Kesehatan Tubuh
TURP (Reseksi Transurethral Prostat), Ini Tujuan & Prosedurnya

Table of Contents
TURP adalah prosedur pembedahan dengan cara memotong sebagian kelenjar prostat yang membesar. TURP atau reseksi transurethral prostat merupakan standar baku emas untuk mengatasi gangguan berkemih yang terjadi karena adanya sumbatan saluran kemih akibat pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH). Mari pahami lebih lanjut mengenai TURP melalui artikel berikut ini.
Apa Itu TURP (Transurethral Resection of the Prostate)?
TURP adalah tindakan operasi yang bertujuan untuk mengatasi masalah saluran kemih akibat pembesaran kelenjar prostat. Sebagai informasi, kelenjar prostat adalah kelenjar yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra atau saluran kemih.
Adapun fungsi kelenjar prostat yang utama adalah untuk mengeluarkan cairan yang berfungsi sebagai nutrisi dan pelindung sperma. Cairan ini akan keluar bersama sperma dalam bentuk air mani. Fungsi lain dari kelenjar prostat adalah menutup saluran kemih saat mengalami ejakulasi sehingga air mani tidak masuk ke kandung kemih.
Tak hanya itu, kelenjar prostat juga berperan dalam mendukung kinerja hormon seks utama pria yaitu hormon testosteron. Organ yang hanya dimiliki pria ini berbentuk seperti kacang kenari dan bisa membesar seiring bertambahnya usia. Pembesaran kelenjar prostat dapat memberikan tekanan berlebih pada kandung kemih dan uretra.
Hal tersebut bisa menyebabkan gangguan berkemih, salah satunya adalah menimbulkan gejala berupa sulit buang air kecil bahkan tidak bisa buang air kecil (obstruksi saluran kemih). Karena itulah, prosedur TURP perlu dilakukan untuk memotong sebagian kelenjar prostat yang mengganggu aliran urine.

Tujuan TURP
TURP adalah standar baku emas pembedahan pada kasus pembesaran prostat jinak yang tidak kunjung membaik dengan konsumsi obat-obatan atau terapi lainnya. Prosedur ini juga diindikasikan pada kasus pembesaran prostat jinak dengan keadaan atau disertai:
-
Tidak bisa buang air kecil atau obstruksi saluran kemih.
-
Infeksi saluran kemih berulang.
-
Tidak bisa buang air kecil setelah perawatan obat-obatan atau setelah selang kateter dilepas
-
Hematuria atau BAK disertai darah yang berulang.
-
Terdapat batu kandung kemih.
-
Penurunan fungsi ginjal yang disebabkan oleh obstruksi saluran kemih karena BPH.
-
Perubahan patologis atau kerusakan pada kandung kemih dan saluran kemih, seperti hidronefrosis atau pembengkakan ginjal karena obstruksi saluran kemih karena BPH.
-
Pasien yang menolak untuk terapi medikamentosa atau obat obatan.
Prosedur TURP
Prosedur reseksi transurethral prostat dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu persiapan, tata laksana, serta perawatan pascaoperasi. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing prosedur TURP.
A. Persiapan
Sebelum menjalani tindakan TURP, dokter perlu melakukan berbagai prosedur pemeriksaan untuk mengevaluasi kondisi pasien, seperti dengan pemeriksaan laboratorium, USG urologi prostat, dan pemeriksaan penunjang lainnya.
Pasien juga disarankan untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan yang bisa meningkatkan risiko perdarahan pascaprosedur terlebih dahulu, seperti obat pengencer darah (warfarin, acetylsalicylic acid (aspirin), atau clopidogrel). Untuk meminimalkan risiko infeksi saluran kemih pascaprosedur, dokter mungkin akan meresepkan obat antibiotik sebelum menjalani tindakan TURP.
B. Tata Laksana
Prosedur TURP biasanya berlangsung selama kurang lebih 60 menit. Sebelum melakukan prosedur operasi, dokter anestesi akan menyuntikkan obat bius (anestesi), umumnya dengan anestesi spinal atau tulang belakang untuk membuat pasien tidak merasakan nyeri selama tindakan berlangsung.
Lalu, dokter akan memasukkan resectoscope dan TURP sheath (tabung logam tipis yang dilengkapi lampu, kamera, dan kawat melingkar) melalui lubang kencing di ujung penis, hingga melewati uretra dan masuk ke area kelenjar prostat. Resectoscope dan TURP sheath dapat membantu dokter spesialis urologi untuk melihat dan memotong jaringan prostat ekstra yang menghalangi aliran urine.
Kawat atau wire khusus yang melingkar pada resectoscope tersebut kemudian dipanaskan dengan arus listrik dan digunakan untuk memotong jaringan kelenjar prostat yang bermasalah. Selanjutnya, dokter akan memasukkan cairan ke dalam uretra melalui TURP sheath untuk memompa cairan masuk ke dalam kandung kemih. Cairan tersebut nantinya akan membawa dan mengeluarkan potongan-potongan jaringan kelenjar prostat.
Potongan jaringan yang diambil kemudian akan diperiksa di oleh dokter spesialis patologi anatomik untuk mengetahui ada tidaknya keganasan. Seluruh proses ini dilakukan menggunakan alat kamera khusus (endocam), sehingga dapat dilihat melalui layar monitor.
Prosedur ini merupakan tindakan minimal invasif atau tanpa sayatan sehingga komplikasinya minimal dan perawatan pascaoperasi yang relatif lebih cepat. Di mana umumnya, 2 hari setelah tindakan pasien sudah bisa pulang.
C. Perawatan Pascaprosedur
Setelah selesai menjalani tindakan TURP, pasien akan diarahkan oleh dokter untuk rawat inap selama 2–3 hari guna memantau kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Dokter juga akan memasang kateter urine pada saluran kemih pasien selama beberapa hari.
Selanjutnya, pasien juga perlu melakukan kontrol rutin ke dokter pada hari ke 6–7 setelah kepulangan dari rumah sakit. Guna meminimalkan risiko efek samping, pasien disarankan untuk melakukan sejumlah perawatan mandiri, seperti:
-
Memperbanyak minum air putih, yaitu sekitar 2–2,5 liter per hari.
-
Mengonsumsi makanan berserat tinggi untuk mencegah sembelit yang bisa menghambat proses pemulihan.
-
Menghindari aktivitas fisik berat, seperti naik-turun tangga, berjalan jauh, dan mengangkat barang berat, serta berhubungan seksual selama 4–6 minggu setelah operasi.
-
Tidak mengemudikan kendaraan terlebih dahulu selama masih menggunakan kateter urine.
-
Tidak mengejan saat buang air besar.
Risiko Komplikasi dan Efek Samping TURP
Pada dasarnya, TURP adalah prosedur medis yang aman untuk dilakukan. Namun, dalam beberapa kondisi, prosedur ini bisa menimbulkan sejumlah efek samping atau komplikasi yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh pasien. Beberapa risiko pascaoperasi dan komplikasi tersebut terdiri dari komplikasi jangka pendek dan komplikasi jangka panjang. Berikut penjelasannya:
A. Komplikasi Jangka Pendek
-
Kesulitan buang air kecil, terutama pada beberapa hari setelah prosedur atau obstruksi saluran kemih berulang (4,5%).
-
Retensi clot atau tidak bisa BAK karena penumpukan bekuan darah dalam kandung kemih (4,9%).
-
Infeksi saluran kemih (4,1%).
-
Perdarahan karena prosedur TURP yang membutuhkan transfusi (2,9%).
-
TURP syndrome, komplikasi yang ditandai dengan perubahan kondisi dari keadaan hiponatremia tanpa gejala (asymptomatic) menjadi kejang, koma, dan bahkan kematian akibat penyerapan cairan irigasi selama TURP. Namun, komplikasi ini sangat jarang terjadi (<1,1%).
B. Komplikasi Jangka Panjang
-
Disfungsi ereksi, yaitu kondisi ketika pria kesulitan untuk mendapatkan atau mempertahankan ereksi.
-
Inkontinensia urine yaitu kondisi di mana seseorang kesulitan menahan buang air kecil.
-
Stricture urethra (penyempitan saluran uretra).
-
Bladder neck contracture yaitu kondisi fibrosis pada leher kandung kemih.
-
Ejakulasi retrograde, yaitu kondisi ketika otot leher kandung kemih (sfingter kandung kemih) tidak menutup dengan baik saat ejakulasi, sehingga sperma tidak keluar melalui penis melainkan masuk ke kandung kemih.
Secara umum, TURP merupakan prosedur standar baku emas yang aman dan dapat dilakukan untuk membantu menangani gangguan berkemih akibat pembesaran prostat. Namun, penting untuk diketahui, TURP hanya direkomendasikan bagi pasien setelah diagnosis dikonfirmasi.
Untuk mencapai pemulihan, diagnosis dan rencana terapi yang tepat memegang peranan penting. Karenanya, perhatikan reputasi serta layanan kesehatan berstandar internasional ketika memilih rumah sakit urologi terbaik untuk berobat atau mencari second opinion guna mendapatkan informasi menyeluruh tentang diagnosis dan rencana terapi Anda.
Dengan adanya teknologi medis canggih dan tim dokter berpengalaman, Anda bisa memperoleh tinjauan medis tambahan di Indonesia, tanpa harus ke luar negeri. Oleh karena itu, apabila Anda mengalami keluhan seperti sulit buang air kecil atau aliran urine cenderung tidak lancar, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi di Siloam Hospitals terdekat agar memperoleh diagnosis yang tepat.
Sebagai informasi, setiap tahapan pemeriksaan dan metode pengobatan yang Anda jalani dapat berbeda bergantung pada fasilitas kesehatan masing-masing rumah sakit. Tenaga medis profesional akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi medis setiap pasien.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, serta memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan akses kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Heart Hospital
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini






