Papilledema: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Papilledema: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatannya

26 Mei 2025 4 menit waktu baca
papilledema adalah

 

Papilledema adalah kondisi pembengkakan saraf optik akibat peningkatan tekanan intrakranial. Sering kali, kondisi ini mengindikasikan masalah kesehatan yang serius, seperti tumor otak dan perdarahan. Mari kenali penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatan papilledema selengkapnya melalui pembahasan di bawah ini.

 

Apa itu Papilledema?

 

Papilledema adalah pembengkakan pada saraf optik (optic disc) akibat peningkatan tekanan di sekitar otak di dalam tulang tengkorak atau tekanan intrakranial). Tekanan pada saraf optik ini biasanya menyebabkan pembengkakan pada kedua mata (papilledema bilateral). Istilah ini harus dibedakan dari edema diskus yang merupakan kategori pembengkakan diskus optikus yang lebih luas akibat etiologi lain. 

 

Sebagai informasi, tekanan intrakranial juga dapat meningkat tanpa adanya pembengkakan diskus optikus. Papilledema sendiri bisa menjadi tanda bahaya pada penyakit yang dapat menyebabkan peningkatan TIK seperti tumor otak, peradangan serebrospinal (infeksi dan noninfeksi), serta hipertensi intrakranial idiopatik.

 

Secara umum, papilledema lebih sering ditemukan pada wanita dewasa dengan berat badan berlebih dengan skor BMI lebih dari 25 atau lebih dari 30 (obesitas). Apabila tidak didiagnosis dan ditangani secara medis, papilledema bisa menyebabkan kehilangan penglihatan.

 

Penyebab Papilledema

 

Hipertensi intrakranial merupakan penyebab utama papilledema, namun terdapat faktor lain yang berkaitan dengan kondisi tersebut, seperti:

 

  • Cedera kepala.

  • Radang otak (ensefalitis).

  • Radang selaput otak (meningitis).

  • Anemia.

  • Tumor otak.

  • Tumor sumsum tulang belakang.

  • Gumpalan darah dalam pembuluh darah besar di otak.

  • Penumpukan cairan nanah dalam otak akibat infeksi (abses otak).

  • Hipertensi yang tak terkontrol dan mengancam jiwa.

  • Penggunaan obat-obatan, seperti konsumsi vitamin A secara berlebihan, antibiotik tetrasiklin, kortikosteroid, serta retin-A dan retinoid.

 

Apabila tidak ditemukan penyebab pasti, kemungkinan faktor yang menyebabkan peningkatan tekanan pada saraf optik adalah hipertensi intrakranial idiopatik. Biasanya, kondisi ini menyerang wanita dewasa yang kelebihan berat badan. Meskipun hubungan antara kedua hal tersebut masih belum pasti, risiko papilledema bisa meningkat apabila lemak perut yang berlebihan menyebabkan tekanan di dada dan memicu reaksi berantai hingga ke otak.

 

Gejala Papilledema

 

Beberapa penderita papilledema mungkin tidak merasakan gejala apa pun, namun terdapat sejumlah indikasi yang bisa dirasakan oleh penderita lainnya, seperti:

 

  • Sakit kepala yang parah di pagi hari dan saat berbaring.

  • Penglihatan kabur sementara, yaitu sekitar 5–15 detik. Kondisi ini biasanya terjadi ketika penderita papilledema mengubah postur tubuh.

  • Gejala neurologis yang berkaitan dengan masalah motorik atau kemampuan berpikir.

  • Penglihatan ganda (diplopia) apabila hipertensi intrakranial diikuti dengan kelumpuhan saraf kranial yang merusak otot mata.

  • Mual dan muntah.

  • Bunyi berdenyut di telinga (pulsatile tinnitus).

  • Penglihatan yang hilang secara bertahap.

 

Diagnosis Papilledema

 

Dokter dapat mendiagnosis papilledema dengan melakukan sejumlah langkah pengamatan. Pada awalnya, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui gejala dan kondisi medis tertentu yang diderita. 

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien, mulai dari pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan tajam penglihatan, lapang pandang, pemeriksaan dengan oftalmoskopi untuk melihat ke dalam bagian belakang mata, dan lain-lain. Setelahnya, dokter bisa merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang seperti:

 

  • Tes darah untuk mengetahui kadar darah lengkap, zat besi dan zat lainnya dalam darah.

  • Tes pencitraan, seperti MRI atau CT scan.

  • Lumbal puncture (pungsi lumbal) untuk mengukur tekanan cairan serebrospinal yang mengalir melalui otak dan sumsum tulang belakang.

 

Dokter juga bisa merekomendasikan tes lain berdasarkan faktor yang menyebabkan papilledema. Hasil tes-tes tersebut bisa membantu dokter untuk menentukan tingkat keparahan papilledema. Adapun pengukuran yang digunakan untuk mengategorikan papilledema adalah skala Frisén.

 

Tingkat keparahan papilledema dimulai dari grade 0 hingga grade V. Grade 0 menandakan diskus optik normal, namun bagian tepinya mengalami pengaburan. Sementara itu, grade V mengindikasikan seluruh diskus optik membengkak sehingga pembuluh darah di dalam diskus atau yang keluar tidak dapat terlihat.

 

Pengobatan Papilledema

 

Berdasarkan hasil diagnosis dokter, penderita papilledema bisa menjalani prosedur pengobatan sesuai rekomendasi medis. Dokter umumnya akan merekomendasikan pengobatan yang berbeda antara satu pasien dan lainnya. Beberapa di antaranya adalah:

 

  • Antibiotik untuk mengatasi infeksi.

  • Obat untuk melarutkan gumpalan darah.

  • Penghambat karbonat anhidrase, seperti acetazolamide, untuk mengobati hipertensi intrakranial idiopatik.

  • Menjaga berat badan untuk strategi penyembuhan jangka panjang.

  • Operasi untuk mengangkat tumor atau mengeringkan abses.

 

Sebagai catatan, beberapa tanda dan gejala papilledema di atas dapat mengindikasikan kondisi medis lain. Salah satu cara mencegah papilledema adalah dengan merencanakan program diet yang sehat dan menjaga tekanan darah. Namun, jika Anda mengalami gejala-gejala yang berkaitan dengan papilledema, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals terdekat guna memperoleh evaluasi, diagnosis, dan penanganan yang tepat.

 

Dokter akan memastikan tahapan pemeriksaan dan penanganan sesuai dengan kondisi setiap pasien. Di samping itu, dokter juga akan menyesuaikan prosedur diagnosis dan pengobatan dengan ketersediaan fasilitas kesehatan di masing-masing rumah sakit sehingga langkah-langkahnya pun akan berbeda-beda. 

 

Anda bisa menjadwalkan konsultasi dengan dokter lewat aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda bisa mengetahui jadwal praktik dokter, membuat janji temu, dan mengecek hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Mari unduh MySiloam dan gunakan berbagai fiturnya untuk memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

Sumber

Cleveland Clinic. Papilledema. Diakses pada 2024 | National Library of Medicine. Papilledema. Diakses pada 2024 | MDS Manual. Papilledema. Diakses pada 2024 | WebMD. What Is Papilledema?. Diakses pada 2024 |

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail