Chancroid - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya
Kesehatan Tubuh

Chancroid - Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
Chancroid adalah

Chancroid adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang sangat menular. Kondisi ini rentan menyebabkan komplikasi pada penderitanya, sehingga perlu mendapatkan perawatan yang tepat sesegera mungkin. Lantas, apa penyebab chancroid? Bagaimana cara mengatasi kondisi ini? Ketahui jawabannya dengan menyimak ulasan di bawah ini sampai tuntas.

 

Apa itu Chancroid?

 

Chancroid atau ulkus mole adalah salah satu jenis infeksi menular seksual (sexually transmitted infections/STIs) yang ditandai dengan munculnya benjolan yang bisa berubah menjadi luka terbuka di sekitar area alat kelamin. Kondisi ini dapat menyerang pria maupun wanita pada usia berapa pun.

 

Penyebab Chancroid

 

Chancroid adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus ducreyi (H. ducreyi). Infeksi ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual atau kontak langsung dengan luka penderitanya. Infeksi juga bisa menyebar ke bagian tubuh lainnya apabila penderita tidak mencuci tangan setelah menyentuh luka dan langsung menyentuh area tubuh lain.

 

Infeksi terjadi ketika bakteri H. ducreyi masuk ke dalam tubuh melalui celah kecil di kulit, misalnya luka, kemudian bakteri tersebut akan melepaskan racun sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Racun tersebut dapat mengakibatkan kematian jaringan (nekrosis) dan membentuk luka. Jika bakteri tetap aktif di dalam luka, luka bisa semakin memburuk.

 

Chancroid adalah kondisi yang dapat terjadi pada siapa saja, namun risikonya akan lebih besar pada seseorang yang memiliki sejumlah kondisi di bawah ini:

 

  • Sering berganti pasangan seksual.

  • Berhubungan seksual dengan PSK.

  • Tidak melakukan sunat (pada pria).

  • Berhubungan seksual dengan risiko tinggi, seperti  tidak menggunakan pengaman, seks anal, seks oral tanpa pengaman, berhubungan seks di usia muda, multiple partner, serta memiliki pasangan seksual dengan risiko tinggi. 

  • Kecanduan alkohol.

  • Menyalahgunakan NAPZA.

  • Tidak menjaga kebersihan alat kelamin.

 

Gejala Chancroid

 

Gejala chancroid biasanya muncul 4–10 hari setelah seseorang terinfeksi bakteri H. ducreyi. Adapun gejala utama chancroid adalah timbulnya luka terbuka yang menyakitkan. Luka tersebut dapat sembuh dengan cepat atau bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Selain luka terbuka, beberapa gejala lain yang menyertai chancroid adalah:

 

  • Luka berbentuk kawah (ulcer) ukuran 1–2 cm atau bisa lebih besar. Luka ini berwarna abu-abu di bagian tengah hingga kekuningan, dengan pinggiran berbatas tegas. Luka juga mudah berdarah.

  • Benjolan yang nyeri di sekitar alat kelamin.

  • Bisul dengan tepi yang lembut dan tidak beraturan.

  • Kulit yang memerah dan mengkilap pada luka.

  • Keluar nanah dan cairan infeksi dari luka atau benjolan.

  • Penyebaran luka ke area yang lebih luas.

  • Pada beberapa kasus, chancroid juga dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar selangkangan.

  • Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan menggigil.

 

Pada pria, gejala biasanya dimulai dengan munculnya benjolan kecil yang berubah menjadi luka terbuka di area alat kelamin, termasuk skrotum dan penis. Sementara pada wanita, gejala dimulai dengan munculnya benjolan merah pada labia, paha, atau di antara labia dan anus.

 

Ketika benjolan tersebut menjadi luka terbuka, wanita dapat mengalami sensasi terbakar di area luka atau nyeri saat buang air kecil maupun nyeri saat berhubungan seksual.

 

Diagnosis Chancroid

 

Dalam penegakan diagnosis chancroid, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala, riwayat kesehatan, dan perilaku seksual pasien. Dokter juga melakukan pemeriksaan fisik di area alat kelamin untuk melihat luka atau benjolan, serta pembengkakan kelenjar getah bening di pangkal paha (selangkangan).

 

Guna mengonfirmasi diagnosis chancroid, dokter dapat melakukan tes penunjang dengan mengambil sampel cairan luka untuk diperiksa di bawah mikroskop atau melalui kultur (pembiakan kuman di media khusus).

 

Di samping itu, dokter juga perlu mengenyampingkan kemungkinan infeksi menular seksual lainnya, seperti sifilis, HIV, atau herpes simpleks. Jika hasilnya negatif, dokter akan meminta pasien menjalani pemeriksaan kembali 3 bulan kemudian.

 

Komplikasi Chancroid

 

Jika tidak ditangani, chancroid dapat memicu terjadinya infeksi menular lainnya, seperti HIV/AIDS, terutama jika penderita tidak membatasi aktivitas seksual selama masa pemulihan. Selain itu, chancroid juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi lain, di antaranya:

 

  • Kerusakan saluran kencing akibat peradangan yang berujung menjadi fistula rektal atau urogenital (saluran yang terhubung secara tidak normal di antara dua rongga tubuh yang seharusnya terpisah). Selain itu peradangan tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan di dalam jaringan kemaluan akibat  infeksi sekunder (infeksi lain yang terjadi saat terjadi infeksi) atau bahkan superinfeksi (paparan infeksi sekunder ketika infeksi primer sedang diobati) oleh bakteri anaerob, seperti Bacteroides atau Fusobacterium.

  • Terbentuknya jaringan parut di kepala penis (glans) yang tidak disunat.

  • Munculnya benjolan berisi nanah di selangkangan yang bisa pecah dan menimbulkan luka.

  • Penyebaran infeksi H. ducreyi di area kulit lainnya.

  • Infeksi sekunder berupa infeksi kelenjar getah bening yang bernanah (suppurative lymphadenitis).

 

Pengobatan Chancroid

 

Tujuan utama pengobatan chancroid adalah meredakan gejala, menyembuhkan infeksi, mencegah penularan, dan meminimalkan risiko terjadinya komplikasi. Adapun sejumlah metode pengobatan yang dapat diberikan oleh dokter adalah:

 

  • Pemberian obat antibiotik. Dengan antibiotik dan durasi pengobatan yang tepat, seperti azithromycin, ceftriaxone, ciprofloxacin, maupun erythromycin, kondisi ini umumnya akan sembuh sepenuhnya.

  • Operasi. Metode ini dilakukan ketika dokter perlu mengeluarkan cairan dan nanah dari kelenjar getah bening yang terinfeksi agar bisa mengurangi nyeri dan pembengkakan. Operasi dapat dilakukan dengan jarum khusus maupun pembedahan.

  • Mengurangi aktivitas seksual. Penderita chancroid disarankan untuk membatasi atau lebih baik menghentikan aktivitas seksual hingga dinyatakan pulih total guna menghindari penularan.

 

Setelah memulai terapi, pasien akan diperiksa kembali 3–7 hari kemudian. Jika pengobatan berhasil, ulkus biasanya membaik dalam waktu 3–7 hari setelah terapi. Waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan total bergantung pada ukuran ulkus, di mana ulkus yang besar mungkin memerlukan waktu lebih dari 2 minggu. 

 

Pencegahan Chancroid

 

Mengingat bahwa salah satu faktor utama chancroid adalah perilaku seksual yang tidak aman, maka kondisi ini bisa dicegah dengan menerapkan aktivitas seksual yang aman dan sehat. Adapun faktor-faktor yang dikategorikan sebagai aktivitas seksual yang aman dan sehat, yaitu:

 

  • Menggunakan kondom.

  • Tidak gonta-ganti pasangan seksual.

  • Sunat bagi pria.

  • Hindari berhubungan seksual dengan penderita chancroid atau infeksi menular seksual lainnya.

 

Itulah penjelasan mengenai chancroid yang merupakan salah satu infeksi menular seksual yang perlu diwaspadai. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami beberapa keluhan yang mengarah ke kondisi tersebut. Kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan secara tepat.

 

Apabila memerlukan perawatan dari rumah, Anda dapat memesan layanan Homecare - Coordinated Care dari Siloam Hospitals melalui aplikasi MySiloam. Layanan ini memungkinkan Anda untuk mendapatkan pendampingan perawat secara langsung di rumah (perawat bisa menginap atau pulang pergi), serta pemantauan berkala oleh dokter umum dan dokter spesialis jika diperlukan. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Siloam at Home

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail