Sindrom Horner - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
Kesehatan Tubuh

Sindrom Horner - Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

30 Oktober 2025 5 menit waktu baca
sindrom horner adalah

Horner syndrome atau sindrom Horner adalah kumpulan gejala yang terjadi karena terdapat kerusakan pada sistem saraf simpatik. Kondisi ini biasanya ditandai dengan ukuran pupil mata sisi kanan dan kiri yang berbeda, turunnya kelopak mata, dan lain-lain.

 

Lantas, apa penyebab sindrom Horner dan bagaimana cara menanganinya? Mari ketahui jawaban selengkapnya melalui artikel berikut ini.

 

Apa itu Sindrom Horner (Horner Syndrome)?

 

Oculosympathetic palsy, Horner syndrome, atau sindrom Horner adalah kumpulan gejala yang timbul akibat kerusakan saraf simpatik pada area wajah dan mata. Nama sindrom Horner diambil dari nama seorang oftalmologis (dokter spesialis mata) yang berasal dari Swiss, yaitu Johann Friedrich Horner, yang pertama kali menemukan sindrom tersebut pada tahun 1869.

 

Sindrom Horner bisa dipicu oleh gangguan kesehatan lainnya, seperti stroke, tumor otak atau tulang belakang, dan cedera tulang belakang. Namun, pada beberapa kasus, penyebab dari sindrom Horner juga tidak dapat diketahui secara pasti.

 

Sindrom Horner adalah kondisi yang tergolong langka. Namun, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena bisa dialami oleh siapa pun dan kapan pun.

 

Penyebab Sindrom Horner

 

Penyebab utama sindrom Horner adalah kerusakan pada sistem saraf simpatik yang berfungsi untuk mengatur hal-hal yang memerlukan respons cepat terhadap perubahan di lingkungan sekitar, ukuran pupil mata, tekanan darah, denyut jantung, dan proses pengeluaran keringat. 

 

Pada dasarnya, terdapat tiga jalur neuron atau sel saraf yang turut dipengaruhi oleh sindrom Horner, di antaranya adalah:

  • Neuron tingkat I: Jalur neuron yang membentang dari hipotalamus dan melewati batang otak dan saraf tulang belakang bagian atas. Kerusakan pada jalur neuron ini dapat disebabkan oleh stroke, tumor, kista atau terdapat rongga pada tulang belakang, cedera leher, dan penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan pada selubung mielin atau lapisan pelindung sel saraf. 
  • Neuron tingkat II: Jalur neuron yang memanjang dari ruas tulang belakang, melewati area dada bagian atas, hingga ke bagian samping leher. Kerusakan neuron tingkat II biasanya disebabkan oleh kanker paru-paru, tumor pada selubung mielin (schwannoma), kerusakan pada pembuluh darah aorta, cedera pada dada atau leher, dan komplikasi dari operasi pada rongga dada.
  • Neuron tingkat III: Jalur saraf yang membentang dari bagian samping leher, dan berujung pada kulit wajah serta otot-otot pada kelopak mata dan iris. Kerusakan pada jalur saraf ini dapat terjadi akibat kerusakan pembuluh darah di sekitar leher, tumor atau infeksi pada bagian dasar tengkorak, migrain, dan sakit kepala cluster.

 

Sementara itu, sindrom Horner pada anak-anak biasanya disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darah aorta sejak lahir, tumor pada sistem saraf, serta cedera leher atau bahu yang terjadi saat proses persalinan.

 

Pada beberapa kasus, tidak diketahui secara pasti apa penyebab dari sindrom Horner sehingga kondisi ini juga dikenal dengan istilah sindrom Horner idiopatik.

 

Gejala Sindrom Horner

 

Umumnya, sindrom Horner hanya memengaruhi salah satu sisi wajah pengidapnya. Adapun tiga gejala utama yang terjadi pada sindrom Horner adalah sebagai berikut:

  • Pupil mata mengecil (miosis).
  • Terkulainya kelopak mata bagian atas (ptosis).
  • Anhidrosis atau tidak keluarnya keringat pada salah satu sisi wajah.

 

Di sisi lain, terdapat beberapa gejala tambahan yang mungkin dialami oleh penderita sindrom Horner berusia di bawah 2 tahun, yaitu:

  • Sisi wajah yang terdampak sindrom Horner tidak memerah (blushing) saat terkena sinar matahari, sedang emosi, ataupun melakukan aktivitas fisik berat.
  • Warna iris yang berbeda pada kedua mata (heterochromia).

 

Komplikasi Sindrom Horner

 

Sindrom Horner yang tidak segera ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya sejumlah komplikasi, seperti:

  • Gangguan penglihatan.
  • Lemah otot.
  • Nyeri leher.
  • Sakit kepala hebat yang terjadi secara tiba-tiba.
  • Gangguan keseimbangan tubuh.

 

Diagnosis Sindrom Horner

 

Penegakkan diagnosis sindrom Horner dapat diawali dengan melakukan wawancara medis (anamnesis) dengan pasien untuk mengetahui gejala serta riwayat cedera, riwayat penyakit, dan tindakan operasi yang pernah dijalani oleh pasien. Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa warna dan ukuran pupil yang tidak simetris, ptosis, keringat pada salah satu sisi wajah, dan gejala fisik lainnya.

 

Selain itu, untuk memastikan diagnosis dari kondisi yang menyebabkan sindrom Horner, terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang umum digunakan, yaitu:

  • Pemeriksaan mata dengan cara meneteskan obat tetes mata yang mengandung apraclonidine untuk melihat perubahan ukuran pupil mata. Jika pupil melebar setelah ditetesi apraclonidine, maka diagnosis sindrom Horner dapat dikonfirmasi.
  • Prosedur pencitraan, seperti rontgen, CT scan, USG, atau MRI untuk melihat gangguan atau kelainan struktur, perdarahan, dan tumor pada otak.
  • Paredrine test untuk mengetahui penyebab miosis yang memengaruhi jalur neuron ketiga (neuron yang berfungsi untuk melepaskan norepinephrine ke celah sinaps). 

 

Pengobatan Sindrom Horner

 

Pengobatan sindrom Horner dilakukan dengan menangani penyebab yang mendasarinya. Adapun beberapa tindakan medis yang dapat dilakukan untuk menangani sindrom Horner adalah:

  • Pemberian obat antibiotik atau antivirus untuk menangani infeksi yang menyebabkan sindrom Horner.
  • Obat pengencer darah, seperti aspirin, untuk menangani stroke.
  • Obat antiinflamasi untuk menangani peradangan yang misalnya dapat terjadi pada pasien dengan multiple sclerosis.
  • Tindakan angioplasti dan pemberian obat antiplatelet untuk menangani kerusakan pada pembuluh darah arteri di sekitar leher.
  • Tindakan pembedahan, kemoterapi, dan/atau radioterapi untuk menangani tumor atau kanker pada otak dan tulang belakang.

 

Cara Mencegah Sindrom Horner

 

Sindrom Horner adalah kondisi yang dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko penyebabnya. Adapun sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari risiko sindrom Horner adalah sebagai berikut:

  • Melakukan konseling genetik saat sedang merencanakan kehamilan untuk meminimalkan risiko penyakit keturunan, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan sindrom Horner.
  • Menggunakan alat pelindung diri saat berkendara ataupun bekerja di lapangan.
  • Menjalani pola hidup sehat sebaik mungkin, seperti mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, istirahat yang cukup, tidak merokok, dan rutin berolahraga untuk menghindari risiko stroke.

 

Sindrom Horner adalah kondisi yang perlu segera ditangani dengan tepat agar tidak memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Apabila Anda mengeluhkan gejala seperti ulasan di atas, segera buat janji temu dengan dokter Siloam Hospitals terdekat menggunakan fitur Cari Dokter. Tak perlu khawatir, dokter Siloam Hospitals telah berpengalaman di bidangnya sehingga dapat memberikan diagnosis dan tindakan medis yang tepat dan sesuai kondisi tubuh.


Selain itu, Anda juga dapat memanfaatkan aplikasi MySiloam untuk memudahkan akses berbagai layanan kesehatan dari Siloam Hospitals, mulai dari pesan paket medical check up, cek hasil pemeriksaan, check in mandiri, serta konsultasi dengan dokter secara virtual. Mari download MySiloam sekarang dan percayakan kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

Aplikasi My Siloam

Dokter Kami
dr-kelvin-yuwanda-spn

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Kelvin Yuwanda, SpN, CIPS, AIFO-K

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Kupang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-jerry-hartawan--sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Jerry Hartawan Saputra, SpN, M.Si.Med

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Putera Bahagia

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-dorothea-fortuna-meita-caturwulan-sps

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Dorothea Fortuna Meita Caturwulan, M.Kes, Sp.N, F.MIN, CIPS, FIPP

Neurologi (Otak dan Sistem Saraf)

Spesialis Neurologi


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail