Obesophobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Obesophobia - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
obesophobia adalah

Pocrescophobia atau obesophobia adalah suatu kondisi ketika seseorang memiliki ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan atau menjadi gemuk. Namun, tidak semua orang yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan mengidap obesophobia. Kenali lebih lanjut mengenai gejala serta bagaimana cara mengatasi obesophobia dalam ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Obesophobia?

 

Seperti yang sudah dijelaskan, obesophobia adalah jenis fobia spesifik terhadap kenaikan berat badan. Penyakit ini lebih umum terjadi pada perempuan, namun laki-laki juga bisa mengalami fobia ini. Sebagian orang memang merasa khawatir dengan berat badannya sehingga tampak menjalani diet terus-menerus. Namun, hal ini tidak berarti orang tersebut mengidap obesophobia.

 

Kekhawatiran terhadap kenaikan berat badan atau menjadi gemuk merupakan hal yang wajar selama tidak menimbulkan reaksi yang berlebihan. Sementara itu, pada kondisi obesophobia, kekhawatiran akan kenaikan berat badan dapat menunjukkan reaksi berlebihan, berupa:

 

  • Membawa makanan sendiri ke mana-mana sehingga bisa mengontrol apa yang dimakan.

  • Hanya makan dalam porsi yang sangat kecil.

  • Mengkritik diri sendiri secara berlebihan.

  • Melewatkan kegiatan yang melibatkan makan.

  • Menghabiskan banyak waktu dan uang agar terlihat lebih kurus.

  • Berolahraga secara berlebihan.

 

Orang dengan kondisi ini biasanya terlihat kurus, bahkan seperti kekurangan gizi namun masih memiliki ketakutan yang kuat terhadap bertambahnya berat badan. Penderita mungkin menyadari bahwa hal ini tidaklah benar namun tidak bisa mengendalikan pikirannya. Jika tidak ditangani, obesophobia bisa menyebabkan:

 

 

Penyebab Obesophobia

 

Belum diketahui secara pasti apa penyebab obesophobia. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari stigma berat badan di masyarakat, memiliki kepribadian perfeksionisme, dan lain-lain. Berikut uraian selengkapnya.

 

  • Stigma berat badan: Stigma ini membuat berat badan menjadi salah satu indikator dalam menilai orang lain. Hal ini umumnya mendiskriminasi orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas sehingga membuat beberapa individu takut mengalami kenaikan berat badan.

  • Faktor genetik: Orang yang memiliki keluarga dengan riwayat kondisi serupa berisiko mengembangkan obesophobia.

  • Perfeksionisme: Obesophobia juga bisa terjadi pada orang yang cenderung perfeksionis dan ingin mendapatkan berat badan yang menurutnya ideal.

  • Gangguan kecemasan: Orang dengan gangguan kecemasan lebih mungkin mengalami obesophobia.

  • Pengalaman traumatis: Seseorang yang pernah mengalami peristiwa buruk yang berkaitan dengan berat badan berisiko mengalami obesophobia.

 

Gejala Obesophobia

 

Obesophobia bisa menimbulkan gejala-gejala yang melibatkan emosi negatif saat penderitanya memikirkan atau membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kenaikan berat badan atau obesitas. Penderita fobia ini juga mungkin mengalami rasa takut yang luar biasa saat menghadapi situasi yang berhubungan dengan penambahan berat badan, seperti berada di dekat timbangan. Secara umum, gejala-gejala obesophobia tersebut adalah sebagai berikut:

 

  • Rasa takut yang intens dan luar biasa.

  • Pusing.

  • Tekanan darah tinggi.

  • Kecemasan.

  • Stres.

  • Serangan panik (panic attack).

 

Penderita mungkin akan mengalami perasaan tersebut dalam acara yang berkaitan dengan kenaikan berat badan, misalnya di acara gathering atau dinner. Reaksi lain yang dapat ditunjukkan oleh penderita obesophobia adalah:

 

  • Berpuasa terus-menerus.

  • Menghitung kalori secara obsesif.

  • Sering melakukan diet.

  • Olahraga secara berlebihan.

 

Diagnosis Obesophobia

 

Tidak ada tes khusus yang digunakan untuk mendiagnosis obesophobia. Proses diagnosis biasanya dimulai dengan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala yang dialami pasien riwayat kesehatan pasien. Beberapa pertanyaan yang mungkin perlu dijawab oleh pasien adalah:

 

  • Apa saja gejala yang dialami pasien?

  • Sudah berapa lama gejala tersebut terjadi?

  • Bagaimana gejala tersebut memengaruhi kehidupan pasien?

 

Kriteria diagnostik Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM V) untuk fobia spesifik yang digunakan untuk mendiagnosis obesophobia meliputi:

 

  • Ketakutan yang intens dan tidak rasional.

  • Paparan fobia menyebabkan ketakutan dan kecemasan seketika.

  • Ketakutan tersebut tidak sebanding dengan bahaya yang sebenarnya dari situasi tersebut.

  • Penghindaran fobia.

  • Fobia menyebabkan gangguan fungsi secara signifikan.

  • Ketakutan ini terus berlanjut, setidaknya berlangsung selama enam bulan.

 

Cara Mengatasi Obesophobia

 

Obesophobia adalah suatu kondisi yang memerlukan penanganan medis profesional. Tujuan pengobatan obesophobia adalah mengendalikan rasa takut yang dimiliki oleh penderita terhadap kenaikan berat badan dan mengurangi risiko eating disorder. Berikut adalah beberapa pilihan perawatan untuk obesophobia.

 

  • Psikoterapi. Jenis psikoterapi yang paling umum dilakukan untuk mengatasi fobia, termasuk obesophobia, adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavior therapy/CBT) dan exposure therapy (terapi yang dilakukan dengan memaparkan pasien dengan sumber fobia. Terapi ini akan dilakukan secara bertahap dengan tujuan untuk membantu pasien menghilangkan memori trauma dengan meniru hilangnya rasa takut).

  • Obat-obatan. Fobia biasanya tidak ditangani dengan obat-obatan. Namun, bila dirasa perlu, dokter biasanya meresepkan obat-obatan, seperti antidepresan, antipsikotik, dan mood stabilizers.

 

Berbagai kondisi yang menjadi penyebab dan gejala yang sudah dijelaskan di atas tidak bisa dijadikan sebagai acuan utama bagi Anda untuk menilai kondisi ini. Perlu dipahami bahwa terdapat berbagai kondisi yang mungkin memiliki gejala dan penyebab yang hampir sama.

 

Maka dari itu, bila mengalami gejala yang mengarah pada kondisi ini, hindari melakukan self-diagnosis dan segera berkonsultasi dengan Psikiatri di Siloam Hospitals terdekat agar memperoleh diagnosis sekaligus pengobatan yang tepat.

 

Penting pula untuk dipahami bahwa proses pemeriksaan dan pengobatan di setiap rumah sakit bisa berbeda-beda, tergantung dari fasilitas kesehatan yang disediakan. Namun, tenaga medis tentu akan memastikan bahwa tahapan pemeriksaan dan pengobatan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

 

Jika ingin berkonsultasi dari rumah, manfaatkan layanan Telekonsultasi yang tersedia di aplikasi MySiloam. Layanan tersebut memungkinkan dokter untuk meresepkan obat-obatan sesuai kondisi pasien, dan pasien pun bisa memperoleh obat-obatan tersebut tanpa harus keluar rumah. Namun jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib melakukan self pick up.

 

telechat (1)

message

ArticleDetail