Pseudomembranous Colitis - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya
Kesehatan Tubuh

Pseudomembranous Colitis - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

19 Mei 2025 4 menit waktu baca
pseudomembranous colitis

Pseudomembranous colitis adalah proses peradangan pada dinding bagian dalam usus besar akibat pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Pseudomembranous colitis erat kaitannya dengan pertumbuhan bakteri Clostridiosis difficile dalam jumlah banyak hingga menyebabkan kerusakan di usus besar. Simak penjelasan selengkapnya mengenai pseudomembranous colitis melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Pseudomembranous Colitis?

 

Pseudomembranous colitis (PMC) atau kolitis pseudomembran adalah peradangan pada dinding bagian dalam usus yang berkaitan dengan pertumbuhan berlebih dari bakteri Clostridiosis difficile (C. diff) yang dulu disebut dengan bakteri Clostridium difficile. Kondisi ini dikenal juga sebagai kolitis terkait antibiotik atau C. difficile colitis. Pasalnya, sebagian kasus PMC disebabkan oleh efek samping penggunaan antibiotik.

 

Pemberian antibiotik, obat kemoterapi, atau terapi imunosupresif dapat mengganggu flora kolon normal, sehingga memungkinkan terjadinya kolonisasi C. difficile. Sebagai informasi, C. difficile adalah penyebab paling umum dari diare menular di fasilitas kesehatan.

 

Penyebab Pseudomembranous Colitis

 

Normalnya, usus besar memang mengandung banyak bakteri yang seimbang secara alami. Namun, penggunaan antibiotik atau beberapa jenis obat-obatan lain dapat mengganggu keseimbangan bakteri di usus besar. Kolitis pseudomembran terjadi ketika bakteri, umumnya C. diff, tumbuh terlalu cepat melebihi bakteri lain yang biasanya mengendalikannya.

 

Bakteri C. diff dapat memproduksi toksin tertentu dalam kadar yang tinggi yang bisa menyebabkan kerusakan pada usus besar. Semua antibiotik berpotensi menyebabkan PMC, namun beberapa jenis yang paling sering adalah sebagai berikut:

 

  • Fluoroquinolones, seperti ciprofloxacin dan levofloxacin.

  • Penicillins, seperti amoxicillin dan ampicillin.

  • Clindamycin.

  • Cephalosporins, seperti cefixime.

 

Selain antibiotik, obat-obatan lain seperti kemoterapi juga dapat menyebabkan keseimbangan bakteri di dalam usus besar terganggu. Di samping itu, penyakit tertentu, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif, juga bisa meningkatkan risiko PMC.

 

Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pseudomembranous colitis adalah sebagai berikut:

 

  • Berusia di atas 65 tahun.

  • Sedang atau memiliki riwayat menjalani rawat inap di rumah sakit dan diberikan antibiotik.

  • Mengonsumsi obat lambung, seperti omeprazole dan ranitidine.

  • Memiliki sistem imun yang lemah, seperti memiliki riwayat penyakit diabetes, HIV, atau autoimun.

  • Mengidap penyakit kolon, seperti inflammatory bowel disease atau kanker kolorektal.

  • Memiliki riwayat operasi usus.

  • Memiliki riwayat menggunakan selang nasogastrik (nasogastric tube/NGT). 

  • Memiliki riwayat penyakit ginjal kronik.

  • Sedang menjalani kemoterapi untuk kanker.

  • Pernah terkena infeksi bakteri C. diff sebelumnya.

 

Gejala Pseudomembranous Colitis

 

Gejala kolitis pseudomembran bisa muncul dalam waktu 1–2 hari setelah seseorang mengonsumsi antibiotik tertentu. Namun, pada beberapa kasus, gejala mungkin tidak muncul hingga 1–2 minggu sesudah mengonsumsi antibiotik. Adapun beberapa gejala yang umumnya ditimbulkan oleh pseudomembranous colitis, di antaranya:

 

  • Diare yang berair, berbau busuk, dan terkadang berdarah.

  • Dehidrasi.

  • Demam.

  • Mual.

  • Terdapat nanah pada feses.

  • Kram perut.

  • Toxic megacolon.

 

Diagnosis Pseudomembranous Colitis

 

Dalam proses diagnosis kolitis pseudomembran, dokter akan terlebih dahulu melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai gejala serta riwayat kesehatan medis pasien, termasuk penyakit yang diderita, obat-obatan yang dikonsumsi, dan riwayat dirawat di fasilitas kesehatan.

 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada pasien secara menyeluruh terutama di area abdomen (perut). Kemudian, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengonfirmasi diagnosis sekaligus mencari komplikasi. Pemeriksaan tersebut, di antaranya:

 

  • Pemeriksaan feses.

  • Tes darah.

  • Kolonoskopi atau sigmoidoskopi, untuk mencari tanda-tanda pseudomembranous colitis berupa plak berwarna kuning (lesi) dan pembengkakan.

  • Tes pencitraan, seperti Rontgen abdomen atau CT scan, untuk mencari komplikasi, misalnya ruptur usus besar dan toxic megacolon.

 

Cara Mengatasi Pseudomembranous Colitis

 

Dalam mengatasi pseudomembranous colitis, dokter akan memberikan resep antibiotik yang dapat membantu bakteri baik tumbuh kembali sehingga gejala bisa berkurang dan lebih cepat hilang. Beberapa jenis antibiotik yang biasanya diberikan oleh dokter adalah fidaxomicin, metronidazole, dan vancomycin.

 

Saat menerima antibiotik, pasien mungkin juga akan menerima bezlotoxumab yang diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah. Obat tersebut bermanfaat untuk mencegah kekambuhan infeksi akibat bakteri C. diff.

 

Namun, bila PMC yang dialami pasien cukup parah atau terus-menerus kambuh, dokter akan menyarankan beberapa prosedur di bawah ini:

 

  • Antibiotik tambahan.

  • Transplantasi mikroba tinja atau fecal microbial transplant (FMT). Pada prosedur ini, dokter akan memasukkan tinja sehat dari donor ke dalam tubuh pasien untuk membantu memulihkan bakteri baik.

  • Pembedahan. Prosedur ini dilakukan untuk mengambil sebagian besar usus besar yang sudah terkena komplikasi seperti toxic megacolon atau perforasi kolon. Namun, tindakan tersebut sangat jarang dilakukan.

 

Komplikasi Pseudomembranous Colitis

 

Umumnya, pseudomembranous colitis dapat diobati sepenuhnya tanpa menimbulkan komplikasi apa pun. Kendati demikian, kondisi ini juga dapat memicu sejumlah komplikasi yang bisa berdampak serius pada penderitanya, di antaranya sebagai berikut:

 

  • Dehidrasi akibat diare yang parah sehingga menyebabkan hilangnya cairan dan elektrolit tubuh secara signifikan.

  • Gagal ginjal. Pada beberapa kasus, dehidrasi dapat terjadi begitu cepat hingga fungsi ginjal memburuk dengan cepat dan menyebabkan gagal ginjal.

  • Toxic megacolon. Pada kondisi ini, usus besar tidak dapat membuang gas dan feses sehingga perut menjadi sangat buncit. Akibatnya, usus besar pecah dan menyebabkan bakteri di dalamnya menyebar ke rongga perut (kondisi ini jarang terjadi).

  • Perforasi usus atau lubang pada usus besar.

  • Kematian. 

 

Guna mencegah sejumlah gejala di atas, kondisi kolitis pseudomembran perlu mendapatkan penanganan yang tepat sesegera mungkin. Untuk itu, apabila Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada pseudomembranous colitis, jangan ragu untuk mengunjungi Dokter Spesialis Penyakit Dalam tepercaya di Siloam Hospitals agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Di Siloam Hospitals, Anda juga bisa melakukan pemeriksaan kesehatan sistem pencernaan dengan memesan paket Skrining Sistem Pencernaan Lengkap. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mendeteksi adanya risiko penyakit dalam sistem pencernaan dan sudah dilengkapi dengan berbagai tes, mulai dari fungsi hati hingga skrining kanker.

 

Aplikasi My Siloam (1)

 

Dokter Kami
dr-albertus-daniel-sppd

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Albertus Daniel, SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-ra-aditya-adhi-puruhita-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Ra Aditya Adhi Puruhita, M.M.R., SpPD

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-juliyanti-sppd

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Juliyanti, SpPD, FINASIM

Penyakit Dalam

Spesialis Penyakit Dalam


Siloam Hospitals Kelapa Dua

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail