Mengenal Eco-Anxiety, Cemas Berlebih terhadap Perubahan Iklim
Kesehatan Mental

Mengenal Eco-Anxiety, Cemas Berlebih terhadap Perubahan Iklim

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
eco anxiety adalah

Climate anxiety atau eco-anxiety adalah istilah umum yang mendeskripsikan kondisi ketika seseorang mengalami gejala psikis yang dipicu oleh perubahan suhu serta pola cuaca dalam jangka panjang. Kondisi ini juga sering kali dikaitkan dengan post-traumatic stress disorder (PTSD). Untuk memahami apa itu eco-anxiety selengkapnya, mari simak artikel berikut ini sampai tuntas.

 

Apa itu Eco-Anxiety?

 

Climate anxiety atau eco-anxiety adalah rasa cemas berlebih yang muncul akibat perubahan iklim atau cuaca. Kondisi ini juga dikenal sebagai eco-guilt, eco-grief, atau a chronic fear of environmental doom. Pada dasarnya, eco-anxiety tidak secara resmi ditetapkan sebagai diagnosis medis dari suatu gangguan kesehatan mental.

 

Kendati demikian, eco-anxiety ditandai dengan ketakutan kronis terhadap dampak lingkungan yang sering kali mengganggu hingga menimbulkan stres secara berlebihan. Terkadang, kondisi ini juga bisa diperburuk dengan gangguan kecemasan yang sudah diderita oleh seseorang.

 

Ketika terjadi perubahan iklim yang ekstrem atau bahkan bencana alam, hal tersebut bisa menimbulkan tantangan fisik, mental, dan emosional secara keseluruhan, termasuk peningkatan risiko post-traumatic stress disorder (PTSD). Namun, perlu diingat bahwa PTSD dan eco-anxiety adalah dua kondisi yang berbeda.

 

Penyebab Eco-Anxiety

 

Eco-anxiety dapat terjadi ketika seseorang berhadapan dengan perubahan suhu lingkungan, iklim, cuaca, hingga bencana alam secara keseluruhan. Hal tersebut bisa memicu munculnya perasaan putus asa terhadap keberlangsungan hidup selanjutnya, di mana kondisi ini dapat menyebabkan seseorang mengalami eco-anxiety.

 

Peningkatan curah hujan dan suhu panas ekstrem juga bisa memengaruhi kondisi psikis seseorang dengan cara:

 

  • Suhu tinggi bisa meningkatkan stres dan membuat seseorang mudah tersinggung (iritabilitas). Selain itu, suhu panas ekstrem juga dapat menimbulkan bahaya bagi individu yang sedang mengonsumsi obat-obatan untuk gangguan mental yang dapat memengaruhi pengaturan suhu tubuh.

  • Curah hujan yang tinggi bisa memengaruhi suasana hati (mood) hingga memicu terjadinya seasonal depression. Pasalnya, pada kondisi cuaca tersebut, intensitas cahaya matahari akan berkurang. Padahal, sinar matahari dapat membantu meningkatkan produksi hormon serotonin yang berkaitan dengan suasana hati seseorang.

 

Menyesali perilaku sendiri yang bisa berdampak pada kondisi lingkungan juga berkaitan dengan kemunculan eco-anxiety. Beberapa gaya hidup sehari-hari, seperti menggunakan plastik dan styrofoam dalam jumlah banyak, menyalakan air conditioner (AC) secara berlebihan, dan lain sebagainya diketahui turut berkontribusi terhadap perubahan iklim.

 

Sebagian individu mungkin akan merasa bersalah dan malu setelah menyadari bahwa gaya hidupnya tersebut berdampak pada kesehatan lingkungan. Hal tersebut juga bisa muncul bersamaan dengan perasaan tidak berdaya karena didorong oleh waktu yang terus berjalan serta terbatas untuk menciptakan perubahan guna “membayar” kesalahannya. Kondisi inilah yang dapat membuat seseorang mengalami eco-anxiety.

 

Di samping itu, sejumlah faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami eco-anxiety adalah sebagai berikut:

 

  • Anak muda. Individu berusia muda diperkirakan dapat merasa lebih menderita ketika mengalami perubahan iklim. Mereka juga merasa takut apakah perubahan iklim tersebut bisa berdampak pada masa depannya. 

  • Masyarakat adat, yaitu sekelompok orang yang hidup dengan berpegang pada hukum atau norma sosial adat leluhur mereka. Masyarakat adat lebih rentan mengalami eco-anxiety karena budaya dan kehidupan mereka cenderung bergantung terhadap kondisi lingkungan sekitar.

  • Orang yang tinggal di daerah yang berisiko tinggi terkena dampak perubahan iklim, seperti di dekat pantai atau dataran rendah.

  • Memiliki kerabat atau orang terdekat yang berisiko berhadapan dengan cuaca ekstrem terkait iklim, termasuk badai, kekeringan, dan kebakaran hutan.

  • Melihat pemberitaan/media terkait masa depan bumi yang semakin terpengaruh buruk akibat perubahan iklim.

  • Individu dengan pekerjaan yang berkaitan dengan kondisi lingkungan, seperti petani, nelayan, pemburu, dan peneliti iklim.

  • Orang yang bekerja di garis depan (frontliner) ketika terjadi bencana alam, seperti tim SAR dan lain sebagainya.

  • Orang dengan status sosial ekonomi yang rendah.

  • Orang yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental lain.

 

Gejala Eco-Anxiety

 

Gejala eco-anxiety dapat muncul ketika seseorang mengalami atau bahkan hanya dengan memikirkan kemungkinan terjadinya perubahan iklim di masa mendatang. Secara umum, beberapa gejala yang kerap dialami oleh penderita eco-anxiety adalah:

 

  • Marah dan frustrasi, terutama kepada orang-orang yang tidak mengakui atau tidak peduli terhadap dampak perubahan iklim pada kehidupan masyarakat luas.

  • Memiliki pemikiran yang cenderung fatalistik (pandangan seseorang yang merasa bahwa kehidupan mereka sudah ditentukan oleh kekuatan yang lebih besar, seperti takdir).

  • Perasaan bersalah atau takut ketika melakukan tindakan yang bisa berdampak pada iklim.

  • Perasaan tidak berdaya, khawatir kehilangan mata pencaharian, maupun tempat tinggal.

  • Khawatir akan nasib generasi mendatang.

  • Cemas, panik, atau depresi.

  • Memiliki pemikiran yang obsesif mengenai iklim.

 

Selain itu, serupa dengan gangguan kecemasan, eco-anxiety juga dapat menimbulkan gejala fisik tertentu, seperti:

 

  • Perubahan nafsu makan.

  • Gangguan tidur.

  • Kesulitan berkonsentrasi.

  • Jantung berdebar.

  • Sesak napas.

  • Otot tubuh menegang.

 

Cara Mengatasi Eco-Anxiety

 

Guna mengatasi eco-anxiety, penting untuk tetap mencari informasi mengenai kondisi cuaca dan iklim secara realistis tanpa mengenyampingkan batasan dari diri sendiri. Di samping itu, beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menangani eco-anxiety adalah sebagai berikut:

 

  • Mulai melakukan suatu hal yang bisa membantu menjaga kelestarian lingkungan, seperti menggunakan transportasi umum, mematikan lampu ruangan di siang hari, menanam tanaman, membuang sampah di tempatnya, lebih mendekatkan diri pada alam, dan lain sebagainya.

  • Bergabung dalam komunitas yang berkaitan dengan kelestarian alam, seperti komunitas memungut sampah, komunitas pengelolaan sampah, dan lain-lain. Saat berada dalam komunitas tersebut, Anda dapat membicarakan dengan bebas tentang rasa cemas dan ketakutan terkait kemungkinan buruk yang akan terjadi di bumi pada masa yang akan datang. Dengan cara ini, rasa takut dapat tersalurkan dan penderitanya dapat merasa lebih lega.

  • Daripada menyangkal kenyataan perubahan iklim dan mengenyampingkan rasa takut yang dialami, cobalah untuk mengakui perasaan tersebut sepenuhnya.

  • Membuat tubuh menjadi lebih rileks dengan bermeditasi, menerapkan teknik mindfulness, yoga, dan lain-lain.

  • Membangun ketahanan emosional (emotional resilience) dengan memahami perasaan diri sendiri serta mencari cara yang positif untuk menenangkan diri.

 

Meski tidak secara resmi digolongkan sebagai gangguan kesehatan mental, penting untuk tetap menangani eco-anxiety dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Dalam hal ini, Anda bisa melakukan konseling dengan Psikiatri dari Siloam Hospitals jika mengalami kondisi yang menyerupai eco-anxiety.

 

Selain itu, Siloam Hospitals juga menyediakan fitur Telekonsultasi yang memungkinkan pasien untuk berkonsultasi dengan dokter dari mana saja dan kapan saja. Layanan ini juga dapat memudahkan pasien untuk memperoleh resep obat-obatan dari dokter tanpa perlu keluar rumah. Namun, apabila diresepkan obat antipsikotik atau antidepresan, pasien perlu mengambilnya secara langsung (self pick up).

 

telechat

 

message

ArticleDetail