Kesehatan Tubuh
Perbedaan Batuk Kering dan Berdahak: Gejala dan Penyebabnya

Table of Contents
Batuk adalah refleks alami tubuh untuk membersihkan lendir, debu, atau partikel asing lain yang masuk ke dalam sistem pernapasan. Terdapat dua jenis batuk yang umum terjadi, yaitu batuk kering dan batuk berdahak. Keduanya memiliki perbedaan dalam gejala, penyebab, dan cara mengatasinya. Mari ketahui lebih jauh tentang perbedaan batuk kering dan berdahak dalam ulasan berikut ini.
Perbedaan Batuk Kering dan Berdahak
Berdasarkan produksi lendirnya, batuk dibedakan menjadi dua, yaitu batuk produktif (batuk yang mengeluarkan dahak/batuk basah) dan batuk tidak produktif (batuk yang tidak mengeluarkan dahak/batuk kering).
Batuk kering sering kali membuat penderitanya mengalami batuk yang sulit dikendalikan dan terjadi secara terus-menerus tanpa adanya lendir. Sementara itu, batuk berdahak dengan lendir akan membuat penderitanya memiliki keinginan untuk terus mengeluarkan dahak yang terasa mengganjal di tenggorokan.
Perbedaan batuk kering dan berdahak juga terlihat dari gejala, penyebab, dan bagaimana cara mengatasinya. Berikut masing-masing penjelasannya.
Penyebab
Perbedaan batuk berdahak dan batuk kering yang pertama ada pada penyebabnya. Terdapat beberapa kondisi berbeda yang dapat memicu batuk kering atau berdahak, berikut penjelasannya.
Batuk Kering
Pada beberapa kasus, tidak diketahui secara pasti apa penyebab batuk kering. Namun, sering kali batuk kering disebabkan oleh beberapa kondisi berikut ini.
- Infeksi virus: Saat terinfeksi virus flu, biasanya seseorang juga akan mengalami batuk kering setelahnya. Gejala flu umumnya sembuh dalam waktu kurang dari seminggu, sedangkan batuk kering yang terjadi setelah flu dapat berlangsung hingga dua bulan.
- Asma: Kondisi ini sering kali disertai dengan batuk kering yang gejalanya kerap memburuk pada malam hari. Pada pemeriksaan paru biasanya dijumpai suara mengi pada seluruh lapang paru. Biasanya keluhannya diawali oleh reaksi alergi.
- Post nasal drip: Munculnya sensasi seperti tertelan lendir di bagian belakang tenggorokan, sehingga timbul gejala batuk kering. Post nasal drip biasanya disebabkan oleh peradangan pada sinus, sehingga produksi lendir pada saluran napas meningkat.
- Refluks asam lambung (GERD): Batuk kering saat GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan mengiritasi dinding kerongkongan.
- Pertussis (batuk rejan): Kondisi ini disebut juga dengan batuk 100 hari dan sering terjadi pada anak-anak. Batuk kering akibat pertusis biasanya muncul secara terus-menerus. Adapun upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah pertusis adalah melalui imunisasi lengkap pada anak.
- Alergi: Beberapa alergen seperti debu dan asap juga dapat menyebabkan batuk kering jika masuk ke dalam saluran pernapasan. Kondisi ini biasanya disertai dengan rasa gatal pada tenggorokan dan bersin-bersin.
- Sindrom aspirasi: Terjadi ketika epiglotis tidak menutup dengan baik ketika menelan, sehingga makanan dapat masuk kedalam saluran nafas. Partikel makanan juga dapat menyebabkan infeksi saluran nafas yang disebut juga dengan pneumonia aspirasi.
- Konsumsi obat obatan: Batuk kering sering kali disebabkan oleh obat-obatan antihipertensi golongan ACE inhibitor yang merangsang produksi bradikinin pada saluran nafas sehingga menyebabkan refleks batuk.
Batuk Berdahak
Umumnya, batuk berdahak disebabkan oleh infeksi virus/bakteri. Pasalnya, saat saluran pernapasan mengalami infeksi, maka tubuh akan meningkatkan produksi lendir untuk memerangkap dan mengeluarkan virus/bakteri penyebab infeksi tersebut melalui batuk.
Itulah sebabnya, dahak yang dikeluarkan oleh batuk harus dibuang atau diludahkan, bukan ditelan kembali. Menelan dahak hanya akan membuat proses penyembuhan semakin lama. Adapun beberapa kondisi yang dapat menyebabkan batuk berdahak adalah sebagai berikut.
- Pneumonia: Kondisi ini terjadi akibat infeksi virus, bakteri, atau jamur yang menyebabkan peradangan pada paru-paru. Penderita pneumonia mulanya akan mengalami batuk berdahak, namun setelah beberapa hari, dahak akan bercampur dengan darah.
- Bronkitis: Penderita bronkitis biasanya mengalami batuk berdahak dengan karakteristik dahak yang tebal dan berwarna hijau atau kekuningan. Bronkitis terjadi karena adanya peradangan pada lapisan dinding bronkus, yakni saluran yang membawa udara ke paru-paru.
- Bronkiektasis: Pada kondisi ini, permukaan jaringan saluran pernapasan menebal, terluka, dan terkulai, disertai dengan pelebaran diameter saluran napas akibat peradangan kronis. Hal tersebut menyebabkan produksi lendir meningkat dan membuat penderitanya batuk berdahak.
- Penyakit paru obstruktif kronis: Beberapa jenis PPOK dapat menyebabkan kantung udara kecil di paru-paru (alveolus), bronkiolus (saluran udara pada paru-paru yang menyerupai cabang-cabang ranting pohon), dan saluran bronkial mengalami kerusakan, sehingga terjadi penumpukan lendir di paru-paru dan memicu batuk berdahak.
- Gagal jantung kongestif: Kondisi ini terjadi karena jantung kesulitan memompa darah ke seluruh tubuh. Gagal jantung kongestif pada sisi kiri dapat menyebabkan cairan bocor ke kantung udara dalam paru-paru, sehingga menimbulkan batuk berdahak disertai suara mengi.
Gejala
Perbedaan batuk kering dan berdahak berikutnya terletak pada gejala yang ditimbulkan. Berikut masing-masing penjelasannya.
Batuk Kering
Batuk kering adalah kondisi yang menyebabkan penderitanya mengalami sakit tenggorokan dan kesulitan menelan karena batuk cenderung terjadi tanpa henti. Selain itu, batuk kering juga lebih sering kambuh dan memburuk gejalanya di malam hari.
Setelah beberapa minggu, batuk kering biasanya disertai dengan gejala nyeri dada. Jika hal ini terjadi, maka segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Pasalnya, batuk kering bisa menjadi salah satu gejala penyakit kronis pada paru-paru.
Batuk Berdahak
Awal gejala batuk berdahak adalah munculnya rasa mengganjal di bagian belakang tenggorokan atau dada akibat penumpukan lendir. Kondisi ini sering kali disertai dengan gejala hidung tersumbat karena ingus dan sesak napas.
Di samping itu, batuk berdahak juga bisa disertai dengan darah atau disebut juga dengan hemoptisis (batuk berdarah). Jika mengalami kondisi ini, penderita disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat supaya terhindar dari komplikasi serius.
Cara Mengatasi
Perbedaan batuk kering dan berdahak juga terlihat pada penanganannya. Ini dia penjelasannya.
Batuk Kering
Batuk kering cenderung berlangsung lebih lama. Jika sudah berlangsung selama lebih dari dua minggu, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Biasanya, dokter akan memberikan obat-obatan golongan antitusif, misalnya codeine dan dextromethorphan hbr. Di samping itu, dokter juga dapat menambahkan obat-obatan lain, tergantung dari penyebab yang mendasarinya.
Penderita batuk kering juga disarankan untuk sering minum air hangat guna menenangkan dan melembapkan tenggorokan agar gejala batuk mereda. Pasalnya, batuk kering yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan iritasi di saluran pernapasan yang akan semakin memburuk jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.
Batuk Berdahak
Perawatan terhadap batuk berdahak biasanya disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Penderita disarankan untuk memperbanyak minum air putih dan beristirahat yang cukup.
Apabila batuk dirasa cukup mengganggu, maka dokter dapat memberikan resep obat batuk mukolitik atau ekspektoran untuk menanganinya, seperti misalnya amonium klorida. Cara kerja obat mukolitik adalah mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan saat batuk. Sementara itu, obat ekspektoran biasanya diresepkan untuk penderita batuk kering dengan cara melumasi saluran pernapasan agar lebih mudah mengeluarkan dahak saat batuk.
Itulah seputar informasi mengenai perbedaan batuk kering dan berdahak yang perlu Anda ketahui. Apabila Anda mengalami gejala batuk yang tak kunjung membaik, terutama jika disertai dengan darah, sesak napas, atau dahak yang berwarna sebaiknya segera kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk melakukan pemeriksaan.
Agar mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih cepat, Anda dapat membuat janji temu dengan dokter melalui fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam yang sudah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter. Mari jaga kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini







