Koinoniphobia - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Mental

Koinoniphobia - Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Agustus 2024 5 menit waktu baca
koinoniphobia adalah

Koinoniphobia adalah rasa cemas atau takut berlebihan terhadap ruangan atau orang di dalam ruangan. Orang dengan kondisi ini biasanya berusaha untuk menghindari berada di dalam ruangan, terutama ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang. Lantas, apa penyebab koinoniphobia dan bagaimana cara mengatasinya? Mari temukan jawaban selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Koinoniphobia?

 

Seperti yang telah dijelaskan, koinoniphobia adalah salah satu jenis fobia spesifik yang ditandai dengan rasa tidak nyaman, takut, dan cemas yang intens terhadap ruangan atau orang di dalam ruangan. Ketidaknyamanan tersebut pada dasarnya tidak sebanding dengan bahaya yang sebenarnya ditimbulkan, sehingga sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

Penyebab Koinoniphobia

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab terjadinya koinoniphobia. Namun, terdapat beberapa faktor yang diketahui bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami fobia, termasuk koinoniphobia. Adapun sejumlah faktor risiko koinoniphobia adalah:

 

  • Faktor genetik. Risiko koinoniphobia dapat meningkat pada seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat gangguan kecemasan atau fobia tertentu.

  • Faktor lingkungan. Paparan terhadap situasi yang memicu stres, orang tua yang sangat protektif, atau tekanan sosial tinggi bisa menjadi faktor risiko munculnya koinoniphobia.

  • Trauma masa lalu. Memiliki trauma di masa lalu yang berkaitan dengan ruangan atau orang-orang di dalam ruangan.

 

Di samping itu, koinoniphobia mungkin juga berkaitan dengan social anxiety disorder (gangguan kecemasan sosial). Sebagai informasi, social anxiety disorder sendiri merupakan kondisi ketika seseorang merasa cemas berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain.

 

Gejala Koinoniphobia

 

Gejala koinoniphobia bisa berbeda-beda pada setiap penderitanya. Beberapa orang mungkin mengalami gejala yang tergolong ringan. Namun, sebagian penderita koinoniphobia lainnya bisa merasakan gejala yang lebih parah. 

 

Secara umum, gejala koinoniphobia bisa menimbulkan perubahan perilaku, gejala emosional, atau respons fisik tertentu ketika dihadapkan dengan pemicunya (memasuki ruangan, berada di ruangan tertutup, berada sendirian di ruangan, atau dalam ruangan yang dipenuhi oleh banyak orang).

 

Berbeda dengan claustrophobia (fobia ruangan sempit) dan agoraphobia (fobia ruangan terbuka), koinoniphobia adalah fobia terhadap segala jenis ruangan, sehingga membuat penderitanya sangat sulit menjalankan aktivitas. Adapun beberapa gejala umum koinoniphobia adalah:

 

Gejala perilaku

 

  • Cenderung menolak untuk meninggalkan rumah.

  • Enggan memasuki gedung atau ruangan tertentu ketika ada banyak orang di dalamnya.

  • Bekerja pada profesi tertentu yang tidak mengharuskannya berada di dalam ruangan atau justru tidak bekerja sama sekali.

  • Menghindari pergi ke sekolah.

  • Menghindari pertemuan sosial.

 

Gejala emosional

 

  • Mudah marah.

  • Cemas dan khawatir secara berlebihan.

  • Brain fog.

  • Merasa tidak bisa mengendalikan diri.

  • Berpikir irasional, seperti memiliki pikiran bahwa orang-orang di dalam ruangan mungkin ingin menyakiti dirinya.

  • Stres.

 

Gejala fisik

 

  • Sering menangis.

  • Pusing.

  • Ketegangan otot.

  • Mual.

  • Sakit perut.

  • Jantung berdebar.

  • Sesak napas.

 

Diagnosis Koinoniphobia

 

Dalam menegakkan diagnosis koinoniphobia, dokter akan terlebih dahulu melakukan wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan dan riwayat trauma yang pernah dialami oleh pasien yang berhubungan dengan ruangan atau orang di dalam ruangan. Di samping itu, beberapa pertanyaan yang dapat diajukan oleh dokter untuk mengevaluasi kondisi mental pasien dan membantu menegakkan diagnosis koinoniphobia adalah:

 

  • Bagaimana perasaan Anda saat berada di dalam ruangan?

  • Seberapa sering Anda merasa cemas dan berpikir tentang berada di sebuah ruangan?

  • Apakah Anda memiliki riwayat dengan gangguan kecemasan sosial atau fobia tertentu?

  • Apakah rasa takut terhadap ruangan telah mengganggu aktivitas sehari-hari?

  • Apakah Anda cenderung menghindari aktivitas atau tempat yang biasanya Anda nikmati karena rasa takut terhadap ruangan tersebut?

 

Kemudian, dalam menegakkan diagnosis koinoniphobia, dokter akan menyesuaikan kondisi pasien dengan kriteria fobia spesifik menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5), yaitu:

 

  • Adanya ketakutan dan kecemasan yang nyata terhadap objek maupun situasi tertentu (dalam kasus koinoniphobia, penderita akan merasa takut terhadap ruangan).

  • Objek atau situasi tertentu hampir selalu langsung memicu rasa takut dan cemas.

  • Cenderung menghindari objek atau situasi tertentu. Orang dengan fobia ini akan  merasakan takut dan cemas yang hebat ketika berhadapan dengan objek atau situasi tertentu.

  • Ketakutan atau kecemasan yang dirasakan tidak sebanding dengan bahaya yang sebenarnya ditimbulkan oleh objek atau situasi tertentu.

  • Ketakutan tersebut terjadi setidaknya selama 6 bulan.

  • Ketakutan tersebut telah mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.

  • Gejala yang dialami pasien tidak disebabkan oleh gangguan jiwa lainnya.

 

Pengobatan Koinoniphobia

 

Pada dasarnya, koinoniphobia dapat ditangani dengan mengombinasikan psikoterapi, penggunaan obat-obatan, dan teknik manajemen stres. Lebih jelasnya, beberapa prosedur yang dapat dilakukan oleh dokter untuk menangani koinoniphobia adalah sebagai berikut:

 

  • Psikoterapi, yaitu terapi dengan pendekatan psikologis untuk membantu pasien dalam menghadapi maupun mengatasi masalah kehidupannya, termasuk fobia. Dalam hal ini, terdapat beberapa jenis psikoterapi yang umum digunakan untuk menangani fobia, yaitu:

    • Exposure therapy: Terapi ini dilakukan dengan memaparkan pasien secara bertahap terhadap pemicu fobianya, misalnya awalnya membayangkan terlebih dahulu, kemudian ditunjukkan gambarnya, simulasi, dan sebagainya. Jika pasien sudah siap, dokter akan mengarahkan pasien untuk menghadapi sumber rasa takutnya secara langsung.

    • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural therapy/CBT): Terapi yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku pasien dalam merespons rasa takutnya.Terapi ini akan membantu pasien untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif. 

  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antidepresan dan anticemas untuk membantu meredakan gejala koinoniphobia.

  • Teknik manajemen stres. Dalam hal ini, pasien akan diajarkan cara mengelola stres dengan baik, seperti menerapkan teknik pernapasan dalam dan melakukan meditasi untuk membuat tubuh lebih rileks.

  • Support group atau kelompok suportif yang beranggotakan sesama penderita koinoniphobia agar bisa saling bertukar perasaan dan pikiran untuk mendapatkan dukungan dan solusi.

 

Perlu diketahui bahwa penyebab dan gejala yang disebutkan di atas tidak dapat digunakan untuk self-diagnose dan memastikan seseorang menderita koinoniphobia. Pasalnya, penyebab dan gejala tersebut tidak mewakili koinoniphobia secara spesifik, sehingga mungkin saja juga terjadi pada kondisi medis lainnya.

 

Untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan akurat terkait dengan kondisi ini, Anda dapat melakukan konseling dengan Psikiatri di Siloam Hospitals Terdekat. Dengan begitu, dokter juga dapat merencanakan tindakan medis yang tepat.

 

Sebagai informasi, setiap tahapan tindakan medis yang Anda jalani terkait dengan gangguan mental akan disesuaikan dengan fasilitas kesehatan yang tersedia, sehingga mungkin saja berbeda di setiap rumah sakit. Namun, tenaga medis profesional akan menentukan seluruh prosedur medis yang dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.


Agar lebih praktis, gunakan juga layanan Telekonsultasi yang memungkinkan Anda untuk melakukan konsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Lewat layanan ini, dokter dapat memberikan resep obat-obatan tertentu secara online, pasien pun bisa mengambilnya tanpa harus keluar rumah. Namun, apabila diresepkan obat tertentu, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

 

telechat

message

ArticleDetail