Kesehatan Tubuh
Apa itu Terapi Oksigen? Ini Jenis, Tujuan, dan Prosedurnya

Table of Contents
Oksigen merupakan komponen penyusun udara yang memiliki peran penting dalam sistem pernapasan manusia. Namun, pada beberapa kondisi, seseorang bisa memiliki kadar oksigen yang rendah di dalam tubuh sehingga dapat membuatnya kesulitan bernapas. Kondisi tersebut dapat ditangani dengan berbagai cara, salah satunya adalah terapi oksigen.
Untuk mengetahui apa itu terapi oksigen, tujuan, serta prosedurnya, Anda dapat menyimak pembahasan berikut ini.
Apa itu Terapi Oksigen?
Oxygen therapy atau terapi oksigen adalah tindakan perawatan yang dilakukan untuk membantu seseorang agar bisa bernapas dengan lega dan mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Terapi ini umumnya dilakukan untuk menangani seseorang yang menderita penyakit paru-paru dan mengeluhkan kesulitan bernapas.
Saat bernapas melalui mulut atau hidung, tubuh akan menghirup udara, di mana udara mengandung 80% nitrogen dan 20% oksigen. Paru-paru akan menyaring oksigen dari udara dan kemudian mengirimkan oksigen melalui pembuluh darah ke organ, jaringan, dan sel.
Ketika terjadi masalah pada paru-paru, jumlah oksigen yang mencapai sel-sel tidak cukup untuk menjaga tubuh dan organ bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi ini disebut hipoksemia atau kadar oksigen darah yang rendah. Seiring waktu, hipoksemia dapat menyebabkan kerusakan organ dan kegagalan organ.
Jenis-Jenis Terapi Oksigen
Berdasarkan bentuknya, terapi oksigen dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu oksigen dalam bentuk gas, oksigen cair, konsentrator oksigen, serta terapi oksigen hiperbarik. Berikut adalah penjelasan terkait masing-masing terapi oksigen yang penting untuk diketahui.
1. Oksigen Gas
Oksigen dalam bentuk gas biasanya disimpan di dalam tabung atau tangki khusus yang memiliki berbagai ukuran. Tangki oksigen gas yang berukuran besar biasanya digunakan untuk terapi di rumah sakit atau rumah. Sementara itu, tangki yang berukuran kecil dapat digunakan untuk beraktivitas di luar rumah.
Tangki yang berukuran kecil umumnya dilengkapi dengan alat konservasi oksigen yang dapat digunakan untuk mengatur suplai oksigen, sehingga isi oksigennya dapat bertahan lebih lama.
2. Oksigen Cair
Selain oksigen gas, oksigen cair juga bisa disimpan di dalam tangki khusus. Oksigen cair merupakan jenis oksigen yang memiliki konsentrasi lebih tinggi dibandingkan oksigen dalam bentuk gas. Karena itu, kandungan oksigen cair di dalam tangki umumnya lebih banyak dibandingkan dengan yang berbentuk gas.
Namun, oksigen cair cenderung lebih mudah menguap, sehingga harus digunakan dengan hati-hati.
3. Konsentrator Oksigen
Konsentrator oksigen pada dasarnya bekerja dengan cara mengambil udara dari luar, lalu memprosesnya menjadi oksigen utuh, serta membuang komponen gas lain dari udara yang diambil. Oksigen nantinya akan didistribusikan dari tangki melalui tabung. Lalu, oksigen akan memasuki paru-paru melalui saluran hidung, masker wajah, atau tabung yang dimasukkan langsung ke tenggorokan seseorang.
Alat ini memiliki harga yang relatif murah dan tidak perlu diisi ulang. Namun, karena memiliki ukuran yang besar, konsentrator oksigen akan terasa kurang nyaman jika digunakan untuk beraktivitas di luar rumah.
4. Terapi Oksigen Hiperbarik
Terapi ini dilakukan dengan memberikan oksigen murni di dalam ruangan bertekanan tinggi. Dalam ruangan tersebut, tekanan udara akan ditambah sebanyak 3–4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan udara normal. Cara ini diketahui dapat mengantarkan oksigen lebih banyak ke dalam jaringan tubuh.
Terapi ini juga kerap dilakukan untuk menangani luka, infeksi parah, serta gangguan pada pembuluh darah. Namun, prosedurnya perlu dilakukan dengan hati-hati guna mencegah terjadinya kenaikan kadar oksigen secara berlebihan di dalam darah.
Terapi ini biasa digunakan untuk mempercepat penyembuhan keracunan karbon monoksida, gangrene, luka yang tidak kunjung sembuh, dan infeksi yang dapat menyebabkan jaringan kekurangan oksigen.
Selain itu, terapi oksigen hiperbarik (hyperbaric oxygen therapy atau HBOT) juga kerap digunakan untuk mengobati penyelam scuba (scuba divers) dan penyelam laut dalam yang terkena dampak perubahan tekanan yang cepat.
Tujuan Terapi Oksigen
Pada dasarnya, tujuan utama terapi oksigen adalah untuk mengembalikan kadar oksigen normal di dalam tubuh. Terapi ini juga dapat membantu meredakan gejala-gejala yang kerap muncul akibat kekurangan oksigen. Gejala-gejala tersebut di antaranya:
-
Nyeri kepala.
-
Iritabilitas.
-
Kelelahan.
-
Pembengkakan pada pergelangan kaki.
Selain itu, terapi ini juga bisa dilakukan untuk menangani pasien yang memiliki kadar oksigen rendah di dalam darah akibat kondisi medis tertentu, seperti:
-
Asma.
-
Bronchopulmonary dysplasia, suatu kondisi kronis yang menyerang bayi baru lahir prematur dan paru-parunya belum berkembang.
-
Cedera atau trauma pada sistem pernapasan.
Prosedur Terapi Oksigen
Sebelum menjalani terapi ini, dokter terlebih dahulu akan melakukan pemeriksaan guna mengetahui kadar oksigen di dalam darah pasien. Terdapat dua metode pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengevaluasi kadar oksigen di dalam darah, yaitu pulse oximetry dan analisis gas darah.
Apabila kadar oksigen kurang dari 90 persen, dokter dapat memberikan resep untuk terapi oksigen. Setelah itu, pasien dapat melakukan terapi oksigen sesuai dengan resep dokter. Pada dasarnya, terapi ini dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu:
-
Penggunaan nasal cannula: Alat yang terdiri dari dua selang plastik berukuran kecil untuk diletakkan pada kedua lubang hidung.
-
Penggunaan masker wajah: Masker yang akan menutupi hidung dan mulut.
-
Terapi oksigen transtrakeal: Metode yang dilakukan dengan cara memasukkan selang kecil melalui sayatan di leher depan ke dalam batang tenggorokan untuk menyalurkan oksigen ke saluran pernapasan.
-
Continuous positive airway pressure (CPAP): Terapi yang menggunakan mesin khusus untuk menyalurkan oksigen melalui selang serta masker oksigen. Terapi ini biasanya digunakan oleh penderita sleep apnea.
-
Melalui inkubator: Terapi oksigen khusus untuk bayi.
Selama menjalani terapi oksigen, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan oleh pasien, di antaranya sebagai berikut:
-
Menghindari menggunakan losion, petroleum jelly, atau produk pelembap yang berbahan dasar minyak lainnya di area bibir dan hidung. Pasalnya, oksigen dapat bereaksi dengan produk-produk yang berbahan dasar minyak (oil-based) sehingga dapat memicu luka bakar. Sebaiknya, gunakanlah krim yang berbasis air (water-based).
-
Menghindari sumber api saat menjalani terapi. Jangan merokok atau menyalakan api terbuka di ruangan tempat seseorang menggunakan oksigen.
-
Tidak mengonsumsi minuman beralkohol dan menggunakan obat-obatan selama menjalani terapi. Pasalnya, hal tersebut dapat memperlambat pernapasan.
Dapat disimpulkan, terapi oksigen bisa dilakukan untuk meredakan gejala-gejala yang berkaitan dengan gangguan pernapasan. Jika Anda mengalami keluhan yang terkait dengan gangguan pernapasan, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis dan penanganan medis yang tepat dari dokter kami.
Agar lebih praktis, Anda bisa memanfaatkan fitur Cari Dokter untuk menjadwalkan pertemuan dengan dokter pilihan dari mana saja dan kapan saja. Selain itu, manfaatkan juga aplikasi MySiloam untuk memesan layanan Homecare - Kunjungan Dokter Umum dan Perawat yang memungkinkan Anda untuk memperoleh perawatan medis di rumah. Mari percayakan kesehatan Anda dan keluarga #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Kesehatan Paru
Penawaran Spesial
4 Service/Item
Rp650.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Rontgen Dada
Rontgen / X-Ray
Rp191.000
TERPOPULER
CT Thorax Non-CNTRS / CT Scan Dada
CT Scan
Rp2.079.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







