahwa sindrom metabolik memicu peradangan kronis dan resistensi insulin yang dapat memengaruhi pertumbuhan jaringan prostat.
7. Hormon dan Peradangan Kronis
Penelitian Review of the Roles and Interaction of Androgen and Inflammation in Benign Prostatic Hyperplasia (2020) menunjukkan bahwa pembesaran prostat dipengaruhi oleh interaksi antara hormon androgen dan proses peradangan yang berkepanjangan di jaringan prostat. Selain faktor usia, hormon androgen terutama testosteron dan turunannya seperti dihidrotestosteron dapat memperkuat reaksi peradangan kronis, sehingga mendorong pertumbuhan jaringan prostat.
Sebaliknya, peradangan yang berlangsung lama juga dapat mengubah respons sel prostat terhadap androgen, sehingga terbentuk “lingkaran setan” antara hormon dan peradangan. Kondisi ini membuat jaringan prostat terus menebal dan membesar seiring waktu.
8. Terapi Hormon Testosteron
Terapi penggantian testosteron (TRT) dapat memengaruhi ukuran prostat karena sebagian testosteron diubah menjadi hormon dihidrotestosteron. Pada sebagian pria yang sudah memiliki pembesaran prostat atau gejala berkemih sebelumnya, TRT dapat memicu peningkatan volume prostat dan memperburuk gejala LUTS. Efek ini tidak terjadi pada semua pasien, sehingga penggunaan TRT tetap perlu dipantau oleh dokter.
Gejala Pembesaran Prostat
Apabila terjadi pembesaran pada kelenjar prostat, saluran urine akan menyempit atau tersumbat. Kondisi ini dapat mengakibatkan munculnya gejala berupa:
-
Aliran urine menjadi lambat atau urine tampak menetes.
-
Kesulitan memulai buang air kecil.
-
Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil.
-
Kandung kemih tidak terasa benar-benar kosong setelah buang air kecil.
-
Nyeri setelah buang air kecil atau ejakulasi.
-
Warna urine berubah.
-
Urine berbau tidak biasa.
Diagnosis Pembesaran Prostat
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) tentang gejala dan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya. Dokter akan menilai IPSS (international prostate symptom score) untuk menentukan keparahan gejala dan memantau respons terapi. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Salah satu bagian dari pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan colok dubur (digital rectal exam).
Dalam pemeriksaan colok dubur, dokter akan menggunakan sarung tangan dan memasukkan jari dengan hati-hati ke dalam tubuh. Dokter akan meraba tepi dan permukaan prostat, memperkirakan ukurannya, dan mendeteksi ada atau tidaknya bagian keras yang bisa menandakan kanker.
Di samping itu, dokter mungkin juga melakukan pemeriksaan penunjang berupa:
-
Pemeriksaan laboratorium darah, seperti darah lengkap, fungsi ginjal, tanda peradangan, PSA (prostate-specific antigen), dan lain-lain.
-
Pemeriksaan urine.
-
Pencitraan, seperti USG dan CT scan.
-
Sistoskopi untuk melihat kondisi di dalam kandung kemih.
-
24-hour voiding diary. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mencatat waktu dan volume buang air kecil pasien sepanjang hari. Hal ini dapat membantu dalam mengevaluasi gangguan saluran kemih, terutama nokturia.
-
Biopsi. Biopsi prostat dilakukan menggunakan pencitraan ultrasonografi untuk memandu jarum yang mengambil sampel jaringan prostat. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter untuk mendeteksi kanker prostat.
Sebelum mengambil keputusan medis, beberapa pasien mungkin perlu mendapatkan second opinion, terutama jika dokter merekomendasikan tindakan invasif seperti operasi atau prosedur tertentu. Second opinion dari dokter spesialis urologi yang relevan dapat membantu pasien lebih mantap akan mengambil keputusan perawatan medis yang sesuai baginya.
Pengobatan Pembesaran Prostat
Terdapat beberapa cara mengatasi pembesaran prostat. Penanganannya akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mulai dari keparahan gejala yang dialami, usia, ukuran prostat, serta kesehatan pasien secara keseluruhan. Beberapa pilihan perawatan pembesaran prostat adalah sebagai berikut:
-
Watchful waiting: Jika gejala bersifat ringan, pasien cukup melakukan pemantauan rutin agar kondisinya tidak memburuk.
-
Obat-obatan: Beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk mengobati pembesaran prostat adalah sebagai berikut:
-
Relaksan otot polos prostat untuk mengurangi tekanan pada uretra, seperti tamsulosin, terazosin, doxazosin, alfuzosin, dan silodosin.
-
Penghambat hormon dihidrotestosteron untuk memperlambat pertumbuhan prostat, seperti finasteride dan dutasteride.
-
Kombinasi obat, misalnya dutasteride dan tamsulosin.
-
Operasi: Prosedur ini biasanya direkomendasikan untuk mengangkat jaringan prostat yang menyumbat uretra. Beberapa pilihan prosedurnya adalah:
-
TURP (transurethral resection of the prostate).
-
TUIP (transurethral incision of the prostate).
-
Elektrovaporisasi prostat.
-
Photoselective vaporization of the prostate (PVP).
Sebagai informasi, penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi pembesaran prostat. Dengan kata lain, gejala seperti inkontinensia, nyeri setelah buang air kecil, dan perubahan warna urine, bisa serupa dengan kondisi medis lainnya.
Diagnosis dan rencana terapi yang tepat akan sangat memegang peranan penting dalam kesembuhan kondisi pembesaran prostat. Karenanya, perhatikan reputasi serta layanan kesehatan berstandar internasional ketika memilih rumah sakit urologi terbaik untuk mendapatkan pengobatan atau mencari second opinion guna mendapatkan informasi menyeluruh tentang diagnosis dan rencana terapi Anda.
Dengan adanya teknologi medis canggih dan tim dokter berpengalaman, Anda dapat memperoleh tinjauan medis tambahan di Indonesia, tanpa harus ke luar negeri. Karena itu, konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Dapatkan layanan kesehatan yang lebih praktis dengan mengunduh aplikasi MySiloam sekarang juga.
Sumber
WebMD. What Is BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)?. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Benign Prostatic Hyperplasia. Diakses pada 2025 | StatPearls. Benign Prostatic Hyperplasia. Diakses pada 2025 | Medula. Systematic Review: Relationship between Obesity and the Risk of Benign Prostate Hyperplasia. Diakses pada 2025 | Urology. Genetic and Environmental Influences on Urinary Conditions in Men: A Classical Twin Study. Diakses pada 2025 | Frontiers Endocrinology. Impact of Diabetes Mellitus on Lower Urinary Tract Symptoms in Benign Prostatic Hyperplasia Patients: A Meta-Analysis. Diakses pada 2025 | Urology Research & Practice. The Relationship Between Metabolic Syndrome and Benign Prostate Enlargement: A Case-Control Study in a Peruvian Military Hospital. Diakses pada 2025 | American Urological Association. Evaluation and Management of Testosterone Deficiency (2024). Diakses pada 2025 | Nutrients. Relationship between Dietary Patterns with Benign Prostatic Hyperplasia and Erectile Dysfunction: A Collaborative Review. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Ambon
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
SKRINING PROSTAT PLUS
6 Service/Item
Rp749.000
TERPOPULER
Complete Urinalysis (Chem & Sed) / Urine Lengkap
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp76.500
TERPOPULER
Prostat Specific Antigen (PSA Prostat)
Pria, Tumor/Kanker
1 Service/Item
Rp486.900
TERPOPULER
Paket Cek Diabetes
Darah, Gula/ Diabetes
2 Service/Item
Rp218.300







