Gangguan Kepribadian Skizoid - Penyebab dan Penanganannya
Kesehatan Mental

Gangguan Kepribadian Skizoid - Penyebab dan Penanganannya

09 Oktober 2025 4 menit waktu baca
Skizoid adalah

Schizoid personality disorder atau gangguan kepribadian skizoid adalah salah satu jenis gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya cenderung menghindari interaksi dan aktivitas sosial. Bahkan, sebagian penderita skizoid merasa kesulitan untuk menunjukkan berbagai macam ekspresi emosi, seperti marah, sedih, atau bahagia.

 

Mari kenali penyebab, gejala, cara mendiagnosis, serta penanganan skizoid selengkapnya melalui ulasan di bawah ini.

 

Apa itu Skizoid?

 

Gangguan kepribadian skizoid adalah kondisi ketika seseorang cenderung bersikap dingin dan tidak memiliki minat dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sosial atau menjalin hubungan dengan orang lain.

 

Meski memiliki nama yang serupa, skizoid adalah gangguan mental yang berbeda dengan skizofrenia. Skizoid adalah kondisi di mana seseorang tidak tertarik untuk berinteraksi sosial. Semantara itu, skizofrenia adalah gangguan mental yang membuat penderitanya tidak dapat membedakan antara khayalan dan realita.

 

Namun, dua kondisi tersebut biasanya memang menunjukkan gejala yang hampir mirip, misalnya seperti kesulitan untuk membangun hubungan sosial dan tidak dapat menunjukkan ekspresi emosi dengan baik.

 

Selain itu, skizoid juga merupakan gangguan mental yang berbeda dengan skizotipal (meski namanya hampir serupa). Gejala dari skizotipal ditandai dengan rasa enggan untuk berinteraksi sosial karena takut dan menganggap bahwa orang lain berbahaya (paranoid). Sementara itu, penderita skizoid suka menyendiri, tidak mempunyai respons emosional, dan tidak ingin menjalin hubungan sosial.

 

Penyebab Skizoid

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang menderita gangguan kepribadian skizoid. Namun, sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kepribadian skizoid adalah sebagai berikut.

 

  • Terdapat keluarga dengan riwayat gangguan kepribadian skizoid sebelumnya.

  • Pria diduga lebih berisiko mengalami gangguan kepribadian skizoid daripada wanita.

  • Mendapatkan pola asuh orang tua yang tidak baik semasa kecil, seperti mengabaikan anak atau tidak merespons kebutuhan emosional anak.

  • Trauma dengan kejadian masa lalu, misalnya seperti diabaikan oleh orang terdekat.

 

Gejala Skizoid

 

Adapun sejumlah gejala yang umum dialami oleh penderita gangguan kepribadian skizoid adalah sebagai berikut.

 

  • Lebih senang untuk melakukan aktivitas sendiri.

  • Tidak tertarik untuk menjalin hubungan sosial.

  • Tidak bergairah untuk menjalin hubungan romantis.

  • Tidak memiliki teman dekat.

  • Bersikap dingin saat berinteraksi dengan orang lain.

  • Tidak memedulikan orang lain.

  • Kesulitan untuk menunjukkan ekspresi emosi.

  • Tidak peduli dengan pujian atau kritikan dari orang lain.

  • Tidak adanya dorongan atau keinginan untuk mencapai tujuan.

  • Sering berkhayal atau berfantasi.

 

Komplikasi Skizoid

 

Penderita gangguan kepribadian skizoid dinilai lebih berisiko untuk mengalami sejumlah gangguan mental lainnya, di antaranya sebagai berikut.

 

 

Diagnosis Skizoid

 

Dalam menegakkan diagnosis skizoid, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui keluhan serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga pasien secara menyeluruh. Dokter juga akan melakukan evaluasi terhadap kondisi psikologis atau status mental pasien untuk mengonfirmasi diagnosis gangguan kepribadian skizoid.

 

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan masalah kesehatan lainnya. Selanjutnya, psikolog atau psikiater dapat menegakkan diagnosis dengan menyesuaikan seluruh hasil pemeriksaan terhadapn kriteria gangguan skizoid sesuai buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th Edition (DSM-5).

 

Penanganan Skizoid

 

Orang dengan gangguan kepribadian skizoid biasanya jarang mencari pengobatan karena mereka tidak merasa terbebani dengan pola pikir dan perilakunya. Namun, bila telah mengganggu aktivitas sehari-hari, gangguan kepribadian skizoid perlu segera ditangani dengan berbagai terapi psikologis yang dapat dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

 

Adapun sejumlah terapi psikologis yang umum dilakukan untuk menangani gangguan kepribadian skizoid adalah sebagai berikut.

 

1. Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

 

Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) adalah salah satu jenis psikoterapi yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku pasien ketika menghadapi suatu masalah.

 

Melalui terapi ini, psikolog atau psikiater akan mendengarkan segala keluhan, mengajak penderita untuk membuka perasaan terdalam, serta memberikan dukungan pada pasien yang kesulitan dalam membangun hubungan sosial. Dengan begitu, psikolog atau psikiater dapat membantu mengubah pola pikir dan perilaku tersebut secara perlahan.

 

2. Terapi Grup

 

Terapi grup merupakan pendekatan yang melibatkan sekelompok individu untuk membantu mengurangi pola pikir dan perilaku penderita gangguan kepribadian skizoid yang dianggap mengganggu. Terapi ini dapat membantu penderita untuk lebih terbuka dengan kondisinya serta meningkatkan kemampuan bersosialisasinya.

 

3. Farmakoterapi

 

Pada dasarnya, tidak ada jenis obat yang dapat menyembuhkan gangguan kepribadian skizoid sepenuhnya. Namun, psikiater atau dokter spesialis kejiwaan dapat meresepkan obat-obatan tertentu, seperti antidepresan dan anticemas, untuk membantu mengendalikan gejala yang kerap dialami oleh penderita skizoid.

 

Dapat disimpulkan, skizoid adalah gangguan kepribadian serius yang bisa memengaruhi kehidupan penderitanya. Jika Anda mengeluhkan gejala yang mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian skizoid, sebaiknya segera lakukan konseling dengan psikolog atau psikiater Siloam Hospitals melalui layanan Telekonsultasi untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.

 

Jika diperlukan dan direkomendasikan oleh psikolog atau psikiater, Anda dapat melakukan skrining kesehatan mental Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) yang tersedia di Siloam Hospitals. Skrining ini bertujuan untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk kecenderungan psikologis, emosi, dan perilaku. 

 

Untuk memudahkan, manfaatkan juga aplikasi MySiloam yang dapat digunakan untuk memesan paket kesehatan, cek hasil pemeriksaan, hingga antre secara online sebelum mengunjungi Siloam Hospitals terdekat. Mari jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam!

 

telechat

message

ArticleDetail