Ibu dan Anak
Inflammatory Bowel Disease pada Anak, Ini Gejalanya!

Table of Contents
Masalah pencernaan pada anak sering kali dianggap sepele, misalnya diare, alergi, atau gangguan makan ringan. Namun, keluhan seperti sakit perut, diare berkepanjangan, atau berat badan yang tak kunjung naik bisa saja menjadi gejala dari penyakit serius, seperti inflammatory bowel disease (IBD)? Sebagai langkah antisipasi, mari pahami gejala inflammatory bowel disease pada anak melalui ulasan di bawah ini.
Apa Itu Inflammatory Bowel Disease pada Anak?
Inflammatory bowel disease pada anak adalah kondisi ketika saluran pencernaan mengalami peradangan kronis. Kondisi ini perlu segera mendapatkan penanganan karena dapat menyebabkan kerusakan pada usus. Inflammatory bowel disease terbagi menjadi dua jenis, yaitu penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.
Penyakit Crohn dapat terjadi pada bagian mana pun dari sistem pencernaan, mulai dari mulut hingga anus, namun yang paling sering terlibat adalah usus halus hingga bagian awal dari usus besar. Sementara pada kolitis ulseratif, peradangan biasanya hanya melibatkan usus besar (kolon).
Penting untuk diketahui bahwa inflammatory bowel disease dan irritable bowel syndrome adalah dua kondisi yang berbeda. Namun, keduanya menunjukkan gejala yang hampir sama sehingga sering disalahartikan. Kendati gejalanya hampir sama, kedua kondisi ini memiliki penyebab dan pengobatan yang berbeda.
Penyebab Inflammatory Bowel Disease pada Anak
IBD pada anak tidak disebabkan oleh infeksi melainkan dipicu oleh gangguan atau penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh memberikan respons yang berlebihan hingga menyebabkan usus mengalami kerusakan. Sebuah literature review berjudul Archives of Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (2024) menyebutkan bahwa beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko inflammatory bowel disease pada anak adalah sebagai berikut:
-
Faktor genetik: Beberapa orang memiliki faktor keturunan atau genetik yang berperan dalam terjadinya inflammatory bowel disease. Kecenderungan genetik ini dapat menyebabkan gangguan pada lapisan pelindung usus dan menimbulkan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlangsung lama. Faktor genetik yang berkaitan dengan IBD adalah mutasi perubahan pada gen NOD2, CARD9, dan CLEC7A, serta genetik berupa single-nucleotide polymorphism (SNP) pada gen IL-23R.
-
Mikrobiota usus: Perubahan keseimbangan bakteri baik di dalam usus dapat menyebabkan gangguan yang disebut disbiosis. Kondisi ini dapat mengganggu fungsi imun mukosa hingga berkontribusi pada perkembangan penyakit radang usus.
-
Faktor lingkungan: Secara khusus, beberapa faktor seperti kelahiran melalui vagina, berusia di atas 10 tahun, kurangnya aktivitas fisik, rendahnya asupan buah-buahan, dan paparan antibiotik berkaitan dengan meningkatnya risiko IBD pada anak-anak.
Gejala Inflammatory Bowel Disease pada Anak
Jurnal berjudul Pediatric inflammatory bowel disease: What’s new and what has changed? menunjukkan bahwa gejala inflammatory bowel disease pada anak lebih berat dan luas dibandingkan dengan orang dewasa. Secara umum, gejala inflammatory bowel disease (baik penyakit Crohn atau kolitis ulseratif) pada anak adalah sebagai berikut:
-
Nyeri perut.
-
Diare.
-
Penurunan berat badan.
Penderita kolitis ulseratif diketahui lebih sering mengalami diare berdarah, sedangkan penderita penyakit Crohn cenderung mengalami diare tanpa darah, gangguan pertumbuhan, serta peradangan pada sendi, kulit, mata, mukosa mulut, atau hati.
Diagnosis Inflammatory Bowel Disease pada Anak
Diagnosis IBD pada anak perlu dilakukan sejak dini untuk mencegah keterlambatan pertumbuhan atau pubertas. Sebelum menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan anamnesis (wawancara medis) dengan pasien dan orang tua mengenai gejala dan riwayat kesehatan. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, terutama pada area perut (abdomen).
Selanjutnya, untuk menegakkan diagnosis inflammatory bowel syndrome pada anak, dokter biasanya menggunakan pemeriksaan penunjang, seperti:
-
Tes darah: Pemeriksaan ini dilakukan untuk memantau perkembangan penyakit dan efek dari pengobatan. Tes darah biasanya mencakup:
-
Hitung darah lengkap.
-
Enzim hati.
-
Kadar erythrocyte sedimentation rate (ESR) and c-reactive protein (CRP) untuk mendeteksi peradangan.
-
Pemeriksaan feses: Pemeriksaan ini dilakukan dapat membantu membedakan IBD dari penyebab nyeri perut atau diare lainnya.
-
Pemeriksaan pencitraan: Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat adanya peradangan atau memeriksa kemungkinan komplikasi menggunakan CT scan, MRI, atau upper GI series.
-
Esophagogastroduodenoscopy (EGD): Prosedur ini dilakukan untuk memeriksa lapisan kerongkongan, lambung, dan duodenum (bagian awal usus halus). Pemeriksaan bertujuan untuk mendeteksi adanya kemerahan, pembengkakan, perdarahan, luka, atau infeksi. Selama prosedur, dokter dapat mengambil sampel jaringan (biopsi) untuk dianalisis lebih lanjut di bawah mikroskop.
-
Kolonoskopi: Prosedur untuk memeriksa seluruh bagian usus besar. Dokter akan memeriksa kemerahan, pembengkakan, perdarahan, luka, atau infeksi pada dinding usus, serta mengambil sampel biopsi untuk dianalisis lebih lanjut.
Pengobatan Inflammatory Bowel Disease pada Anak
Pengobatan inflammatory bowel disease pada anak cukup variatif. Pilihan pengobatan ini mencakup terapi nutrisi, obat antiinflamasi, imunomodulator, terapi biologis, dan terapi molekul kecil. Pada kebanyakan kasus, dokter merekomendasikan terapi kombinasi untuk mengurangi pembentukan antibodi terhadap obat biologis atau sebagai terapi tambahan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.
Menurut jurnal berjudul Venous Thromboembolic Complications in Pediatric Gastrointestinal Diseases: Inflammatory Bowel Disease and Intestinal Failure (2022), anak dengan inflammatory bowel disease perlu diberi pengobatan secepatnya. Kondisi ini diketahui dapat meningkatkan risiko venous thromboembolism (VTE). VTE bisa menyebabkan emboli paru, sepsis dan infeksi kateter sentral, stroke, hingga sindrom pascatrombotik.
Sebagai informasi, penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi inflammatory bowel disease pada anak. Dengan kata lain, tanda dan gejala tersebut bisa serupa dengan kondisi medis lainnya, sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pediatrik Subspesialis Gastrohepatologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Namun, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang Anda jalani terkait kondisi ini mungkin berbeda di satu fasilitas kesehatan dengan yang lain. Tenaga medis akan menentukan tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat sesuai dengan kondisi medis setiap pasien.
Untuk membuat janji temu dengan dokter terkait, Anda bisa memanfaatkan fitur yang tersedia di aplikasi MySiloam. Melalui aplikasi ini, Anda juga dapat melihat riwayat kesehatan secara online. Mari unduh aplikasi MySiloam sekarang untuk menikmati berbagai fitur yang memudahkan perjalanan kesehatan Anda.
Sumber
Archives of Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (APGHN). Inflammatory Bowel Disease in Children. Diakses pada 2025 | Pediatrics & Child Health. Pediatric inflammatory bowel disease: What’s new and what has changed?. Diakses pada 2025 | UC DAVIS Health. Guide to pediatric inflammatory bowel disease. Diakses pada 2025 | Johns Hopkins Medicine. IBD in Children: Answers from a Pediatric Gastroenterologist Maria-Oliva Hemker. Diakses pada 2025 | Frontiers Pediatric. Venous Thromboembolic Complications in Pediatric Gastrointestinal Diseases: Inflammatory Bowel Disease and Intestinal Failure. Diakses pada 2025 | American Academy of Pediatric. Pediatric Inflammatory Bowel Disease. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Siloam Sriwijaya Palembang
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Ifo Faujiah Sihite, M.Ked (Ped), SpA
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Jambi
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Anggun Kusumasari, SpA, MSc, AIFO-K
Pediatrik (Anak)
Spesialis Ilmu Kesehatan Anak
Siloam Hospitals Balikpapan
Tersedia :
Tersedia hari ini






