Kesehatan Tubuh
Inkontinensia Urine Pada Ibu Hamil, Begini Cara Menanganinya

Table of Contents
Inkontinensia urine pada ibu hamil adalah kondisi ketika terjadi kebocoran urine secara tidak sengaja. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh tekanan berlebih pada kandung kemih akibat perubahan fisik selama kehamilan. Meski sering dianggap wajar, kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari sehingga penting untuk memahami bagaimana cara mengatasinya. Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Inkontinensia Urine pada Ibu Hamil?
Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan mengontrol kandung kemih. Inkontinensia urine menimbulkan rasa ingin buang air kecil yang mendesak dan frekuensi buang air kecil menjadi lebih sering. Masalah inkontinensia urine dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk kehamilan. Inkontinensia urine pada ibu hamil biasanya bersifat sementara dan dapat kembali normal dalam beberapa bulan setelah bayi lahir atau kehamilan berakhir.
Perubahan fisiologis selama kehamilan, seperti peningkatan tekanan abdomen, peningkatan kadar progesteron, serta cedera dasar panggul, dapat membuat ibu hamil lebih rentan mengalami inkontinensia urine. Akibatnya, lebih dari separuh perempuan mengalami inkontinensia urine selama kehamilan dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga. Inkontinensia urine pada ibu hamil merupakan prediktor kuat inkontinensia urine pascapersalinan.
Jurnal dalam Health and Quality of Life Outcomes (2022) menyebutkan bahwa inkontinensia urine banyak dialami oleh wanita hamil. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti riwayat inkontinensia sebelum hamil, persalinan pervaginam, konsumsi kopi, enuresis atau riwayat mengompol saat kecil, dan riwayat infeksi saluran kemih, diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine selama kehamilan.
Jenis Inkontinensia Urine pada Ibu Hamil
Jenis inkontinensia urine yang paling umum terjadi pada ibu hamil adalah stress urinary incontinence (SUI). Hal ini didukung oleh penelitian dalam BMC Journal (2024) yang menunjukkan bahwa stress urinary incontinence merupakan inkontinensia yang paling sering terjadi pada ibu hamil. Pada kondisi SUI, urine dapat menetes atau keluar saat:
-
Batuk atau bersin.
-
Tertawa
-
Aktivitas fisik.
Ibu hamil juga dapat mengalami urge urinary incontinence (UUI). Pada kondisi UUI, otot kandung kemih berkontraksi tanpa terkendali sehingga dapat menimbulkan dorongan untuk berkemih secara tiba-tiba. Kondisi ini ditandai dengan dorongan mendesak untuk buang air kecil, tetapi urine sudah keluar sebelum tiba di toilet.
Penyebab Inkontinensia Urine pada Ibu Hamil
Selama kehamilan, tubuh mengalami perubahan untuk mendukung pertumbuhan janin. Namun, hal ini juga memengaruhi kandung kemih. Rahim berada di belakang kandung kemih sehingga janin yang berkembang dapat menekan atau mendesak kandung kemih dan membuat kapasitasnya berkurang.
Peningkatan hormon progesteron selama kehamilan dapat menyebabkan otot dasar panggul yang menopang kandung kemih menjadi lebih longgar dan lemah. Pada dasarnya, hal ini bertujuan untuk membuat otot-otot tersebut lebih fleksibel yang memungkinkan tubuh beradaptasi dengan perkembangan janin dan proses persalinan. Namun, melemahnya otot tersebut bisa membuat kandung kemih lebih sulit menahan urine saat muncul dorongan buang air kecil.
Selain itu, persalinan pervaginam juga dapat menimbulkan masalah kontrol kandung kemih karena beberapa kondisi berikut ini:
-
Kerusakan saraf panggul.
-
Cedera saat persalinan.
-
Cedera akibat mengejan terlalu lama.
-
Prolaps organ panggul. Sebagai informasi, otot panggul dapat melemah selama proses kehamilan atau persalinan pervaginam dan kehilangan kemampuannya dalam menopang organ dalam panggul, sehingga kandung kemih dapat menjadi turun atau menggantung (sistokel) yang berpotensi menyebabkan inkontinensia.
Sebuah studi berjudul Maternal Risk Factors of Urinary Incontinence during Pregnancy and Postpartum: A Prospective Cohort Study (2022) menyebutkan bahwa inkontinensia urine selama kehamilan merupakan masalah kesehatan yang umum. Persalinan pervaginam secara khusus memengaruhi dasar panggul dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi dasar panggul.
Adapun beberapa faktor yang juga diketahui dapat meningkatkan risiko inkontinensia urine pada ibu hamil adalah sebagai berikut:
-
Obesitas atau overweight.
-
Berusia di atas 30 tahun saat melahirkan.
-
Prosedur episiotomi atau pembuatan sayatan di area perineum untuk membantu mengeluarkan bayi.
-
Ukuran bayi lebih besar.
-
Terlalu banyak mengonsumsi kafein, alkohol, dan minuman berkarbonasi.
Gejala Inkontinensia Urine pada Ibu Hamil
Inkontinensia pada ibu hamil dapat terjadi bahkan sejak trimester pertama dan risikonya meningkat seiring perkembangan kehamilan. Adapun tanda dan gejala inkontinensia pada ibu hamil adalah sebagai berikut:
-
Urine menetes saat batuk, bersin, tertawa, atau berolahraga.
-
Dorongan tiba-tiba untuk buang air kecil dan pasien tidak mampu menahannya.
-
Frekuensi buang air kecil yang lebih sering.
-
Kebocoran urine di antara waktu kunjungan ke toilet.
Diagnosis Inkontinensia Urine pada Ibu Hamil
Inkontinensia urine selama kehamilan adalah hal yang umum terjadi sehingga beberapa ibu hamil tidak melaporkannya kepada dokter. Namun, ibu hamil sebaiknya disarankan untuk memberi tahu dokter jika mengalami masalah kontrol kandung kemih selama pemeriksaan rutin. Dengan begitu, dokter bisa memberikan strategi yang tepat untuk membantu mengelolanya.
Inkontinensia urine pada ibu hamil biasanya membaik setelah persalinan. Jika kondisi ini berlanjut selama lebih dari enam minggu setelah kehamilan berakhir, dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan ini dapat mencakup:
-
Tes laboratorium darah.
-
Urinalisis.
-
Bladder stress test (untuk memeriksa tanda-tanda kebocoran saat batuk kuat atau mengejan).
-
USG kandung kemih.
-
Tes urodinamik.
Pengobatan Inkontinensia Urine pada Ibu Hamil
Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kontrol kandung kemih selama kehamilan, salah satunya adalah dengan melakukan senam kegel. Latihan ini berguna untuk memperkuat otot dasar panggul yang menopang kandung kemih sehingga kontrol urine menjadi lebih baik.
Perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengelola gejala inkontinensia urine pada ibu hamil. Gaya hidup yang dimaksud meliputi:
-
Beralih ke minuman tanpa kafein atau air putih, serta menghindari makanan pedas atau tinggi asam.
-
Membatasi asupan cairan setelah makan malam untuk mengurangi frekuensi ke kamar mandi saat tidur.
-
Mengonsumsi makanan tinggi serat. Serat dapat mengurangi risiko sembelit selama kehamilan.
-
Mempertahankan berat badan ideal selama kehamilan.
-
Melakukan bladder training (bersamaan dengan senam kegel).
Sebagai informasi, penyebab serta gejala yang disebutkan di atas tidak spesifik mewakili kondisi inkontinensia urine pada ibu hamil. Dengan kata lain, gejala seperti meningkatkan frekuensi dan munculnya dorongan buang air kecil, bisa serupa dengan kondisi medis lainnya sehingga penting untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Siloam Hospitals terdekat agar mendapatkan diagnosis yang akurat.
Ibu juga bisa mengunjungi NEST yang terdapat di Siloam Hospitals TB Simatupang dan Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang. Bersama NEST, ibu hamil akan mendapatkan layanan dan fasilitas lengkap yang didukung oleh tim dokter multidisiplin, seperti spesialis kandungan dan kebidanan, anak, anestesi, gizi klinis, konsultan laktasi, serta bidan dan tenaga medis profesional.
Manfaatkan aplikasi MySiloam untuk mengakses berbagai fitur kesehatan yang memudahkan Anda, mulai dari melihat jadwal dokter, membuat janji temu dengan dokter terkait, hingga memantau hasil pemeriksaan kesehatan secara online. Dapatkan layanan kesehatan yang lebih praktis dengan mengunduh aplikasi MySiloam sekarang juga.
Sumber
WebMD. Urinary Incontinence and Pregnancy. Diakses pada 2025 | BMC Urology. Prevalence of urinary incontinence and associated factors, its impact on quality of life among pregnant women attending antenatal care at Asella teaching and referral hospital. Diakses pada 2025 | European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology: X. Maternal risk factors of urinary incontinence during pregnancy and postpartum: A prospective cohort study. Diakses pada 2025 | Cleveland Clinic. Pregnancy and Bladder Control. Diakses pada 2025 | ACOG. Urinary Incontinence. Diakses pada 2025 |
Artikel Terkait
Dokter Kami
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Lenny Khosal, M.Kes, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Makassar
Tersedia :
Tersedia hari ini
Kunjungi Rumah Sakit
dr. Tia Indriana, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Purwakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
Online & Kunjungi Rumah Sakit
dr. Danny Wiguna, SpOG
Obstetri dan Ginekologi (Kandungan)
Spesialis Obstetri dan Ginekologi
Siloam Hospitals Yogyakarta
Tersedia :
Tersedia hari ini
TERPOPULER
Complete Urinalysis (Chem & Sed) / Urine Lengkap
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp76.500
TERPOPULER
Routine Test / Urine Rutin (Protein, Glukosa, Sedimen)
Infeksi, Skrining Ginjal, Urin
1 Service/Item
Rp63.000
TERPOPULER
CT Urography Non-CNTRS / CT Scan Saluran Kemih
CT Scan
Rp2.553.000
TERPOPULER
Pregnancy (B-Hcg) Test 25 mIU / Tes Kehamilan B-hcg 25 mIU
1 Service/Item
Rp122.400
1.5T MRI Urography Non Contrast
MRI / MRA
Rp3.192.000






