Kesehatan Mental
Gangguan Stres Akut - Penyebab, Gejala, & Pengobatannya

Table of Contents
Gangguan stres akut atau acute stress disorder adalah stres yang biasanya terjadi dalam waktu satu bulan setelah mengalami peristiwa traumatis, misalnya bencana alam, penculikan, dan lain sebagainya. Kondisi ini bisa berkaitan dengan PTSD atau gangguan pascatrauma, namun terdapat perbedaan di antara keduanya. Mari pahami lebih lanjut mengenai gangguan stres akut melalui ulasan di bawah ini.
Apa itu Gangguan Stres Akut?
Seperti yang sudah dijelaskan, gangguan stres akut (acute stress disorder/ASD) merupakan gejala stres jangka pendek yang biasanya muncul dalam waktu sekitar 1 bulan setelah mengalami peristiwa yang menyebabkan trauma. Kondisi ini sering kali dikaitkan dengan PTSD (post-traumatic stress disorder). Namun, keduanya merupakan diagnosis yang berbeda.
Tidak seperti PTSD, ASD adalah kondisi sementara yang gejalanya biasanya bertahan setidaknya selama 3 hari hingga 4 minggu setelah kejadian traumatis. Jika seseorang mengalami gejala selama lebih dari 4 minggu, hal tersebut sudah dapat memenuhi kriteria diagnosis PTSD.
Penyebab Gangguan Stres Akut
Tidak diketahui secara jelas mengapa orang memiliki respons secara berbeda terhadap peristiwa traumatis. Namun, mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan satu atau lebih peristiwa traumatis baik secara fisik, mental, maupun seksual dapat menyebabkan ASD. Beberapa contoh peristiwa traumatis yang dapat memicu terjadinya acute stress disorder adalah:
-
Bencana alam, misalnya kebakaran atau angin puting beliung.
-
Kekerasan seksual.
-
Kekerasan fisik.
-
Pelecehan.
-
Kecelakaan yang serius.
-
Cedera parah.
-
Kematian seseorang.
Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan stres akut, di antaranya:
-
Mempunyai riwayat kondisi kesehatan mental.
-
Kekhawatiran berlebih akan bencana.
-
Gaya coping mechanism yang cenderung menghindar.
-
Memiliki support system yang minim.
-
Gangguan stres akut lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Gejala Gangguan Stres Akut
Gejala gangguan stres akut pada setiap orang bisa berbeda-beda. Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition, stres akut dapat menimbulkan gejala dalam berbagai bentuk, seperti gejala intrusi (mengingat kembali peristiwa traumatis), gejala disosiatif, mood negatif, gejala penghindaran (avoidance), dan gejala arousal. Berikut masing-masing penjelasannya.
Gejala intrusi (mengingat kembali peristiwa traumatis):
-
Munculnya kenangan yang mengganggu secara berulang dan tidak sengaja dari peristiwa traumatis.
-
Mimpi buruk yang berulang-ulang dan berkaitan dengan peristiwa traumatis.
-
Bertindak seolah-olah peristiwa traumatis tersebut berulang kembali.
-
Tekanan psikologis yang intens dan berkepanjangan.
-
Memunculkan reaksi fisiologis yang melambangkan atau menyerupai aspek peristiwa traumatis.
Gejala disosiatif:
-
Merasa mati rasa atau tidak responsif secara emosional.
-
Berkurangnya kesadaran akan lingkungan sekitar.
-
Derealisasi, kondisi ketika seseorang merasa lingkungan sekitarnya tampak aneh atau tidak nyata.
-
Depersonalisasi, kondisi ketika pikiran atau emosi tidak tampak nyata.
-
Amnesia disosiatif, kondisi saat penderita tidak bisa mengingat atau beberapa aspek dari peristiwa traumatis yang dialami yang tidak disebabkan atau tidak dapat dikaitkan dengan kondisi intoksikasi maupun cedera otak traumatis.
Suasana hati (mood) yang negatif:
-
Ketidakmampuan untuk memiliki emosi yang positif, seperti bahagia, puas, dan merasa dicintai.
Gejala penghindaran (avoidance):
-
Upaya menghindari ingatan, pikiran, atau perasaan yang menyedihkan terkait dengan peristiwa traumatis.
-
Upaya untuk menghindari hal-hal yang mengingatkan penderita terhadap peristiwa traumatis.
Gejala arousal:
-
Gangguan tidur.
-
Mudah tersinggung dan marah.
-
Kewaspadaan yang berlebihan.
-
Gangguan konsentrasi.
-
Respons kaget yang berlebihan.
Diagnosis Gangguan Stres Akut
Tidak ada pemeriksaan penunjang khusus untuk mendiagnosis gangguan stres akut. Diagnosis ASD bersifat klinis yang ditegakkan berdasarkan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui riwayat pasien dan pemeriksaan fisik.
Biasanya, diagnosis akan tegak ketika dokter sudah melakukan penilaian psikososial secara menyeluruh. Dalam hal ini, dokter akan bertanya mengenai gejala-gejala dan riwayat medis serta mental pasien. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada pasien.
Dokter akan menggunakan kriteria dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5) untuk mengonfirmasi diagnosis acute stress disorder. Selain itu, dokter dapat menggunakan kuesioner psikometri cepat untuk menganalisis ASD pada anak-anak dan dewasa, beberapa diantaranya seperti The Child Stress Reaction Checklist (CSDC) untuk anak usia 2 hingga 18 tahun.
Pengobatan Gangguan Stres Akut
Pengobatan utama untuk gangguan stres akut adalah psikoterapi yakni melalui terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Salah satu jenis CBT, yaitu trauma-focused CBT diketahui sangat efektif untuk mengatasi trauma. Terapi ini akan dilakukan oleh terapis profesional yang terlatih dan berlisensi, seperti psikolog atau psikiater (dokter spesialis kedokteran jiwa). Trauma-focused CBT melibatkan:
-
Mempelajari tentang bagaimana tubuh merespons trauma dan stres.
-
Keterampilan manajemen gejala.
-
Mengidentifikasi dan membingkai ulang pola berpikir yang salah.
-
Terapi paparan (exposure therapy). Terapi paparan adalah metode CBT yang dilakukan dengan memaparkan pasien terhadap terhadap sumber traumatis. Terapi ini akan dilakukan secara bertahap dengan tujuan untuk membantu pasien menghilangkan memori trauma dengan meniru hilangnya rasa takut. Terapi paparan adalah standar perawatan untuk ASD dan PTSD.
Saat ini belum terdapat bukti yang cukup tinggi mengenai pemberian obat farmakoterapi untuk pengobatan ASD. Obat seperti golongan serotonin reuptake inhibitor (SRI) dan propranolol telah diuji coba untuk mencegah atau mengobati gejala ASD tetapi hanya menunjukkan sedikit bukti terkait efektivitas obat tersebut.
Karena kemiripan gejala ASD dengan PTSD, psikiater biasanya memberikan obat-obatan yang dipakai pada penderita PTSD. Beberapa obat yang dapat digunakan adalah:
-
Obat golongan serotonin reuptake inhibitor (SRI), termasuk selective serotonin reuptake inhibitors/SSRIs (fluoxetine, sertraline, paroxetine) dan serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors/SNRIs (venlafaxine).
-
Second-generation antipsychotics (SGAs).
-
Benzodiazepine.
-
Beta-blockers.
Gangguan stres akut adalah masalah mental yang perlu diatasi sesegera mungkin guna mencegah penurunan kualitas hidup penderitanya. Untuk itu, bila Anda atau kerabat Anda mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada kondisi mental ini, jangan ragu untuk melakukan konseling dengan Psikiatri di Siloam Hospitals.
Jangan khawatir bila Anda berhalangan untuk pergi ke rumah sakit, karena melalui aplikasi MySiloam, Anda bisa melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater secara virtual menggunakan layanan Telekonsultasi. Namun, jika diresepkan beberapa jenis obat, seperti antipsikotik dan antidepresan, pasien wajib melakukan self pick-up atau mengambil secara langsung.
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Lippo Cikarang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini







