Kesehatan Tubuh
Mengenal Myasthenia Gravis, Ditandai dengan Kelelahan Otot

Table of Contents
Myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskular yang ditandai oleh kelemahan dan kelelahan otot berulang. Gangguan ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi sel-sel saraf dan otot dalam tubuh sebagai ancaman dan menyerangnya sehingga mengganggu komunikasi antara saraf dan otot.
Gejala myasthenia gravis bervariasi, tetapi umumnya berupa kelemahan otot yang bertambah parah saat sedang beraktivitas, seperti berjalan atau mengangkat benda. Mari pahami lebih lanjut tentang myasthenia gravis melalui artikel berikut.
Apa Itu Myasthenia Gravis?
Myasthenia gravis adalah penyakit yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan suatu antibodi yang secara keliru menyerang atau menghancurkan banyak reseptor otot untuk neurotransmitter asetilkolin. Asetilkolin adalah neurotransmitter yang bertugas untuk membawa sinyal yang membantu merangsang kontraksi otot.
Antibodi tersebut juga memblokir kerja protein muscle-specific tyrosine kinase (MuSK) yang berperan dalam pembentukan sambungan saraf dan otot (nerve-muscle junction) sehingga dapat menimbulkan terjadinya myasthenia gravis. Adapun otot-otot yang terdampak pada penyakit myasthenia gravis umumnya adalah otot tangan dan kaki, otot mata, otot wajah dan kerongkongan.
Penyakit myasthenia gravis cukup jarang terjadi dan lebih banyak dialami oleh wanita berusia kurang dari 40 tahun atau pria di atas usia 50 tahun. Awalnya, penderita biasanya akan merasa cepat lelah setelah melakukan aktivitas, namun akan membaik setelah beristirahat. Kelemahan otot yang terjadi masih bersifat hilang timbul. Lambat laun, kondisi ini bisa berkembang semakin memburuk dan membuat penderitanya kesulitan bergerak, berbicara, hingga bernapas.
Penyebab Myasthenia Gravis
Penyebab myasthenia gravis adalah adanya kesalahan pada sistem kekebalan tubuh sehingga menghasilkan antibodi yang menyerang sel-sel dan jaringan sehat dalam tubuh. Meski begitu, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan gangguan autoimun tersebut terjadi. Namun, terdapat dugaan bahwa adanya kelainan pada kelenjar timus dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko myasthenia gravis.
Kelenjar timus merupakan kelenjar di bagian dada yang berfungsi untuk menghasilkan antibodi pemblokir asetilkolin. Kelenjar ini berukuran kecil pada orang dewasa sehat. Namun, pada beberapa pasien dengan myasthenia gravis, kelenjar ini mengalami pembesaran karena pembengkakan kelenjar atau pertumbuhan tumor.
Gejala Myasthenia Gravis
Gejala utama myasthenia gravis adalah kelemahan pada otot rangka atau otot yang berada di bawah kendali tubuh. Otot-otot tersebut gagal berkontraksi secara normal sehingga tidak mampu mengeksekusi sinyal yang dihantarkan oleh saraf ke otot untuk merespons rangsangan.
Selain itu, beberapa gejala lain yang menyertai kondisi myasthenia gravis adalah:
-
Kesulitan menelan dan mengunyah makanan sehingga penderita sering tersedak.
-
Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda.
-
Sulit berbicara.
-
Kelelahan otot setelah beraktivitas.
-
Kepala terkulai.
-
Perubahan suara menjadi serak.
-
Kesulitan mengangkat barang, naik turun tangga, menyikat gigi, dan lain-lain.
-
Kesulitan bangun setelah duduk.
-
Sulit mempertahankan tatapan mata.
-
Kelopak mata menutup tanpa ada kontrol dari tubuh (drooping eyelids).
-
Otot wajah melemah hingga lumpuh.
-
Sulit bernapas akibat otot-otot di dinding dada melemah.
-
Kesulitan berjalan.
Diagnosis Myasthenia Gravis
Myasthenia gravis adalah kondisi yang dapat didiagnosis oleh dokter spesialis saraf. Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis dengan pasien atau keluarga pasien dan pemeriksaan fisik untuk menilai kekuatan otot.
Kemudian, dokter juga menyarankan tes darah untuk pemeriksaan antibodi terhadap reseptor asetilkolin. Hasil pemeriksaan antibodi akan menunjukkan positif apabila pasien menderita myasthenia gravis. Tes darah juga bisa dilakukan untuk pemeriksaan anti-striated muscle antibody. Pada sebagian penderita myasthenia gravis dengan timoma, pemeriksaan ini juga akan menunjukkan hasil positif.
Biasanya, dokter juga akan melakukan pemeriksaan rontgen dada, MRI, dan CT scan untuk mendeteksi adanya pembesaran pada kelenjar timus atau tumor. Selain itu, pemeriksaan elektromiogram (EMG) dapat dilakukan untuk menilai hubungan komunikasi antara saraf dan otot serta memeriksa sejauh mana perkembangan kelemahan otot terjadi. Tes fungsi paru juga dapat dilakukan untuk memeriksa kondisi paru dan pernapasan yang mungkin terganggu karena kelemahan otot.
Komplikasi Myasthenia Gravis
Apabila tidak segera ditangani, komplikasi paling serius yang bisa terjadi akibat myasthenia gravis adalah myasthenic crisis. Myasthenic crisis adalah kondisi ketika otot yang mendukung pernapasan melemah atau bahkan lumpuh sehingga dapat menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas. Perlu diketahui bahwa stres adalah salah satu pemicu terjadinya myasthenic crisis.
Selain itu, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atau komplikasi pascaoperasi. Pada kondisi yang parah, penderita bahkan bisa berhenti bernapas akibat melemahnya otot pernapasan sehingga membutuhkan ventilator (alat bantu pernapasan) hingga otot-otot pernapasan normal kembali. Myasthenia gravis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit autoimun lainnya, seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan tirotoksikosis.
Pengobatan Myasthenia Gravis
Apakah myasthenia gravis bisa sembuh? Sebetulnya, belum ada pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan kondisi ini. Namun, terdapat beberapa pengobatan yang dapat digunakan untuk meringankan gejalanya. Sejumlah metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani myasthenia gravis adalah sebagai berikut:
1. Pemberian Obat-obatan
Beberapa jenis obat yang biasanya diberikan oleh dokter untuk mengurangi gejala myasthenia gravis adalah:
-
Kortikosteroid seperti prednisone untuk menghambat sistem imun tubuh dan mengurangi produksi antibodi.
-
Penghambat kolinesterase seperti pyridostigmine untuk membantu meningkatkan atau mengembalikan kekuatan serta pergerakan otot yang melemah.
-
Imunosupresan seperti azathioprine dan methotrexate untuk menekan sistem imun tubuh dan mengontrol produksi antibodi. Obat ini biasanya digunakan bersamaan dengan kortikosteroid pada awal penggunaan jika terdapat risiko efek samping kortikosteroid yang tinggi. Imunosupresan juga dapat digunakan secara tunggal jika terdapat kontraindikasi penggunaan kortikosteroid.
2. Terapi
Terapi biasanya dilakukan apabila kondisi penderita semakin memburuk atau jika pengobatan lainnya tidak efektif. Berikut adalah beberapa pilihan terapi untuk myasthenia gravis:
-
Plasmapheresis. Terapi ini dilakukan dengan membuang plasma darah.
-
Imunoglobulin infus. Terapi ini dilakukan dengan memberikan antibodi dalam kadar tertentu ke dalam aliran darah guna mengembalikan respons normal sistem kekebalan tubuh.
-
Antibodi monoklonal. Terapi yang dilakukan untuk meringankan gejala myasthenia gravis melalui pemberian obat eculizumab dan rituximab.
3. Operasi
Prosedur operasi dilakukan apabila penyebab myasthenia gravis adalah tumor di kelenjar timus. Operasi bertujuan untuk mengangkat kelenjar timus, yang mana prosedur ini tidak hanya bermanfaat untuk menghilangkan tumor, tetapi juga dapat mengurangi gejala myasthenia gravis. Namun, manfaat operasi ini baru bisa dirasakan beberapa tahun setelah menjalani operasi.
Penting untuk diketahui bahwa informasi di atas bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis resmi serta saran perawatan dari tenaga medis profesional. Tidak menutup kemungkinan apabila gejala-gejala yang disebutkan merujuk pada kondisi medis lainnya.
Oleh karena itu, apabila Anda mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan kondisi ini, seperti kesulitan menelan secara tiba-tiba disertai kelelahan berlebih pada otot setelah beraktivitas sehari-hari, segera kunjungi Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat.
Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dijalani terkait kondisi ini akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan sehingga bisa saja berbeda di setiap rumah sakit. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh tahapan pemeriksaan dan pengobatan telah disesuaikan dengan kondisi medis pasien.
Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan dengan mudah, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam dan nikmati berbagai fitur untuk mempermudah perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
Dr. dr. Pricilla Yani Gunawan, Sp.N, Subspes.E.N.K (K), F.Neuroimaging-Neurosonology
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med
Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)
Spesialis Neurologi
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini






