Memahami Terapi Okupasi untuk Anak ADHD dan Prosedurnya
Ibu dan Anak

Memahami Terapi Okupasi untuk Anak ADHD dan Prosedurnya

21 Agustus 2025 4 menit waktu baca
terapi okupasi untuk anak adhd

Terapi okupasi merupakan salah satu metode terapi yang dapat dilakukan untuk menangani berbagai kondisi, tidak terkecuali dengan ADHD. ADHD sendiri merupakan gangguan perilaku yang membuat seseorang bertindak hiperaktif dan sulit untuk memusatkan fokus.

 

Dalam hal ini, terapi okupasi untuk anak ADHD dapat membantu meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Mari pahami lebih lanjut mengenai terapi okupasi untuk anak ADHD dalam pembahasan di bawah ini.

 

Apa itu Terapi Okupasi?

 

Terapi okupasi adalah terapi khusus untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Tujuan utama terapi ini adalah untuk membantu pasien dalam menyesuaikan kondisinya dengan keadaan di lingkungan sekitar, sehingga bisa bekerja dan melakukan rutinitas sehari-hari seperti biasanya.

 

Ahli terapi akan melakukan serangkaian pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik sekaligus membantu anak yang kesulitan dalam mengontrol diri sendiri (self-regulation) dan memproses rangsangan sensorik.

 

Karena itu, terapi okupasi dapat dilakukan untuk menangani berbagai kondisi medis, mulai dari masalah fisik, seperti stroke, hingga gangguan mental, misalnya ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

 

Apa itu ADHD?

 

ADHD adalah gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang kesulitan untuk memusatkan fokus dan perhatiannya pada suatu hal. Selain itu, kondisi ini juga kerap membuat seseorang berperilaku impulsif (bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensinya). ADHD sering kali terjadi pada anak-anak, sehingga bisa berdampak pada proses tumbuh kembangnya.

 

Manfaat Terapi Okupasi untuk Anak ADHD

 

Pada dasarnya, terapi okupasi dapat membantu anak dengan ADHD untuk melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk bermain bersama teman maupun belajar di sekolah yang bisa menunjang proses pertumbuhan dan perkembangannya. Pasalnya, ADHD bisa memengaruhi kemampuan anak untuk belajar, manajemen waktu, serta mengelola emosi dan hubungan sosial dengan teman-temannya.

 

Melalui terapi okupasi, anak dengan ADHD dapat mempelajari dan mempraktikkan coping mechanism yang tepat sehingga bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya meskipun didiagnosis mengalami gangguan mental tersebut.

 

Penelitian dalam The American Journal of Occupational Therapy menunjukkan bahwa intervensi keterampilan sosial (yang biasa dilakukan dalam terapi okupasi) bisa membantu meningkatkan interaksi sosial dan mengurangi perilaku negatif pada anak dengan ADHD. 

 

Selain itu, terapis okupasi juga dapat melakukan intervensi jika terjadi kesulitan dengan keterampilan motorik, karena anak dengan ADHD mungkin memiliki penyakit penyerta dalam domain perkembangan motorik. Tak kalah penting, terapi ini juga dapat membantu anak untuk mempelajari keterampilan tertentu yang tidak berkembang secara optimal akibat ADHD, seperti:

 

  • Keterampilan mengorganisasi sesuatu.

  • Keterampilan melakukan tugas sehari-hari dengan baik, seperti mandi, merapikan tempat tidur, dan lain-lain.

  • Kemampuan koordinasi tubuh.

  • Kemampuan mengontrol energi dan hiperaktivitas.

 

Bahkan, tak hanya pada anak-anak, terapi okupasi juga bisa membantu meningkatkan kualitas hidup orang dewasa dengan ADHD. Studi pada tahun 2020 menunjukkan bahwa terapi okupasi yang dilakukan selama 7 minggu bisa membantu menurunkan stres dan gejala ADHD pada wanita dewasa.

 

Prosedur Terapi Okupasi untuk Anak ADHD

 

Sebelum melakukan terapi okupasi untuk anak ADHD, dokter akan terlebih dahulu memeriksa dan mengevaluasi kondisi mental pasien secara keseluruhan. Dalam hal ini, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien maupun orang tua pasien untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan pasien di sekolah, rumah, maupun kehidupan sosial.

 

Selama sesi terapi okupasi, ahli terapis dapat melakukan intervensi tertentu. Intervensi ini dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:

 

  • Metode persiapan (preparatory methods). Hal ini termasuk melakukan aktivitas tertentu untuk mempersiapkan diri sebelum berpartisipasi dalam suatu kegiatan.

  • Purposeful activities. Pada intervensi ini, ahli terapi akan merekomendasikan aktivitas tertentu yang sesuai dengan tujuan pengobatan agar dapat meningkatkan keterampilan pasien.

  • Occupation-based intervention. Tahapan ini akan melibatkan pasien untuk melakukan aktivitas tertentu dan menyelesaikan tugas tersebut di bawah pengawasan ahli terapi untuk mencapai tujuan pengobatan.

 

Dalam hal ini, ahli terapi juga bisa mengarahkan anak untuk melakukan sejumlah aktivitas, seperti:

 

  • Memainkan permainan tertentu, seperti menangkap dan melempar bola untuk meningkatkan kemampuan koordinasi tubuh.

  • Melakukan aktivitas tertentu, seperti bermeditasi, untuk membantu meredakan amarah dan perilaku agresi.

  • Mempelajari cara melakukan aktivitas sehari-hari, seperti menyikat gigi, berpakaian, dan makan sendiri.

  • Latihan menulis.

  • Mempelajari keterampilan sosial dan cara manajemen waktu dengan baik.

  • Memberikan analogi terkait dengan perilaku anak. Misalnya, ahli terapi dapat menganalogikan perilaku hiperaktif tersebut sebagai ‘mesin yang panas’. Kemudian, ahli terapi akan mengajarkan cara mendinginkan ‘mesin panas’ tersebut pada anak.

 

Demikian informasi selengkapnya mengenai terapi okupasi yang dapat digunakan untuk membantu menangani anak dengan ADHD. Namun, perlu dipahami bahwa sebelum menjalani terapi okupasi, dokter akan terlebih dahulu mendiskusikan dan mempertimbangkan dengan seluruh tim medis terkait kondisi pasien, untuk memastikan pasien telah memenuhi persyaratan dalam menjalani terapi ini.

 

Oleh karenanya, sangat penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, serta saran perawatan yang tepat sesuai kondisi si kecil terkait penanganan ADHD.

 

Siloam Hospitals menyediakan layanan rehabilitasi medik untuk anak-anak dan dewasa, termasuk fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara. Program-program ini dirancang untuk meningkatkan mobilitas, keterampilan sehari-hari, dan kemampuan komunikasi, guna membantu pasien mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan prosedur perawatan yang dilakukan di setiap rumah sakit mungkin akan berbeda, karena hal tersebut perlu disesuaikan dengan fasilitas medis yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan seluruh prosedur medis tersebut telah sesuai dengan kondisi pasien.

 

Anda juga dapat memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia dalam aplikasi MySiloam untuk berkonsultasi dengan dokter pilihan secara virtual. Dengan layanan Telekonsultasi, Anda bisa memperoleh resep obat-obatan tertentu dari dokter tanpa perlu keluar rumah. Namun, jika diresepkan obat tertentu, seperti antidepresan dan antipsikotik, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

Sumber

Moving With Hope. Better Mind and Body: Occupational Therapists and Mental Health. Diakses pada 2024 | WebMD. Occupational Therapy for Children with ADHD. Diakses pada 2024 | Medical News Today. Occupational Therapy for ADHD. Diakses pada 2024 | Healthline. Can Occupational Therapy Help People Who Have ADHD? Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-indah-retno-wardhani-spkfr

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Indah Retno Wardhani, SpKFR

Rehabilitasi Medik

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Siloam Hospitals Kebon Jeruk

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-thomas-sintong-pratama-purba-spkfr

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Thomas Sintong Pratama Purba SpKFR.,FIPM.,AIFO-K.,COMSK

Rehabilitasi Medik

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-andreas-wardono-spkfr-mkes

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Andreas Wardono Santoso, SpKFR, M.Kes

Rehabilitasi Medik

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail