Apa itu Eksibisionis? Ini Penyebab dan Cara Menanganinya
Kesehatan Mental

Apa itu Eksibisionis? Ini Penyebab dan Cara Menanganinya

22 Oktober 2025 4 menit waktu baca
eksibisionis adalah

Gangguan eksibisionis adalah kelainan perilaku yang ditandai dengan suka memperlihatkan alat kelamin kepada orang lain tanpa persetujuan atau keinginan dari orang tersebut. Gangguan perilaku penyimpangan seksual ini biasanya berkembang saat penderitanya memasuki masa dewasa muda.

 

Mari kenali penyebab, diagnosis, serta cara menangani eksibisionis selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Eksibisionis?

 

Eksibisionis atau eksibisionisme adalah salah satu jenis penyimpangan seksual (parafilia) yang membuat seseorang memiliki fantasi dan hasrat seksual terhadap benda, aktivitas seksual, atau perilaku tertentu yang tidak lumrah. Lebih tepatnya, orang dengan gangguan eksibisionis akan mendapatkan kepuasan seksual saat menunjukkan bagian kelaminnya ke orang lain. Bahkan, seorang eksibisionis juga bisa merasa semakin bergairah saat orang lain menunjukkan reaksi takut atau jijik atas perbuatannya.

 

Berdasarkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Edisi ke- 5 (DSM-5), gangguan eksibisionis adalah perilaku penyimpangan seksual yang kerap dialami oleh pria. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan perilaku penyimpangan seksual tersebut juga dialami oleh wanita.

 

Pada dasarnya, gangguan eksibisionis adalah perilaku penyimpangan seksual yang dapat menunjukkan perilaku beragam, seperti:

 

  • Anasyrma: Membuka pakaian atau mengangkat rok dengan keadaan tidak mengenakan pakaian dalam.

  • Candaulism: Memperlihatkan tubuh pasangan kepada orang lain.

  • Martymachlia: Dengan sengaja menunjukkan aktivitas seksual, seperti masturbasi atau berhubungan intim di depan orang lain.

  • Telephone scatologia: Melakukan phone sex (berfantasi seksual dengan cara berbicara dengan orang lain melalui telepon) untuk mendapatkan kepuasaan seksual tanpa mendapatkan persetujuan dari orang lain tersebut.

 

Jenis-Jenis Eksibisionis Berdasarkan Target Korban

 

Berdasarkan target korbannya, gangguan eksibisionis dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Terangsang secara seksual saat menunjukan alat kelamin kepada anak-anak yang belum mengalami pubertas.

  • Terangsang saat menunjukkan alat kelamin kepada orang dewasa.

  • Terangsang saat menunjukkan alat kelamin kepada anak-anak yang belum mengalami pubertas dan orang dewasa.

 

Penyebab Eksibisionis

 

Penyebab eksibisionis adalah masalah psikologis serta pengaruh lingkungan sosial yang buruk. Secara umum, berdasarkan penyebabnya, gangguan eksibisionis dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu eksibisionis murni dan eksibisionis eksklusif. Berikut masing-masing penjelasannya.

 

  • Eksibisionis murni: Penyimpangan seksual yang terjadi pada masa remaja akhir atau dewasa muda. Kondisi ini dapat disebabkan oleh minat seks yang tidak tersalurkan dengan baik. Namun, perilaku tersebut biasanya dapat berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

  • Eksibisionis eksklusif: Eksibisionisme yang terjadi karena tidak terpenuhinya keinginan untuk memiliki hubungan romantis dan melakukan hubungan seksual secara normal.

 

Selain itu, sejumlah faktor yang dapat memicu seseorang mengalami kelainan eksibisionis adalah sebagai berikut:

 

  • Gangguan kepribadian antisosial.

  • Pedofilia.

  • Kecanduan melakukan aktivitas seksual (hiperseksualitas).

  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau kecanduan minuman beralkohol.

  • Trauma masa kecil.

  • Gangguan kepribadian narsistik. Kondisi ini dapat membuat seseorang sangat ingin diperhatikan dan dikagumi oleh orang lain sehingga turut memicu gangguan eksibisionis.

 

Diagnosis Eksibisionis

 

Umumnya, dokter dapat mendiagnosis eksibisionisme melalui wawancara medis (anamnesis) dengan pasien untuk mencari tahu tentang riwayat gangguan perilaku serta kesehatan pasien secara keseluruhan dan riwayat peristiwa traumatis yang pernah dialami. Selain itu, dokter juga dapat mengamati perilaku pasien untuk membantu mengonfirmasi diagnosis eksibisionis. Pada dasarnya, diagnosis seseorang dengan gangguan eksibisionis setidaknya memenuhi beberapa kriteria berikut ini:

 

  • Munculnya hasrat atau gairah seksual yang kuat berupa fantasi, niat, atau tindakan untuk menunjukkan alat kelamin kepada orang lain setidaknya selama 6 bulan terakhir.

  • Munculnya dorongan seksual untuk menunjukkan organ intim atau melakukan aktivitas seksual dengan orang lain tanpa persetujuan orang tersebut.

  • Perilaku eksibisionisme telah mengganggu dan menghambat penderita dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

 

Penanganan Eksibisionis

 

Adapun sejumlah tindakan medis yang dapat dilakukan untuk membantu mengendalikan dan menangani kelainan eksibisionis adalah sebagai berikut:

 

1. Psikoterapi

 

Untuk mengetahui penyebab yang mendasari perilaku eksibisionis, seorang psikolog atau psikiater dapat memberikan terapi psikologis (psikoterapi) jenis cognitive behavioral therapy (CBT). Melalui terapi ini, seorang psikolog/psikiater dapat memecahkan masalah ke dalam 5 aspek utama, yaitu situasi, pikiran, perasaan, sensasi fisik, serta tindakan. Terapi ini juga dapat membantu pasien untuk mengendalikan hasrat dan gairah seksualnya yang menyimpang dengan cara yang lebih baik dan sehat.

 

Selain CBT, pendekatan psikoterapi lain yang dapat dilakukan untuk membantu menangani kelainan eksibisionis adalah pelatihan empati, pelatihan relaksasi, strategi coping mechanism, dan restrukturisasi fungsi kognitif untuk mengubah pola pikir yang mengarah pada perilaku eksibisionisme.

 

2. Support Group atau Konseling Kelompok

 

Konseling kelompok (support group) adalah pendekatan dengan melibatkan sekelompok orang yang memiliki masalah serupa agar dapat saling mendukung untuk terlepas dari perilaku menyimpang tersebut. Pasalnya, konseling kelompok dapat membantu penderita eksibisionisme untuk memiliki sudut pandang yang baru sehingga bisa memudahkannya dalam mengontrol perilaku seksual yang menyimpang tersebut.

 

3. Konsumsi Obat-obatan

 

Di samping psikoterapi dan konseling kelompok, seorang psikiater mungkin akan memberikan obat antidepresan dan antipsikotik untuk membantu mengendalikan perilaku menyimpang eksibisionis.

 

Dilansir dari Cochrane Library, obat antidepresan jenis Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) dan antipsikotik dapat membantu menurunkan libido penderita sehingga turut mengurangi hasrat seksual untuk melakukan perilaku eksibisionisme.

 

Eksibisionis adalah salah satu gangguan perilaku penyimpangan seksual yang perlu dikendalikan melalui penanganan medis dari seorang psikolog atau psikiater. Bila memiliki keluhan terkait dengan gangguan perilaku penyimpangan seksual, jangan ragu untuk mengunjungi Siloam Hospitals terdekat guna mendapatkan tindakan medis yang tepat dari dokter spesialis kejiwaan kami.

 

Perlu diingat bahwa masalah mental, termasuk gangguan perilaku, bukanlah suatu aib yang perlu disembunyikan atau bahkan diabaikan. Oleh karenanya, gunakan fitur Telekonsultasi yang tersedia pada aplikasi MySiloam untuk memudahkan pasien dalam berkonsultasi dengan dokter dari mana pun dan kapan pun.


Fitur tersebut memungkinkan dokter untuk memberikan resep obat-obatan sesuai dengan kondisi pasien yang dapat diterima tanpa perlu keluar rumah. Kendati demikian, terdapat beberapa jenis obat, seperti antipsikotik, yang perlu diambil secara langsung oleh pasien (self pick up). Mari unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan fisik dan mental #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail