Kesehatan Tubuh
Alami Aritmia Setelah Operasi, Normal atau Berbahaya?

Table of Contents
Setelah menjalani operasi, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi selama masa pemulihan. Pada sebagian pasien, proses penyesuaian ini dapat memengaruhi irama jantung dan menyebabkan jantung berdetak tidak teratur. Kondisi ini dikenal sebagai aritmia setelah operasi.
Meski sering kali bersifat sementara, gangguan irama jantung setelah operasi tetap perlu diperhatikan karena dapat menimbulkan keluhan dan meningkatkan risiko komplikasi tertentu. Untuk memahami penyebab, gejala, serta cara penanganannya, simak penjelasan berikut.
Apa Itu Aritmia Setelah Operasi?
Secara umum, aritmia adalah kondisi ketika detak atau irama jantung tidak teratur, baik terlalu cepat atau terlalu lambat. Kondisi ini bisa bersumber dari berbagai bagian jantung yang mengatur irama jantung. Salah satu jenis aritmia setelah operasi adalah postoperative atrial fibrillation (POAF), yaitu jenis gangguan irama jantung berupa fibrilasi atrium yang muncul pertama kali setelah operasi. Kondisi ini paling sering terjadi setelah tindakan bedah.
Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Journal of Surgery and Research (2022) menyebutkan bahwa aritmia setelah operasi bisa berlangsung selama 30 detik atau lebih, dan pada beberapa kasus disertai dengan gejala tertentu.
Penelitian dalam Biomedicines (2024) menyebutkan bahwa POAF merupakan komplikasi yang cukup sering terjadi setelah operasi jantung. Secara keseluruhan, kondisi ini dialami oleh sekitar 30% pasien pascaoperasi jantung. Risiko terjadinya POAF dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis operasi yang dijalani. Beberapa jenis operasi dengan risiko lebih tinggi antara lain:
-
Operasi bypass jantung.
-
Operasi aorta.
-
Operasi penggantian katup jantung.
-
Operasi kombinasi penggantian katup dan bypass jantung.
Penyebab dan Faktor Risiko Aritmia Setelah Operasi
Aritmia setelah operasi umumnya muncul pada fase awal pemulihan. Studi dalam Journal of Surgery and Research (2022) mencatat bahwa sekitar 90% kasus POAF terjadi dalam enam hari pertama setelah operasi. Namun, hingga saat ini, mekanisme pasti pemicu POAF belum sepenuhnya diketahui.
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko aritmia setelah operasi, antara lain:
-
Perubahan struktur pada serambi jantung (atrium) dan pembuluh vena paru-paru yang membawa darah dari paru-paru ke jantung.
-
Gangguan keseimbangan elektrolit juga dapat mengganggu sistem metabolisme dan kelistrikan jantung. Ketidakseimbangan elektrolit dapat mengganggu impuls listrik yang mengatur detak jantung, sehingga meningkatkan risiko terjadinya aritmia.
-
Riwayat kesehatan pasien seperti serangan jantung, hipertensi, gagal jantung, penebalan atau jaringan parut pada atrium (fibrosis atrium), penyakit jantung, obesitas, obstructive sleep apnea, penyakit tiroid, dan riwayat aritmia sebelumnya.
Gejala Aritmia Setelah Operasi
Aritmia terkadang tidak menimbulkan keluhan dan hanya terdeteksi melalui alat medis. Namun, secara umum, aritmia dapat menyebabkan beberapa gejala berikut ini:
-
Jantung berdebar-debar atau berdetak tidak teratur.
-
Rasa tidak nyaman atau cenderung nyeri di dada.
-
Sesak napas.
-
Sering pusing dan pingsan.
-
Mudah lelah.
-
Cemas.
-
Berkeringat.
-
Pingsan.
Diagnosis Aritmia Setelah Operasi
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan anamnesis (wawancara medis) mengenai tanda-tanda yang dialami pasien, serta riwayat medis pasien. Secara umum, metode diagnosis POAF sama dengan fibrilasi atrium.
POAF biasanya dikenali melalui temuan berikut:
-
Denyut nadi yang tidak teratur saat pemeriksaan fisik.
-
Irama jantung tidak normal saat didengarkan dengan stetoskop.
-
Temuan fibrilasi atrium pada EKG 12 sadapan.
-
Pemantauan irama jantung secara terus-menerus, terutama setelah operasi.
Pengobatan Aritmia Setelah Operasi
Pengobatan aritmia setelah operasi bertujuan untuk menjaga tekanan darah, denyut jantung, dan aliran darah ke organ vital tetap stabil dan aman selama masa pemulihan. Pendekatan pengobatan dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Pada banyak kasus, aritmia setelah operasi bersifat sementara dan dapat membaik seiring pulihnya kondisi tubuh. Namun, pada sebagian pasien, dokter dapat memberikan obat untuk membantu mengontrol irama jantung atau mencegah komplikasi:
-
Beta blocker.
-
Calcium channel blocker.
-
Amiodarone.
-
Obat antiinflamasi, seperti NSAID dan colchicine.
-
Suplemen magnesium.
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada satu obat yang cocok untuk semua pasien, sehingga pencegahan dan terapi perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan risiko masing-masing pasien. Apabila muncul gejala yang mengarah pada aritmia sehabis operasi, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Risiko Komplikasi Akibat Aritmia Setelah Operasi
Salah satu komplikasi yang bisa terjadi akibat aritmia setelah operasi adalah peningkatan risiko stroke. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan selama dan setelah dirawat di rumah sakit, terutama pada pasien berisiko tinggi. Pemantauan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan elektrokardiogram (EKG).
Adapun pemantauan ini bertujuan untuk membedakan apakah aritmia hanya bersifat sementara akibat stres operasi, atau merupakan fibrilasi atrium yang berulang, yang dapat menandakan adanya kecenderungan gangguan irama jantung dalam jangka panjang. Selain pemantauan EKG, dokter juga sering menggunakan sistem skor untuk menilai risiko stroke pada pasien dengan aritmia.
Kapan Perlu ke Rumah Sakit?
Pasien yang baru menjalani operasi dan merasakan gejala yang mengarah pada aritmia sebaiknya segera ke rumah sakit, terutama jika keluhan muncul secara mendadak, semakin berat, atau tidak kunjung membaik. Segera periksakan diri jika mengalami:
-
Sering pusing atau semakin memberat.
-
Pingsan.
-
Sesak napas.
-
Nyeri dada.
Sebagai informasi, tanda dan gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi aritmia setelah operasi. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengarah pada aritmia, seperti jantung terasa berdebar, pingsan berulang, sesak napas, nyeri dada, atau pusing, sebaiknya segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia di Siloam Hospitals terdekat untuk memperoleh penanganan yang sesuai.
Proses, metode, dan opsi pengobatan di setiap rumah sakit pun dapat berbeda, tergantung kondisi medis pasien serta fasilitas yang dimiliki. Oleh karena itu, saat memilih rumah sakit jantung terbaik, pastikan Anda mempertimbangkan rekomendasi yang terpercaya dan layanan kesehatan unggulan sebagai bagian penting dalam menentukan pilihan.
Selain itu, Siloam Hospitals Group menyediakan layanan Chest Pain Ready Hospitals yang dirancang untuk memberikan penanganan penyakit jantung secara #CepatTepat. Layanan ini didukung oleh unit terintegrasi yang beroperasi 24 jam, dokter spesialis jantung yang selalu siaga, fasilitas cath lab, serta perawat bersertifikasi dalam menangani kondisi kegawatdaruratan jantung.
Sumber
European Heart Journal - Cardiovascular Pharmacotherapy. Post-operative atrial fibrillation and stroke after non-cardiac surgery: a systematic review and meta-analysis. Diakses pada 2026 | Heart Surgery Forum. Comprehensive Review of Approaches to Postoperative AtrialFibrillation: Current Strategies and Future Directions. Diakses pada 2026 | Biomedicines. Postoperative Atrial Fibrillation: A Review. Diakses pada 2026 | Journal of Surgery and Research. Post-Operative Atrial Fibrillation: Current Treatments and Etiologies for a Persistent Surgical Complication. Diakses pada 2026 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Kadek Satrya Kurnia Suratna, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Siloam Hospitals Bekasi Sepanjang Jaya
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Rinaldi Agustinus Ulaan, SpJP
Kardiologi (Jantung)
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
Rumah Sakit Umum Siloam Lippo Village
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Magma Purnawan Putra, SpJP (K), FIHA, FESC
Kardiologi (Jantung)
Subspesialis Kardiologi Intervensi
Siloam Hospitals Kupang
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Paket Skrining Jantung Dewasa Muda (20-40 Tahun)
Skrining Jantung
10 Service/Item
Rp1.600.000
TERPOPULER
Paket Skrining Jantung Lansia (Di Atas 65 Tahun)
Skrining Jantung
16 Service/Item
Rp1.900.000
TERPOPULER
Paket Skrining Jantung Resiko Metabolik
Skrining Jantung
19 Service/Item
Rp2.200.000
TERPOPULER
Paket Skrining Jantung Aritmia
Skrining Jantung
13 Service/Item
Rp6.600.000
TERPOPULER
Paket Skrining Jantung Dewasa (41-64 Tahun)
Skrining Jantung
15 Service/Item
Rp1.700.000
TERPOPULER
Paket Skrining Jantung Olahraga
Skrining Jantung, Skrining Pelari
13 Service/Item
Rp2.000.000







