Kesehatan Tubuh
Bronkopneumonia - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

Table of Contents
Bronkopneumonia adalah peradangan yang terjadi pada saluran pernapasan yang berbentuk seperti pipa (bronkus) serta kantung-kantung kecil di paru (alveolus). Kondisi ini dapat membuat penderitanya kesulitan bernapas karena menyempitnya saluran pernapasan. Mari kenali penyebab, gejala, hingga pengobatan bronkopneumonia selengkapnya di bawah ini.
Apa itu Bronkopneumonia?
Seperti disebutkan sebelumnya, bronkopneumonia adalah jenis pneumonia (radang paru-paru) yang memengaruhi dua bagian paru-paru, yaitu bronkus dan alveolus. Bronkus sendiri merupakan saluran pernapasan yang menghubungkan trakea dan paru-paru kanan dan kiri. Sementara itu, alveolus adalah kantung kecil dalam paru-paru yang berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Pada dasarnya, perbedaan bronkopneumonia dan pneumonia hanya terletak pada bagian paru-paru yang terdampak. Penyebab, gejala, cara menegakkan diagnosis, pengobatan, hingga langkah pencegahannya cenderung sama seperti pneumonia pada umumnya.
Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, namun cenderung lebih sering terjadi pada anak-anak, lansia, dan individu yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Bahkan, kondisi ini kerap menyebabkan kematian pada anak-anak berusia di bawah 5 tahun.
Penyebab Bronkopneumonia
Penyebab umum dari bronkopneumonia adalah infeksi bakteri. Patogen tersebut dapat menular dan menyebar ke orang lain melalui percikan air liur penderitanya saat sedang bersin, batuk, berbicara, maupun bernapas. Adapun beberapa jenis bakteri yang kerap menyebabkan terjadinya bronkopneumonia adalah:
-
Streptococcus pneumoniae.
-
Staphylococcus aureus.
-
Haemophilus influenzae.
-
Pseudomonas aeruginosa.
-
Escherichia coli.
-
Klebsiella pneumoniae.
-
Proteus sp.
Tak hanya bakteri, bronkopneumonia juga dapat terjadi karena infeksi virus seperti COVID-19 atau infeksi jamur seperti Aspergillus fumigatus. Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya bronkopneumonia adalah:
-
Berusia di bawah 2 tahun atau di atas 65 tahun.
-
Menderita batuk kronis.
-
Memiliki sistem imun yang lemah, seperti pada penderita HIV/AIDS atau gangguan autoimun.
-
Bekerja atau sering mengunjungi rumah sakit.
-
Menggunakan ventilator dalam jangka panjang.
-
Baru mengalami trauma fisik atau menjalani prosedur operasi.
-
Pola hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok, atau mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
-
Mengalami gizi buruk.
-
Sedang mengonsumsi obat imunosupresan (kelompok obat yang berfungsi untuk menekan respons imun), contohnya seperti obat untuk kemoterapi, transplantasi organ, atau penggunaan steroid dalam jangka panjang.
-
Menderita kondisi medis tertentu, seperti diabetes, penyakit liver, atau gagal jantung.
Gejala Bronkopneumonia
Gejala bronkopneumonia umumnya tidak berbeda jauh dengan gejala pneumonia. Gejala awal kondisi ini juga kerap menyerupai gejala influenza yang cenderung lebih parah selama beberapa hari. Beberapa gejala umum dari bronkopneumonia adalah sebagai berikut.
-
Demam.
-
Batuk berdahak.
-
Mual dan muntah.
-
Laju pernapasan cenderung cepat.
-
Nyeri dada yang dapat semakin memburuk saat sedang batuk atau menghirup napas.
-
Berkeringat.
-
Menggigil.
-
Nyeri kepala.
-
Kelelahan.
-
Nyeri otot.
-
Linglung, terutama jika terjadi pada lansia.
Gejala tersebut biasanya akan lebih parah jika terjadi pada individu yang memiliki sistem imun lemah atau menderita kondisi medis lain. Sementara itu, bronkopneumonia yang terjadi pada bayi atau anak-anak dapat menimbulkan gejala yang sedikit berbeda, seperti:
-
Demam.
-
Rewel.
-
Hidung tersumbat.
-
Nafsu makan menurun.
-
Sulit tidur.
-
Nadi teraba cepat.
-
Bibir tampak membiru.
-
Terdapat tarikan dinding dada atau dada tampak cekung ke dalam saat sedang bernapas.
-
Peningkatan laju napas.
Komplikasi Bronkopneumonia
Bronkopneumonia yang tidak segera ditangani dengan tepat, terutama pada individu yang berisiko tinggi, seperti anak-anak, lansia, atau orang dengan sistem imun lemah dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi, seperti:
-
Gagal napas, yaitu kondisi gagalnya pertukaran antara oksigen dengan karbon dioksida di paru-paru.
-
Gangguan jantung, seperti aritmia, gagal jantung, hingga serangan jantung (infark miokard).
-
Acute respiratory distress syndrome (ARDS) atau sindrom gangguan pernapasan akut, yaitu suatu kondisi yang mengancam jiwa akibat paru-paru tidak berfungsi dengan baik.
Diagnosis Bronkopneumonia
Langkah awal yang dapat dilakukan dokter untuk mendiagnosis bronkopneumonia adalah wawancara medis atau anamnesis dengan menanyakan keluhan dan riwayat kesehatan pasien. Jika pasien terindikasi menderita bronkopneumonia, dokter dapat mengonfirmasi diagnosisnya melalui sejumlah pemeriksaan penunjang, di antaranya sebagai berikut.
-
Oksimetri nadi untuk mengukur kadar oksigen dalam darah pasien.
-
Tes darah lengkap.
-
Analisis gas darah (AGD).
-
Kultur darah atau dahak.
Pengobatan Bronkopneumonia
Dalam kasus yang tergolong ringan, bronkopneumonia dapat ditangani dengan perawatan mandiri di rumah, seperti istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, dan mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter untuk meredakan gejala. Kondisi ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam kurun waktu 2 minggu.
Namun, jika bronkopneumonia menimbulkan gejala yang cukup parah, dokter dapat menyarankan pasien untuk menjalani prosedur pengobatan tertentu. Adapun sejumlah prosedur pengobatan yang umum dilakukan untuk menangani bronkopneumonia adalah:
-
Pemberian antibiotik, terutama jika bronkopneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri.
-
Pemberian obat antivirus jika bronkopneumonia disebabkan oleh infeksi virus.
-
Terapi atau pemberian bantuan oksigen jika kadar oksigen dalam darah pasien tergolong rendah.
Cara Mencegah Bronkopneumonia
Langkah utama untuk mencegah terjadinya bronkopneumonia adalah dengan melakukan vaksinasi. Adapun beberapa jenis vaksin yang direkomendasikan untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat meningkatkan risiko bronkopneumonia adalah:
-
Vaksin pneumonia
-
Vaksin influenza.
-
Vaksin haemophilus influenzae tipe B (Hib).
-
Vaksin pertusis.
-
Vaksin MMR, yaitu vaksinasi campak (measles), gondongan (mumps), dan rubella.
Selain vaksinasi, setiap individu juga dianjurkan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna menghindari risiko penularan virus atau bakteri penyebab bronkopneumonia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara:
-
Rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
-
Menghindari rokok dan paparan asap rokok.
-
Menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan guna menghindari polusi udara.
Untuk menghindari risiko bronkopneumonia, Anda dapat memesan paket Skrining Kesehatan Paru dari Siloam Hospitals. Paket ini meliputi tes darah lengkap, foto rontgen, serta spirometri untuk mengidentifikasi kemungkinan gangguan kesehatan pada paru-paru, termasuk bronkopneumonia.
Praktis, pemesanan paket tersebut dapat dilakukan melalui fitur yang tersedia pada aplikasi MySiloam. Anda juga dapat memantau hasil pemeriksaan dengan mudah melalui fitur Medical Records pada aplikasi MySiloam.
Namun, jika memiliki keluhan terkait dengan gangguan pernapasan, sebaiknya segera jadwalkan pertemuan Anda dengan dokter Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh diagnosis dan tindakan medis yang sesuai kondisi tubuh. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Skrining Kesehatan Paru
Penawaran Spesial
4 Service/Item
Rp650.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
TERPOPULER
Vaksinasi Influenza Dewasa - 1x
Vaksinasi
2 Service/Item
Rp460.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







