Marasmus - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Pola Hidup Sehat

Marasmus - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

22 Agustus 2024 6 menit waktu baca
Marasmus adalah

Marasmus adalah salah satu bentuk malnutrisi energi protein. Kondisi ini ditandai dengan tubuh yang kurus akibat hilangnya lemak dan otot tubuh. Marasmus perlu segera ditangani karena dapat menghambat pertumbuhan anak. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyebab, gejala, dan cara mengatasi marasmus, mari simak ulasan berikut ini sampai tuntas.

 

Apa itu Marasmus?

 

Marasmus adalah jenis malnutrisi parah yang terjadi akibat seseorang tidak mengonsumsi protein dan kalori (protein-energi). Hal ini menyebabkan hilangnya jaringan adiposa dan otot. Protein dan kalori merupakan nutrisi penting bagi tubuh, yang mana jika kekurangan kedua nutrisi tersebut, tingkat energi menjadi sangat rendah dan fungsi-fungsi vital mulai berhenti.

 

 

Pada kasus marasmus, tanda-tandanya juga biasanya diikuti oleh defisiensi lain, misalnya defisiensi mikronutrien (kekurangan vitamin dan mineral). Marasmus adalah kondisi yang bisa dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa, namun lebih sering terjadi pada anak-anak. 

 

Bahkan, UNICEF menyebutkan bahwa setengah dari seluruh kematian anak di bawah usia 5 tahun disebabkan oleh kekurangan nutrisi (malnutrisi).

 

Penyebab Marasmus

 

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa marasmus adalah salah satu bentuk malnutrisi yang terjadi ketika seseorang kekurangan protein dan kalori. Terdapat beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang kekurangan nutrisi, di antaranya sebagai berikut.

 

A. Penyebab Marasmus pada Anak

 

  • Masalah yang mendasari (underlying cause) dari marasmus adalah kekurangan makanan akibat tingkat ekonomi yang rendah. Hal ini bisa terjadi karena kemiskinan, daerah perang, ketidakstabilan sipil, atau tinggal di area pengungsian akibat bencana alam. Kemiskinan secara langsung memengaruhi kemampuan keluarga untuk menyediakan makanan yang cukup yang menyebabkan tidak terpenuhinya kalori harian.

  • Pola makan yang buruk (yang biasanya diikuti dengan kondisi lingkungan yang tidak higienis) sehingga anak tidak mendapatkan gizi yang seimbang dari makanannya sehari-hari. Selain menyebabkan marasmus, hal ini juga dapat menyebabkan masalah lain, misalnya diare.

  • Rendahnya pendidikan ibu juga berpengaruh pada kejadian marasmus.

  • Pemberian ASI yang tidak memadai pada bayi. Hal ini bisa terjadi karena ibu kekurangan gizi, sehingga tidak dapat memberikan ASI eksklusif yang cukup selama menyusui.

  • Infeksi dan penyakit tertentu, seperti penyakit celiac yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi atau HIV/AIDS yang berhubungan erat dengan kejadian marasmus.

 

B. Penyebab Marasmus pada Orang Dewasa

 

  • Anoreksia nervosa. Gangguan makan bisa menyebabkan seseorang tidak mendapatkan cukup makanan, sehingga kebutuhan nutrisinya pun tidak terpenuhi.

  • Physiological anorexia of aging (anoreksia fisiologis karena bertambahnya usia), yaitu keadaan anoreksia yang terjadi pada lansia. Hal ini terjadi karena lansia mengalami penurunan kemampuan indra pengecap dan pembau sehingga merasa tidak ingin makan. Selain itu hal ini dipengaruhi oleh fisiologis lambung dimana semakin tua, pengosongan lambung semakin lama, sehingga lansia akan merasa lebih cepat kenyang. 

  • Depresi pada lansia terutama pada lansia yang tinggal di panti jompo juga merupakan salah satu faktor ketidakinginan untuk makan.

  • Demensia, kondisi ini sering terjadi pada lansia.

  • Penyakit malabsorpsi pada orang dewasa, seperti celiac disease dan insufisiensi pankreas.

 

Gejala Marasmus

 

Gejala utama marasmus adalah hilangnya massa lemak dan otot tubuh, sehingga membuat indeks massa tubuh penderitanya sangat rendah. Seiring waktu, orang dengan marasmus bisa semakin kurus hingga tulang-tulangnya terlihat dan terbentuk lipatan-lipatan di kulit.

 

Di samping itu, sejumlah gejala lain yang biasanya menyertai marasmus adalah sebagai berikut:

 

  • Kepala tampak lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh.

  • Wajah terlihat lebih tua dan keriput.

  • Kulit kering dan kendur (atrofi kulit).

  • Rambut kering dan rapuh, sehingga mudah rontok.

  • Ubun-ubun cekung pada bayi yang merupakan tanda dehidrasi.

  • Lesu dan lemah.

  • Hipotensi (tensi rendah).

  • Bradikardi (nadi lambat).

  • Hipotermia (suhu rendah).

  • Mata kering.

  • Terdapat Bitot spots di mata karena kekurangan vitamin A.

  • Kuku berbentuk sendok (koilonikia) sebagai akibat dari defisiensi besi dan anemia.

  • Individu dengan marasmus juga rentan terhadap penyakit lain, seperti rickets atau rakitis, atau terjadi bersamaan  dengan kwashiorkor (marasmus-kwashiorkor).

 

Pada anak-anak, marasmus dapat menyebabkan pertumbuhannya terhambat (failure to thrive). Selain itu, anak juga akan cenderung terlihat lelah, serta memiliki energi dan antusiasme yang rendah. Anak-anak dengan kondisi ini juga akan mudah tersinggung, pemarah, dan kehilangan minat pada segala hal.

 

Diagnosis Marasmus

 

Diagnosis marasmus dimulai dengan wawancara medis (anamnesis) yang dilakukan oleh dokter untuk mengetahui gejala, pola makan, dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik, seperti mengukur tinggi dan berat badan.

 

Pada anak-anak, dokter biasanya juga mengukur lingkar lengan atas (LiLA). Sementara untuk mengesampingkan kondisi akibat gizi buruk lainnya, seperti kwashiorkor, dokter akan memeriksa apakah pasien mengalami pembengkakan tubuh (edema) atau tidak.

 

Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mengidentifikasi efek sekunder dari marasmus, seperti kekurangan vitamin, mineral, enzim, dan elektrolit tertentu guna menentukan kebutuhan nutrisi yang perlu dipenuhi.

 

Pemeriksaan darah tersebut juga berguna untuk mendeteksi infeksi atau penyakit tertentu yang berkontribusi pada terjadinya marasmus atau yang diakibatkan oleh marasmus.

 

Komplikasi Marasmus

 

Marasmus adalah bentuk malnutrisi yang harus segera ditangani agar penderitanya bisa beraktivitas dengan normal kembali. Jika tidak mendapatkan penanganan, marasmus dapat memicu sejumlah komplikasi jangka pendek dan panjang.

 

A. Komplikasi Jangka Pendek

 

  • Dehidrasi.

  • Ketidakseimbangan elektrolit dan risiko mengalami refeeding syndrome (kondisi ketika makanan diperkenalkan terlalu cepat setelah periode malnutrisi), sindrom ini menyebabkan kejang, gagal jantung, dan koma.

  • Gastrointestinal malabsorption, yaitu ketidakmampuan saluran pencernaan dalam mencerna makanan.

  • Anemia.

  • Osteomalasia.

  • Infeksi saluran kemih.

  • Gagal jantung dan aritmia.

  • Sepsis.

  • Disfungsi endokrin.

 

B. Komplikasi Jangka Panjang

 

  • Tinggi badan yang lebih pendek saat dewasa.

  • Risiko bayi mengalami berat badan lahir rendah jika melahirkan anak.

  • Periode sekolah yang lebih pendek daripada anak yang tidak mengalami malnutrisi.

  • Risiko mengalami kondisi ekonomi rendah di masa depan yaitu pendapatan yang lebih rendah.

 

Cara Mengatasi Marasmus

 

Orang yang sedang menjalani perawatan untuk marasmus berisiko mengalami refeeding syndrome (kondisi ketika tubuh yang kekurangan gizi mencoba mencukupi kebutuhan gizi terlalu cepat). Itulah sebabnya, perawatan untuk marasmus dilakukan secara bertahap.

 

Secara umum, terdapat tiga tahap dalam perawatan marasmus, berikut masing-masing penjelasannya.

 

Tahap 1: Stabilisasi

 

Pada tahap pertama, dokter akan fokus untuk menangani dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan defisiensi mikronutrien agar tubuh siap menerima makanan kembali. Dokter akan memberikan larutan rehidrasi untuk malnutrisi atau Rehydration Solution for Malnutrition (ReSoMal) dalam bentuk oral atau melalui selang nasogastrik.

 

Pada fase ini juga penting untuk menghangatkan pasien untuk mencegah hipotermia dan mengobati infeksi. Tahap ini memerlukan waktu beberapa jam hingga beberapa hari hingga dianggap cukup stabil untuk memulai refeeding, tergantung dari kondisi masing-masing individu.

 

Tahap 2: Rehabilitasi Nutrisi

 

Pemberian makanan (refeeding) akan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan cairan untuk menyeimbangkan karbohidrat, protein, dan lemak. Pada pasien yang menjalani rawat inap mungkin akan menerima cairan melalui selang dengan bertahap namun kontinu (berkelanjutan).

 

Tahap ini diawali dengan pemberian 70% kalori dari nilai yang direkomendasikan untuk usia pasien. Kemudian, jumlah kalori akan ditingkatkan hingga 140% dari nilai yang direkomendasikan untuk membantu mengatasi pertumbuhan anak yang terhambat.

 

Apabila pasien sudah menunjukkan perkembangan yang positif, secara perlahan akan diberikan makanan padat melalui oral. Tahap kedua ini bisa berlangsung selama 2–6 minggu.

 

Tahap 3: Tindak Lanjut dan Pencegahan

 

Marasmus adalah kondisi yang bisa kambuh kembali. Karena itu, penting bagi keluarga pasien untuk selalu memperhatikan kebutuhan gizi pasien. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan ASI yang memadai, imunisasi, serta edukasi untuk mencegah risiko penyakit lainnya.

 

Selain itu, cara lain untuk mencegah terjadinya marasmus adalah dengan menyediakan pasokan air minum bersih yang tidak terkontaminasi, persediaan makanan yang cukup, pengendalian penyakit menular.

 

Jika ingin memastikan kebutuhan gizi keluarga terpenuhi, Anda dapat menggunakan layanan Homecare - Healthy Catering dari Siloam Hospitals yang dapat dipesan melalui aplikasi MySiloam. Paket makanan ini bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan Anda. Bahkan, paket ini sudah dilengkapi dengan sesi konsultasi gratis bersama ahli gizi kami. 


Manfaatkan juga aplikasi MySiloam untuk akses kesehatan lainnya, mulai dari melihat jadwal praktik dokter, membuat appointment, hingga mengantre secara online sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat. Unduh MySiloam sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda dan  keluarga #BersamaSiloam!

 

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-lanny-christiawati-spgk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Lanny Christiawati, SpGK

Gizi Klinik

Spesialis Gizi Klinik


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-samuel-oetoro-spgk

Kunjungi Rumah Sakit

Dr. dr. Samuel Oetoro, MS, SpGK (K)

Gizi Klinik

Subspesialis Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi


MRCCC Siloam Hospitals Semanggi

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-christopher-andrian-mgizi-spgk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Christopher Andrian, M.Gizi, SpGK

Gizi Klinik

Spesialis Gizi Klinik


Siloam Hospitals TB Simatupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail