Anemia Aplastik Bisa Meningkatkan Risiko Infeksi, Waspadai Kondisinya!
Kesehatan Tubuh

Anemia Aplastik Bisa Meningkatkan Risiko Infeksi, Waspadai Kondisinya!

02 Juni 2025 5 menit waktu baca
anemia aplastik adalah

 

Anemia aplastik adalah jenis anemia yang terjadi karena adanya kelainan atau masalah pada sumsum tulang. Dengan kata lain, kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh kurang asupan zat besi yang ditemukan pada kondisi anemia pada umumnya. Untuk mengenal apa itu anemia aplastik lebih jauh, mari simak pembahasannya berikut.

 

Apa itu Anemia Aplastik?

 

Anemia aplastik adalah kondisi kelainan darah yang ditandai dengan gagalnya sumsum tulang memproduksi sel darah baru dalam jumlah yang normal, baik itu sel eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), maupun trombosit (keping darah).

 

Dibandingkan jenis anemia lainnya, anemia aplastik termasuk kondisi yang jarang terjadi. Akan tetapi, kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko infeksi serius, masalah perdarahan, penyakit jantung, dan komplikasi lainnya. Anemia aplastik dapat berkembang secara lambat atau cepat dengan tingkat keparahan dari ringan hingga serius.

 

Penyebab Anemia Aplastik

 

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, anemia aplastik disebabkan oleh gangguan pada sumsum tulang yang terutama berdampak pada sel punca. Sel punca memiliki peran penting dalam memproduksi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

 

Ketika sel punca rusak, sumsum tulang tidak mampu menghasilkan jumlah sel darah yang cukup sehingga sumsum tulang menjadi kosong (aplastik) atau mengandung sedikit sel darah (hipoplastik). Sebagai informasi, sel punca atau stem cell adalah sel yang belum memiliki fungsi khusus sehingga bisa mengubah, menyesuaikan, serta memperbanyak diri tergantung di mana lokasi sel tersebut berada.

 

Masih belum diketahui secara pasti semua faktor yang menyebabkan anemia aplastik, namun biasanya kondisi ini terjadi karena gangguan autoimun. Penyakit autoimun sendiri ditandai dengan sistem kekebalan tubuh yang keliru menyerang sel-sel punca di sumsum tulang sehingga dapat menghambat produksi sel darah.

 

Selain itu, kondisi medis, penyakit bawaan, prosedur pengobatan, dan paparan karsinogen tertentu dapat meningkatkan risiko anemia aplastik. Adapun beberapa faktor lain yang dapat merusak sumsum tulang dan berdampak pada produksi sel darah adalah:

 

  • Penggunaan obat-obatan, seperti antibiotik golongan tertentu dan obat-obatan untuk mengatasi rheumatoid arthritis.

  • Infeksi virus dapat berperan menyebabkan peradangan atau kerusakan pada sumsum tulang, sehingga menyebabkan gangguan pada produksi sel darah, seperti virus hepatitis, cytomegalovirus, Epstein-Barr, parvovirus B19, dan HIV.

  • Perubahan sistem kekebalan tubuh di masa kehamilan.

  • Perawatan radioterapi atau kemoterapi yang bertujuan untuk membunuh sel kanker tetapi juga dapat berpotensi merusak sel yang sehat, termasuk sel punca dalam sumsum tulang.

  • Paparan bahan kimia berbahaya secara terus menerus, seperti pestisida dan benzene.

  • Faktor-faktor yang tidak bisa diidentifikasi (idiopatik) sehingga menyebabkan kondisi anemia aplastik idiopatik.

 

Beberapa penderita anemia aplastik juga menderita kondisi medis langka yang dikenal sebagai paroxysmal nocturnal hemoglobinuria. Kondisi langka ini menyebabkan sel darah merah cepat rusak sehingga dapat menyebabkan anemia aplastik atau mengembangkan anemia aplastik menjadi paroxysmal nocturnal hemoglobinuria.

 

Penyakit langka lainnya yang dapat menyebabkan anemia aplastik adalah anemia Fanconi. Kondisi ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anak. Anak-anak yang lahir dengan kondisi anemia Fanconi biasanya memiliki postur tubuh yang lebih kecil dari rata-rata dan mengalami kelainan fisik seperti tangan atau lengan yang kurang berkembang.

 

Gejala Anemia Aplastik

 

Anemia aplastik biasanya berkembang selama beberapa minggu dan bulan sehingga perubahan pada tubuh tidak begitu terlihat secara langsung. Pada beberapa kasus, penderita anemia aplastik mengalami gejala yang parah. Beberapa gejala yang umumnya ditemukan adalah:

 

  • Demam.

  • Lemas.

  • Kulit terlihat lebih pucat dari biasanya.

  • Infeksi virus berulang dan berlangsung lama.

  • Mudah mengalami perdarahan atau memar.

  • Perdarahan berkepanjangan bila mengalami luka.

  • Ruam kulit.

  • Sakit kepala atau pusing.

  • Sesak napas (dispnea).

  • Jantung berdebar-debar.

 

Diagnosis Anemia Aplastik

 

Anemia aplastik dapat didiagnosis melalui serangkaian prosedur diagnosis. Dokter akan melakukan anamnesis terlebih dahulu untuk mengetahui gejala yang dialami, riwayat medis pasien, dan riwayat penyakit keluarga. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien.

 

Pemeriksaan fisik tersebut berupa pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, laju pernapasan, laju nadi, suhu), melihat apakah terdapat tanda anemia (seperti konjungtiva pucat), tanda perdarahan (memar, lebam, ataupun ruam pada kulit), dan lain-lain. Setelahnya, dokter akan merekomendasikan beberapa tes lanjutan, seperti:

 

  • Pemeriksaan darah lengkap dengan hitungan diferensial. 

  • Apusan darah tepi.

  • Penghitungan retikulosit.

  • Aspirasi sumsum tulang.

  • Biopsi sumsum tulang.

  • Tes genetik.

 

Pengobatan Anemia Aplastik

 

Dokter akan merekomendasikan pengobatan anemia aplastik sesuai dengan tingkat keparahan kondisi dan usia pasien. Pada dasarnya, pengobatan anemia aplastik terbagi menjadi 3 bagian, yaitu terapi suportif, terapi imunosupresi, dan transplantasi sel punca. 

 

Terapi suportif dilakukan untuk mengurangi gejala yang timbul akibat kekurangan sel darah (sitopenia). Beberapa pilihan terapi suportif yang umumnya direkomendasikan oleh dokter adalah:

 

  • Transfusi darah: Transfusi yang dilakukan dapat berupa transfusi sel darah merah maupun transfusi trombosit. Transfusi sel darah merah dilakukan untuk menambah jumlah sel darah merah sehingga dapat membantu mengatasi keluhan anemia. Sementara itu, transfusi trombosit dilakukan untuk mencegah atau mengatasi kondisi gangguan perdarahan.

  • Terapi infeksi: Dokter memberikan obat-obatan antibiotik maupun antijamur untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.

  • Pemberian growth factor: Penggunaan growth factor seperti granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) dapat merangsang produksi sel darah putih dan membantu meningkatkan imunitas.

 

Terapi kedua yang menjadi pilihan adalah terapi imunosupresan untuk menangani kasus anemia aplastik akibat penyakit autoimun. Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk menekan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat membantu pemulihan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah baru.

 

Terapi berikutnya adalah transplantasi sel punca yang merupakan satu-satunya pengobatan yang memiliki potensi untuk menyembuhkan anemia aplastik. Prosedur ini bertujuan untuk membangun kembali sumsum tulang dengan sel punca dari donor untuk menyembuhkan anemia aplastik yang berat.

 

Apabila kondisi anemia aplastik diduga disebabkan oleh perawatan medis tertentu, pasien disarankan untuk melakukan penghentian perawatan medis tersebut. Sebagai contoh, anemia aplastik yang disebabkan oleh radioterapi dan kemoterapi bisa diatasi dengan memberhentikan prosedur tersebut.

 

Perlu dicatat bahwa anemia aplastik bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Gejala-gejalanya juga bervariasi dan bahkan bisa mengindikasikan kondisi medis lainnya. Jika Anda memiliki keluhan, seperti tubuh terasa lemas, pusing, dan kulit terlihat pucat, konsultasikan kondisi Anda ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam Supspesialis Hematologi Onkologi Medik di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan, diagnosis, dan penanganan yang tepat.

 

Dokter akan menentukan langkah-langkah diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Selain itu, pemeriksaan dan pengobatan pun akan disesuaikan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga tahapannya bisa berbeda-beda.

 

Untuk memudahkan konsultasi dengan dokter, Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam. Aplikasi ini memungkinkan Anda untuk mengecek jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan gunakan fitur-fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Digital Booking Lab&Rad - KV 2

Sumber

Cleveland Clinic. Aplastic Anemia. Diakses pada 2024 | National Heart, Lung, and Blood Institute. Aplastic Anemia. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Aplastic Anemia. Diakses pada 2024 | Mayo Clinic. Aplastic Anemia. Diakses pada 2024 | UpToDate. Aplastic Anemia: Pathogenesis, Clinical Manifestations, and Diagnosis. Diakses pada 2024 | Medscape. Aplastic Anemia. Diakses pada 2024 |

message

ArticleDetail