Withdrawal Syndrome: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya
Kesehatan Mental

Withdrawal Syndrome: Penyebab, Gejala, dan Pengobatannya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
withdrawal syndrome adalah

Discontinuation syndrome atau withdrawal syndrome adalah sekumpulan gejala yang terjadi ketika seseorang yang ketergantungan obat atau zat tertentu mulai mengurangi atau berhenti menggunakan zat tersebut. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai jenis zat, seperti minuman beralkohol atau obat-obatan tertentu. Mari simak informasi selengkapnya mengenai withdrawal syndrome dalam artikel berikut ini.

 

Apa itu Withdrawal Syndrome?

 

Withdrawal syndrome atau putus obat adalah serangkaian gejala fisik dan mental yang dialami oleh seseorang setelah mengurangi atau berhenti menggunakan zat tertentu, seperti alkohol maupun obatan-obatan tertentu. Kondisi ini biasanya terjadi pada seseorang yang sudah ketergantungan dengan suatu zat kemudian berhenti menggunakan zat tersebut secara tiba-tiba.

 

Sindrom putus obat merupakan masalah medis yang cukup umum terjadi. Prevalensi gangguan penggunaan alkohol adalah sekitar 4,8% sampai 12,8% per tahun. Pasien yang mengalami withdrawal syndrome memiliki durasi rawat inap di rumah sakit yang lebih lama dan mortalitas yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak mengalami withdrawal syndrome.

 

Penyebab Withdrawal Syndrome

 

Pada dasarnya, tubuh dan otak manusia akan bekerja secara optimal untuk menjaga keseimbangan dan mempertahankan kondisi konstannya. Hal tersebut dikenal dengan homeostasis. Konsumsi suatu zat tertentu dalam jangka panjang dapat memengaruhi keseimbangan dan kondisi konstan ini, sehingga bisa membuat tubuh perlu menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut, termasuk mengubah kadar neurotransmitter tertentu di dalam otak.

 

Perlu diketahui, neurotransmitter merupakan molekul kecil yang membawa pesan antar sel saraf, jaringan, serta organ tubuh lain. Neurotransmitter berperan penting dalam proses pelepasan senyawa kimia tertentu yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi normal tubuh.

 

Jika seseorang yang sudah ketergantungan terhadap zat tersebut kemudian mengurangi atau menghentikan penggunaannya, tubuh akan kembali kehilangan keseimbangan sehingga turut memicu munculnya gejala putus obat atau withdrawal syndrome.

 

Adapun beberapa jenis zat atau obat-obatan yang dapat memicu terjadinya withdrawal syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Alkohol (withdrawal syndrome yang terjadi akibat alkohol dikenal dengan alcohol withdrawal syndrome atau gejala putus alkohol).

  • Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan withdrawal syndrome adalah sebagai berikut:, seperti:

    • Antidepresan.

    • Barbiturat (obat untuk menangani kejang, insomnia parah, atau gangguan kecemasan).

    • Opioid, obat untuk mengatasi nyeri seperti morfin, kodein, fentanil, dan lain-lain.

    • Stimulan, obat yang merangsang sistem saraf pusat (SSP) yang dapat meningkatkan aktivitas zat kimia tertentu di otak, seperti amfetamin, kokain, kafein dan nikotin.

  • Zat atau obat rekreasional, seperti:

    • Ganja.

    • Halusinogen.

    • Zat inhalansia (senyawa yang dihirup untuk merasakan sensasi melayang).

    • Heroin.

    • Nikotin.

    • Kokain.

 

Gejala Withdrawal Syndrome

 

Gejala withdrawal syndrome cenderung beragam, tergantung pada jenis zat atau obat-obatan yang digunakan, dosis, dan lama waktu penggunaannya. Namun, secara umum, beberapa gejala yang kerap terjadi ketika seseorang mengalami withdrawal syndrome adalah sebagai berikut:

 

  • Perubahan nafsu makan.

  • Perubahan suasana hati (mood).

  • Tubuh menggigil.

  • Hidung tersumbat.

  • Kelelahan.

  • Nyeri otot.

  • Mual dan/atau muntah.

  • Diare.

  • Berkeringat berlebihan.

  • Cemas dan gelisah.

  • Tremor.

  • Sulit tidur.

  • Iritabilitas.

  • Depresi.

  • Diare. 

 

Di samping itu, pada kasus yang lebih parah, withdrawal syndrome juga dapat menimbulkan gejala berupa halusinasi, kejang, hingga delirium (gangguan mental yang membuat penderitanya mengalami penurunan kemampuan berpikir dan berkonsentrasi).

 

Diagnosis Withdrawal Syndrome

 

Langkah pertama yang dapat dilakukan dokter untuk menegakkan diagnosis withdrawal syndrome adalah wawancara medis (anamnesis) terkait dengan keluhan, riwayat kesehatan, dan jenis obat-obatan yang sedang digunakan oleh pasien. Pemeriksaan fisik juga perlu dilakukan untuk mengevaluasi kondisi pasien secara keseluruhan.

 

Kemudian, beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk membantu mengonfirmasi diagnosis withdrawal syndrome adalah:

 

  • Tes darah, untuk:

    • Memeriksa kadar glukosa.

    • Analisis gas darah (arterial blood gas).

    • Hitung darah lengkap (complete blood count).

    • Memeriksa fungsi hati dan ginjal.

    • Memeriksa kadar elektrolit.

    • Memeriksa enzim jantung.

  • Tes urine, untuk memeriksa kadar keton.

  • Toxicology screening.

  • Pemeriksaan panel sindroma metabolik untuk mendeteksi asidosis, dehidrasi, penyakit ginjal, dan gangguan kesehatan lainnya yang terkait dengan ketergantungan alkohol.

  • Tes pencitraan, seperti CT scan kepala dan X-Ray dada.

  • Elektrokardiogram (EKG).

  • Pungsi lumbal, untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis (peradangan di selaput otak) atau perdarahan subarachnoid (perdarahan pada pembuluh darah yang berada di ruang antara otak dan lapisan arachnoid yang merupakan salah satu selaput pembungkus otak) yang dapat menimbulkan gejala menyerupai withdrawal syndrome.

  • Kultur darah, untuk menyingkirkan kemungkinan sepsis atau endokarditis yang dapat menimbulkan gejala yang menyerupai sindrom ini.

 

Pengobatan Withdrawal Syndrome

 

Pengobatan withdrawal syndrome dapat dilakukan sesuai dengan jenis zat atau obat-obatan yang menyebabkan munculnya sindrom tersebut. Pada kasus withdrawal syndrome yang berat dan mengancam jiwa, dokter akan melakukan pertolongan pertama kegawatdaruratan terlebih dahulu dengan menggunakan obat-obatan tertentu. Berikut uraian selengkapnya mengenai pengobatan withdrawal syndrome.

 

  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti:

    • Clonidine.

    • Chlordiazepoxide.

    • Buprenorphine.

    • Obat anticemas.

    • Obat antikonvulsan (anti kejang).

    • Antipsikotik.

  • Konseling dengan psikolog/psikiater untuk memperoleh dukungan psikis.

  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.

  • Rutin berolahraga.

  • Memperbanyak minum air putih.

  • Istirahat dan tidur yang cukup.

 

Perlu diketahui bahwa penyebab dan gejala yang disebutkan di atas tidak merepresentasikan withdrawal syndrome secara spesifik. Artinya, penyebab dan gejala tersebut juga dapat terjadi pada kondisi medis lainnya. Di samping itu, informasi di atas juga tidak bisa digunakan untuk menggantikan diagnosis maupun saran tindakan medis dari dokter.

 

Maka dari itu, guna mendapatkan diagnosis yang akurat dan penanganan yang tepat terkait dengan withdrawal syndrome, Anda dapat mengunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk melakukan konseling dengan Psikiatri berpengalaman.

 

Secara umum, setiap tahapan tindakan medis yang Anda jalani terkait dengan sindrom tersebut mungkin akan berbeda di setiap rumah sakit, tergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan seluruh prosedur medis yang dilakukan sesuai dengan kondisi tubuh pasien.


Anda juga dapat menggunakan layanan Telekonsultasi yang dapat memudahkan Anda dalam melakukan konsultasi langsung dengan dokter secara virtual. Layanan ini juga memungkinkan dokter untuk memberikan resep obat-obatan tertentu tanpa mengharuskan pasien keluar rumah. Namun, jika diresepkan obat tertentu, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

 

telechat (1)

message

ArticleDetail