Hipoventilasi - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Hipoventilasi - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

05 Mei 2025 4 menit waktu baca
hipoventilasi adalah

Hipoventilasi adalah gangguan pernapasan yang ditandai dengan laju pernapasan yang lambat dan pendek. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pasokan oksigen di dalam tubuh tidak terpenuhi dan kadar karbon dioksida justru meningkat. Lantas, apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi hipoventilasi? Mari simak penjelasan selengkapnya melalui ulasan berikut ini.

 

Apa itu Hipoventilasi?

 

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, hipoventilasi atau hypoventilation adalah kondisi di mana laju pernapasan lambat dan pendek sehingga memecah pertukaran gas di paru-paru. Pertukaran gas adalah proses ketika oksigen bergerak dari alveoli di paru-paru ke aliran darah, sedangkan karbon dioksida bergerak dari darah ke paru-paru. Karbon dioksida kemudian dikeluarkan saat tubuh mengembuskan napas.

 

Terjadinya hipoventilasi dapat menyebabkan karbon dioksida tidak bisa keluar dari aliran darah sehingga terjadi peningkatan karbon dioksida dalam darah (hiperkapnia). Terkadang, hal tersebut juga bisa membuat oksigen tidak dapat masuk ke paru-paru sehingga tubuh kekurangan kadar oksigen dalam darah atau sangat rendah (hipoksemia).

 

Penyebab Hipoventilasi

 

Normalnya, frekuensi pernapasan orang dewasa adalah sekitar 12–20 kali per menit. Namun, berbeda dengan penderita hipoventilasi, laju pernapasan mereka sangat rendah, yakni sekitar 8–18 kali per menit. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh masalah kesehatan tertentu. Secara umum, berapa kondisi yang dapat menyebabkan seseorang mengalami hipoventilasi adalah:

 

  • Gangguan neuromuskular, yaitu adanya gangguan pada koordinasi sistem saraf dengan otot saluran pernapasan sehingga dapat menyebabkan otot saluran pernapasan bekerja secara abnormal dan menghambat proses pertukaran oksigen. Contoh dari gangguan neuromuskular adalah multiple sclerosis, myasthenia gravis, amyotrophic lateral sclerosis (kondisi yang menyebabkan rusaknya sel saraf pada otak dan sumsum tulang belakang), dan lain-lain.

  • Sindrom Pickwickian atau sindrom hipoventilasi obesitas, yaitu gangguan pernapasan yang dapat terjadi pada sebagian orang yang mengalami obesitas. Sindrom ini terjadi karena adanya beban mekanik akibat berat badan berlebih pada mekanisme pernapasan. Penderita obesitas dengan berat badan berlebih dapat menekan paru-paru sehingga volume tidal paru (volume udara yang masuk dan keluar dari paru-paru saat proses pernapasan berlangsung) menjadi rendah. Hal ini bisa mengakibatkan penumpulan kadar karbon dioksida dalam darah.

  • Kelainan bentuk dada, misalnya pada kondisi skoliosis, kifosis, flail chest (trauma pada dada yang menyebabkan 3 tulang rusuk atau lebih patah pada setidaknya 2 tempat), dan lain-lain.

  • Cedera otak.

  • Kondisi yang menyumbat atau saluran pernapasan seperti sleep apnea (gangguan tidur yang terjadi saat pernapasan seseorang terganggu yang ditandai dengan adanya periode henti napas secara berulang pada saat tidur), PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), dan lain-lain.

  • Peningkatan kadar zat amonia dalam darah.

  • Penyalahgunaan obat-obatan, seperti opioid, benzodiazepines, barbiturates, dan lain-lain.

  • Paparan toksin, misalnya tetanus (penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani), botulisme (penyakit yang menyerang sistem saraf akibat racun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum), dan lain-lain.

 

Gejala Hipoventilasi

 

Pada tahap awal, hipoventilasi tidak menunjukkan gejala yang spesifik, bahkan cenderung ringan, seperti kelelahan dan pernapasan yang melambat. Kendati demikian, gejala tersebut bisa berkembang semakin parah apabila tidak ditangani dengan cepat. Pada kondisi ini, beberapa gejala yang bisa muncul, di antaranya:

 

  • Sesak napas, baik saat beraktivitas maupun istirahat.

  • Rasa lelah.

  • Timbul bunyi abnormal atau suara paru tambahan saat bernapas.

  • Sianosis (perubahan warna jari tangan, jari kaki, dan bibir menjadi kebiruan).

  • Merasakan kantuk terus-menerus sepanjang siang hari dan sulit terjaga.

  • Kebingungan.

  • Nyeri kepala.

  • Masalah penglihatan.

  • Mual dan kejang.

  • Pingsan. 

 

Diagnosis Hipoventilasi

 

Untuk menegakkan diagnosis hipoventilasi, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) mengenai gejala yang dialami pasien, riwayat kesehatan, dan obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien. Kemudian, dokter akan melakuan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, laju pernapasan, denyut nadi, suhu, saturasi oksigen dengan pulse oximetry), pemeriksaan paru-paru, jantung, dan lain-lain.

 

Di samping itu, dokter mungkin juga memerlukan tes penunjang lainnya untuk mengonfirmasi diagnosis hipoventilasi. Pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan bagi pasien dengan hipoventilasi adalah sebagai berikut:

 

  • Pemeriksaan analisa gas darah, yaitu pengambilan darah dari arteri untuk mengukur jumlah karbon dioksida dan oksigen dalam darah.

  • Tes fungsi paru-paru, untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari keluhan kesulitan bernapas.

  • Tes pencitraan dengan rontgen dada atau CT scan, untuk melihat gambaran dada serta paru-paru secara detail dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari keluhan kesulitan bernapas.

  • Sleep study atau polysomnography, untuk melihat penyebab sleep apnea.

 

Cara Mengatasi Hipoventilasi

 

Dokter akan menyesuaikan penanganan hipoventilasi dengan penyebab yang mendasarinya serta seberapa parah kondisi yang dialami pasien. Mulai dari terapi oksigen hingga operasi, berikut adalah uraian selengkapnya tentang cara mengatasi hipoventilasi.

 

  • Terapi oksigen, untuk mengembalikan kadar oksigen normal di dalam darah.

  • Terapi PAP (positive airway pressure), terapi untuk mengatasi hipoventilasi yang disebabkan oleh sleep apnea. Terapi ini dilakukan dengan menjaga saluran napas tetap terbuka saat tidur, lalu mengalirkan udara dalam tekanan tertentu ke saluran udara menuju paru-paru.

  • Detoksifikasi, untuk membersihkan zat atau obat-obatan dari dalam tubuh pasien. Metode ini dilakukan bila hipoventilasi disebabkan oleh overdosis atau keracunan obat maupun zat tertentu.

  • Ventilasi mekanik, dilakukan dengan menyambungkan mesin ventilator ke selang napas, kemudian selang tersebut akan dipasang di tenggorokan dan trakea agar pasien bisa bernapas normal.

  • Operasi, tindakan ini diperlukan bila hipoventilasi disebabkan oleh kelainan bentuk dada.

 

Komplikasi Hipoventilasi

 

Hipoventilasi adalah kondisi di mana kadar karbon dioksida di dalam tubuh terlalu tinggi, sedangkan kadar oksigen cukup rendah. Jika kondisi tersebut tidak segera diatasi, hipoventilasi dapat mengembangkan berbagai masalah kesehatan yang lebih serius, seperti:

 

 

Hipoventilasi adalah kondisi yang perlu ditangani dengan cepat untuk mencegah komplikasi di atas. Oleh karena itu, jika Anda atau kerabat mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi ini, jangan ragu mengunjungi Dokter Spesialis Pulmonologi (Paru) di Siloam Hospitals guna mendapatkan perawatan yang profesional.

 

Sebagai langkah lebih lanjut dalam menjaga kesehatan paru-paru, Siloam Hospitals juga menyediakan paket Skrining Kesehatan Paru yang meliputi tes darah lengkap, foto rontgen, dan spirometri yang bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan yang terkait dengan paru-paru. 

 

Aplikasi My Siloam

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail