Kesehatan Tubuh
Penyakit Addison - Penyebab, Gejala, & Cara Mengatasinya

Table of Contents
Penyakit Addison adalah kondisi kronis langka yang terjadi ketika kelenjar adrenal tidak memproduksi cukup hormon kortisol dan aldosteron. Kondisi ini sering kali disebabkan oleh gangguan autoimun, namun masih bisa diobati dengan berbagai perawatan. Mari pahami penyebab, gejala, hingga pengobatan penyakit Addison melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Penyakit Addison?
Penyakit Addison (Addison’s disease) adalah penyakit ketika kelenjar adrenal mengalami gangguan sehingga tidak mampu memproduksi hormon kortisol dan aldosteron sebagaimana mestinya. Kondisi ini dikenal juga dengan insufisiensi adrenal primer. Penyakit Addison dapat terjadi pada siapa saja, namun lebih dominan dialami oleh wanita usia 30–50 tahun.
Sebagai informasi, kelenjar adrenal adalah bagian dari sistem endokrin yang berbentuk segitiga yang berada di atas kedua ginjal. Hormon kortisol merupakan hormon yang membantu tubuh merespons stres, serta menjaga tekanan darah, fungsi jantung, imun tubuh, dan kadar glukosa darah.
Sementara itu, hormon aldosteron adalah hormon yang mengatur keseimbangan natrium dan kalium dalam darah. Hal ini berfungsi untuk mengontrol jumlah cairan yang dikeluarkan ginjal sebagai urine yang memengaruhi volume darah dan tekanan darah. Jadi, bisa disimpulkan bahwa hormon kortisol dan aldosteron memiliki peran penting bagi tubuh.
Penyebab Penyakit Addison
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa kelenjar adrenal memiliki dua sisi, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian dalam (medula). Bagian korteks kelenjar adrenal berfungsi melepaskan sekelompok hormon steroid, seperti hormon aldosteron dan kortisol.
Namun, pada Addison’s disease, korteks tersebut mengalami gangguan sehingga tidak dapat memproduksi hormon kortisol dan aldosteron dengan cukup. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, di antaranya:
-
Perdarahan atau cedera pada kelenjar adrenal.
-
Kelainan genetik.
-
Kanker yang menyebar ke kelenjar adrenal.
-
Pernah menjalani operasi pada kelenjar adrenal.
-
Infeksi lainnya pada kelenjar adrenal.
-
Penggunaan obat-obatan untuk menangani kanker tertentu.
Selain beberapa kondisi di atas, adapun sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko penyakit Addison adalah sebagai berikut:
-
Berjenis kelamin wanita, utamanya usia 30–50 tahun.
-
Sedang dalam pengobatan untuk sindrom Cushing.
-
Menderita penyakit autoimun, seperti vitiligo.
-
Menderita infeksi yang sudah berlangsung lama, misalnya TB dan HIV/AIDS.
-
Mengidap anemia pernisiosa (kekurangan vitamin B12).
-
Mengidap kanker.
-
Sedang mengonsumsi obat-obatan kortikosteroid, antikoagulan, dan antijamur.
-
Terdapat keluarga dengan riwayat Addison’s disease.
-
Tiba-tiba menghentikan penggunaan kortikosteroid jangka panjang (seharusnya dosis obat kortikosteroid diturunkan secara perlahan sebelum akhirnya berhenti dikonsumsi).
Gejala Penyakit Addison
Pada mulanya, penyakit Addison menunjukkan gejala ringan. Namun, seiring dengan perkembangan penyakit, kerusakan pada kelenjar adrenal bisa bertambah parah sehingga penderita mengeluhkan gejala yang berat hingga mengancam nyawa. Gejala awal Addison’s disease meliputi:
-
Kelelahan ekstrem.
-
Nyeri perut.
-
Selalu ingin mengonsumsi makanan asin.
-
Sering mengantuk.
-
Mual dan muntah.
-
Lesu.
-
Kehilangan nafsu makan.
-
Penurunan berat badan.
-
Pusing saat berdiri.
-
Sakit kepala.
-
Hiperpigmentasi (kulit menjadi menghitam di berbagai area).
-
Nyeri dan kram otot.
-
Mudah marah.
-
Sering buang air kecil.
-
Mudah haus.
-
Sulit berkonsentrasi.
-
Rambut rontok.
-
Menstruasi tidak teratur.
-
Depresi.
-
Kehilangan gairah seksual.
-
Terlambat pubertas.
Pada kondisi yang lebih parah, Addison’s disease dapat menyebabkan gejala yang lebih berat, yaitu gagal adrenal akut, yang disebut dengan krisis Addison, dengan gejala-gejala seperti berikut:
-
Tubuh terasa lemas yang parah.
-
Nyeri perut hebat.
-
Nyeri punggung bagian bawah atau nyeri kaki.
-
Muntah dan diare hingga dehidrasi.
-
Linglung.
-
Tekanan darah sangat rendah.
-
Kesadaran menurun.
Diagnosis Penyakit Addison
Untuk mendiagnosis penyakit Addison, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui tentang gejala yang dialami pasien, penyakit yang sedang diderita, serta riwayat kesehatan keluarga. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, termasuk kondisi kulit dan tekanan darah.
Guna mengonfirmasi diagnosis Addison’s disease, dokter biasanya memerlukan sejumlah pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tersebut, di antaranya:
-
Tes darah, untuk mengukur kadar natrium, gula, kalium, ACTH (adrenokortikotropik), serta hormon kortisol dan aldosteron.
-
Tes stimulasi ACTH, untuk mengukur kadar kortisol di dalam darah pada sebelum dan setelah ACTH disuntikkan. Jika kadar kortisol tetap rendah, maka pasien terindikasi menderita penyakit Addison.
-
Tes hipoglikemia yang diinduksi insulin. Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah kelenjar pituitari menyebabkan insufisiensi adrenal sekunder. Tes ini melibatkan pemeriksaan kadar gula darah dan hormon kortisol setelah suntikan insulin.
-
Tes pencitraan dengan CT scan atau MRI, untuk melihat ukuran kelenjar adrenal dan mendeteksi abnormalitas pada kelenjar tersebut.
Pengobatan Penyakit Addison
Pengobatan utama penyakit Addison adalah mengganti hormon steroid yang tidak diproduksi dalam jumlah yang cukup oleh tubuh. Adapun beberapa metode pengobatan yang umumnya dilakukan oleh dokter untuk mengatasi Addison’s disease adalah sebagai berikut:
-
Pemberian kortikosteroid dalam bentuk tablet untuk menggantikan hormon kortisol, seperti prednison atau metilprednisolon. Dokter juga dapat meresepkan fludrokortison guna menggantikan hormon aldosteron.
-
Pemberian kortikosteroid dalam bentuk injeksi, biasanya diberikan kepada pasien yang mengalami gejala muntah dan tidak bisa minum obat oral.
Selain itu, dokter juga perlu mengobati kondisi yang mendasari terjadinya penyakit Addison. Selama masa pengobatan, pasien dianjurkan untuk melakukan kontrol secara rutin, setidaknya setiap 6 bulan atau 1 tahun sekali agar perkembangan penyakitnya bisa terpantau. Perlu diingat bahwa konsumsi kortikosteroid jangka panjang harus selalu di bawah pemantauan dokter dan tidak boleh dihentikan sendiri secara mendadak.
Sulit untuk mencegah penyakit Addison. Namun, dengan perawatan yang cepat dan tepat dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi, seperti krisis adrenal. Untuk itu, bila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi ini, segera konsultasikan dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Siloam Hospitals.
Anda bisa menggunakan aplikasi MySiloam untuk menemukan Siloam Hospitals terdekat. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat membuat janji temu dengan dokter terkait serta memeriksa riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Putera Bahagia
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Kelapa Dua
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Elektrolit/Electrolyte Package (Natrium, Kalium, Klorida)
Darah, Elektrolit
1 Service/Item
Rp134.900
TERPOPULER
Glucose Ad Random / Gula Darah Sewaktu
Darah, Gula/ Diabetes
1 Service/Item
Rp41.400
TERPOPULER
Complete Blood Count + Diff / Pemeriksaan Darah Lengkap
1 Service/Item
Rp123.300
Cortisol Afternoon / Kortisol Siang
1 Service/Item
Rp649.800
TERPOPULER
Cortisol Morning / Kortisol Pagi
1 Service/Item
Rp523.800







