Sindrom Hemolitik Uremik - Penyebab, Gejala, & Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Hemolitik Uremik - Penyebab, Gejala, & Penanganannya

03 Juni 2025 4 menit waktu baca
sindrom hemolitik uremik

Sindrom hemolitik uremik (SHU) adalah sejumlah gejala yang muncul akibat pecahnya sel darah merah dan kerusakan di bagian dalam dinding pembuluh darah. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Sindrom ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi salah satu penyebab gagal ginjal akut. Mari simak pembahasan lebih lanjut mengenai sindrom hemolitik uremik (SHU) melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Sindrom Hemolitik Uremik?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, sindrom hemolitik uremik (SHU) atau hemolytic uremic syndrome adalah sekumpulan gejala yang muncul akibat pecahnya sel darah merah yang dapat menyebabkan anemia, berkurangnya jumlah trombosit, dan gagal ginjal. 

 

Pecahnya sel darah merah ini disebabkan oleh kerusakan pada bagian dalam dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan terbentuknya bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah kecil terutama ginjal.

 

Sebagian besar kasus hemolytic uremic syndrome berkaitan dengan infeksi di saluran pencernaan, sehingga sering kali menyebabkan diare berdarah. Kendati demikian, diare berdarah tidak selalu mengarah pada kondisi sindrom hemolitik uremik.

 

Penyebab Sindrom Hemolitik Uremik

 

Penyebab paling umum sindrom hemolitik uremik adalah infeksi bakteri Escherichia coli jenis O157:H7 atau jenis STEC (Shiga Toxin E. Coli) yang mengeluarkan shiga toxin. Shiga toxin adalah racun dari bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan sel darah, termasuk sel darah merah dan keping darah (trombosit), serta merusak pembuluh  darah kapiler di organ tertentu.

 

Sering kali, bakteri E. coli dapat menginfeksi tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi. Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terinfeksi bakteri E. coli adalah sebagai berikut:

 

  • Berenang di danau atau kolam yang terkontaminasi kotoran yang mengandung bakteri E. coli.

  • Melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi bakteri E. coli.

  • Imun tubuh lemah, misalnya pada anak berusia di bawah 5 tahun, penderita HIV, atau kanker.

  • Mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri E. coli terutama makanan mentah atau yang tidak dimasak dengan baik.

 

Selain disebabkan oleh infeksi Escherichia coli, sindrom ini juga bisa disebabkan oleh beberapa kondisi lainnya, seperti: 

 

  • Infeksi bakteri lain, seperti Salmonella typhi dan Shigella dysenteriae. 

  • Infeksi virus seperti virus yang menyebabkan flu (influenza) dan HIV.

  • Obat-obatan tertentu. Hal ini dapat mencakup beberapa obat yang digunakan untuk mengobati kanker dan beberapa obat yang digunakan pada penerima donor organ agar tidak terjadi reaksi penolakan organ tersebut.

  • Komplikasi dari kondisi lain, seperti kehamilan, penyakit autoimun, atau kanker.

 

Gejala Sindrom Hemolitik Uremik

 

Gejala hemolytic uremic syndrome bisa berbeda-beda, tergantung dari penyebab, tingkat keparahan, serta kerusakan jaringan yang ditimbulkan. Bila disebabkan oleh infeksi bakteri E. coli, SHU biasanya diawali dengan beberapa gejala berikut ini:

 

  • Diare berdarah.

  • Nyeri perut.

  • Muntah.

  • Demam. 

 

Ketika sudah terjadi kerusakan pada pembuluh darah, maka sel darah merah pun akan rusak dan pecah sehingga menyebabkan terjadinya anemia. Berkurangnya jumlah keping darah (trombosit) juga dapat menyebabkan perdarahan.

 

Selain itu, kondisi ini juga dapat memicu terbentuknya gumpalan darah di pembuluh darah yang pada akhirnya bisa mengakibatkan kerusakan pada ginjal. Beberapa gejala yang timbul akibat kondisi tersebut adalah sebagai berikut:

 

  • Warna kulit pucat

  • Cepat lelah.

  • Mudah memar.

  • Urine berdarah (hematuria).

  • Sesak napas (dyspnea).

  • Perdarahan abnormal di hidung dan mulut.

  • Pembengkakan (edema) di tungkai, kaki, atau pergelangan kaki.

  • Tekanan darah tinggi.

  • Kejang, stroke, hingga penurunan kesadaran merupakan SHU dengan gejala berat.

  • Sedikit berkemih atau tidak berkemih sama sekali.

 

Diagnosis Sindrom Hemolitik Uremik

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis tentang gejala yang dialami pasien dan riwayat kesehatan pasien beserta keluarganya. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang, meliputi:

 

  • Tes urine, untuk memeriksa kadar sel darah merah dan protein di dalam urine.

  • Tes darah, untuk menghitung jumlah sel darah merah, menghitung jumlah trombosit, memeriksa fungsi penggumpalan darah (koagulasi), memeriksa fungsi ginjal, serta kadar elektrolit.

  • Tes genetik.

  • Pemeriksaan feses, untuk mendeteksi adanya bakteri.

  • Biopsi ginjal.



Pengobatan Sindrom Hemolitik Uremik

 

Penderita hemolytic uremic syndrome umumnya memerlukan rawat inap di rumah sakit agar gejalanya tidak semakin parah dan bisa mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut. Selama menjalani rawat inap, sejumlah perawatan yang akan dilakukan oleh dokter adalah sebagai berikut:

 

  • Memberikan cairan infus agar pasien tidak mengalami dehidrasi sekaligus menjaga keseimbangan elektrolit.

  • Obat-obatan, misalnya obat penurun tekanan darah.

  • Transfusi darah, dilakukan bila pasien mengalami anemia atau trombositopenia akibat sindrom ini.

  • Cuci darah (hemodialisis), dilakukan pada pasien gagal ginjal akut.

Komplikasi Sindrom Hemolitik Uremik

 

Sebagian besar pasien dengan sindrom hemolitik uremik dapat sembuh jika ditangani dengan cepat dan tepat. Kendati demikian, bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, sindrom ini bisa memicu sejumlah komplikasi, di antaranya:

 

  • Hipertensi sekunder akibat gagal ginjal.

  • Gagal ginjal kronik.

  • Gangguan pembuluh darah otak, seperti kejang, stroke, hingga tidak sadar (koma).

  • Gangguan pembekuan darah.

  • Gangguan saluran cerna, seperti perforasi usus (terdapat luka atau lubang pada dinding usus) dan radang usus besar.

 

Sindrom hemolitik uremik perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya komplikasi yang berbahaya. Oleh karena itu, segera periksakan diri ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam bila Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada kondisi tersebut.


Anda dapat memanfaatkan fitur di aplikasi MySiloam untuk memudahkan akses pelayanan kesehatan di Siloam Hospitals. Fitur tersebut telah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter dan pembuatan janji temu dengan dokter terkait.

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail