Gangguan Kepribadian Dependen - Gejala dan Cara Mengatasinya
Kesehatan Mental

Gangguan Kepribadian Dependen - Gejala dan Cara Mengatasinya

22 Agustus 2024 4 menit waktu baca
gangguan kepribadian dependen adalah

Dependent personality disorder (DPD) atau gangguan kepribadian dependen adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak berdaya dan tak mampu untuk melakukan berbagai hal secara mandiri. Kondisi ini mungkin saja membuat penderita merasa kesulitan untuk mengambil keputusan yang sederhana.

 

Apa itu Gangguan Kepribadian Dependen?

 

Gangguan kepribadian dependen atau dependent personality disorder (DPD) merupakan gangguan kepribadian yang membuat seseorang merasa cemas berlebihan saat melakukan berbagai hal sendirian. Kondisi ini membuat seseorang selalu merasa perlu diperhatikan dan terlalu bergantung pada orang lain.

 

DPD adalah salah satu jenis gangguan kepribadian yang termasuk dalam kelompok "Cluster C" personality disorder. Di mana, kelompok tersebut terdiri dari beberapa gangguan kepribadian yang akan melibatkan perasaan cemas dan takut yang berlebihan. Di samping itu, dependent personality disorder juga dapat terjadi dalam jangka waktu yang lama, bahkan bisa dimulai sejak masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa.

 

DPD juga sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder atau BPD), mengingat dua kondisi tersebut melibatkan gangguan interpersonal dan rasa takut ditinggalkan oleh orang terdekat. Namun, perlu digarisbawahi bahwa DPD dan BPD merupakan jenis gangguan kepribadian yang berbeda. 

 

BPD umumnya melibatkan perubahan suasana hati yang ekstrem, ketidakstabilan dalam hubungan, serta tindakan impulsif. Hal ini dapat membuat penderitanya memiliki rasa takut berlebihan saat ditinggalkan dan kesulitan untuk mengatur emosi. Sementara itu, DPD biasanya tidak melibatkan perubahan suasana hati dan tindakan impuslif. Penderita DPD cenderung bersikap pasif dan patuh karena tidak ingin menimbulkan konflik dalam hubungannya. 

 

Penyebab Gangguan Kepribadian Dependen

 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab utama seseorang mengalami dependent personality disorder. Namun, para ahli menduga bahwa kondisi ini dapat dipicu oleh kombinasi dari faktor biologis, perkembangan, emosional, dan psikologis. Selain itu, sejumlah kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kepribadian ini adalah sebagai berikut:

 

  • Pernah menjadi korban kekerasan.
  • Trauma masa kecil.
  • Faktor genetik. Seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat DPD berisiko lebih tinggi mengalami kondisi yang serupa.
  • Pengaruh lingkungan dan budaya. Beberapa orang dapat mengalami DPD karena pengaruh budaya yang menekankan ketergantungan terhadap suatu otoritas atau kekuasaan. 
  • Pola asuh orang tua yang otoriter. 

 

Gejala Gangguan Kepribadian Dependen

 

Pada dasarnya, orang dengan gangguan kepribadian dependen akan terlalu bergantung kepada kerabat dan sering menghabiskan waktu untuk menyenangkan orang lain. Di samping itu, beberapa gejala umum dari gangguan kepribadian dependen adalah sebagai berikut: 

 

  • Kesulitan untuk mengambil keputusan sederhana, seperti baju apa yang harus dikenakan. 
  • Cenderung membutuhkan nasihat dan arahan dari orang lain secara terus-menerus. 
  • Kesulitan untuk memulai suatu pekerjaan sendiri.
  • Kurang berinisiatif. 
  • Merasa sangat takut karena tidak bisa mengurus diri sendiri. 
  • Menghindari mengungkapkan ketidaksetujuan yang dapat menimbulkan konflik dalam hubungan karena takut kehilangan orang terdekat.
  • Merasa tidak nyaman saat sendirian.
  • Cenderung berinteraksi dengan segelintir orang terdekat yang menjadi sandarannya.
  • Mudah merasa sakit hati jika mendapatkan kritik.
  • Fokus terhadap rasa takut akan ditinggalkan.
  • Menjadi sangat pasif dalam hubungan.
  • Merasa sangat kesal atau tidak berdaya ketika hubungan dengan orang terdekatnya berakhir. 

 

Diagnosis Gangguan Kepribadiaan Dependen

 

Secara umum, kepribadian setiap individu akan terus berkembang selama masa kanak-kanak hingga remaja. Karena itu, gangguan kepribadian dependen biasanya baru terdiagnosis setelah berusia 18 tahun. Dalam hal ini, dokter memerlukan bukti bahwa pola perilaku tersebut telah bertahan lama dan tidak berubah seiring dengan berjalannya waktu.

 

DPD cenderung sulit untuk didiagnosis. Pasalnya, penderita kondisi ini biasanya tidak merasa ada masalaah dengan perilaku dan cara berpikirnya. Namun, untuk menegakkan diagnosis gangguan kepribadian dependen, dokter dapat melakukan wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan fisik guna menyingkirkan kemungkinan penyakit fisik yang mendasari keluhan pasien. 

 

Setelah itu, dokter umum dapat merujuk pasien ke psikolog atau dokter spesialis kedokteran jiwa (psikater) untuk mengevaluasi kondisi psikis pasien secara lebih lanjut. Kemudian, hasil evalasi tersebut akan disesuaikan dengan kriteria gangguan kepribadian dependen berdasarkan buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5 (DSM-5).

 

Cara Mengatasi Gangguan Kepribadian Dependen

 

Pengobatan gangguan kepribadian dependen cenderung sulit dilakukan karena orang dengan kondisi ini biasanya memiliki pola pikir daan perilaku yang telah melekat selama bertahun-tahun. Namun, perawatan DPD umumnya akan efektif jika melibatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Di samping itu, dokter juga bisa melakukan terapi psikologis atau psikoterapi untuk menangani DPD. Adapun dua jenis psikoterapi yang umum dilakukan adalah:

 

  • Psychodynamic therapy: Terapi ini dilakukan dengan mengevaluasi pola perilaku yang bermasalah sekaligus membantu pasien untuk lebih memahami diri sendiri. Melalui terapi ini, dokter juga bisa membantu pasien untuk menumbuhkan kepercayaan diri. 
  • Cognitive behavioral therapy (CBT): Terapi untuk membantu pasien dalam memahami dan mengubah pola pikir serta perilaku ke arah yang lebih sehat. Dalam menangani DBD, CBT berfokus pada pemeriksaan rasa takut pasien untuk melakukan sesuatu secara mandiri dan bersikap asertif. 

Selain itu, dokter mungkin juga akan meresepkan obat-obatan tertentu apabila DPD disertai dengan gangguan mental lain, seperti depresi atau anxiety disorder.

 

Komplikasi Gangguan Kepribadian Dependen

 

Penderita DPD cenderung berisiko mengalami gangguan kesehatan mental lain, seperti depresi, anxiety disorder, fobia, hingga penyalahgunaan zat. Selain itu, penderita DPD juga rentan mengalami kekerasan atau pelecehan karena mereka mungkin saja bersedia melakukan apa pun demi mempertahankan hubungannya. 

 

Penanganan gangguan kepribadian dependen perlu dilakukan dengan tepat dan sedini mungkin agar tidak berdampak pada kualitas hidup penderitanya. Maka dari itu, bila mengalami kondisi yang mengarah pada gangguan kepribadian ini, sebaiknya segera lakkan konseling dengan Psikiatri di Siloam Hospitals. 

 

Anda juga bisa memanfaatkan layanan Telekonsultasi yang memungkinkan pasien untuk memperoleh saran perawatan serta resep obat-obatan dari dokter tanpa harus keluar rumah. Namun, apabila diresepkan obat-obatan tertentu, seperti antidepresan dan antipsikotik, pasien wajib mengambilnya secara langsung.

 

telechat (1)

message

ArticleDetail