Sub-Spesialisasi dari Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas
Seluruh informasi pada halaman ini ditujukan sebagai referensi umum dan tidak membatasi cakupan layanan medis yang dapat diberikan oleh masing-masing dokter. Untuk memastikan kesesuaian keahlian dokter dengan kebutuhan medis Anda, konsultasikan dengan dokter terkait.
Dokter pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis pulmonologi intervensi dan kegawatdaruratan napas mendiagnosis dan menangani masalah saluran pernapasan.
Tugas utama dokter pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis pulmonologi intervensi dan kegawatdaruratan napas adalah memberikan diagnosis serta perawatan medis nonbedah terhadap pasien yang mengalami masalah pernapasan yang bersifat darurat.
Adapun beberapa penyakit yang biasanya ditangani oleh dokter pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis ini adalah efusi pleura, batuk berdarah, henti napas, serta sumbatan di saluran pernapasan karena adanya benda asing, tumor, dan pneumothorax.
Era bronkoskopi dimulai pada tahun 1876 ketika Gustav Killian memasukkan esofagoskop ke dalam saluran napas seorang petani untuk mengangkat tulang babi. Kini, prosedur bronkoskopi tersebut telah menjadi bagian dari kompetensi seorang dokter subspesialisasi pulmonologi intervensi.
Beberapa inovator, ilmuwan, hingga dokter telah memberikan banyak kontribusi dalam mengembangkan prosedur bronkoskopi. Prosedur ini berhasil membuka pintu bagi sejumlah prosedur minimal invasif yang dapat mendukung penegakan diagnosis dari kondisi pasien.
Keunggulan Subspesialisasi
Gelar untuk dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis pulmonologi intervensi dan kegawatdaruratan napas adalah (Sp.PKR, Subsp.PIKN). Untuk mendapatkan gelar tersebut dan bisa berpraktik secara resmi, seorang dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi ini perlu melanjutkan pendidikan dan pelatihan tambahan selama 2–3 tahun yang berfokus pada ilmu pulmonologi intervensi serta kegawatdaruratan napas.
Subspesialis ini dilatih agar memiliki kemampuan untuk menangani masalah pernapasan yang biasanya bersifat darurat. Subspesialis ini juga dapat memberikan tindakan medis nonbedah, utamanya bronkoskopi.
Sebagian besar prosedur pulmonologi intervensi melibatkan prosedur bronkoskopi, yaitu tindakan memasukkan alat untuk mendiagnosis dan mengobati berbagai penyakit saluran napas dengan intervensi seminimal mungkin tanpa pasien harus menjalani operasi, rawat inap, dan pemulihan yang lama.
Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis pulmonologi intervensi dan kegawatdaruratan medis biasanya juga bekerja sama dengan ahli radiologi onkologi, ahli bedah toraks dan leher, serta ahli radiologi.
Penyakit dan Tindakan Medis
Beberapa penyakit yang dapat ditangani oleh dokter pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis pulmonologi intervensi dan kegawatdaruratan napas, yaitu:
-
Kanker paru-paru.
-
Efusi pleura.
-
Pneumothorax.
-
PPOK (penyakit paru obstruktif kronis).
-
Emboli paru.
-
Emfisema.
-
Batuk berdarah.
-
Gagal napas.
Beberapa prosedur medis yang dilakukan oleh dokter pulmonologi dan kedokteran respirasi dengan subspesialis pulmonologi intervensi dan kegawatdaruratan napas, yaitu:
-
Bronkoskopi.
-
Termoplasti bronkial.
-
Torakoskopi.
-
USG endobronkial.
Dokter Kami di
Temukan Dokter Terdekat
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ginanjar Arum Desianti, SpP (K)
Pulmonologi (Paru)
Subspesialis Pulmonologi Intervensi dan Kegawatdaruratan Napas
MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
Tersedia :
Sabtu, 16 Mei 2026




