Trikomoniasis, Infeksi yang Jarang Disadari Gejalanya
Kesehatan Tubuh

Trikomoniasis, Infeksi yang Jarang Disadari Gejalanya

25 Juni 2025 5 menit waktu baca
trikomoniasis adalah

 

Trikomoniasis adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk ibu hamil yang berpotensi menularkan penyakit tersebut kepada bayi selama proses persalinan. Sayangnya, kondisi ini kerap tidak menimbulkan gejala tertentu sehingga sering kali tidak disadari oleh penderitanya.

 

Oleh karenanya, mari tingkatkan kesadaran terkait trikomoniasis dengan mengenal penyebab, gejala, diagnosis, hingga pengobatannya melalui artikel berikut.

 

Apa Itu Trikomoniasis?

 

Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual (sexually transmitted infections atau STIs) yang terjadi akibat infeksi parasit Trichomonas vaginalis. Penyakit ini dapat menyebar melalui kontak langsung dengan alat kelamin lewat air mani atau cairan vagina yang terinfeksi. Parasit trikomoniasis dapat bertahan di lingkungan lembap selama beberapa jam.

 

Apabila terjadi pada ibu hamil, trikomoniasis dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti kelahiran prematur atau melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Selain itu, penyakit ini juga bisa menular ke bayi selama proses persalinan.

 

Penyebab Trikomoniasis

 

Penyebab utama trikomoniasis adalah infeksi parasit Trichomonas vaginalis yang merupakan organisme motil dengan ukuran sebesar sel darah putih. Parasit ini memiliki empat flagela yaitu alat gerak yang berbentuk seperti benang atau cambuk yang panjang. Organisme ini akan melepaskan protein sitotoksik yang dapat merusak lapisan epitel.

 

Trikomoniasis dapat menyebar melalui hubungan intim atau penggunaan alat pendukung seks (sex toys) bersama orang lain. Selain itu, sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami trikomoniasis adalah:

 

  • Sering bergonta-ganti pasangan seksual.

  • Tidak menggunakan kondom saat berhubungan intim.

  • Pernah menderita trikomoniasis atau infeksi menular seksual lainnya.

 

Perlu diketahui bahwa trikomoniasis tidak dapat menular melalui percikan air liur penderitanya sehingga penyakit ini tidak menyebar hanya dengan berbagi alat makan atau minum, berciuman, berpegangan tangan, atau kontak fisik nonseksual lainnya.

 

Gejala Trikomoniasis

 

Dalam kebanyakan kasus, trikomoniasis tidak menimbulkan gejala tertentu (asimtomatik). Namun, penderitanya tetap bisa menularkan trikomoniasis kepada orang lain. Jika menimbulkan gejala, umumnya keluhan akan muncul 5–28 hari setelah terinfeksi. Pada wanita, trikomoniasis dapat menimbulkan gejala berupa:

 

  • Keputihan dalam jumlah banyak, berbau busuk, dan berbusa.

  • Keputihan berwarna kuning atau kehijauan.

  • Sensasi panas, gatal, dan kemerahan pada area genital.

  • Nyeri sebelum, saat, atau selama berhubungan seksual (dispareunia).

  • Rasa tidak nyaman pada perut bagian bawah.

  • Merasa ingin buang air kecil terus-menerus (gejala frekuensi urine).

  • Nyeri saat buang air kecil (disuria).

 

Sementara pada pria, trikomoniasis lebih jarang menimbulkan gejala. Namun, apabila menimbulkan gejala, beberapa keluhan yang dapat dialami oleh pria penderita trikomoniasis adalah:

 

  • Ujung penis terasa nyeri, gatal, bengkak, dan kemerahan.

  • Keluarnya cairan berwarna putih tipis dari penis.

  • Nyeri saat buang air kecil atau saat ejakulasi.

  • Lebih sering buang air kecil daripada biasanya (gejala frekuensi urine).

 

Komplikasi Trikomoniasis

 

Komplikasi trikomoniasis lebih rentan dialami oleh ibu hamil, terutama jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat dari dokter sesegera mungkin. Secara umum, beberapa komplikasi trikomoniasis yang berisiko dialami oleh ibu hamil adalah sebagai berikut.

 

  • Persalinan prematur.

  • Melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

  • Ketuban pecah dini.

  • Menularkan trikomoniasis ke bayi pada proses persalinan.

 

Selain itu, jika tidak kunjung ditangani, trikomoniasis juga bisa meningkatkan risiko seseorang terserang infeksi human immunodeficiency virus (HIV), yaitu virus yang dapat menyebabkan terjadinya acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Sementara pada laki-laki, komplikasi trikomoniasis mungkin termasuk epididimitis, prostatitis, dan infertilitas (kemandulan).

 

Diagnosis Trikomoniasis

 

Langkah pertama yang dapat dilakukan dokter dalam menegakkan diagnosis trikomoniasis adalah anamnesis (wawancara medis) dengan pasien untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, dan riwayat aktivitas seksual pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi gejala trikomoniasis yang muncul pada organ kelamin pasien.

 

Pada pasien wanita, dokter dapat melakukan pemeriksaan panggul untuk mengevaluasi area genital pasien lebih lanjut. Untuk membantu mengonfirmasi diagnosis trikomoniasis, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium pada sampel cairan vagina atau cairan yang keluar dari penis pasien.

 

Kriteria penegakkan diagnosis trikomoniasis berdasarkan pemeriksaan laboratorium sederhana adalah ditemukannya flagelata motil pada sediaan basah (larutan normal saline atau NaCl 0,9%) pada sampel cairan. Jika pasien menderita trikomoniasis, dokter mungkin juga akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi menular seksual (IMS) lainnya agar penyakit tersebut juga dapat diobati.

 

Pengobatan Trikomoniasis

 

Perlu diketahui bahwa trikomoniasis tidak bisa sembuh dengan sendirinya. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat bertahan selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Maka dari itu, penting bagi penderita trikomoniasis untuk mendapatkan penanganan medis sesegera mungkin.

 

Pengobatan trikomoniasis dapat dilakukan dengan pemberian obat antibiotik, seperti metronidazole. Namun, pelaksanaan terapi obat harus berdasarkan resep dari dokter yang akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Untuk mencegah infeksi berulang, pasangan seksual pasien juga perlu mendapatkan pengobatan yang sama meski tidak menjalani pemeriksaan terlebih dahulu.

 

Selama masa pengobatan, pasien tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual sampai dinyatakan sembuh. Pasien juga dianjurkan untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol selama 24 jam setelah mengonsumsi obat. Sebab, hal tersebut dapat memicu terjadinya efek samping berupa mual dan muntah.

 

Trikomoniasis umumnya akan sembuh dalam 7 hari setelah mendapatkan pengobatan. Namun, pasien tetap disarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin selama 3 minggu hingga 3 bulan setelah menjalani pengobatan guna memastikan dirinya tidak terinfeksi kembali.

 

Pencegahan Trikomoniasis

 

Trikomoniasis dapat dicegah dengan menerapkan praktik hubungan seksual yang aman. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko terjadinya trikomoniasis adalah sebagai berikut:

 

  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual.

  • Tidak bergonta-ganti pasangan seksual.

  • Tidak berbagi alat pendukung seks (sex toys) dengan orang lain dan membersihkannya secara rutin setiap selesai digunakan.

 

Perlu dipahami bahwa informasi yang disebutkan pada artikel ini bertujuan untuk edukasi semata dan tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari tenaga medis profesional. Gejala-gejala yang dijelaskan di atas pun tidak secara spesifik mewakili kondisi trikomoniasis mengingat kondisi tersebut juga dapat merujuk pada penyakit lainnya.

 

Apabila Anda mengalami gejala serupa, seperti keputihan abnormal, muncul rasa gatal pada area genital, dan kulit kemerahan di sekitarnya, segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh diagnosis yang akurat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan tindakan medis yang dilakukan di masing-masing rumah sakit mungkin akan berbeda, mengingat hal tersebut perlu disesuaikan dengan fasilitas medis yang tersedia. Tenaga medis profesional akan memastikan seluruh prosedur medis tersebut telah sesuai dengan kondisi medis spesifik pasien.

 

Gunakan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang mempermudah perjalanan kesehatan Anda.

 

Aplikasi My Siloam (1)

Dokter Kami
dr-marsia-rusfianti-spkk

Online & Kunjungi Rumah Sakit

dr. Marsia Rusfianti, SpKK, M.Kes

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Lippo Cikarang

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-armina-haramaini-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Armina Haramaini, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

dr-epi-panjaitan-msc-spkk

Kunjungi Rumah Sakit

dr. Epi Panjaitan, MSc, SpKK

Dermatologi (Kulit)

Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika


Siloam Hospitals Purwakarta

Tersedia :

Tersedia hari ini

message

ArticleDetail