Kesehatan Tubuh
Anoksia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya

Table of Contents
Anoksia adalah kondisi kekurangan oksigen total di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan jaringan atau organ tubuh tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius. Apabila tidak ditangani segera, anoksia bisa berakibat fatal. Lantas, seperti apa penanganan anoksia yang tepat? Mari simak pembahasannya di bawah ini.
Apa itu Anoksia?
Seperti yang disebutkan sebelumnya, anoksia adalah kekurangan total oksigen di dalam tubuh atau kurangnya pasokan oksigen secara total ke suatu organ dalam tubuh. Kondisi ini termasuk sebagai kondisi gawat darurat medis. Untuk menjaga tingkat oksigen yang memadai dalam darah, dibutuhkan tiga proses fisiologis, yaitu perfusi, ventilasi, dan difusi. Apabila salah satu dari proses tersebut terganggu, kekurangan oksigen dalam tubuh pun dapat terjadi.
Sebagai catatan, anoksia adalah kondisi yang berbeda dengan hipoksia. Anoksia merupakan kondisi yang ditandai dengan kekurangan total oksigen dalam tubuh, sedangkan hipoksia ditandai dengan penurunan kadar oksigen di bawah batas normal. Pada kondisi hipoksia, tubuh masih menerima oksigen, namun jumlahnya tidak cukup untuk membantu tubuh berfungsi dengan baik.
Anoksia dapat menimbulkan komplikasi kesehatan yang serius, seperti kerusakan otak dan kegagalan fungsi organ. Sebagai contoh, kekurangan oksigen secara menyeluruh ke otak bisa menyebabkan stroke. Sementara itu, kekurangan oksigen karena distribusi oksigen yang tidak berjalan dengan tepat berisiko menyebabkan kegagalan fungsi organ, seperti gagal jantung dan gagal ginjal), penurunan kesadaran, dan lain-lain.
Jenis Anoksia
Umumnya, terdapat empat jenis anoksia yang dikenal dalam dunia medis, yaitu anoksia anoksik, anoksia anemia, anoksia stagnan, dan anoksia toksik. Berikut penjelasannya:
-
Anoksia anoksik: Kekurangan oksigen akibat kurangnya kadar oksigen di udara, seperti saat mendaki di pegunungan.
-
Anoksia anemia: Sel darah merah tidak mampu membawa oksigen yang cukup, baik karena berkurangnya hemoglobin atau perubahan kapasitas hemoglobin pembawa oksigen. Kondisi ini juga bisa disebabkan oleh kekurangan sel darah merah. Biasanya kondisi ini dikaitkan dengan anemia kronis, gangguan paru-paru, perdarahan akut, dan lain-lain.
-
Anoksia stagnan: Anoksia ini terjadi ketika darah tidak mendapatkan oksigen dengan baik dan tidak terdistribusi secara tepat. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh aritmia jantung, serangan jantung, dan stroke.
-
Anoksia toksik: Terjadi ketika ditemukan zat beracun seperti karbon monoksida, narkotika, atau alkohol di dalam tubuh sehingga dapat mengganggu pengiriman oksigen ke jaringan organ tubuh.
Penyebab Anoksia
Anoksia terutama disebabkan oleh kekurangan suplai darah yang mengandung oksigen ke organ dan jaringan tubuh. Kondisi ini termasuk gawat darurat medis sehingga membutuhkan penanganan medis segera karena oksigen yang tidak memadai dapat merusak otak dan organ vital dalam hitungan menit. Intervensi dini dapat membantu menyelamatkan nyawa penderita anoksia.
Gejala Anoksia
Anoksia memiliki gejala yang serupa dengan hipoksia. Kedua kondisi ini ditandai dengan kekurangan oksigen di dalam tubuh. Keparahannya bergantung pada durasi dan tingkat kekurangan oksigen. Adapun beberapa gejala anoksia yang perlu diperhatikan adalah:
-
Sesak napas atau kesulitan bernapas.
-
Kebingungan.
-
Kegelisahan.
-
Sakit kepala.
-
Jantung berdebar atau berdetak cepat.
-
Kejang.
-
Kehilangan kesadaran atau pingsan.
-
Tanda-tanda kerusakan otak.
Pada kondisi cedera otak anoksik atau anoxic brain injury, sejumlah komplikasi jangka panjang bisa terjadi. Beberapa di antaranya adalah:
-
Kejang.
-
Penurunan kesadaran.
-
Gangguan bicara.
-
Kegagalan fungsi organ.
-
Kesulitan mengingat.
-
Iritabilitas.
-
Spastisitas (kaku otot).
Diagnosis Anoksia
Dokter akan menegakkan anamnesis (wawancara medis) dengan orang terdekat untuk mengetahui gejala-gejala pasti yang dialami penderita. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien sembari menangani kondisi kegawatdaruratan yang dialami pasien.
Diagnosis secara klinis biasanya dilakukan pada saat kejadian dan didasarkan pada kadar oksigen dalam darah. Cara pengujiannya yaitu melalui oksimetri atau tes darah serta pengecekan warna kulit.
Prosedur diagnosis bisa dilanjutkan untuk memeriksa kemungkinan komplikasi dari anoksia atau yang berkaitan dengan anoksia, seperti cerebral palsy. Adapun beberapa tes yang perlu dijalani meliputi:
-
Tes darah, seperti menghitung darah lengkap, analisis gas darah, elektrolit, dan lain-lain.
-
Electroencephalogram (EEG).
-
Somatosensory evoked potentials (SSEP), yaitu prosedur medis yang dilakukan untuk mengukur aktivitas listrik di otak sebagai respons terhadap rangsangan seperti penglihatan, suara, atau sentuhan.
Penanganan Anoksia
Tahapan penanganan anoxia bergantung pada kondisi yang mendasarinya. Apabila terjadi gagal napas atau kekurangan oksigen, tenaga medis dapat memberikan terapi oksigen pada penderita.
Jika pasien mengalami henti jantung akibat anoksia, tenaga medis akan melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Upaya penanganan awal utamanya ditujukan untuk mengembalikan penyaluran oksigen ke dalam tubuh sebagaimana mestinya.
Sementara itu, pengobatan anoksia jangka panjang melibatkan penanganan penyebab dan komplikasinya. Tergantung pada tingkat keparahannya, anoksia dapat ditangani dengan perawatan pendukung, seperti:
-
Terapi fisik (fisioterapi) untuk mengembalikan kekuatan dan fungsi tubuh pasien.
-
Penggunaan alat bantu, seperti kawat gigi, kursi roda, alat bantu dengar, dan kacamata untuk membantu beraktivitas sehari-hari.
-
Ventilasi mekanik.
-
Obat-obatan untuk mengendalikan gejala anoksia, seperti kejang, nyeri, dan masalah perilaku.
-
Prosedur pembedahan spesifik untuk masalah yang berkaitan dengan saraf.
Perlu dicatat bahwa anoksia merupakan kondisi darurat sehingga membutuhkan penanganan segera. Namun, gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak selalu mengindikasikan anoksia. Sejumlah gejala tersebut bisa saja berkaitan dengan kondisi medis lain.
Apabila Anda atau orang terdekat menderita gejala serupa, segera konsultasikan kondisi tersebut dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan evaluasi, diagnosis, dan penanganan secara tepat.
Dokter akan memastikan pasien mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi medisnya. Selain itu, prosedur pemeriksaan dan rekomendasi pengobatan akan dilakukan berdasarkan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga langkah-langkahnya pun bisa berbeda-beda.
Anda bisa menggunakan fitur aplikasi MySiloam untuk berkonsultasi dengan dokter secara lebih mudah. Aplikasi ini dapat membantu Anda untuk mengecek jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, dan mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan manfaatkan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Verywell Health. Brain Injury From Anoxia. Diakses pada 2024 | News Medical Life Sciences. Anoxia Symptoms and Diagnosis. Diakses pada 2024 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini






