Penyebab Keguguran di Trimester 1 yang Perlu Diwaspadai!
Ibu dan Anak

Penyebab Keguguran di Trimester 1 yang Perlu Diwaspadai!

26 Februari 2026 6 menit waktu baca
penyebab keguguran di trimester 1

Keguguran rentan terjadi pada ibu hamil di awal kehamilan, terutama di trimester 1. Adapun penyebab keguguran di trimester 1 dapat bervariasi, tergantung kondisi kesehatan masing-masing ibu hamil. Mengetahui penyebab pastinya sangatlah penting untuk menentukan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, mari ketahui faktor-faktor apa yang menyebabkan keguguran di trimester 1 melalui artikel berikut.

 

Mengapa Trimester Pertama Sangat Rentan?

 

Trimester pertama merupakan fase krusial karena pada periode ini terjadi pembentukan organ-organ utama janin, seperti jantung, otak, paru-paru, dan organ tubuh lainnya. Proses ini berlangsung kompleks, sehingga gangguan pada tahap awal perkembangan dapat memengaruhi kelangsungan kehamilan. 

 

Hal ini membuat janin sangat sensitif terhadap gangguan genetik dan lingkungan, misalnya infeksi, paparan zat berbahaya, atau kekurangan nutrisi sehingga lebih rentan mengalami keguguran. Selain itu, proses implantasi serta pembentukan plasenta juga masih berlangsung. Kondisi ini membuat kehamilan pada trimester pertama secara alami lebih rentan dibandingkan trimester berikutnya.

 

Penyebab Keguguran di Trimester 1

 

Keguguran di trimester 1 umumnya disebabkan oleh masalah pada kromosom atau plasenta. Berikut adalah penjelasannya.

 

1. Masalah pada Kromosom

 

Kromosom merupakan bagian dari materi genetik yang berperan dalam mengatur proses pertumbuhan dan perkembangan janin sejak awal kehamilan. Informasi genetik di dalam kromosom memengaruhi pembentukan berbagai karakteristik dasar janin. Apabila terjadi kelainan pada jumlah atau susunan kromosom, proses perkembangan janin dapat terganggu sehingga berisiko keguguran.

 

Sebagian besar kelainan kromosom terjadi secara spontan saat proses pembuahan atau pembelahan sel tahap awal dan umumnya bukan disebabkan oleh tindakan atau kesalahan ibu. Risiko kelainan kromosom diketahui meningkat seiring bertambahnya usia ibu. Hal ini dapat terjadi karena proses pembelahan sel pada embrio berlangsung sangat cepat dan kompleks sehingga kesalahan pembagian kromosom dapat muncul tanpa penyebab yang jelas.

 

2. Masalah pada Plasenta

 

Selama kehamilan, plasenta berperan sebagai organ yang terbentuk khusus untuk menunjang kehidupan janin di dalam rahim. Melalui plasenta, kebutuhan dasar janin, seperti oksigen dan nutrisi, dapat disalurkan dari tubuh ibu sehingga proses tumbuh kembang dapat berlangsung dengan baik. Selain itu, plasenta juga memproduksi hormon yang membantu mempertahankan kehamilan.

 

Pada fase awal kehamilan, plasenta belum terbentuk secara sempurna dan masih mengalami proses perkembangan. Gangguan pada proses ini dapat memengaruhi fungsi plasenta sehingga suplai oksigen dan nutrisi dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko keguguran.

 

Faktor Risiko Keguguran di Trimester 1

 

Memahami faktor risiko keguguran pada trimester pertama sangat penting untuk membantu calon orang tua melakukan langkah pencegahan atau pemantauan yang lebih intensif. Berdasarkan penelitian dalam National Library of Medicine (2023), terdapat beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat meningkatkan risiko keguguran di trimester 1, yakni:

 

  • Usia dan riwayat kehamilan ibu: Semakin bertambahnya usia, terutama setelah 35 tahun, kualitas sel telur dapat menurun sehingga risiko kelainan kromosom meningkat.

  • Riwayat keguguran berulang: Riwayat dua kali atau lebih keguguran dapat meningkatkan kemungkinan keguguran pada kehamilan berikutnya.

  • Kondisi kesehatan ibu: Penyakit metabolik, seperti diabetes yang tidak terkontrol, obesitas, gangguan tiroid, penyakit autoimun, kelainan rahim, serta infeksi tertentu dapat mengganggu proses implantasi dan perkembangan janin.

  • Gaya hidup dan lingkungan: Faktor lingkungan atau gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat terlarang, asupan kafein berlebih, dan paparan zat berbahaya dari lingkungan dapat memengaruhi kesehatan janin.

  • Faktor sosial dan psikologis: Stres kronis akibat tekanan ekonomi, lingkungan yang tidak aman, dapat berdampak pada keseimbangan hormon dan sistem imun ibu.

 

Selain itu, risiko keguguran trimester 1 juga dapat meningkat pada wanita dengan kehamilan pertama yang diperoleh melalui in vitro fertilization–embryo transfer (IVF-ET). Berdasarkan penelitian dalam BMC Pregnancy and Childbirth, transfer embrio beku (frozen-thawed embryo transfer) cenderung memiliki risiko keguguran dini yang lebih tinggi dibandingkan transfer embrio segar. Tipisnya endometrium saat transfer embrio juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran karena lingkungan implantasi yang kurang optimal.

 

Gejala Keguguran di Trimester 1 yang Harus Diwaspadai

 

Gejala keguguran di trimester pertama tidak selalu sama pada setiap orang. Pada sebagian kasus, gejala dapat menyerupai keluhan kehamilan normal, sehingga evaluasi medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kehamilan.

 

  • Perdarahan dari vagina, berupa bercak ringan hingga perdarahan yang lebih banyak. Tidak semua perdarahan menandakan keguguran, tetapi kondisi ini tetap perlu diperiksa.

  • Kram atau nyeri perut bagian bawah, nyeri dapat terasa seperti kram menstruasi dan terkadang disertai nyeri punggung bawah.

  • Keluarnya jaringan atau gumpalan dari vagina, pada beberapa kasus, dapat terlihat jaringan atau cairan dari vagina.

  • Berkurangnya gejala kehamilan, seperti mual atau nyeri payudara yang tiba-tiba menghilang. Namun, perubahan ini tidak selalu berarti keguguran.

 

Bila keguguran disertai infeksi, keluhan dapat bertambah berat, seperti nyeri tekan pada rahim, keputihan berbau tidak sedap, demam, jantung berdebar, hingga tubuh terasa sangat lemah. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

 

Diagnosis Keguguran di Trimester 1

 

Pada dugaan keguguran trimester 1, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu untuk menggali riwayat pasien, seperti keluhan, riwayat kehamilan sebelumnya, serta faktor risiko yang mungkin berkontribusi terhadap keguguran. 

 

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan metode utama untuk menilai perkembangan janin dan kondisi rahim. Melalui USG, dokter dapat melihat kantung kehamilan, embrio, serta denyut jantung janin sesuai usia kehamilan. Dokter akan memastikan lokasi kehamilan (di dalam rahim atau di luar/ektopik) dan apakah kehamilan masih berkembang. Hal ini penting agar tidak terjadi salah diagnosis.

 

Pada beberapa kasus, dokter akan melakukan pemeriksaan tes darah hormon kehamilan (β-hCG) dapat dilakukan secara serial untuk menilai perkembangan kehamilan. Informasi tambahan seperti hari pertama haid terakhir dan hasil pemeriksaan sebelumnya juga digunakan untuk menyesuaikan usia kehamilan dengan temuan saat ini.

 

Bila usia kehamilan masih sangat awal dan detak jantung janin belum tampak, dokter biasanya belum dapat menarik kesimpulan. Dalam kondisi ini, kadar β-hCG akan dipantau secara berkala dan USG diulang setelah 1–2 minggu guna melihat apakah kehamilan berkembang sesuai tahapannya.

 

Diagnosis keguguran baru dapat ditegakkan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tanda yang jelas bahwa kehamilan tidak berkembang. Sementara itu, jika kehamilan belum terlihat di dalam rahim, pemantauan dilakukan dengan lebih hati-hati untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.

 

Penanganan Keguguran di Trimester 1

 

Penanganan keguguran pada trimester 1 dapat dilakukan dengan beberapa cara, dan pilihan ini disesuaikan dengan kondisi medis serta preferensi pasien. Secara umum, terdapat tiga pilihan penanganan yang umumnya direkomendasikan oleh dokter, yakni:

 

  • Menunggu secara alami (expectant management): Pada metode ini, tubuh dibiarkan mengeluarkan jaringan kehamilan secara alami tanpa obat atau tindakan medis. Cara ini dapat memakan waktu beberapa minggu dan cocok bila tidak ada perdarahan hebat atau infeksi. Banyak kasus keguguran dini dapat selesai dengan cara ini.

  • Menggunakan obat: Dokter dapat memberikan obat untuk membantu rahim mengeluarkan jaringan kehamilan. Metode ini lebih cepat dibanding menunggu secara alami, tetapi dapat menyebabkan kram dan perdarahan, sehingga dilakukan dengan pengawasan medis.

  • Tindakan medis: Tindakan medis, seperti dilatasi dan kuretase dilakukan untuk mengeluarkan jaringan kehamilan dari rahim. Biasanya, cara ini dipilih jika terjadi perdarahan berat, infeksi, kondisi gawat darurat, atau atas pertimbangan kenyamanan pasien.

 

Demikian penjelasan mengenai penyebab keguguran di trimester 1 beserta gejala hingga penanganannya. Perlu dicatat bahwa setiap orang dapat menunjukkan gejala yang berbeda sehingga informasi di atas tidak dapat mewakili semua kasus keguguran. Perdarahan atau nyeri pada trimester 1 sebaiknya selalu dikonsultasikan ke dokter untuk memastikan penyebab dan penanganan yang tepat.

 

Jika Anda mengalami gejala keguguran, seperti hilangnya tanda kehamilan secara mendadak atau perdarahan dari vagina, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh, diagnosis yang tepat, serta penanganan sesuai kondisi kehamilan.

 

Sebagai informasi, tahap pemeriksaan dan penanganan dapat berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas yang tersedia. Namun, dokter dan tenaga medis akan tetap berupaya memberikan pelayanan sesuai standar medis dan kondisi masing-masing pasien.

 

Untuk mengakses layanan kesehatan dengan lebih praktis, gunakan aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda dapat mengecek jadwal praktik dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga melihat hasil pemeriksaan medis secara online. Mari unduh MySiloam sekarang untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. Miscarriage. Diakses pada 2026 | NHS. Miscarriage. Diakses pada 2026 | Manual MSD. Tahap-tahap Perkembangan Janin. Diakses pada 2026 | Cleveland Clinic. Placenta. Diakses pada 2026 | National Library of Medicine. Early Pregnancy Loss (Spontaneous Abortion). BMC Pregnancy and Childbirth. Incidence and Risk Factors for Early Pregnancy Loss in Women with First Pregnancy Undergoing In Vitro Fertilization-Embryo Transfer. Diakses pada 2026 |

Dokter Kami
dr-lenny-khosal-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-tia-indriana-spog

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Tia Indriana, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-danny-wiguna-spog

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Danny Wiguna, SpOG

Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)

Spesialis Obstetri dan Ginekologi


Siloam Hospitals Yogyakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail