Kernikterus pada Bayi, Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Ibu dan Anak

Kernikterus pada Bayi, Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

16 Oktober 2025 4 menit waktu baca
Kernikterus adalah

Kernikterus adalah salah satu kondisi pada bayi yang perlu diwaspadai. Kondisi ini merupakan kerusakan otak yang biasanya terjadi akibat penanganan yang terlambat pada penyakit kuning. Kernikterus termasuk kondisi langka, namun sekalinya terjadi dapat membahayakan bayi, bahkan berisiko menyebabkan kelumpuhan otak (cerebral palsy). Mari pahami lebih lanjut tentang kernikterus melalui pembahasan di bawah ini.

 

Apa itu Kernikterus?

 

Kernikterus adalah kondisi kerusakan otak akibat tingginya kadar bilirubin di dalam darah. Kondisi ini sering kali dialami oleh bayi, namun bisa juga terjadi pada orang dewasa. Kernikterus pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh kelainan genetik yang memengaruhi proses pengolahan bilirubin.

 

Kernikterus adalah penyakit berbahaya yang dapat memicu komplikasi serius, mulai dari cedera otak hingga cerebral palsy (lumpuh otak). Tidak hanya itu, kernikterus juga dapat menyebabkan timbulnya masalah pada gigi, gangguan fungsi pendengaran dan penglihatan, hingga keterbelakangan mental. 

 

Penyebab Kernikterus

 

Pada dasarnya, bayi baru lahir memang memiliki kadar bilirubin yang tinggi dan dapat menyebabkan penyakit kuning (ikterus). Bahkan, kondisi ini terjadi pada sebagian besar bayi karena kerja organ hati masih tergolong lambat dalam memproses bilirubin, sehingga memicu penumpukan bilirubin di dalam darah.

 

Sebagai informasi, terdapat dua jenis bilirubin di dalam tubuh, yaitu:

 

  • Bilirubin konjugasi: Bilirubin yang larut di dalam air dan dapat keluar dari tubuh melalui usus.

  • Bilirubin tak terkonjugasi: Bilirubin yang bergerak dari aliran darah ke hati, namun tidak larut di dalam air sehingga dapat menumpuk pada jaringan tubuh.

 

Perlu digarisbawahi bahwa tidak semua ikterus (penyakit kuning) berujung menjadi kernikterus. Kondisi ini dapat terjadi ketika bilirubin tak terkonjugasi tidak diubah di dalam hati, sehingga terjadi penumpukan bilirubin di dalam tubuh bayi.

 

Adapun beberapa kondisi medis yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kernikterus adalah sebagai berikut:

 

  • Sindrom Crigler-Najjar, suatu penyakit kelainan genetik yang membuat bayi kekurangan enzim untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi bilirubin terkonjugasi agar bisa dibuang keluar tubuh melalui urine dan tinja.

  • Kekurangan oksigen (hipoksia).

  • Cephalohematoma (perdarahan di bawah kulit kepala) pada bayi baru lahir.

  • Bayi kembar atau bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

  • Penyakit inkompatibilitas rhesus (Rh), kondisi ketika jenis rhesus darah ibu dan bayi tidak kompatibel.

  • Kelainan sel darah merah, salah satunya adalah talasemia.

  • Hepatitis dan cystic fibrosis, atau kondisi medis lainnya yang dapat memengaruhi hati dan saluran empedu.

  • Infeksi yang terjadi sejak janin masih berada di dalam kandungan atau ketika ia lahir, seperti rubella.

 

Faktor Risiko Kernikterus

 

Risiko terjadinya kernikterus dapat meningkat dengan adanya sejumlah faktor, salah satunya adalah kelahiran prematur. Selain itu, beberapa faktor lain yang diketahui dapat meningkatkan risiko seorang bayi mengalami kernikterus adalah sebagai berikut:

 

  • Lahir dari ibu yang memiliki golongan darah O atau rhesus negatif.

  • Kekurangan asupan makanan.

  • Memiliki keluarga dengan riwayat penyakit kuning.

 

Gejala Kernikterus

 

Gejala utama kernikterus adalah perubahan warna kulit dan sklera (bagian putih mata) menjadi kuning (penyakit kuning). Kondisi ini biasanya akan muncul pada tiga hari setelah bayi dilahirkan dan menghilang dalam waktu 2–3 minggu.

 

Namun, bila penyakit kuning tak kunjung hilang dan tidak segera mendapatkan penanganan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kernikterus. Adapun beberapa gejala kernikterus adalah sebagai berikut:

 

  • Mudah mengantuk dan lemas.

  • Kelainan gerakan mata.

  • Gangguan pendengaran.

  • Muntah.

  • Tidak mau menyusu dan nafsu makan menurun.

  • Gerak tubuh tidak normal.

  • Otot menegang atau melemah.

  • Kaku di seluruh tubuh.

  • Menangis keras dengan suara melengking.

  • Tubuh melengkung.

  • Demam.

  • Kejang.

 

Diagnosis Kernikterus

 

Diagnosis kernikterus pada bayi dimulai dengan pemeriksaan kulit dan sklera bayi, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan kadar bilirubin darah. Kadar bilirubin bayi yang mengalami kernikterus adalah lebih dari 25–30 mg/dL.

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari tahu penyebab kernikterus. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan tes darah yang tujuannya mendeteksi ada atau tidaknya kelainan darah atau infeksi, serta memeriksa fungsi hati.

 

Pengobatan Kernikterus

 

Tujuan pengobatan kernikterus adalah menurunkan kadar bilirubin tak terkonjugasi di dalam darah bayi. Pengobatan ini perlu segera dilakukan sebelum tingginya kadar bilirubin menyebabkan kerusakan pada otak. Adapun pilihan pengobatan untuk kernikterus adalah sebagai berikut:

 

  • Fototerapi: Terapi cahaya yang difokuskan pada kulit telanjang bayi untuk mempercepat pengeluaran bilirubin dari kulit.

  • Transfusi tukar: Metode pengobatan ini dilakukan dengan mengambil sejumlah kecil darah berulang kali untuk digantikan dengan darah dari donor hingga sebagian besar darah sudah ditukar.

  • Cairan dan makanan: Pemberian makanan atau ASI pada bayi dapat membantu mengurangi tingginya kadar bilirubin. Semakin banyak asupan pada bayi, maka semakin banyak juga feses yang dihasilkan. Alhasil, jumlah bilirubin yang keluar melalui feses juga semakin banyak.

  • Plasmapheresis: Mengeluarkan zat yang tidak diinginkan dari darah, seperti toksin, zat metabolik, dan bagian plasma lainnya kemudian diganti dengan plasma dari donor.

  • Intravenous Immunoglobulins (IVIG): Metode yang dilakukan ketika kernikterus berkaitan dengan kondisi imunologi atau inkompatibilitas Rh, ABO.

 

Pencegahan Kernikterus

 

Setelah dilahirkan, dokter akan melakukan pengamatan pada bayi setiap 8–12 jam sekali, selama dua hari berturut-turut. Kemudian, akan dilakukan pengamatan ulang sebelum bayi memasuki usia 5 hari.

 

Apabila selama pengamatan bayi dicurigai mengalami  penyakit kuning, dokter akan melakukan pemeriksaan bilirubin. Normalnya, kadar bilirubin pada bayi di bawah 5 mg/dL. Jika lebih dari itu, evaluasi lanjutan sangat diperlukan dengan segera untuk menghindari komplikasi serius pada bayi.

 

Selain itu, orang tua juga disarankan untuk membawa si kecil kembali kontrol ke dokter setelah 2–3 hari keluar dari rumah sakit. Namun, jika mencurigai adanya kondisi yang tidak normal pada bayi, segera bawa ke dokter saat itu juga.

 

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika mengalami beberapa keluhan yang mengarah ke kondisi tersebut. Kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan secara tepat.

 

Anda dapat memanfaatkan fitur Cari Dokter atau aplikasi MySiloam  untuk memudahkan akses pelayanan kesehatan di Siloam Hospitals. Fitur tersebut telah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter dan pembuatan janji temu dengan dokter terkait. Mari unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-liem-eremius-arifin-spa

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Liem Eremius Arifin, SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Sriwijaya Palembang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ifo-faujiah-sihite-mked-ped-spa

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Jambi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-anggun-kusumasari-spa-msc

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K

Pediatrik (Anak)

Spesialis Ilmu Kesehatan Anak


Siloam Hospitals Balikpapan

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail