Defibrillator: Fungsi, Jenis, Cara Kerja, & Penggunaannya
Kesehatan Tubuh

Defibrillator: Fungsi, Jenis, Cara Kerja, & Penggunaannya

02 Mei 2025 5 menit waktu baca
 defibrillator adalah

 

Defibrillator adalah alat untuk mengalirkan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan aktivitas listrik jantung yang normal. Alat ini dapat digunakan ketika seseorang mengalami henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) atau adanya gangguan irama jantung. Lantas, bagaimana cara kerja dan penggunaan defibrillator? Mari simak pembahasannya berikut ini.

 

Apa itu Defibrillator?

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, defibrillator adalah alat yang dapat menyalurkan kejutan  listrik ke jantung untuk membuatnya kembali berdetak normal. Biasanya, defibrillator digunakan ketika seseorang mengalami sudden cardiac arrest atau mengalami gangguan irama jantung (aritmia), seperti ventrikel takikardi dan fibrilasi ventrikel. Kedua jenis aritmia tersebut dapat menyebabkan detak jantung yang tidak normal atau terlalu cepat dan berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

 

Penderita kedua kondisi aritmia tersebut bisa mendapatkan penanganan di rumah sakit atau fasilitas medis yang menyediakan automated external defibrillator (AED). Namun, jika memiliki risiko tinggi aritmia yang membahayakan, pasien disarankan untuk memiliki defibrillator pribadi, seperti implantable cardioverter-defibrillator (ICD). ICD adalah alat yang ditanamkan di tubuh dan bisa memberikan kejutan listrik otomatis saat detak jantung tidak normal terdeteksi.

Fungsi Defibrillator

 

Defibrillator berfungsi untuk mengembalikan irama jantung ke keadaan normal saat terjadi sudden cardiac arrest (henti jantung mendadak) dan adanya gangguan irama jantung. Henti jantung mendadak menyebabkan jantung berhenti memompa darah secara efektif sehingga otak dan organ vital lainnya tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Defibrillator bekerja dengan memberikan aliran listrik langsung ke jantung sehingga jantung dapat kembali berdetak dengan ritme yang stabil.

Pertolongan pertama sering kali dikaitkan dengan resusitasi jantung paru (CPR/cardiopulmonary resuscitation). Namun perlu diketahui, tindakan ini hanya dapat memberikan bantuan sementara sampai defibrillator tersedia. 

 

Pada henti jantung yang disebabkan jenis gangguan irama jantung tertentu, tindakan CPR dapat diikuti dengan penggunaan defibrillator untuk mengoptimalkan peluang keberhasilan terapi. Bahkan pada pasien yang sudah memiliki alat pacu jantung atau implantable cardioverter defibrillator (ICD) juga masih mungkin membutuhkan defibrillator eksternal apabila mengalami henti jantung.

Jenis-Jenis Defibrillator

 

Terdapat tiga jenis defibrillator yang digunakan secara umum, yaitu automated external defibrillator (AED), implanted cardioverter defibrillator (ICD), dan wearable cardioverter defibrillator (WCD). Berikut penjelasannya:

 

  • Automated external defibrillator: Jenis defibrillator yang bisa ditemukan di tempat umum dan dapat digunakan oleh siapa saja dalam keadaan darurat. AED bisa disimpan di rumah seseorang yang berisiko tinggi terkena henti jantung.

  • Manual defibrillator: Alat ini digunakan oleh tenaga medis telah terlatih dalam membaca kelainan irama jantung pada elektrokardiogram (EKG). Manual defibrillator biasanya ditemukan di ambulans, unit gawat darurat, intensive care unit (ICU), dan lain-lain.

  • Implanted cardioverter defibrillator: Alat berukuran kecil yang dipasang melalui operasi pembedahan di dada dan diprogram secara otomatis untuk mendeteksi aritmia atau henti jantung mendadak yang fatal. Ketika aritmia terdeteksi, defibrillator ini akan mengalirkan arus listrik ke jantung untuk membuat iramanya kembali normal.

  • Wearable cardioverter defibrillator: Defibrillator untuk penggunaan jangka pendek berbentuk rompi yang dipasangi baterai isi ulang. Serupa dengan ICD, jenis defibrillator ini dapat mendeteksi irama jantung abnormal yang dapat berakibat fatal dan mengalirkan arus listrik untuk mengembalikannya menjadi normal.

 

Cara Kerja Defibrillator

Defibrillator bekerja dengan memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengembalikan irama jantung yang tidak normal menjadi lebih stabil dan normal. Pada automated external defibrillator, cara kerja defibrillator terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu mendeteksi irama jantung dan mengirimkan kejutan listrik. 

Sebelum memberikan kejutan, AED akan memeriksa dan menganalisis irama jantung pasien. Jika irama jantung yang terdeteksi tidak dapat dipulihkan dengan kejutan listrik (non-shockable rhythm), seperti kondisi asistol (tidak ada aktivitas jantung) atau PEA (pulseless electrical activity), defibrillator tidak akan memberikan kejutan. 

Pada defibrillator manual, dokter atau paramedis akan menilai sendiri irama jantung melalui monitor dan memutuskan apakah perlu diberikan kejutan. Jika irama jantung mengindikasikan aritmia yang bisa diatasi dengan kejutan (shockable rhythm), seperti fibrilasi ventrikel atau ventrikel takikardi, defibrillator akan memberikan aliran listrik yang ke jantung.

 

Cara Menggunakan Defibrillator Otomatis

 

Defibrillator otomatis bisa digunakan oleh orang yang tidak memiliki keterampilan medis sekalipun karena umumnya dibutuhkan saat keadaan darurat. Banyak produk defibrillator yang menyertakan panduan penggunaan dengan visualisasi untuk membantu penggunaannya. 

 

AED akan mendeteksi irama jantung seseorang dan hanya akan mengalirkan arus listrik apabila dibutuhkan. Berikut adalah cara menggunakan defibrillator pada pasien yang mengalami henti jantung yang perlu diketahui:

 

  1. Pastikan lokasi di sekitar penolong dan pasien yang mengalami henti jantung aman dan terhindar dari bahaya.

  2. Periksa kesadaran dan respons pasien dengan menepuk bahu pasien atau memanggil nama pasien.

  3. Periksa denyut nadi pasien di bagian pergelangan tangan atau lehernya serta periksa pernapasan pasien.

  4. Jika pasien tidak memberikan respon, segera hubungi ambulans untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dan minta seseorang untuk membawakan AED.

  5. Jika alat AED tidak langsung tersedia, segera lakukan kompresi dada untuk pertolongan awal.

  6. Jika AED sudah datang, nyalakan defibrillator dengan menekan tombol hijau dan mengikuti petunjuk penggunaannya.

  7. Sambil menunggu defibrillator siap digunakan, tetap lakukan CPR.

  8. Melepaskan pakaian atas penderita aritmia atau henti jantung. Apabila penderita memakai bra, turunkan atau potong tali pengikatnya.

  9. Melepaskan sticky pad dan menempelkannya pada kulit setiap sisi dada penderita seperti yang ditunjukkan oleh gambar di defibrillator. Salah satu elektroda diletakkan di bawah tulang selangka kanan dan yang lainnya diletakkan di sisi kiri dada di bawah ketiak. 

  10. Hentikan CPR dan jangan menyentuh penderita ketika defibrillator memeriksa jantungnya.

  11. Defibrillator dapat menentukan apakah pengaliran arus listrik (shock) diperlukan. Apabila iya, maka penolong bisa menekan tombol shock. Keputusan ini juga bisa diambil secara otomatis sehingga penolong tidak perlu melakukan apa pun.

  12. Hindari menyentuh penderita ketika prosedur shock sedang berlangsung.

  13. Defibrillator akan memberikan pemberitahuan ketika arus listrik telah dialirkan dan apakah penderita masih membutuhkan CPR.

  14. Jika penderita masih membutuhkan CPR, penolong bisa melakukan kompresi dada hingga korban menunjukkan irama jantung yang normal kembali.

  15. Defibrillator akan memberikan sinyal untuk berhenti apabila sudah mendeteksi irama jantung yang normal.

  16. Lakukan secara berkala sesuai arahan AED hingga bantuan medis tiba dan segera bawa pasien ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

 

Penggunaan defibrillator pada kondisi aritmia parah dapat memperbesar peluang keselamatan pasien. Meskipun alat ini dapat diandalkan, akan lebih baik jika menerapkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko henti jantung mendadak. Apabila Anda menderita aritmia, konsultasikan kondisi Anda ke Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Siloam Hospitals Kebon Jeruk ataupun di Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan rekomendasi penanganan yang tepat.

 

Dokter akan memastikan prosedur diagnosis dan penanganan sesuai dengan kondisi medis setiap pasien. Penyesuaian prosedur juga akan diberlakukan sesuai dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga tahapan-tahapannya mungkin berbeda di setiap rumah sakit.

 

Apabila direkomendasikan oleh dokter, Anda bisa melakukan Skrining Jantung secara rutin untuk mengetahui kondisi jantung dan mengantisipasi kemungkinan aritmia. Pemesanan paket skrining bisa dilakukan dengan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam. Mari unduh MySiloam dan manfaat berbagai fiturnya untuk membantu memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

National Heart, Lung, and Blood Institute. What Are Defibrillators?. Diakses pada 2024 | Cleveland Clinic. Defibrillator. Diakses pada 2024 | Healthdirect. Defibrillators. Diakses pada 2024 | British Heart Foundation. Understanding Defibrillators: What They Are and How to Use Tthem. Diakses pada 2024 | National Center for Biotechnology Information (NCBI). Article on Automated External Defibrillator (AED). Diakses pada 2024 | Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mengenal Automated External Defibrillator (AED). Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kadek-satrya-kurnia-suratna-spjp

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ronald-a-ulaan

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP

Kardiologi (Jantung)

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah


Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-magma-purnawan-putra-spjp

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC

Kardiologi (Jantung)

Subspesialis Kardiologi Intervensi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail