Mengenal Gejala Sindrom Neuroleptik Maligna & Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Mengenal Gejala Sindrom Neuroleptik Maligna & Pengobatannya

09 Juni 2025 5 menit waktu baca
sindrom neuroleptik maligna

Sindrom neuroleptik maligna (neuroleptic malignant syndrome) adalah reaksi yang jarang terjadi terhadap obat antipsikotik yang digunakan untuk mengatasi skizofrenia, gangguan bipolar, serta berbagai masalah kesehatan mental lainnya. Lantas, bagaimana gejala sindrom neuroleptik maligna? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Sindrom Neuroleptik Maligna (SNM)?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, sindrom neuroleptik maligna adalah reaksi langka terhadap obat-obatan golongan antipsikotik. Sindrom ini memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan sejumlah gejala, seperti demam tinggi dan kekakuan otot. 

 

Sindrom neuroleptik maligna (SNM) adalah kegawatan neurologis gangguan gerak (movement disorder) yang berpotensi mengancam nyawa akibat komplikasi penggunaan obat-obatan neuroleptik. Sindrom neuroleptik maligna merupakan kasus emergensi karena onset yang akut dan tingkat keparahan yang berat.

 

Angka kejadian SNM berkisar antara 0,01% hingga 3,2% pada pasien yang mengonsumsi obat neuroleptik. Angka kejadian tersebut menurun karena obat baru, yang cenderung tidak menyebabkan NMS. Sebagian besar kasus SNM terjadi pada orang dewasa muda, tetapi kemungkinan besar karena usia tersebut merupakan usia pertama kali terpapar obat neuroleptik.

 

Penyebab Sindrom Neuroleptik Maligna

 

SNM bisa terjadi akibat pemberian dosis tunggal (pemberian dosis yang lebih tinggi namun dalam satu kali pemberian), peningkatan dosis, atau dosis yang sama dari obat antipsikotik (neuroleptik). Obat antipsikotik adalah golongan obat untuk mengendalikan dan mengurangi gejala psikosis, seperti halusinasi dan delusi.

 

Kondisi ini sering dikaitkan dengan pemberian obat antipsikotik generasi pertama yang memiliki banyak efek samping. Namun, SNM juga bisa terjadi akibat antipsikotik generasi kedua, antiemetik (antimuntah), dan penghentian mendadak obat anti-Parkinson atau dopaminergik.

 

Hingga kini, belum diketahui penyebab SNM secara pasti dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Namun, saat ini terdapat dugaan bahwa SNM disebabkan oleh antagonisme reseptor D2 dopamin. Dopamin sendiri merupakan neurotransmitter yang berfungsi untuk menyampaikan pesan dari satu sel ke sel lainnya.

 

Beberapa faktor risiko yang diduga menjadi penyebab timbulnya NMS adalah sebagai berikut:

 

  • Peningkatan dosis obat-obatan tertentu.

  • Penggunaan kombinasi antipsikotik.

  • Kombinasi antipsikotik bersama lithium.

  • Dehidrasi.

  • Kelelahan. 

  • Paparan terhadap panas. 

  • Kekurangan zat besi.

  • Kekurangan nutrisi.

  • Konsumsi minuman beralkohol. 

  • Gangguan fungsi otak.



Pada kondisi SNM, neuroleptik akan memblokir neurotransmitter dopamin agar tidak memasuki sel pada reseptor tertentu. Ketika reseptor dopamin di hipotalamus atau sumsum tulang belakang terhalang, maka akan terjadi peningkatan kekakuan otot. Kondisi ini juga dapat menyebabkan demam tinggi serta perubahan tekanan darah yang signifikan.

 

Adapun masing-masing contoh obat antipsikotik generasi pertama dan kedua, serta dopaminergik adalah sebagai berikut:

 

a. Contoh obat-obatan antipsikotik generasi pertama

 

  • Perphenazine.

  • Promazine.

  • Clopenthixol.

  • Bromperidol.

  • Thioridazine.

  • Trifluoperazine.

  • Haloperidol.

  • Fluphenazine.

  • Chlorpromazine.

  • Loxapine.

 

b. Contoh obat-obatan antipsikotik generasi kedua

 

  • Ziprasidone.

  • Aripiprazole.

  • Quetiapine.

  • Amisulpride.

  • Olanzapine.

  • Clozapine.

  • Risperidone.

 

c. Contoh obat-obatan dopaminergik

 

  • Levodopa.

  • Amantadine.

  • Tolcapone.

  • Dopamine agonists.

 

Selain tiga jenis obat di atas, ada pula jenis obat-obatan lain yang juga bisa menyebabkan SNM, yaitu:

 

  • Lithium.

  • Antidepresan.

  • Obat untuk gejala muntah (antiemetik).

  • Tetrabenazine, obat untuk gangguan gerak.

  • Reserpine, obat untuk hipertensi. 

 

Gejala Sindrom Neuroleptik Maligna

 

Gejala sindrom neuroleptik maligna sering kali muncul dalam dua minggu setelah penderita mulai minum obat atau mengganti dosis. Terkadang, gejala juga bisa muncul dalam hitungan beberapa jam atau hari. Penderita SNM bisa menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Namun, secara umum, sejumlah gejala SNM adalah sebagai berikut:

 

  • Demam tinggi. Demam pada SNM memberikan gambaran demam tinggi biasanya lebih dari 38 derajat Celcius dan terkadang dapat mencapai di atas 42 derajat Celcius.

  • Otot kaku.

  • Altered mental status (penurunan kesadaran), seperti mengantuk, agitasi, kebingungan, delirium hingga koma.

  • Detak jantung cepat (takikardia).

  • Kesulitan menelan.

  • Tremor.

  • Tekanan darah tidak normal atau stabil.

  • Pernapasan cepat (takipnea).

  • Inkontinensia (mengompol).

  • Berkeringat berlebihan.

 

Diagnosis Sindrom Neuroleptik Maligna

 

Guna mendiagnosis sindrom neuroleptik maligna, dokter akan melakukan tanya jawab medis (anamnesis) kepada pasien mengenai gejala dan riwayat kesehatan medis, terutama riwayat obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien. Selanjutnya, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien, terutama melakukan pemeriksaan saraf dan evaluasi status mental.

 

Kemudian, mengingat gejala SNM hampir mirip dengan kondisi medis lain, maka dokter memerlukan tes penunjang untuk mengonfirmasi diagnosis SNM. Tes penunjang tersebut, di antaranya:

 

  • Tes darah untuk menilai darah lengkap, kadar kreatin kinase (CK), elektrolit, fungsi ginjal, dan lain-lain.

  • Tes urine

  • Tes pencitraan otak seperti CT scan dan MRI.

  • Pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang).

  • Elektroensefalogram (EEG).

  • Elektrokardiografi (EKG).

 

Berdasarkan panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM V), kriteria diagnosis untuk sindrom neuroleptik maligna adalah:

 

  • Hipertermia yang disertai keringat berlebih (suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius yang diukur secara oral). Ini merupakan ciri khas SNM yang membedakannya dari efek samping neurologis lainnya yang juga diakibatkan obat antipsikotik.

  • Kekakuan otot.

  • Peningkatan kreatin kinase, setidaknya empat kali dari batas atas normal.

  • Perubahan status mental, ditandai dengan delirium atau perubahan perubahan kesadaran, mulai dari pingsan hingga koma.

  • Pasien tampak waspada, namun linglung dan tidak responsif.

  • Aktivasi otonom dan ketidakstabilan yang ditandai dengan takikardia, diaforesis, peningkatan atau fluktuasi tekanan darah, inkontinensia urine, dan pucat.

  • Takipnea dan gangguan pernapasan. 

 

Komplikasi Sindrom Neuroleptik Maligna

 

Pada beberapa kasus, sindrom neuroleptik maligna dapat menyebabkan kerusakan pada otot dan tekanan darah yang menjadi sangat rendah atau sangat tinggi. Apabila tidak segera mendapatkan penanganan, kondisi ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius, seperti:

 

  • Gagal ginjal.

  • Gagal jantung dan paru-paru.

  • Gagal hati.

  • Rendahnya kadar oksigen dalam tubuh.

  • Pneumonia aspirasi.

  • Kadar asam yang tinggi dalam tubuh.

 

Pengobatan Sindrom Neuroleptik Maligna

 

Sindrom neuroleptik maligna merupakan kondisi darurat yang perlu ditangani sesegera mungkin. Apabila disebabkan oleh penghentian obat-obatan tertentu, pasien dapat disarankan untuk memulai kembali penggunaan obat tersebut untuk membantu mengurangi gejala. Sebaliknya, jika disebabkan oleh efek samping terhadap obat, obat tersebut harus segera dihentikan. Namun, penyesuaian dosis ini harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter.

 

Selain itu, beberapa perawatan lain yang biasanya direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasi SNM adalah sebagai berikut:

 

  • Mendinginkan tubuh menggunakan kompres. .

  • Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang menggunakan cairan infus dan obat-obatan injeksi melalui pembuluh darah vena. 

  • Pemberian terapi oksigen sesuai dengan kondisi pasien.

  • Memberikan obat untuk mengatasi gejala lain, seperti detak jantung yang tidak teratur.

  • Pada kasus SNM yang disebabkan oleh reaksi obat, pemberian bromokriptin dan dantrolen bisa membantu mengatasi gejala.

  • Electroconvulsive therapy atau terapi stimulasi saraf otak, yaitu terapi medis yang melibatkan penggunaan arus listrik. Tujuannya terapi ini adalah untuk menimbulkan kejang ringan yang bisa memengaruhi kadar senyawa kimia di dalam otak.

 

Perlu diketahui bahwa penyebab dan gejala yang telah disebutkan di atas tidak semerta-merta merepresentasikan sindrom neuroleptik maligna. Artinya, gejala tersebut mungkin mirip dengan kondisi medis lainnya. Itulah sebabnya, bila Anda mengalami sejumlah keluhan yang mengarah pada kondisi ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat agar memperoleh diagnosis sekaligus pengobatan yang tepat.

 

Tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan oleh dokter atau tenaga medis lainnya terkait dengan kondisi ini juga bisa berbeda-beda setiap rumah sakit, tergantung dari fasilitas yang tersedia. Kendati demikian, tenaga medis akan memastikan tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.


Selain itu, perlu diingat bahwa penggunaan obat antipsikotik harus di bawah pengawasan dokter untuk menghindari sejumlah efek samping yang tidak diinginkan. Anda bisa melakukan konsultasi lebih lanjut terkait penggunaan obat antipsikotik dengan dokter terkait melalui layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam.

 

telechat

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail