Akalasia (Achalasia) - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya
Kesehatan Tubuh

Akalasia (Achalasia) - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

15 Mei 2025 5 menit waktu baca
akalasia adalah

Akalasia adalah suatu penyakit langka ketika otot kerongkongan tidak bisa mendorong makanan maupun minuman masuk ke dalam lambung. Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai penyakit refluks asam lambung atau GERD karena gejalanya yang hampir mirip. Bila ingin tahu lebih lanjut tentang apa itu akalasia, Anda dapat menyimak ulasan lengkapnya di bawah ini.

 

Apa itu Akalasia?

 

Akalasia adalah kondisi ketika cincin otot bagian bawah pada kerongkongan (lower esophageal sphincter) tidak berkontraksi saat menelan makanan. Kondisi ini dapat membuat penderita akalasia tidak mampu menelan dan mendorong makanan atau minuman ke dalam lambung. 

 

Akalasia dapat membuat penderitanya kesulitan menelan, makanan naik kembali, atau bahkan dapat menyebabkan penurunan berat badan karena makanan sulit masuk. Kondisi tersebut kerap menyebabkan akalasia sering disalahartikan sebagai GERD.

 

Pada GERD, asam lambung beserta makanan yang naik kembali berasal dari lambung, sedangkan pada akalasia makanan yang naik kembali berasal dari kerongkongan. Di samping itu, GERD disebabkan oleh melemahnya cincin otot di bagian bawah kerongkongan sehingga tidak dapat menutup dan isi lambung bisa naik kembali. 

 

Sementara itu, akalasia terjadi ketika cincin otot di bagian bawah menjadi kaku dan tidak dapat membuka dengan baik. Akibatnya, makanan tidak bisa tertelan dan bahkan tidak bisa mencapai lambung. Akalasia sangat jarang terjadi, dengan kejadian tahunan hanya sekitar 1 per 100.000 orang dan dengan prevalensi sekitar 10 per 100.000 orang. Kondisi ini tidak dipengaruhi oleh usia, ras, atau jenis kelamin tertentu. 

 

Penyebab Akalasia

 

Normalnya, saat sedang makan atau minum, cincin otot di bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES) akan berkontraksi sehingga memungkinkan makanan masuk lebih dalam. Otot tersebut kemudian melemas agar makanan bisa masuk ke dalam lambung. Namun, pada kondisi akalasia, LES menjadi kaku dan tidak dapat membuka dengan benar.

 

Akalasia terjadi ketika persarafan pada esofagus mengalami kerusakan. Akibatnya, esofagus dapat mengalami kehilangan kemampuan untuk mendorong makanan ke bawah dan LES tidak mengalami relaksasi secara sempurna sehingga makanan akan sulit masuk ke lambung.

 

Kendati demikian, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan LES menjadi kaku dan tidak bisa membuka dengan baik. Namun, terdapat dugaan bahwa akalasia berkaitan dengan faktor genetik serta beberapa kondisi di bawah ini:

 

  • Penyakit autoimun.

  • Menurunnya fungsi saraf.

  • Infeksi virus.

  • Komplikasi akibat penyakit Chagas (infeksi parasit Trypanosoma cruzi), kanker lambung, atau limfoma (kanker kelenjar getah bening).

  • Genetik.

 

Di samping itu, beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya akalasia adalah sebagai berikut:

 

  • Mengalami cedera pada tulang belakang.

  • Sedang menjalani terapi pengobatan varises (skleroterapi).

  • Mengidap Down syndrome.

 

Gejala Akalasia

 

Pada kebanyakan kasus, gejala muncul secara bertahap dan lama-kelamaan semakin memburuk. Gejala utama akalasia adalah kesulitan menelan makanan (disfagia) dan terasa seperti makanan atau minuman tersebut menyangkut di tenggorokan. Pasien pada awalnya akan kesulitan untuk memakan makanan padat, namun lama-kelamaan pasien juga tidak bisa memakan makanan cair. Gejala tersebut biasanya juga disertai dengan:

 

  • Regurgitasi (makanan kembali ke mulut dari kerongkongan).

  • Memuntahkan makanan atau air liur.

  • Nyeri ulu hati.

  • Bersendawa.

  • Nyeri dada yang datang dan pergi.

  • Batuk di malam hari.

  • Pneumonia.

  • Penurunan berat badan.

  • Kekurangan gizi akibat kesulitan makan (gejala ini muncul terlambat akibat proses penyakit yang lama).

 

Diagnosis Akalasia

 

Untuk menegakkan diagnosis akalasia, dokter akan menanyakan gejala serta riwayat kesehatan pasien terlebih dahulu (anamnesis). Kemudian, dokter juga melakukan pemeriksaan fisik guna melihat kemampuan pasien dalam menelan makanan atau minuman. 

 

Adapun beberapa pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan untuk mendiagnosis akalasia adalah:

 

  • Esophagogram. Pencitraan dengan sinar-X diambil setelah Anda meminum cairan barium yang akan melapisi dan mengisi lapisan dalam saluran pencernaan. Lapisan ini memungkinkan dokter melihat siluet dari esofagus, lambung, dan usus bagian atas serta membantu menunjukkan penyumbatan pada kerongkongan.

  • Manometri, untuk mengukur kontraksi ritmis pada otot esofagus, koordinasi kekuatan otot esofagus, serta menilai seberapa baik LES berelaksasi atau terbuka saat menelan. 

  • Endoskopi, untuk membantu dokter melihat kondisi dinding kerongkongan serta lambung.

 

Pengobatan Akalasia

 

Pengobatan akalasia berfokus pada relaksasi atau peregangan otot sfingter esofagus bagian bawah sehingga makanan dan cairan bisa bergerak lebih mudah melalui saluran pencernaan. Dokter akan menentukan pengobatan yang tepat sesuai dengan usia, kondisi kesehatan, serta tingkat keparahan. Pengobatan ini bisa dilakukan melalui prosedur nonbedah maupun bedah (operasi). Berikut masing-masing penjelasannya.

 

Pengobatan nonbedah:

 

  • Pneumatic dilation. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan balon ke dalam pusat sfingter esofagus melalui tindakan endoskopi agar bisa membuka dengan benar. 

  • Injeksi botox (botulinum toxin type A). Relaksan otot ini dapat disuntikkan secara langsung ke sfingter esofagus dengan jarum endoskopi. Botox biasanya direkomendasikan pada pasien yang tidak memungkinkan untuk menjalani pneumatic dilation.

  • Pemberian obat-obatan. Jenis obat yang umumnya diberikan oleh dokter adalah nitrogliserin atau nifedipine. Obat tersebut memiliki efek samping yang berat sehingga hanya disarankan bila pasien tidak dapat menjalani pneumatic dilation maupun botox.

 

Pengobatan bedah:

 

  • Heller myotomy. Prosedur yang dilakukan dengan memotong otot di ujung bawah sfingter esofagus agar makanan bisa masuk lebih mudah ke dalam lambung. Prosedur ini berisiko menimbulkan efek samping berupa GERD. Namun, prosedur yang dikenal sebagai fundoplikasi dapat dilakukan bersamaan dengan miotomi Heller untuk menghindari masalah GERD di masa depan.

  • Peroral endoscopic myotomy (POEM). Dalam prosedur POEM, dokter bedah menggunakan endoskopi untuk membuat sayatan pada lapisan dalam kerongkongan, lalu memotong otot di ujung bawah sfingter esofagus. Seperti halnya heller myotomy, POEM juga dapat dikombinasikan dengan fundoplikasi untuk membantu mencegah GERD.

 

Komplikasi Akalasia

 

Akalasia yang tidak mendapatkan penanganan dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Saat menderita akalasia, penderita secara bertahap akan mengalami kesulitan mengonsumsi makanan padat atau bahkan meminum cairan. Akibatnya, penderita bisa mengalami penurunan berat badan hingga malnutrisi. Kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko terjadinya:

 

  • Pneumonia aspirasi.

  • Esofagitis (peradangan di lapisan esofagus atau kerongkongan).

  • Perforasi esofagus (robekan pada dinding kerongkongan).

  • Kanker kerongkongan (kanker esofagus).

 

Akalasia adalah kondisi yang perlu segera ditangani agar tidak menimbulkan komplikasi serius seperti yang telah disebutkan di atas. Maka dari itu, segera kunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat apabila Anda atau kerabat merasakan sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi ini. Anda bisa memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk melihat jadwal praktik dokter dan membuat janji temu dengan dokter terkait.

 

Aplikasi My Siloam

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail