Waspadai Bahaya Skleritis, Peradangan di Bagian Putih Mata
Kesehatan Tubuh

Waspadai Bahaya Skleritis, Peradangan di Bagian Putih Mata

21 November 2025 4 menit waktu baca
(rework) skleritis adalah

 

Skleritis adalah kondisi radang pada bagian putih mata atau disebut juga dengan sklera. Di mana, sklera adalah bagian dari mata yang berfungsi untuk mempertahankan bentuk bola mata serta melindungi bagian penting lainnya dalam mata, yakni retina dan lensa mata.

 

Itulah mengapa kondisi ini harus segera mendapatkan penanganan dengan tepat. Jika tidak, skleritis tidak hanya berisiko merusak sklera, tapi juga berisiko menyebabkan kerusakan mata yang parah hingga berujung pada kebutaan.

 

Mari pahami selengkapnya tentang penyebab, gejala, dan pengobatan skleritis di bawah ini.

 

Apa itu Skleritis?

 

Skleritis adalah kondisi ketika sklera, yaitu bagian putih dari bola mata, mengalami peradangan. Sklera sendiri merupakan bagian mata yang berfungsi untuk menjaga bentuk bola mata serta melindungi bagian dalam mata, sehingga perdagangan pada area ini akan menyebabkan fungsi-fungsi tersebut terganggu.

 

Kondisi ini umumnya ditandai dengan munculnya kemerahan, bengkak, dan rasa nyeri pada mata. Selain itu, pembuluh darah di sekitar sklera juga melebar dan memerah disertai semburat ungu atau biru. Skleritis sering kali menyerang orang yang memiliki riwayat penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis.

 

Jenis-Jenis Skleritis

 

Berdasarkan lokasi timbulnya peradangan, skleritis terbagi menjadi dua jenis yaitu:

 

1. Skleritis Anterior

Skleritis anterior adalah peradangan sklera yang terjadi di sisi depan bola mata. Kondisi ini menjadi penyebab mata merah dan timbulnya benjolan kecil pada sklera mata. Secara umum, skleritis anterior terbagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

 

  • Diffuse anterior, jenis skleritis anterior yang paling umum terjadi, ditandai dengan peradangannya yang menyebar luas di sebagian atau seluruh bagian depan sklera.
  • Nodular, jenis skleritis anterior yang ditandai dengan timbulnya benjolan lunak di permukaan mata dan nyeri saat disentuh.
  • Necrotizing, termasuk jenis skleritis anterior yang paling parah karena bisa merusak jaringan sklera dan menimbulkan nyeri parah yang jika dibiarkan mampu membuat penderitanya kehilangan keseluruhan fungsi mata dan berujung buta.

 

2. Skleritis Posterior

 

Skleritis posterior adalah peradangan pada sklera yang terjadi di sisi belakang bola mata. Dalam banyak kasus, skleritis posterior bisa muncul bersamaan dengan skleritis anterior. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan di dalam bola mata yang membuat pandangan tampak kabur, penglihatan ganda dan adanya kilatan cahaya, serta nyeri yang bertambah berat pada pergerakan bola mata.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Skleritis

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab skleritis. Namun, kondisi ini diketahui berkaitan dengan gangguan autoimun, seperti:

 

 

Sementara itu, beberapa beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya skleritis adalah sebagai berikut:

 

  • Pernah mengalami cedera mata.
  • Mengalami infeksi mata.
  • Pernah menjalani operasi mata.
  • Menderita gangguan jaringan ikat, misalnya vaskulitis.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat memicu terjadinya skleritis.

 

Di samping itu, faktor usia dan jenis kelamin juga turut memengaruhi risiko skleritis. Pasalnya, seseorang dengan rentang usia 40–50 tahun dan berjenis kelamin perempuan memiliki tingkat risiko lebih tinggi menderita skleritis.

 

Gejala Skleritis

 

Beberapa gejala yang menandakan adanya skleritis adalah sebagai berikut:

 

  • Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya.
  • Air mata keluar tanpa sebab.
  • Muncul benjolan kecil di bagian putih mata.
  • Penglihatan kabur.
  • Nyeri pada mata yang dapat menjalar ke dahi atau dagu.
  • Mata menjadi kemerahan
  • Nyeri kepala di sisi mata yang bermasalah.

 

Diagnosis Skleritis

 

Setelah melakukan anamnesis atau wawancara medis dan pemeriksaan fisik pada mata, sejumlah pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk membantu dokter menegakkan diagnosis skleritis. Di antaranya adalah sebagai berikut:

 

  • Tes darah lengkap, untuk mengetahui penyebab skleritis apakah disebabkan karena adanya proses inflamasi (peradangan) atau infeksi.
  • Pemeriksaan kultur, untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi yang menyebabkan skleritis.
  • Tes pencitraan dengan rontgen dada, USG, atau MRI yang umumnya dilakukan untuk membantu mendiagnosis skleritis posterior.
  • Biopsi, untuk melakukan pemeriksaan pada kasus skleritis yang dicurigai karena infeksi atau keganasan. Namun, perlu diingat bahwa biopsi sklera berisiko menyebabkan terjadinya perforasi bola mata, nekrosis pada sklera, serta melemahkan struktur sklera. 
  • Tes laboratorium untuk mengidentifikasi penanda penyakit autoimun yang diduga menyebabkan skleritis seperti tes ANA, ANCAs, rheumatoid factor, dan anti-CCP antibodies.

 

Komplikasi Skleritis

 

Apabila tidak segera ditangani, beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat skleritis adalah:

 

  • Ablasi retina (retinal detachment).
  • Uveitis.
  • Katarak.
  • Iritis.
  • Keratitis.
  • Kelainan pada funduskopi, seperti retinal atau choroidal detachment.
  • Glaukoma sudut tertutup.
  • Perforasi mata akibat dari penipisan sklera.

 

Pengobatan Skleritis

 

Skleritis adalah kondisi yang tidak dapat disepelekan, sehingga perlu mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. Pengobatan untuk skleritis akan disesuaikan dengan jenis skleritis yang diderita pasien.

 

Biasanya, kondisi ini memerlukan terapi sistemik, seperti NSAID, kortikosteroid, atau obat-obatan imunosupresi. Namun, jika diketahui bahwa skleritis disebabkan oleh adanya infeksi bakteri atau virus, maka dokter akan memberikan obat antibiotik atau antivirus.

 

Sementara itu, pada beberapa kasus skleritis, terkadang dibutuhkan tindakan operasi untuk mencegah pasien kehilangan penglihatannya seperti pada kasus perforasi sklera, skleritis infeksius berulang di mana pemberian antibiotik tidak lagi efektif, dan sklera yang mengalami kematian jaringan. Adapun metode operasi yang digunakan adalah bedah rekonstruksi yang meliputi pencangkokan atau donor sklera.

 

Pencegahan Skleritis

 

Tidak ada cara khusus untuk mencegah skleritis, mengingat bahwa penyebab dari kondisi ini juga belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, beberapa cara yang bisa dilakukan agar kondisi skleritis tidak semakin parah adalah:

 

  • Hindari menggunakan lensa kontak.
  • Hindari mengucek mata.
  • Hindari riasan berlebihan di area mata.
  • Kenakan kacamata hitam saat keluar rumah untuk menghindari penularan infeksi sekaligus melindungi mata dari paparan sinar UV.

 

Itulah informasi mengenai skleritis yang perlu diketahui dan diwaspadai. Apabila Anda mengalami gejala yang mengarah pada skleritis, jangan ragu mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan secara tepat dari dokter kami.


Sebelum itu, buat janji temu melalui fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih cepat dan praktis. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

My Siloam App (1)

 

Dokter Kami
dr-anastasia-vanny-launardo-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anastasia Vanny Launardo, M.Kes, SpM

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Makassar

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-boyke-kuhurima-spm

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Boyke Kuhurima, SpM (K)

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-nursyamsi-spm-m-kes

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Nursyamsi, SpM, M.Kes

Oftalmologi (Mata)

Spesialis Mata


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail