Paraplegia - Penyebab, Gejala, dan Cara Perawatannya
Kesehatan Tubuh

Paraplegia - Penyebab, Gejala, dan Cara Perawatannya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
paraplegia adalah

Paraplegia adalah gejala kelumpuhan anggota gerak mulai dari bagian panggul ke bawah. Kondisi ini sering kali terjadi akibat gangguan pada sistem saraf, terutama sumsum tulang belakang, atau kondisi medis lainnya. Simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang paraplegia.

 

Apa itu Paraplegia?

 

Paraplegia adalah istilah untuk menyebutkan kelumpuhan pada anggota gerak, biasanya dimulai dari panggul hingga kaki. Kondisi ini dapat berlangsung secara sementara atau permanen, tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Paraplegia kerap disalahartikan sebagai paraparesis. Lantas, apa perbedaan keduanya?

 

Pada paraparesis, penderitanya masih bisa merasakan anggota gerak bagian bawah meski kekuatan tubuhnya melemah. Sedangkan, penderita paraplegia tidak dapat menggerakkannya sama sekali. Istilah lain yang hampir sama namun artinya berbeda adalah hemiplegia, yaitu kelumpuhan pada separuh sisi tubuh (kanan atau kiri), mulai dari wajah hingga kaki.

 

Berdasarkan kejadiannya, paraplegia dapat terbagi menjadi dua, yaitu paraplegia lengkap dan tidak lengkap. Berikut masing-masing penjelasannya:

 

  • Paraplegia lengkap: Hilangnya fungsi tubuh secara total, termasuk kemampuan untuk merasakan sensasi dan bergerak. Tubuh tidak dapat mengendalikan fungsi otomatis yang bergantung pada sumsum tulang belakang untuk mengirimkan sinyal ke anggota tubuh, seperti mengontrol usus dan kandung kemih.

  • Paraplegia tidak lengkap: Hilangnya sebagian fungsi tubuh ketika penderita masih memungkinkan untuk merasakan atau menggerakkan bagian tubuh yang berada di bawah bagian yang mengalami cedera, namun biasanya tidak bisa sekuat seperti saat sebelum mengalami cedera.

 

Berdasarkan cara utama otot yang lumpuh bekerja pada paraplegia, maka paraplegia dapat dibagi menjadi dua, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Flaccid paraplegia: Pada kondisi ini, otot tidak bisa bekerja sama sekali dan tetap lembek atau lemas.

  • Spastic paraplegia: Pada kondisi ini, otot-otot tidak bisa bekerja dengan sendirinya dan berkontraksi secara tidak terkendali.

 

Penyebab Paraplegia

 

Penyebab umum paraplegia adalah cedera pada saraf tulang belakang (spinal cord injury). Cedera tersebut bisa terjadi dengan berbagai cara, misalnya kecelakaan mobil/motor, luka tembak atau tusukan, serta terjatuh (rentan terjadi pada orang tua yang menderita osteoporosis dan osteopenia).

 

Selain itu, beberapa kondisi lain yang juga diketahui dapat menyebabkan paraplegia adalah sebagai berikut:

 

  • Tumor tulang belakang, termasuk kanker (baik yang berasal dari sekitar sumsum tulang belakang atau menyebar dari organ lain).

  • Kista di dalam sumsum tulang belakang (syringomyelia).

  • Infeksi yang menyerang atau menekan sumsum tulang belakang.

  • Kurangnya aliran darah akibat pembuluh darah yang tersumbat atau pecah (iskemia).

  • Kerusakan saraf yang berkaitan dengan penyakit diabetes.

  • Kondisi bawaan lahir yang berhubungan dengan masalah tulang belakang atau struktur sumsum tulang belakang, misalnya spina bifida.

  • Cedera yang terjadi saat lahir atau di masa kanak-kanak.

  • Kondisi autoimun atau inflamasi.

  • Kondisi genetik, seperti spastic paraplegia turunan.

 

Gejala Paraplegia

 

Gejala paraplegia bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung dari tingkat keparahan cedera yang terjadi pada tulang belakang. Umumnya, paraplegia memengaruhi kaki, tapi bisa juga berdampak pada otot-otot perut yang menyebabkan hilangnya kontrol usus dan kandung kemih. Bahkan, kondisi ini juga bisa berpengaruh pada otot-otot dada sehingga penderitanya sulit untuk batuk dan bernapas dalam.

 

Secara umum, beberapa gejala yang bisa ditimbulkan oleh paraplegia adalah sebagai berikut:

 

  • Nyeri berkepanjangan.

  • Kelumpuhan atau mati rasa pada bagian anggota gerak bawah.

  • Tidak dapat mengontrol BAB dan BAK.

  • Sulit melakukan hubungan seksual.

  • Kesulitan berjalan.

  • Terbentuknya ulkus dekubitus, yaitu luka akibat tekanan pada kulit karena tubuh tidak berganti posisi dalam waktu yang lama.

  • Depresi.

 

Diagnosis Paraplegia

 

Guna menegakkan diagnosis paraplegia, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala yang dialami pasien beserta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan neurologis. Setelah itu, dokter juga memerlukan sejumlah pemeriksaan tambahan untuk mengonfirmasi diagnosis paraplegia, di antaranya:

 

  • Rontgen, CT scan, atau MRI (untuk mengetahui kelainan pada struktur tulang belakang maupun otak).

  • Elektromiografi (untuk memeriksa kontraksi otot-otot pada anggota gerak bawah).

 

Pengobatan Paraplegia

 

Paraplegia adalah suatu kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Namun, pada beberapa kasus, sejumlah pengobatan diharapkan dapat membantu pasien meningkatkan kemampuan anggota geraknya sehingga kualitas hidupnya pun dapat lebih ditingkatkan. Selain itu, pengobatan juga bisa membantu mengurangi rasa nyeri dan gejala lain yang dikeluhkan oleh pasien.

 

Dokter akan memberikan pengobatan yang disesuaikan dengan penyebab serta lokasi saraf yang terdampak. Secara umum, beberapa perawatan yang diberikan dokter kepada pasien paraplegia adalah sebagai berikut:

 

  • Obat kortikosteroid bila terjadi peradangan pada saraf tulang belakang.

  • Operasi, untuk mengangkat pecahan tulang, benda asing (misalnya peluru), atau bantalan tulang yang menyebabkan penekanan saraf.

  • Terapi, yang meliputi fisioterapi (meningkatkan kekuatan otot tubuh) dan terapi okupasi (meningkatkan kemampuan pasien untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri)

 

Apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, paraplegia dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti:

 

 

Paraplegia adalah kondisi yang sulit dicegah karena bisa disebabkan oleh cedera yang terjadi secara tiba-tiba ataupun berbagai penyakit. Oleh karenanya, Anda disarankan untuk selalu berhati-hati saat melakukan aktivitas yang berisiko menimbulkan cedera.

 

Selain itu, penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Untuk itu, bila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada paraplegia, jangan ragu berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Neurologi di Siloam Hospitals.

 

Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail