3 Perbedaan Gangguan Bipolar dan BPD yang Jarang Disadari
Kesehatan Mental

3 Perbedaan Gangguan Bipolar dan BPD yang Jarang Disadari

22 Oktober 2025 4 menit waktu baca
perbedaan bipolar dan bpd

Borderline personality disorder (BPD) dan gangguan bipolar kerap dianggap sebagai gangguan kepribadian yang sama karena memiliki beberapa gejala yang serupa. Meski sama-sama termasuk gangguan kepribadian, pada dasarnya, terdapat perbedaan antara gangguan bipolar dan BPD yang cukup signifikan.

 

Mari kenali sejumlah perbedaan gangguan bipolar dan BPD selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Mengenal Perbedaan Gangguan Bipolar dan BPD

 

Gangguan bipolar adalah salah satu jenis gangguan kepribadian yang ditandai dengan perubahan suasana hati (mood) secara tiba-tiba, ekstrem, dan signifikan, misalnya dari sangat bahagia menjadi sangat sedih. 

 

Gangguan bipolar kerap dianggap sebagai masalah kejiwaan yang sama dengan gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD). Padahal, BPD adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi cara berpikir dan perasaan pengidapnya terhadap diri sendiri dan orang lain sehingga mengganggu fungsi hidup sehari-hari.

 

Untuk meluruskan hal tersebut, berikut adalah sejumlah perbedaan antara gangguan bipolar dan BPD yang perlu diketahui.

 

1. Dari Penyebabnya

 

Perbedaan antara gangguan bipolar dan BPD yang pertama dapat dilihat dari penyebab yang mendasarinya. Meski penyebab gangguan bipolar belum diketahui secara pasti, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

 

  • Ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmitter) di dalam otak. 

  • Ketidakseimbangan kadar hormon noradrenalin, dopamin, dan serotonin.

  • Faktor genetik.

  • Stres berlebihan yang meningkatkan kadar hormon kortisol.

  • Gangguan fungsi kelenjar tiroid.

  • Trauma.

  • Hubungan sosial yang buruk.

 

Sementara itu, BPD adalah kondisi yang lebih sering terjadi akibat trauma masa kecil, terutama kekerasan fisik atau pelecehan seksual. Di samping itu, para ahli juga berpendapat bahwa kelainan genetik dan kelainan fungsi zat kimia dalam otak juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami BPD.

 

2. Dari Gejalanya

 

Perbedaan antara gangguan bipolar dan BPD berikutnya terletak pada variasi gejalanya. Secara umum, gangguan bipolar dapat menimbulkan gejala berupa perubahan suasana hati secara drastis dan tiba-tiba. Gejala gangguan bipolar terdiri dari dua fase utama, yaitu fase depresi dan fase mania/hipomania.

 

Saat memasuki fase mania/hipomania, pengidap gangguan bipolar cenderung merasa sangat bahagia, penuh gairah, bertindak impulsif, berbicara sangat cepat yang tidak normal, tidak ingin tidur, jarang merasa lapar, dan sangat bersemangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari. 

 

Namun, perasaan tersebut dapat berubah menjadi fase depresi secara tiba-tiba yang ditandai dengan perasaan sangat sedih, putus asa, tertekan, pesimis dengan kemampuan diri sendiri, hingga muncul keinginan untuk bunuh diri.

 

Sementara itu, sejumlah gejala yang umum dialami oleh penderita borderline personality disorder adalah sebagai berikut:

 

  • Ketakutan berlebihan terhadap penolakan atau ditinggalkan oleh orang terdekat.

  • Bertindak secara impulsif dan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri.

  • Mudah kecanduan terhadap hal-hal tertentu, seperti kecanduan berjudi, obat-obatan, dan minuman beralkohol.

  • Mengalami perubahan suasana hati secara terus-menerus. Hal tersebut bisa berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari.

  • Memiliki citra diri yang cenderung tidak stabil.

  • Kesulitan untuk berempati dengan perasaan orang lain.

  • Paranoid atau rasa khawatir, ragu, dan cemas secara berlebihan.

  • Melakukan ancaman untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri sebagai respons terhadap rasa takut akan perpisahan atau penolakan. 

  • Memiliki riwayat hubungan yang tidak stabil dan dapat berubah secara drastis, seperti dari sangat mencintai pasangan, lalu tiba-tiba merasa bahwa pasangan tidak mencintainya atau kejam.

  • Memiliki perasaan hampa.

  • Mudah marah, sering kehilangan kesabaran, sinis, hingga bertengkar secara fisik.

 

3. Dari Intensitas Kemunculan Gejalanya

 

Seperti yang telah dijelaskan di atas, terdapat satu gejala yang dapat terjadi baik pada gangguan bipolar maupun BPD, yaitu perubahan suasana hati yang signifikan. Namun, perlu diketahui bahwa intensitas perubahan mood pada penderita BPD biasanya akan terjadi secara terus-menerus.

 

Sementara itu, pada penderita gangguan bipolar, akan ada masa di mana pengidapnya tidak mengalami gejala mania atau depresi dan terlihat tenang seperti orang-orang pada umumnya.

 

Selain itu, gejala gangguan bipolar biasanya dapat muncul secara tiba-tiba, tanpa penyebab yang jelas. Hal tersebut berbeda dengan gejala BPD yang bisa muncul saat dipicu oleh faktor tertentu, seperti konflik dengan orang terdekat.

 

Cara Menangani Gangguan Bipolar dan BPD

 

Meski memiliki perbedaan dalam hal gejala, penyebab, dan intensitasnya, pada dasarnya, pengobatan gangguan bipolar dan BPD sama, yaitu dengan menjalani cognitive behavioral therapy (CBT). Melalui terapi ini, seorang psikolog atau psikiater dapat membantu mengendalikan gejala gangguan bipolar dan BPD dengan cara mengubah pola pikir serta perilaku penderita yang mengganggu.

 

Selain itu, untuk membantu mengelola gejala, penderita gangguan bipolar dan BPD juga dianjurkan untuk menerapkan sejumlah pola hidup sehat, seperti:

 

  • Rutin berolahraga untuk membantu mengalihkan emosi negatif ataupun perilaku impulsif.

  • Berbagi cerita kepada kerabat atau orang yang dipercaya.

  • Membuat tubuh lebih rileks dengan menerapkan teknik pernapasan dalam, meditasi, atau yoga.

  • Mencukupi waktu istirahat.

  • Menulis jurnal harian untuk membantu mengekspresikan emosi.

  • Rutin mengonsumsi obat untuk mengendalikan gejala sesuai anjuran dokter.

 

Itu dia sejumlah perbedaan antara gangguan bipolar dan BPD yang penting untuk dipahami. Pada dasarnya, baik gangguan bipolar maupun BPD perlu segera ditangani dengan tepat untuk mencegah berbagai kondisi yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderita dan orang sekitarnya.

 

Jika Anda memiliki keluhan terkait dengan gangguan kepribadian, jangan ragu untuk berdiskusi dengan psikolog atau psikiater secara virtual melalui fitur Telekonsultasi guna mendapatkan diagnosis dan penanganan medis yang tepat.

 

Fitur ini memungkinkan dokter untuk memberikan resep obat yang sesuai dengan kondisi pasien. Bahkan, pasien juga dapat menerima obat yang diresepkan oleh dokter tanpa perlu keluar rumah. Namun, perlu diketahui bahwa terdapat beberapa jenis obat, seperti antipsikotik atau antidepresan, yang harus diambil oleh pasien secara langsung (self pick up).


Selain itu, manfaatkan pula aplikasi MySiloam yang memungkinkan Anda untuk membuat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat, memesan paket medical check up, dan cek hasil skrining kesehatan dari mana pun dan kapan pun. Mari unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan fisik dan mental #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail