Kesehatan Tubuh
Obstructive Sleep Apnea (OSA) - Gejala dan Cara Mengatasinya

Table of Contents
Obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif adalah gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur. Kondisi ini disebabkan oleh adanya obstruksi atau sumbatan jalan napas, sehingga napas dapat berhenti sesaat.
Kondisi ini dapat menyebabkan penderitanya kekurangan oksigen hingga terbangun dari tidur karena merasa tercekik. Mari pahami lebih lanjut tentang penyebab, gejala, dan cara mengatasi OSA melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Obstructive Sleep Apnea (OSA)?
Obstructive sleep apnea atau OSA adalah gangguan tidur yang berkaitan dengan pernapasan (sleep disorder breathing) dan cukup umum terjadi. Seperti yang sudah dijelaskan, kondisi ini terjadi karena adanya obstruksi jalan napas yang biasanya disebabkan oleh mengendurnya otot-otot tenggorokan, sehingga dapat menghalangi atau menghambat jalan napas.
Hambatan pada jalan napas dapat menyebabkan kadar oksigen di dalam darah menurun, sehingga otak akan memunculkan respons bertahan hidup dengan cara memberi sinyal untuk bangun dari tidur agar bisa menghirup oksigen kembali.
OSA dapat terjadi berulang kali saat tidur, di mana salah satu gejala utamanya adalah mendengkur. Jika terjadi terlalu sering, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kualitas tidur penderitanya.
Bahkan, penderita juga mungkin mengalami sejumlah gejala lain yang dapat berdampak terhadap kesehatan jantung, mental, kualitas hidup, hingga keselamatan saat berkendara.
Penyebab Obstructive Sleep Apnea
OSA ditemukan pada hampir 1 miliar orang di seluruh dunia. Sebanyak 425 juta orang dewasa berusia 30–69 tahun menderita OSA derajat sedang hingga berat (sedikitnya terdapat 15 kejadian per jam).
Obstructive sleep apnea adalah jenis sleep apnea yang cukup umum terjadi dan ada banyak faktor yang dapat menjadi pemicunya.Seseorang dengan OSA bisa saja memiliki lebih dari satu faktor pemicu. Adapun beberapa faktor tersebut, di antaranya:
-
Kelebihan berat badan dan obesitas, di mana berat badan berlebih diketahui dapat meningkatkan tekanan di tenggorokan ketika tidur.
-
Usia, risiko OSA meningkat seiring bertambahnya usia.
-
Jenis kelamin, secara umum, pria memiliki kemungkinan 2 hingga 3 kali lebih besar untuk mengalami OSA dibandingkan wanita sebelum menopause . Namun, risiko OSA meningkat pada wanita setelah terjadinya menopause.
-
Penyebab struktural, seperti memiliki bentuk rahang bawah yang kecil (micrognathia) atau mengalami overbite akibat struktur penyusun tulang di rahang bawah terlalu mundur (retrognathia). Selain itu, seseorang dengan lidah, amandel, kelenjar gondok, dan lingkar leher yang besar juga berisiko untuk mengalami OSA.
-
Kondisi genetik, dapat memengaruhi bentuk kepala dan leher, seperti sindrom Prader-Willi atau down syndrome.
Di samping itu, obstructive sleep apnea juga dapat terjadi kepada orang dengan sejumlah kondisi berikut ini:
-
Obesity hypoventilation syndrome (gangguan pernapasan pada penderita obesitas).
-
Gangguan endokrin, seperti diabetes, hipotiroidisme, akromegali, dan PCOS.
-
Gangguan neuromuskular, seperti stroke.
-
Hipertensi
-
Penyakit paru-paru kronis, seperti asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronik).
Gejala Obstructive Sleep Apnea
Obstructive sleep apnea dapat memunculkan gejala yang beragam. Gejala tersebut bisa muncul ketika penderitanya tidur maupun sedang terjaga. Adapun beberapa gejala OSA yang biasanya muncul saat tidur adalah:
-
Mengorok saat tidur yang merupakan gejala utama OSA.
-
Terbangun dari tidur karena napas pendek dan tersedak.
-
Berhenti bernapas sesaat ketika tidur.
-
Berkeringat di malam hari.
-
Tidak merasa bugar setelah bangun tidur.
Sementara itu, sejumlah gejala yang dirasakan penderita OSA ketika terjaga adalah rasa kantuk di siang hari, lelah saat bangun tidur, perubahan mood, sakit kepala, disfungsi seksual, dan gangguan pada fungsi otak, seperti kesulitan berkonsentrasi.
Meski sering terjadi pada orang dewasa, tidak menutup kemungkinan bahwa OSA juga dapat dialami oleh anak-anak. Berikut adalah beberapa gejala obstructive sleep apnea yang terjadi pada anak-anak:
-
Mengalami masalah di sekolah, seperti sulit fokus dan prestasi yang menurun.
-
Mengorok keras.
-
Mengompol.
-
Sering menggerakkan lengan atau kaki saat tidur.
-
Nyeri ulu hati (heartburn) saat tidur.
-
Tidur dalam posisi yang tidak biasa.
-
Berkeringat di malam hari.
Diagnosis Obstructive Sleep Apnea
Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan wawancara medis atau anamnesis terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien. Kemudian, pasien dapat diminta untuk melakukan tes guna mengonfirmasi OSA. Terdapat dua tes yang paling umum digunakan dalam mendiagnosis OSA, di antaranya:
-
Overnight sleep study (polysomnogram). Pada pemeriksaan ini, pasien diminta tidur di “laboratorium tidur” yang sudah dirancang secara khusus dan dilengkapi dengan fasilitas kamar tidur pada umumnya agar pasien merasa nyaman. Tes ini melibatkan sensor yang dapat memantau detak jantung, pernapasan, kadar oksigen dalam darah, gelombang otak, dan lain-lain. Polysomnogram merupakan tes yang paling efektif dalam mendiagnosis semua jenis sleep apnea.
-
Home sleep apnea testing. Metode ini memungkinkan pasien untuk melakukan tes OSA dari rumah. Tes ini hampir sama dengan overnight sleep study, namun tidak melibatkan sensor untuk memantau gelombang otak dan lain-lain. Tes ini dilakukan untuk memantau sejumlah variabel dan mendeteksi jeda pernapasan saat tidur. Home sleep apnea testing dapat menentukan apakah seseorang masih mengalami OSA setelah terdiagnosis di awal.
Cara Mengatasi Obstructive Sleep Apnea
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi obstructive sleep apnea. Dokter akan menyesuaikan perawatan dengan tingkat keparahan serta penyebab yang mendasari OSA. Perlu diketahui bahwa pengobatan ini tidak menyembuhkan, namun dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya sleep apnea atau mengurangi frekuensinya.
1. Pengobatan Nonmedis
Meski pengobatan nonmedis tidak menyembuhkan, terapi ini dapat mengurangi OSA agar tidak terjadi lagi atau tidak cukup parah hingga menimbulkan gejala. Terapi nonmedis yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan berat badan (pada orang obesitas), mengganti posisi tidur, dan menggunakan nasal spray untuk mengurangi risiko dengkuran.
2. Positive Airway Pressure
Positive airway pressure dilakukan dengan menggunakan sebuah mesin yang dapat memberikan tekanan udara positif melalui alat yang dipasang di hidung atau mulut saat tidur. Mesin ini akan meningkatkan tekanan udara di dalam saluran napas saat Anda menarik napas, sehingga akan membuat tenggorokan tetap terbuka.
Terapi ini dapat mengurangi frekuensi henti napas saat tidur sekaligus mengurangi rasa kantuk di siang hari. Dengan begitu, kualitas tidur penderita menjadi lebih baik. Terdapat dua metode terapi dalam positive airway pressure, yaitu CPAP (continuous positive airway pressure) dan BPAP (bilevel positive airway pressure). BPAP biasanya dilakukan bila CPAP tidak efektif mengatasi OSA.
3. Oral Device
OSA dapat terjadi ketika jaringan lunak di kepala atau leher, terutama di sekitar mulut dan rahang, menekan batang tenggorokan ke arah bawah, sehingga akan menghalangi jalur napas. Untuk mengatasi hal ini, terdapat alat khusus (oral device) yang dapat digunakan untuk membantu menahan rahang dan lidah.
4. Operasi
Apabila kondisi OSA yang dialami pasien cukup parah dan tidak dapat diatasi dengan metode lain, maka dokter dapat menyarankan untuk menjalani tindakan operasi. Pembedahan pada hidung, mulut, dan tenggorokan dapat membantu mencegah penyumbatan pada bagian tersebut. Beberapa jenis operasi yang dilakukan untuk mengatasi OSA adalah:
-
Somnoplasty: Prosedur ini menggunakan frekuensi radio (RF) untuk mengurangi jaringan lunak di sekitar bagian atas tenggorokan.
-
Tonsillectomy/adenoidectomy: Operasi pengangkatan tonsil (amandel) dan adenoid.
-
UPPP (uvulopalatopharyngoplasty): Operasi untuk mengangkat uvula atau jaringan lunak berbentuk tetesan air mata yang menggantung di bagian belakang mulut. Operasi ini juga bertujuan menghilangkan jaringan lunak dari langit-langit dan faring sehingga lebih mudah untuk dilalui udara.
-
Operasi rahang: Untuk memperbaiki kelainan struktur dan posisi rahang guna mencegah OSA.
-
Operasi hidung: Salah satu jenis operasi hidung yang umum dilakukan adalah septoplasty. Prosedur tersebut dapat meluruskan jaringan lunak di hidung, sehingga memudahkan udara mengalir melalui hidung dan saluran hidung.
Itulah penjelasan mengenai obstructive sleep apnea yang perlu Anda pahami. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami beberapa keluhan yang mengarah ke kondisi tersebut. Kunjungi Siloam Hospitals terdekat untuk mendapatkan penanganan secara tepat.
Anda dapat memanfaatkan fitur Cari Dokter untuk memudahkan akses pelayanan kesehatan di Siloam Hospitals. Fitur tersebut telah dilengkapi dengan informasi mengenai jadwal dokter dan pembuatan janji temu dengan dokter terkait.
Siloam Hospitals juga menyediakan Paket Sleep Test - Homecare yang bertujuan untuk menemukan penyebab gangguan tidur yang Anda alami. Bila Anda sudah merasa cukup tidur, namun masih terus merasa letih, mengantuk, dan sulit berkonsentrasi, paket ini direkomendasikan untuk Anda.
Anda dapat memesan Paket Sleep Test - Homecare dengan mudah melalui aplikasi MySiloam. Selain itu, aplikasi MySiloam juga bisa digunakan untuk mendapatkan berbagai fitur kesehatan dengan lebih mudah dan cepat. Segera unduh aplikasinya sekarang dan jaga selalu kesehatan Anda #BersamaSiloam.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Agustinus Sony Yudianto, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ropi Affandi, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Emanuel Quadarusman, SpTHT-KL
Otorinolaringologi (THTBKL)
Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorok-Kepala-Leher
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp650.000
Paket Hidup Sehat 2 - Homecare
Tes Laboratorium & Medical Check Up Homecare
6 Service/Item
Rp875.000
TERPOPULER
Homecare Bugar
4 Service/Item
Rp800.000
TERPOPULER
Kunjungan Dokter Umum dan Perawat - Homecare
Kunjungan Dokter Umum
Rp1.100.000







