Maladaptive Daydreaming: Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasi
Kesehatan Mental

Maladaptive Daydreaming: Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasi

21 Oktober 2025 5 menit waktu baca
maladaptive daydreaming adalah

Pada dasarnya, melamun adalah hal yang wajar jika dilakukan sesekali dan dalam waktu yang singkat. Namun, jika seseorang terlalu sering melamun, bahkan menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk melamun, kondisi ini perlu diwaspadai sebagai maladaptive daydreaming.

 

Berbeda dengan melamun biasa, maladaptive daydreaming cenderung lebih sulit untuk dihentikan karena memiliki alur cerita yang kompleks dan detail. Bahkan saat sedang tidak melamun, seseorang akan tetap memiliki hasrat yang kuat untuk kembali melamun.. 

 

Lantas, apa yang membuat seseorang mengalami maladaptive daydreaming dan bagaimana gejalanya? Mari simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Maladaptive Daydreaming?

 

Maladaptive daydreaming adalah kondisi ketika seseorang terlalu sering melamun, bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk melamun.Pada kondisi ini, lamunannya mempunyai cerita dengan alur yang kompleks dalam imajinasinya.

 

Perilaku ini sering kali menjadi coping mechanism bagi beberapa orang yang sedang beradaptasi dengan suatu masalah. Mereka akan cenderung tenggelam dalam imajinasi atau khayalannya sendiri, sehingga bisa sejenak melupakan permasalahan yang tengah dihadapi.

 

Ada kemungkinan bahwa gangguan perilaku ini bersifat kompulsif, yang berarti sulit dikendalikan oleh penderitanya dan terjadi secara berulang. Akibatnya, mereka dapat mengabaikan tanggung jawabnya di dunia nyata serta hubungan dengan orang di sekitarnya.

 

Kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan skizofrenia, namun keduanya cukup berbeda. Pada maladaptive daydreaming, pengidapnya menciptakan imajinasi atau khayalan dalam lamunannya secara sadar. Berbeda dengan pengidap gangguan skizofrenia yang tidak dapat membedakan antara realita dan khayalan.

 

Penyebab Maladaptive Daydreaming

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab kondisi ini. Namun, sering kali terjadi pada seseorang yang mengalami kecemasan, stres, atau trauma di masa lalu. Di samping itu, terlalu sering melamun juga dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:

 

  • Merasa bahwa melamun bisa memberikan efek positif, sehingga merasa kesulitan untuk menghentikannya. Misalnya, melamun membantu dalam mengurangi stres atau mengisi waktu kosong.

  • Sering larut dalam pikirannya sendiri sampai mengabaikan tanggung jawabnya di dunia nyata.

  • Merasa ingin melarikan diri dari situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman di dunia nyata, misalnya karena perundungan (bullying).

  • Memanfaatkan lamunan guna mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi.

 

Adapun faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko maladaptive daydreaming adalah sebagai berikut:

 

  • OCD (obsessive-compulsive disorder).

  • Gangguan cemas.

  • Depresi.

  • ADHD (attention deficit hyperactivity disorder).

  • Gangguan disosiatif, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan ketidaksesuaian hubungan antara ingatan, pikiran, perilaku, dan identitasnya.

 

Gejala Maladaptive Daydreaming

 

Munculnya gejala maladaptive daydreaming dapat dipicu oleh beberapa hal, seperti tontonan, gambar/foto, suara, aroma, atau permainan (game). Adapun sejumlah gejala yang biasanya diperlihatkan oleh pengidapnya antara lain:

 

  • Menunjukkan reaksi fisik yang nyata saat melamun, seperti gerakan tubuh serta perubahan mimik wajah.

  • Cenderung merasa lebih bahagia setelah melamun.

  • Sulit berkonsentrasi dan fokus saat menjalankan aktivitas lainnya di luar melamun.

  • Memiliki keinginan kuat untuk selalu melanjutkan lamunannya.

  • Sulit tidur di malam hari.

  • Merasa malu karena tidak dapat mengontrol keinginan untuk melamun.

  • Mudah marah apabila dilarang untuk melamun atau diminta untuk melakukan hal lainnya.

  • Kesulitan untuk menghentikan kebiasaan melamun, meskipun diri sendiri sudah menyadari bahwa itu adalah suatu hal yang salah.

  • Menolak berinteraksi dengan orang lain karena dianggap dapat mengganggu aktivitas lamunannya.

 

Diagnosis Maladaptive Daydreaming

 

Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) atau tanya jawab terlebih dahulu tentang gejala yang dirasakan oleh pasien serta riwayat kesehatan secara keseluruhan. Sejumlah hal yang mungkin ditanyakan oleh dokter adalah:

 

  • Hal yang memicu rasa ingin melamun pada pasien.

  • Tanda-tanda fisik yang dapat muncul saat sedang melamun, misalnya tertawa, tersenyum, atau berbicara sendiri.

  • Hal yang dirasakan pasien saat sedang melamun.

  • Tindakan yang pasien lakukan dan apa yang dirasakan apabila aktivitas melamunnya terganggu.

  • Perilaku yang ditunjukkan pasien ketika ia tidak bisa melamun.

  • Pengaruh melamun dalam kehidupannya sehari-hari.

 

Di samping itu, dokter juga akan memeriksa tanda-tanda lainnya yang mungkin merujuk pada gangguan mental tertentu dan mengevaluasi status mental pasien. Mengingat bahwa kondisi maladaptive daydreaming ini sering kali disertai dengan gangguan mental lainnya.

 

Komplikasi Maladaptive Daydreaming

 

Meski tidak tercatat dalam buku Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-V), kondisi ini tetap memerlukan penanganan tepat untuk mengurangi gejala yang kerap dialami pengidapnya.

 

Pasalnya, jika kondisi ini tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat, ada sejumlah efek yang dapat ditimbulkan,  antara lain:

 

  • Gangguan dalam hubungan sosial.

  • Menurunnya prestasi akademik di sekolah.

  • Terganggunya produktivitas sehari-hari.

  • Penurunan performa di tempat kerja.

  • Gangguan tidur.

 

Bagi orang yang sebelumnya tidak mengidap masalah mental, adanya maladaptive daydreaming ini bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental, seperti depresi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan obsessive compulsive disorder (OCD).

 

Cara Mengatasi Maladaptive Daydreaming

 

Hingga kini, masih belum ada standar khusus untuk pengobatan kondisi ini. Namun, beberapa langkah perawatan yang bisa dilakukan guna mengurangi gejalanya adalah sebagai berikut:

 

  • Mengatasi kelelahan dan rasa mengantuk saat bekerja dengan mengonsumsi minuman yang memiliki efek stimulan, misalnya minuman berkafein.

  • Menghindari hal-hal yang dapat menjadi pemicu munculnya keinginan untuk melamun.

  • Melakukan konsultasi dengan ke psikolog atau psikiater saat dibutuhkan.

  • Menjalani psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT).

  • Pada kondisi melamun yang parah, pengidap dapat mengonsumsi obat-obatan yang sudah diresepkan oleh dokter, seperti obat-obatan untuk mengatasi gangguan kecemasan atau OCD.

 

Kemudian, pengidap juga disarankan untuk menjalani perawatan dengan menerapkan pola hidup sehat di rumah, seperti:

 

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang untuk mengoptimalkan energi tubuh.

  • Rutin melakukan olahraga agar bisa membantu tidur nyenyak, serta mengurangi rasa cemas, dan stres.

 

Cara Mencegah Maladaptive Daydreaming

 

Tidak ada cara khusus untuk mencegah terjadinya maladaptive daydreaming. Bahkan, melamun pun sebenarnya tidak bisa dicegah, namun bisa dikendalikan. Tidak ada salahnya melamun untuk meringankan stres atau membiarkan diri berimajinasi sesekali. Hanya saja, hindari melakukannya secara berlebihan.

 

Jika Anda merasakan gejala yang mengarah pada maladaptive daydreaming atau sulit menghentikan kebiasaan melamun, jangan ragu untuk berkonsultasi secara langsung dengan psikolog atau psikiater di Siloam Hospitals terdekat.

 

Anda pun dapat menggunakan layanan Telekonsultasi yang memudahkan Anda untuk berdiskusi secara virtual dengan dokter dari mana saja dan kapan saja. Dokter pun dapat meresepkan obat-obatan sesuai dengan kondisi pasien.

 

Selain itu, Anda juga bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk mendapatkan berbagai fitur kesehatan yang mudah dan cepat. Segera unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail