Ibu dan Anak
Terapi Hormon Menopause: Jenis, Manfaat, dan Risikonya

Table of Contents
Terapi hormon menopause, yang juga disebut sebagai hormone replacement therapy (HRT), adalah jenis terapi untuk menangani gejala-gejala menopause. Cara kerjanya yaitu dengan mengganti hormon estrogen dan progesteron pada wanita yang sudah menurun selama dan setelah menopause. Meskipun dapat menjadi pilihan untuk penanganan gejala menopause, terapi ini memiliki sejumlah risiko efek samping. Mari simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.
Apa itu Terapi Hormon Menopause?
Terapi hormon menopause adalah terapi untuk mengganti hormon estrogen dan progesteron alami dalam tubuh wanita yang menurun akibat menopause. Umumnya, terapi ini direkomendasikan untuk meringankan gejala menopause, seperti vagina kering, keringat berlebihan, dan risiko postmenopausal osteoporosis dalam jangka panjang.
Terapi hormon menopause biasanya terdiri dari estrogen saja atau estrogen dan progestin yang merupakan bentuk sintesis dari progesteron. Struktur kimiawi yang ada dalam hormon-hormon tersebut mirip dengan hormon estrogen dan progesteron alami yang diproduksi oleh tubuh wanita.
Secara umum, terapi hormon menopause tergolong aman dan efektif untuk wanita yang memasuki usia menopause dan perimenopause. Estrogen dapat diberikan dalam bentuk skin patches, obat tablet, implan, atau gel/semprotan yang dioleskan pada kulit. Selain itu, konsumsi progesteron juga dianjurkan untuk melindungi lapisan rahim dari efek estrogen. Progesteron biasanya tersedia dalam bentuk patches, obat tablet, dan sistem intrauterin (intrauterine system/IUS).
Pemilihan jenis terapi hormon menopause bergantung pada apakah wanita tersebut pernah menjalani operasi pengangkatan rahim atau tidak. Pasalnya, penggunaan estrogen saja sering kali dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker endometrium. Maka dari itu, terapi hormon menopause yang hanya melibatkan estrogen ditujukan untuk wanita yang telah menjalani histerektomi.
Jenis Terapi Hormon Menopause
Seperti yang disebutkan sebelumnya, terapi hormon menopause bisa dilakukan dengan cara menggunakan estrogen saja atau kombinasi antara estrogen dan progestin. Dokter akan merekomendasikan jenis terapi yang sesuai dengan kondisi medis pasien dan pilihan pasien. Berikut masing-masing penjelasannya:
A. Terapi Estrogen
Pada awal terapi, estrogen yang diberikan biasanya berdosis rendah. Adapun terapi estrogen biasanya berbentuk obat berupa pil, skin patches, dan gel/semprotan. Selain itu, estrogen dapat diberikan dalam bentuk berikut:
-
Cincin yang dikenakan di dalam vagina.
-
Tablet yang dimasukkan ke dalam vagina.
-
Krim yang dioleskan pada vagina.
B. Terapi Kombinasi (Combination Estrogen-Progestin Therapy/EPT)
Bagi wanita yang tidak pernah menjalani operasi pengangkatan rahim, penggunaan estrogen harus diiringi dengan progestin untuk mengurangi risiko kanker endometrium. Penggunaan estrogen saja dapat menyebabkan pembelahan sel yang tidak terkontrol atau pertumbuhan sel abnormal dalam rahim yang dapat berujung pada kanker. Terapi kombinasi ini biasanya tersedia dalam bentuk skin patches, pil, dan alat kontrasepsi rahim (Intrauterine device/IUD).
Manfaat Terapi Hormon Menopause
Terapi hormon menopause bekerja dengan cara mengembalikan hormon-hormon estrogen dan progesteron yang produksinya menurun akibat efek menopause. Hal ini membantu mengatasi gejala-gejala menopause yang menyebabkan ketidaknyamanan, seperti:
-
Keringat berlebihan di malam hari.
-
Vagina kering.
-
Mood swing.
Berikut adalah sejumlah manfaat yang bisa didapatkan dari terapi hormon menopause sesuai dengan kondisi medis pasien:
-
Meningkatkan suasana hati.
-
Memperbaiki kualitas tidur.
-
Mengurangi risiko osteoporosis atau patah tulang.
-
Mengurangi risiko diabetes.
-
Mengurangi risiko kanker usus besar, khusus untuk terapi kombinasi.
Risiko Terapi Hormon Menopause
Meskipun dapat meringankan gejala-gejala menopause, terapi hormon menopause masih memiliki sejumlah efek samping yang perlu diketahui. Berikut adalah beberapa kemungkinan risiko efek samping dari terapi hormon menopause:
-
Meningkatkan risiko kanker endometrium pada wanita yang tidak pernah menjalani operasi pengangkatan rahim, apabila pemakaian estrogen tidak dikombinasikan dengan progestin.
-
Meningkatkan risiko pembekuan darah dan stroke.
-
Meningkatkan risiko penyakit kantong empedu.
-
Meningkatkan risiko kanker payudara jika dilakukan dalam jangka panjang.
-
Meningkatkan risiko penyakit jantung apabila baru mulai menjalani terapi 10 tahun setelah menopause.
Efek samping yang disebutkan di atas mungkin dipengaruhi oleh kondisi kesehatan secara menyeluruh maupun riwayat medis pasien serta keluarga. Maka dari itu, penting untuk mendiskusikan kondisi medis dengan dokter sebelum menentukan jenis terapi yang paling sesuai.
Terapi hormon menopause biasanya menimbulkan efek samping yang cukup umum ditemukan, seperti nyeri payudara dan perubahan suasana hati. Adapun efek samping lain yang tidak begitu umum adalah:
-
Perubahan warna kulit.
-
Kembung.
-
Sakit kepala.
-
Iritasi kulit yang ditempeli patch estrogen.
-
Payudara yang semakin padat sehingga menyulitkan mammografi untuk screening atau pemeriksaan kanker payudara.
Siapa yang Tidak Dianjurkan Menjalani Terapi Hormon Menopause?
Evaluasi dari dokter akan menentukan apakah seseorang bisa menjalani terapi hormon menopause atau tidak. Dokter bisa memberikan larangan untuk menjalani prosedur ini apabila seseorang ditemukan pernah atau sedang mengidap kondisi berikut:
-
Perdarahan vagina yang tidak normal.
-
Penyakit yang berhubungan dengan penggumpalan darah, seperti stroke atau jantung koroner.
-
Kanker payudara, kanker rahim, atau kanker ovarium.
-
Penyakit kantong empedu atau hati.
Adakah Alternatif dari Terapi Hormon Menopause?
Apabila terapi hormon menopause tidak bekerja atau tidak direkomendasikan oleh dokter, metode pengobatan lain bisa dicoba untuk mengatasi gejala-gejala menopause. Beberapa di antaranya adalah:
-
Antidepresan.
-
Modulator reseptor estrogen selektif (selective estrogen receptor modulators/SERM).
-
Clonidine atau gabapentin.
-
Terapi perilaku kognitif.
Terapi hormon menopause hanya bisa dilakukan dengan rekomendasi dokter. Agar aman, sebaiknya konsultasikan kondisi Anda yang berkaitan dengan gejala menopause ke Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals Agora atau di Siloam Hospitals terdekat. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan diagnosis, evaluasi, dan rekomendasi pengobatan yang tepat.
Setiap tahapan akan menjalani prosedur pemeriksaan dan menerima penanganan sesuai dengan kondisinya. Dokter juga akan menyesuaikan tahapan diagnosis dan pengobatan gejala menopause dengan fasilitas kesehatan yang tersedia di masing-masing rumah sakit sehingga pelaksanaannya dapat berbeda-beda.
Anda bisa menjadwalkan konsultasi dengan dokter melalui aplikasi MySiloam. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mengetahui jadwal dokter terkait, memilih jadwal konsultasi, dan memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fitur kesehatannya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
National Cancer Institute. Menopausal Hormone Therapy and Cancer. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Hormone Therapy for Menopause Symptoms. Diakses pada 2024 | NHS. Menopause - Treatment. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini






