Kenali BPH (Pembesaran Prostat Jinak), Gejala & Penyebabnya
Kesehatan Tubuh

Kenali BPH (Pembesaran Prostat Jinak), Gejala & Penyebabnya

21 Mei 2026 6 menit waktu baca
bph adalah (Benign Prostatic Hyperplasia)

Benign prostatic hyperplasia atau BPH adalah kondisi ketika kelenjar prostat membesar. Kondisi ini menyebabkan aliran urine menjadi tidak lancar karena adanya penekanan pada uretra (saluran pembuangan urine). Akibatnya, penderita merasa seperti tidak tuntas setiap buang air kecil dan sering kali harus mengejan untuk bisa mengeluarkan urine.

 

Sebenarnya, hampir semua pria mengalami pembesaran prostat, terlebih ketika memasuki usia 60 tahun. Namun, tidak semua pembesaran prostat menimbulkan masalah atau gejala. Lantas, apa penyebab BPH dan bagaimana gejalanya? Simak selengkapnya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)?

 

Benign prostatic hyperplasia adalah kondisi ketika kelenjar prostat pria mengalami pembesaran, tetapi bukan disebabkan oleh kanker. Kelenjar prostat merupakan organ yang terletak di antara kandung kemih dan saluran uretra. Perlu diketahui, ukuran prostat akan selalu membesar seiring dengan bertambahnya usia.

 

Terdapat dua periode perkembangan prostat yang dialami pria seumur hidupnya, yang pertama adalah fase pubertas dan yang kedua dimulai ketika pria memasuki usia 25 tahun. Pada tahap kedua itulah biasanya BPH terjadi. Kelenjar prostat yang membesar berisiko menekan uretra sehingga menyebabkan kandung kemih menebal dan melemah. Akibatnya, kemampuan kandung kemih untuk mengeluarkan urine berkurang atau bahkan hilang.

 

BPH adalah kondisi yang umum terjadi pada pria, terutama pria berusia 50 tahun ke atas. Pasalnya, seiring dengan bertambahnya usia, risiko terhadap kondisi ini juga akan meningkat. Meski begitu, tak menutup kemungkinan bahwa pria muda juga bisa mengalaminya.

 

Penyebab BPH

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab BPH atau benign prostatic hyperplasia. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini berkaitan dengan perubahan keseimbangan kadar hormon seksual pada pria seiring dengan bertambahnya usia. Prostat pada sebagian besar pria akan terus tumbuh selama hidup. Saat ukurannya semakin besar, prostat dapat menghimpit uretra. Kondisi inilah yang memicu timbulnya BPH.

 

Di samping itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko pria mengalami BPH adalah sebagai berikut:

 

  • Mengonsumsi obat hipertensi jenis penghambat beta secara rutin.

  • Kurang bergerak atau berolahraga.

  • Pria berusia di atas 60 tahun.

  • Mengidap obesitas atau berat badan berlebih.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat gangguan prostat.

  • Menderita diabetes dan penyakit jantung.

 

Gejala BPH

 

Gejala umum yang dialami oleh penderita benign prostatic hyperplasia adalah sebagai berikut:

 

  • Meningkatnya frekuensi buang air kecil.

  • Kesulitan buang air kecil hingga harus mengejan.

  • Merasa tidak tuntas setiap buang air kecil.

  • Urine berbau dan warnanya tidak normal.

  • Nyeri saat buang air kecil.

  • Aliran urine melemah dan tersumbat.

  • Perut bagian bawah terasa nyeri dan penuh.

  • Kesulitan menghentikan aliran urine setelah buang air kecil.

 

Diagnosis BPH

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terkait gejala dan keluhan yang dialami pasien. Kemudian, dokter akan melanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan colok dubur untuk mengetahui kondisi dan ukuran prostat pasien. Selain itu, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan oleh dokter untuk membantu menegakkan diagnosis BPH adalah sebagai berikut:

 

  • USG prostat, untuk mengetahui ukuran prostat.

  • Tes urine (urinalisis), untuk menyampingkan kemungkinan adanya infeksi atau penyakit lain yang gejalanya mirip dengan BPH.

  • Tes darah, untuk memeriksa apakah ada gangguan pada ginjal.

  • Tes pengukuran kadar antigen prostat (tes PSA) dalam darah, yang mana kadar PSA akan meningkat jika pasien mengalami BPH.

  • Tes kecepatan aliran urine, untuk mengukur volume dan kecepatan aliran urine.

  • Biopsi, untuk mengetahui ada atau tidaknya sel kanker dengan mengambil sampel jaringan pasien.

  • Sistoskopi, untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih pasien.

  • Transrectal ultrasound, untuk mendeteksi kelainan pada prostat menggunakan alat khusus bernama transducer.

 

Sebelum mengambil keputusan medis, sebagian pasien mungkin merasa perlu mencari second opinion untuk memantapkan rencana pengobatan BPH. Dalam situasi ini, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis lain untuk memastikan bahwa terapi yang disarankan sudah sesuai dengan kondisinya.

 

Pengobatan BPH

 

Pada dasarnya, BPH adalah kondisi yang umum terjadi pada pria lanjut usia, yang mana kondisi ini tidak selalu memerlukan pengobatan khusus. Dokter pun akan melihat tingkat keparahan gejala BPH terlebih dahulu.

 

Apabila pasien merasa terganggu dengan kondisi tersebut atau mengalami gangguan saat berkemih, biasanya dokter akan memberikan obat-obatan untuk mengurangi gejala. Apabila gejala BPH semakin berat dan tak kunjung membaik, dokter biasanya merekomendasikan pasien untuk menjalani operasi. Beberapa prosedur operasi yang umum dilakukan untuk pembesaran prostat jinak adalah:

 

  • Transurethral resection of the prostate (TURP). Alat khusus akan dimasukkan melalui uretra untuk membantu visualisasi dokter dalam mengangkat jaringan prostat yang menekan saluran kemih.

  • Transurethral incision of the prostate (TUIP). Prosedur ini menggunakan dua sayatan kecil pada prostat dan leher kandung kemih untuk melebarkan saluran kemih uretra dan melancarkan aliran urine. 

  • Terapi laser. Prosedur ini melibatkan penggunaan energi laser yang kuat untuk mengangkat atau menghancurkan jaringan prostat yang membesar dan menghambat urine. 

  • Robot-assisted simple prostatectomy. Dokter akan mengoperasikan robot dari meja console untuk mengangkat jaringan prostat yang membesar. Dengan bantuan kamera 3D HD serta instrumen bedah robotik yang dilengkapi sistem tremor-filtration, dokter bisa mengangkat jaringan prostat yang membesar dengan lebih stabil dan akurat.  

 

Pencegahan BPH

 

Hingga saat ini, belum ada upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya BPH. Namun, ada sejumlah perawatan mandiri untuk menjaga kesehatan prostat sekaligus mencegah memburuknya gejala BPH, di antaranya:

 

  • Menghindari asupan air 1–2 jam sebelum tidur.

  • Tidak menunda ataupun menahan buang air kecil.

  • Mengurangi konsumsi alkohol dan kafein.

  • Olahraga secara teratur.

  • Mengatasi stres.

  • Menjaga berat badan ideal dan menerapkan pola makan sehat.

 

Penting untuk diingat bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Beberapa penyebab serta gejala yang disebutkan juga tidak secara spesifik mewakili kondisi BPH karena mungkin mengindikasikan kondisi lainnya.

 

Proses, metode, dan opsi pengobatan di setiap rumah sakit pun dapat berbeda, tergantung pada kondisi medis pasien serta fasilitas kesehatan yang dimiliki. Oleh karena itu, saat memilih rumah sakit urologi terbaik, pastikan Anda mempertimbangkan rekomendasi tepercaya dan layanan kesehatan unggulan sebagai bagian penting dalam menentukan pilihan pengobatan maupun mendapatkan second opinion.

 

Tidak perlu ke luar negeri, dengan teknologi medis yang canggih dan tim dokter berpengalaman, Anda dapat memperoleh tinjauan medis yang lengkap di Indonesia. Segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi pembesaran prostat, seperti nyeri saat buang air kecil dan kesulitan dalam mengeluarkan urine.

 

Siloam International Hospitals kini menyediakan metode pengobatan BPH melalui prosedur bedah robotik Da Vinci Xi Robotic Surgery. Teknologi bedah robotik terbaru ini dilengkapi dengan kamera 3D HD yang mampu memperbesar objek hingga 10 kali sehingga visualisasi area operasi menjadi lebih jelas dan detail.

 

Teknologi robotic surgery memungkinkan tindakan bedah minimal invasif dengan hasil yang lebih akurat. Didukung dokter berpengalaman, pasien akan mendapatkan manfaat berupa waktu pemulihan yang lebih cepat, bekas luka yang lebih kecil, dan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi selama proses perawatan.

 

Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai Da Vinci Xi Robotic Surgery, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals Kebon Jeruk sebagai rumah sakit pertama di Siloam International Hospitals yang menyediakan teknologi bedah robotik dengan Da Vinci Xi.


Untuk mendapatkan layanan kesehatan berstandar internasional dengan lebih mudah dan nyaman, gunakan layanan Siloam Medical Concierge yang siap membantu Anda memperoleh informasi mengenai jadwal dokter, pemeriksaan medis, dan fasilitas rumah sakit yang dibutuhkan. Dengan pendampingan yang responsif dan terintegrasi, Anda dapat menjalani proses perawatan dengan lebih tenang tanpa harus pergi ke luar negeri. Mari, ambil langkah perjalanan kesembuhan Anda, di sini, di Indonesia.

 

 

second opinion penanganan komprehensif

message

ArticleDetail